Mentari pagi telah menampakkan sinarnya, Ardo juga perlahan membuka matanya untuk menyesuaikan dengan cahaya di sekitarnya. Ia melihat jam yang menempel di dinding menunjukkan pukul 06.00 pagi.
Ardo meraih sesuatu di dahinya karena merasa tak nyaman. Sesuatu itu membuatnya mengernyitkan dahi, tangannya yang menggenggam tangan Aerilyn perlahan ia lepaskan.
"Lo samaleman ngejaga gue? Sorry Lyn, gue nyusahin. Tidur lo juga pasti gak nyaman banget, ya?" lirih Ardo mengelus lembut rambut gadis itu.
Aerilyn tampak terusik, ia kemudian mengangkat kepalanya. Ia mengucek matanya, lalu mengerjap pelan untuk melihat dengan jelas.
"Kak Ardo udah bangun?" tanya Aerilyn dengan suara khas orang baru bangun tidur.
"Lo pasti kurang tidur, ya semalem karena jagain gue?" tanya Ardo dengan suara seraknya, ada perasaan tak enak hati karena telah menyusahkan gadis itu. Namun, Aerilyn hanya menggelengkan kepalanya pelan.
Gadis itu malah meletakan tangannya di dahi Ardo, panasnya masih terasa meski tidak sepanas saat tadi malam. Cowok itu juga terlihat lebih pucat dari biasanya, suaranya saja terdengar lemah. Tentu saja ia masih merasa khawatir pada keadaanya yang masih demam.
"Kakak tunggu bentar, ya. Aku mau masak sop dulu. Kalau masih ngantuk bobo aja lagi," ucap Aerilyn yang langsung bangkit dari posisinya.
Gadis itu meregangkan tubuhnya sebentar, lalu keluar dari kamar menuju dapur untuk memasak. Sebenarnya, tubuhnya masih terasa pegal-pegal karena tidur dengan posisi yang kurang nyaman. Matanya juga masih merasakan kantuk berat, tetapi ia harus bisa menahannya.
Selama memasak, ia juga memesan nasi lewat aplikasi. Sebab sepertinya tidak akan sempat jika masak nasi. Setelah selesai memasak sop ayam, nasi yang dipesan juga sudah datang.
Sebelum kembali ke kamar Ardo untuk membawanya. Gadis itu ke kamarnya terlebih dahulu untuk mengambil ponsel dan menelepon Regan, ada sesuatu yang ingin ia sampaikan.
"Hallo, Kak Regan. Hari ini jangan jemput aku ya, Kakak ke sekolah sama Serly aja. Masih belum berangkat, kan? Jadi gak usah ke sini, jemput Serly aja kalian bareng ke sekolahnya," ucap Aerilyn saat setelah telepon itu diangkat oleh Regan.
[Loh, kenapa gitu, Lyn? Lo ke sekolah mau naik angkot atau apa?] Regan bertanya di seberang sana dengan penuh tanda tanya, disertai khawatir pada gadis itu.
"Gak papa, Kak. Pokoknya jangan jemput aja okey! Gak bakalan sempet kalau nungguin aku, pokoknya harus nurut;" ujar Aerilyn dengan tegas.
Setelahnya ia langsung memutuskan panggilan secara sepihak. Ia tidak ingin jika jujur karena ingin merawat Ardo yang tengah demam, gadis itu juga tidak ingin nanti terjadi sesuatu padanya. Ia akan memberitahukannya nanti saja saat jam pelajaran pertama akan dimulai, ia akan menghubungi sahabatnya.
Setelah itu ia meletakan kembali ponselnya di nakas. Kemudian ia mengambil sop ayam dan air putih di dapur dan membawanya ke kamar Ardo, sebisa mungkin wajahnya juga ia buat ceria agar membawa energi yang positif. Untung saja sudah membasuh wajahnya, sehingga terlihat lebih segar.
"Kak Ardo, makan dulu, yuk! Aku udah bawain sop ayam sama nasinya nih. Kak Ardo suka sama sayur kan? Ini aku masakin semoga suka dan rasanya aku jamin gak bakalan mengecewakan!" kata Aerilyn tersenyum merekah, sembari meletakan nampan berisi makanan itu di nakas.
"Lyn, lo kok, belum pake seragam? Udah jam setengah tujuh loh, padahal. Nanti kalau telat sekolah gimana?" ucap Ardo dengan lemah. Jujur saja ia tak mau nanti gadis itu terlambat untuk ke sekolah, apalagi nanti takut Regan menunggu lama.
"Kak Ardo lagi sakit, nanti siapa yang mau jagain? Aku gak sekolah dulu aja gak papa, ya? Nanti bisa minta izinin ke Serly. Kakak jangan banyak bicara dulu, masih lemah gitu," ujar Aerilyn menjelaskan.
Ardo hanya bisa meminta maaf atas keadaannya yang sekarang, ia merasa benar-benar sangat menyusahkan orang lain sampai Aerilyn terpaksa tidak sekolah hanya karena ingin menjaganya ini. Akan tetapi, dalam lubuk hatinya merasa senang karena selalu diperhatikan oleh Ardo.
"Udah Kak gak usah mikir apa pun, yang penting Kakak harus sehat dulu, ya. Sekarang makan dulu, yuk! Makan sama-sama," ucap Aerilyn menampilkan senyum terbaiknya.
Ardo dibantu untuk duduk, lalu diberi minum terlebih dahulu. Setelahnya, Aerilyn menyuapinya dan juga ia ikut untuk makan.
"Masakan lo enak, lo jago masak juga ternyata," puji Ardo membuat Aerilyn tersanjung, pipinya sangat mudah sekali untuk merona.
***
"Erina, si Ilyn belum dateng?" tanya Serly saat masuk ke kelas, matanya belum mendapati Aerilyn di sana. Biasanya sahabatnya akan datang lebih dulu daripada dirinya.
"Kagak tuh, bukannya dia bakal diantar jemput sama pacar lo itu? Hm, gue jadi curiga nih, hati-hati loh Ser ... nanti malah jadi temen makan temen. Siapa tahu mereka ke mana dulu gitu," ucap Erina mengompori.
Serly menampol mulut Erina dengan kesal, membuat sang empunya mengaduh karena ia melakukannya lumayan menggunakan tenaga.
"Gue ke sekolah tadi sama Regan atas permintaan Ilyn, tahu! Minta di lem emang itu mulut lo, ya? Atau mau dipasangin resleting, biar bisa ditutup? Punya mulut dipake makan sama ngomong yang bener aja, biar berguna. Dari pada itu dipake buat ngebacot gitu, mulut sama hati lo emang sama-sama busuk tahu, gak?!" kata Serly dengan kesal, membuat Erina misuh-misuh di tempatnya duduk.
Serly merasakan ponselnya mendapatkan pesan masuk, ternyata nama yang tertera adalah Aerilyn–sahabat tercintanya. Ia yang sedang dilanda khawatir pada gadis itu, seketika langsung membuka pesannya dan membaca isinya.
Aerilyn My Friend? :
{Pagi Serly cantik, udah nyampe sekolah belum?}
Serly Andini :
{Udah nih, baru aja nyampe ke kelas, tadi berangkat sama Regan, dia maksa banget jemput gue karena gak jadi jemput lo di rumah Ardo buat ke sekolah bareng. Btw, tadi kata Regan, lo gak mau dijemput. Kenapa sih, Lyn? Jangan bikin gue sama Regan terus bertanya-tanya ya, kita khawatir banget tahu gak, sih? Sebenernya ada apa?}
Aerilyn My Friend ? :
{Ah, aku gak kenapa-napa kok, sans aja. Bilangin juga sama Kak Regan kalau aku baik-baik aja. Duh, kalian kayak orang tua aja yang menghawatirkan anaknya, wkwkwk.}
Serly Andini :
{Apaan sih, Lyn. Udah cepetan lo jawab pertanyaan gue tadi! Langsung ke intinya aja Lyn, bentar lagi bel masuk.}
Aerilyn My Friend ? :
{Btw, tolong izinin aku, ya. Hari ini gak bisa sekolah dulu. Soalnya lupa ngerjain tugas, terus Kak Ardo juga lagi demam. Aku gak bisa tinggalin dia.}
Serly hanya membaca pesan itu tanpa berniat untuk membalasnya. Ia hanya bisa mengembuskan napas, Aerilyn sampai seperti itu hanya demi Ardo. Ini sudah dua kali gadis itu tidak sekolah dengan alasan yang sama.
***
Aerilyn tampak serius dengan buku dan pulpen di meja belajar Ardo, ia sedang mengerjakan tugas yang kemarin belum sempat ia kerjakan. Setelah memberi makan dan obat untuk Ardo, ia baru bisa meluangkan waktunya sebentar.
"Lyn," panggil Ardo dengan lirih, tetapi masih bisa didengar oleh gadis itu.
"Kenapa, Kak? Ada yang sakit? Atau mau apa?" tanya Aerilyn dengan lembut. Gadis itu langsung menghampirinya.
"Kalau nanti, lo mau gak jadi asisten pribadi gue? Kerjanya cuman nurut aja sama gue, terus bantuin gue buat belajar. Y-ya, meskipun lo masih kelas sebelas, tapi gak ada salahnya juga lo ngajarin gue yang udah kelas dua belas, 'kan? Lo itu pinter, pasti bisa yakan? Sebenernya gue pinter sih, cuman males aja. Jadi nanti lo tinggal ingetin dan temenin gue buat belajar aja," ujar Ardo dengan tatapan penuh arti.
Aerilyn tersenyum singkat, "Iya, Kak. Mending sekarang istirahat dulu, masih lemes jangan kebanyakan ngomong, ya." Aerilyn kembali ke meja belajar untuk melanjutkan pekerjaan rumahnya yang belum selesai.
Ardo menatap gadis itu dengan sudut bibir yang terangkat. Ia benar-benar merasa diperhatikan olehnya, ternyata Aerilyn bisa sangat lembut dan penuh perhatian kepadanya. Ia jadi senyum-senyum sendiri saat mengingat jika sebelum ini mereka selalu saja ribut dan tingkah gadis itu yang absurd sering membuatnya kesal.
"Lyn," panggil Ardo yang langsung membuat gadis itu kembali menghampirinya.
"Gue ngantuk, pengen tidur. Lo mau gak kalau misalnya nyanyiin buat gue?" kata Ardo menggenggam tangan Aerilyn dan menatapnya dengan mata yang sayu.
"Ya, ampun, boleh banget dong. Duh, manja banget ini anaknya Mami Nani ... sini-sini aku nyanyiin satu lagu buat Kakak." Aerilyn terkekeh akan tingkah Ardo akhir-akhir ini yang benar-benar mirip seperti anak kecil.
Aerilyn menyanyikan lagu anak-anak yang sebenarnya jika Ardo dalam keadaan sehat, cowok itu akan tertawa karena sebenarnya ia ingin dinyanyikan lagu tentang cinta. Akan tetapi, untuk saat ini cowok itu hanya menurut saja memejamkan matanya.
Ardo sudah semakin mengantuk, apalagi suara Aerilyn begitu lembut meski hanya menyanyikan lagu anak-anak secara berulang kali. Tangan gadis itu juga tidak diam, melainkan selalu mengelus lembut rambut cowok itu. Sampai akhirnya ia terlelap untuk menjemput alam mimpi.
***
Jam sudah menunjukan pukul 12:00 siang, tetapi Ardo belum juga bangun. Padahal cowok itu harus segera makan dan minum obat. Aerilyn bahkan sudah menyiapkan semuanya.
"Sebenernya Kak Ardo ganteng sih, tapi nyebelin kalau pas gak lagi sakit. Ehm, kasian tapi kalau dia lagi sakit kayak gini, bikin kangen sama tingkah anehnya ke aku," lirih Aerilyn sembari memandangi wajah Ardo yang masih terlelap.
Tiba-tiba saja Ardo membuka matanya, membuat Aerilyn terkejut dan gelagapan sendiri. "Udah puas belum lihat wajah gue yang tampan? Lo sadar gak sih, kalau gue itu cowok tampan kayak pangeran yang ada di dunia dongeng?"
"Ish, baru aja dipuji. Udah langsung melayang jauh ke angkasa, hati-hati nanti dijatohin sama kenyataan sakit, loh!" ucap Aerilyn membuat cowok itu terkekeh.
"Iya deh, maaf. Btw, gue laper Lyn ... lo udah masak belum? Gue pengen makan," kata Ardo sembari memegangi perutnya. Kelihatannya ia juga sudah lumayan membaik, suaranya sudah tidak selemah tadi pagi.
Aerilyn hanya mengangguk lalu menyuruh cowok itu menunggu sebentar, ia akan mengambilkan makanan dan obat yang sudah ia siapkan sejak tadi.
"Duh, gue udah ngerasa kayak punya istri aja kalau gini. Coba aja bayangin, gue tiap makan disuapin, disiapin obat juga dan selalu berdoa biar gue cepet sembuh. Belum lagi cara dia memperlakukan gue dengan sangat baik, penuh perhatian. Huh, makin gak karuan nih, gue!" gumam Ardo sambil terkekeh sendiri. Kemudian berkhayal bagaimana jika hal itu terjadi suatu hari nanti.