Aerilyn sudah pulang sekolah diantar oleh Regan untuk ke rumah Ardo, ya memang untuk sekarang ia harus kembali pulang ke rumah cowok itu agar bisa merawatnya kembali dengan baik. Mereka kemudian turun dari motor dan melepaskan helm dari kepala.
"Lyn, lo tenang aja kalau masalah Miu. Biar kucing lo itu gue yang jagain untuk sementara waktu, sampai Ardo sembuh. Bunda gue juga udah tahu kok, dia malah seneng banget karena lo sekarang bisa lebih dekat sama yang lain," ucap Regan sembari mengelus rambut gadis itu penuh sayang. Sepenuh rasa sayang seorang Abang untuk adiknya.
"Huftt, mau gimana lagi, Kak. Mau atau enggak aku harus iyain, soalnya emang takut Miu malah terabaikan. Kasian banget, aku takut nanti dia gak sayang aku lagi karena aku harus repot di sini urusin Kak Ardo. Ah, berasa udah kayak istri aja ngurusin dia tuh," Aerilyn menunjukan wajah pasrah, tetapi masih merasa tak rela.
Regan hanya bisa terkekeh mendengar penuturan Aerilyn. Memang sebenarnya semalam setelah mengantar Ardo pulang, ia langsung ke apartemen gadis itu untuk mengambil Miu–kucing kesayangan sahabatnya itu.
Mungkin ada untungnya juga Ardo kemarin kecelakaan karena sekarang bisa membuat mereka semakin menjadi lebih dekat lagi.
'Gak apa-apa deh, lo sekarang sakit Do. Biar bisa makin PDKT-an sama Ilyn. Semoga deh, kalian numbuhin rasa terus cinta dan akhirnya jadian biar gue lebih tenang karena Ilyn nantinya bakalan ada yang jagain juga selain gue,' batin Regan, bibirnya melengkung, membuat senyuman manis yang penuh arti.
"Btw, lo mau gue ambilin juga gak bajunya di apartemen lo?" tanya Regan.
"Gak usah Kak, aku pake baju punya Mami aja untuk sehari-hari karena tahu gak sih, Kak? Baju punya maminya Kak Ardo keren-keren banget kayak baju ABG. Oh iya, kalau baju olahraga nanti aku beli lagi aja di koperasi sekolah, udah niat dari minggu lalu mau beli juga karena baju yang lama udah kekecilan," ujar Aerilyn membuat Regan mengangguk paham, ia tahu kalau gadis itu tak mau merepotkan nya lagi. Padahal ia tak pernah merasakan kerepotan sama sekali.
Setelah dirasa tidak ada yang penting lagi, Regan pamit kepada gadis itu. Ia juga tadi katanya sudah berjanji untuk makan malam bersama dengan Serly. Jadi, ia ingin membeli sesuatu untuk orang tua kekasihnya itu.
"Siap, sukses ya hubungannya sama Serly. Pokoknya Kak Regan pertahanin dia, ya? Aku gak mau kalau misalnya nanti kalian pisah. Apalagi, jangan jadiin aku alasan itu, okay? Aku juga tahu kalau Serly sama Kakak itu saling cinta, pasti kalau pisah kalian akan terluka. Kalau bisa jangan selalu prioritasin aku ya, prioritaskan Serly aja. Aku gak mau kalau nantinya kalian ribut gara-gara aku," ucap Aerilyn tersenyum penuh arti pada cowok itu.
Regan hanya mengangguk kecil saja seraya tersenyum kecil, meski sebenarnya ia juga merasa aneh dengan ucapan sahabatnya itu. Akan tetapi, sepertinya ia juga merasa kalau Aerilyn berucap seperti itu karena ulah Erina tadi pagi di sekolah berkata yang tidak-tidak.
"Kalau gitu, gue langsung pulang!" Regan segera memakai helm kembali, lalu ia menunggangi kuda besinya itu.
Regan melambaikan tangan pada Aerilyn yang dibalas dengan lambaian tangan juga. Setelah melihat cowok itu keluar dari gerbang rumah Ardo, ia segera masuk ke dalam rumah dan membuka pintu kamar cowok itu.
Aerilyn tersenyum saat melihat Ardo tengah terlelap, "Pangerannya lagi bobo ternyata. Udah ah, gamau ganggu ntar ngamuk bakalan beda cerita. Pangeran tampannya pasti berubah jadi pangeran singa."
Aerilyn kembali menutup pintunya dengan perlahan. Lalu ia masuk ke kamar sebelah, ingin mengganti pakaian yang semalam ia ambil dari kamar Nani. Sebelumnya ia juga meminta izin pada mami Ardo, sebab terlalu malas jika harus mengambil pakaiannya di apartemen dan tentu saja tak mau merepotkan Regan terus-menerus. Lagi pula, Nani juga malah menyuruhnya menganggap rumah itu sebagai rumah sendiri sebab ia sudah dianggap sebagai anaknya.
"Miu aku kangen banget sama kamu, untung semalem diambil sama Kak Regan. Jadinya nginep di sana dan dikasih makan, maaf banget ya, kemaren sibuk jadi gak sempet urusin kamu. Kamu baik-baik di sana Miu, jangan ngerepotin dan harus nurut." Aerilyn bergumam sembari memejamkan matanya, ia mengembuskan napas lelah.
***
Sebenarnya Ardo tidak benar-benar tidur, cowok itu hanya memejamkan mata saat tahu akan ada yang membuka pintu kamarnya. Ia merasa malas sekali jika bertemu dengan orang lain untuk saat ini.
Cowok itu sedang berada pada fase bad mood, sebab Nani tidak bisa pulang dalam waktu dekat karena tuntutan pekerjaan yang selalu menyita waktunya. Apalagi Bi Inem yang juga selalu saja diajak oleh maminya ke mana-mana seperti asisten pribadinya saja. Ia masih selalu merasa kasihan dengan Aerilyn yang selalu ia repotkan, pasti gadis itu selalu lelah.
"Mi, aku ngerasa jadi anak paling gak berguna kalau udah kayak gini. Aku anak laki-laki, tapi belum bisa bahagiain Mami ... maaf, aku belum bisa jadi anak yang berguna karena masih Mami yang nafkahin aku. Lagian aku pengen bantu urus perusahaan tapi Mami selalu larang dan nyuruh aku fokus sekolah dulu." Ardo bergumam lirih sembari menatap langit-langit kamarnya dengan sendu.
Setelah beberapa menit Ardo merenung, tiba-tiba saja Aerilyn masuk ke kamarnya sembari membawa semangkuk bubur kacang hijau yang ia buat sendiri. Gadis itu juga membawakan jus kacang hijau pula.
Setelah meletakan di nakas, ia membantu Ardo untuk duduk. Aerilyn menatap Ardo dengan senyuman manisnya yang terus mengembang. Entahlah, mungkin itu bentuk pelayanan yang baik dari gadis itu agar tidak dicap jelek.
"Kak Ardo, tadi siang udah makan yang aku pesenin, 'kan? Obatnya juga udah minum?" tanya Aerilyn dengan lembut, tangan mungilnya merapikan rambut Ardo yang sudah gondrong, terlihat sedikit berantakan.
Perlakuan gadis itu tak luput dari perhatian Ardo. Entah kenapa, mata cowok itu tak bisa mengalihkan pandangannya dari gadis imut yang ada di depannya ini.
"Kak?" Aerilyn mengguncang pelan bahu cowok itu.
"Eh? Iya sorry, ehm ... tadi gue udah makan kok, minum obat juga udah. Makasih, ya," ucap Ardo dengan tulus.
Aerilyn mendekat ke arah Ardo, membuat cowok itu tampak salah tingkah sendiri. Ia bahkan memejamkan mata, tetapi ternyata gadis itu hanya ingin menghirup bajunya.
"Hais, Kak Ardo belum mandi. Bau asem, ih." Aerilyn menjauhkan dirinya sembari menutup hidungnya. Tentu saja hal itu membuatnya semakin kesal, ia pikir tadi akan diberikan sebuah kecupan nyatanya bukan.
Ardo mengembuskan napas kasar. "Gue susah mau ke kamar mandi juga. Tapi, gue masih ganteng, 'kan?" Ardo menaik turunkan alisnya.
Aerilyn hanya menggelengkan kepalanya pelan, urusan Ardo yang belum mandi biar nanti saja. Sekarang ia ingin memberikan bubur kacang hijau yang ia buat.
"Baiklah, Tuan yang tersayang. Untuk sore hari ini, aku bikinin bubur kacang ijo dan jus kacang ijo cobain deh, pasti Kak Ardo suka!"
Aerilyn menyuapi Ardo bubur kacang hijau. Cowok itu hanya menerima suapan darinya, sampai ia merasakan jika bubur kacang hijau itu rasanya sama persis seperti yang dulu sering papa dan maminya buatkan untuknya.
Sudah lama rasanya ia tidak merasakan itu lagi, hingga saat merasakan rasa yang pernah hilang di indera perasnya, dadanya mulai terasa sesak. Cowok itu benar-benar merindukan rasa ini, tetapi ia juga merindukan momen kebersamaan keluarganya dulu saat masih ada papanya.
"Enak, gak?" tanya Aerilyn penasaran.
Ardo tersadar dari lamunannya, kemudian ia menggeleng cepat. "Gak enak! Mana lo malah bikin jus kacang hijau juga. Padahal gue gak suka sama jenis olahan kacang hijau! Manis semua ini, mau bikin gue diabetes?!" dusta Ardo.
"Ini gak terlalu manis tahu, mungkin akunya ya Kak yang manis? Jadi Kakak takut diabetes?" ucap Aerilyn sembari mengerlingkan matanya membuat Ardo menoyor dahinya pelan.
"Idih, jangan terlalu geer deh jadi menusia. Dasar cewek ... Ilyn ini beneran manis banget dan gue gak suka dan ini gak enak sama sekali!" dusta Ardo, padahal ia benar-benar menyukainya.
Mata Aerilyn mendelik ke arah Ardo. Sedetik kemudian, gadis itu mengeluarkan jurus andalannya yaitu mengerucutkan bibirnya. "Ish, capek-capek bikin ini buat Kak Ardo. Tapi Kakak malah kayak gitu, ketus banget bilang gak enaknya! Udahlah, aku mau ke dapur."
Ardo menghela napas saat melihat Aerilyn keluar dari kamarnya dengan perasaan kecewa. Cowok itu hanya bisa meminta maaf dengan lirih. Ia melihat mangkuk bubur kacang hijau itu tampak menggoda, ia meneguk salivanya sendiri. Kemudian, langsung mengambilnya dan melahapnya sampai habis tak tersisa. Jus kacang hijau pun, ia teguk sampai habis. Rasanya sangat enak, ia ingin kembali memakannya. Namun, ia benar-benar merasa malu untuk kembali meminta karena tadi sudah memakinya.
Di balik pintu, ada Aerilyn yang mengintip. Gadis itu sengaja berdiri di sana, membuka sedikit pintunya agar bisa melihat Ardo yabg tampak lahap menghabiskan jus dan bubur kacang hijau yang ia buatkan tadi.
"Dasar cowok, digedein aja terus gengsinya!" Aerilyn terkekeh pelan.
Aerilyn bergegas ke dapur untuk membawakan air putih untuk Ardo. Selain itu, ia akan membawakan wadah berisi air hangat dan handuk kecil untuk cowok itu.
Setelahnya ia kembali ke kamar dan mendapati Ardo yang tampak terkejut sembari mengelap bibirnya dengan kasar.
"Katanya gak enak, tapi dihabisin," sindir Aerilyn membuat cowok itu gelagapan di tempatnya.
"Y–ya, sebenarnya gue gak mau makan di depan lo. Soalnya, lo-nya juga udah manis, jadi gue gak mau diabetes. Kata lo tadi bener sih, kayaknya emang lo-nya yang manis," Ardo berdalih, tetapi sialnya malah membuat Aerilyn bulshing. Pipi putih itu seketika menjadi merah merona seperti tomat.
"Ck, sekarang Kak Ardo minum dulu biar gak diabetes!" ketus Aerilyn dengan wajah cemberut.
Ardo hanya menurut saja, ia menerima air itu dan langsung menghabiskannya dengan rakus seperti orang yang kehausan. Cowok itu hanya terkekeh saja, tetapi bersyukur juga bisa melewati masa-masa kebohongannya.
Aerilyn membuka lemari dan mengambil baju kaus dan celana panjang untuk Ardo. Memang kemarin malam gadis itu memindahkan beberapa pakaian dari kamar cowok itu ke lemari di kamar ini.
"Kak, ini ada air hangat sama handuk kecil. Kakak bisa lap sendiri tubuh Kakak pake ini, terus nanti ganti bajunya sendiri bisa, 'kan? Gak mungkin digantiin sama aku, nanti yang ada bisa digrebek warga terus nanti malah disuruh nikah, kan gak banget nikah sama Kak Ardo!" cerocos Aerilyn membuat Ardo terkekeh.
"Iya, bawel ... gue usahain nanti. Tapi, kalau seandainya kayak tadi juga gue sih, mau-mau aja. Mami juga bakalan merestui, kok! Enak kali ya, nikah muda? Lo kalau nikah sama gue gak usah takut enggak dikasih makan. Gue adalah pewaris tunggal Mami dan bisa aja ngurusin perusahaan untuk nafkahin lo." Ardo menggoda gadis itu, sampai membuat Aerilyn bergidik ngeri, jangan sampai itu benar-benar terjadi. Ia masih menginginkan untuk menikmati masa-masa mudanya dan sekolah.
Aerilyn segera keluar dari kamar cowok itu, ia lebih memilih untuk menonton televisi saja.
'Dasar bocil, gue juga mikir dua kali lah. Yakali nikah muda, mana sama gadis lugu gitu.' batin Ardo, malah jadi ngeri sendiri. Ia kemudian terkekeh jika benar-benar semua hal yang dikatakan Aerilyn itu terjadi.
***
Aerilyn melihat Ardo tampak gelisah dalam tidurnya. Ia terbangun jam 12:00 dini hari karena tadi mendengar cowok itu menggeram, menjerit tertahan dan kadang juga batuk-batuk membuat tidurnya jadi terusik. Akhirnya memilih untuk mengecek keadaannya.
Gadis itu meletakan telapak tangannya di dahi Ardo. Ia terkejut saat merasakan dahi cowok itu sangat panas sekali. Ia segera bergegas ke dapur untuk mengambil air hangat dan handuk kecil untuk mengompresnya, berharap cowok itu sedikit membaik.
Aerilyn terjaga sampai jam 3 pagi, ia tidak bisa meninggalkan cowok itu karena selalu saja bergumam tidak jelas membuatnya khawatir. Apalagi tangannya digenggam sangat erat olehnya. Anehnya ketika genggaman itu dilepas, Ardo akan kembali gelisah dan sebaliknya jika ia juga menggenggam tangannya cowok itu akan kembali tidur dengan tenang.
'Kasian banget Kak Ardo. Semoga cepet sembuh ya, Kak. Meskipun Kak Ardo itu galak, tetep aja kalau aku lihat dia kayak gini jadi gak tega,' batin Aerilyn menatap nanar cowok yang terbaring itu. Ia mengelus lembut rambutnya.
Mata Aerilyn kini sudah tidak kuat menahan kantuk lagi, sampai akhirnya ia tertidur di samping Ardo dengan posisi duduk di lantai beralaskan karpet bulu, kepalanya ia letakan di kasur dengan tangan yang masih tergenggam.