"Kak Ardo hari ini kan, weekend ... daripada rebahan terus di kamar pasti bikin bosen, iya kan? Gimana kalau aku ajak jalan-jalan ke taman yang deket sini aja? Mau apa enggak, nih?" kata Aerilyn membuat Ardo yang tadinya malas-malasan seketika langsung bersemangat.
"Wah, mau dong! Yuk, gue bosen banget nih, pengen keluar rumah, menghirup udara segar." Ardo menatap Aerilyn dengan mata yang penuh binar.
"Oke deh, tapi Kakak harus seger dulu badannya jangan bau asem gini. Seperti biasa aku bakalan siapin air hangat sama handuk, terus bajunya juga. Nanti Kakak bersihin sendiri ya, aku juga mau mandi dulu buat siap-siap, okey?" kata Aerilyn seperti membuat arahan, membuat Ardo mengangguk cepat.
Aerilyn segera keluar dari kamar Ardo dan menutup pintunya. Gadis itu segera menyiapkan semuanya, lalu ia sendiri segera mandi dan bersiap-siap. Setelah selesai, ia juga tidak lupa juga mengambil kursi roda untuk tuan mudanya itu.
"Kak Ardo, udah selesai belum? Ilyn masuk, ya?" Aerilyn mengetuk pintu kamar, untuk berjaga-jaga jika cowok itu belum selesai. Bisa-bisa, nantinya malah ia yang akan kelabakan karena melihat Ardo yang belum selesai melakukan aktivitas-nya.
"Udah, masuk aja Lyn!" seru Ardo dari dalam.
Aerilyn langsung membuka pintu dan mendorong kursi roda. Lalu ia membantu Ardo duduk di kursi roda dengan sangat hati-hati karena takut cowok itu terjatuh, agar ia bisa membawa sang majikan muda ke taman terdekat di komplek perumahan itu.
"Aduh, udah ganteng gini. Tapi rambutnya berantakan, belum pake parfum juga, ya? Sini deh, aku bantuin," ucap Aerilyn membuat Ardo mengangguk patuh layaknya seorang anak yang hanya bisa menuruti perkataan sang ibu.
Gadis itu mengambil sisir lalu ia merapikan rambut Ardo. Setelahnya, ia menyemprotkan parfum milik cowok itu yang memang ada di sana, tepatnya di meja belajar yang ada di kamar tersebut. Memang kamar yang ditempati sudah seperti kamar milik Ardo yang ada di atas.
"Nah, udah wangi udah rapi juga. Cus berangkat!" Aerilyn berseru girang, disambut oleh teriakan semangat dari Ardo juga.
Aerilyn segera mendorong kursi roda itu, keluar dari rumah itu. Akan tetapi, sebelumnya ia sudah menitipkan rumah pada satpam jadi tidak perlu khawatir.
Ia terus saja berjalan sembari mengajak ngobrol Ardo yang duduk manis di kursi roda yang ia dorong. Mereka tampak bercanda tawa, membuat siapa pun yang melihat mereka seperti sedang menonton drama romantis.
"Huh, akhirnya nyampe juga." Aerilyn duduk di bangku panjang berwarna putih yang ada di taman itu.
"Lo capek, ya? Sorry, Lyn ... tadi dorong-dorong gue ke sini pasti nyusahin lo banget, yakan? Mana gue berat banget lagi, maaf udah bikin lo kesusahan kayak gini," ucap Ardo merasa tak enak hati.
Ardo mengelap keringat yang ada di dahi gadis itu dengan tangannya. Ia juga tidak lupa untuk merapikan rambut Aerilyn yang terlihat sedikit berantakan. Seketika tanpa ia sadari, dirinya telah membuat orang di hadapannya ini menjadi salah tingkah sendiri. Ya, namanya juga perempuan, jika mendapatkan perhatian sedikit saja langsung membuat hatinya berdebar, baper sendiri.
"Duh, enggak sama sekali Kak Ardo. Namanya juga aku kerja sama Kakak, pasti harus melakukan yang terbaik. Lagi pula, dari rumah ke sini gak terlalu jauh, 'kan?" ujar Aerilyn membuat Ardo mengangguk untuk membenarkan.
"Iya sih, tapi Lyn ... ehm, lo ikhlas enggak dari awal mau jagain gue? Mau ngerawat gue? Perhatian lo ke gue juga tulus apa enggak? Atau lo ngelakuin semua itu demi uang aja? Soalnya lo menganggap kalau itu pekerjaan yang harus dilakukan dengan baik?" tanya Ardo tiada henti, tetapi cowok itu tidak sadar jika pertanyaannya cukup melukai hati Aerilyn.
Gadis itu menatapnya tidak percaya, ucapan yang dilontarkan Ardo membuat hatinya tergores. Ia merasa semua hal yang ia lakukan untuk cowok itu dianggap hanya semata-mata untuk uang saja.
"Kakak serius nanya itu? Kakak tahu gak, sih kalau pertanyaan itu seolah-olah menyudutkan aku? Seakan-akan aku ini orang yang melakukan segalanya demi uang! Iya, aku tahu kalau aku itu butuh uang untuk membiayai semua kebutuhan aku. Tapi, aku juga manusia yang punya hati ... seorang manusia yang memiliki hati nurani pasti melakukan semuanya dengan tulus, ikhlas," ungkap Aerilyn dengan perasaan kesal.
Ardo malah memalingkan wajahnya, ia juga seperti tidak merasa bersalah sama sekali. Cowok itu bahkan menganggap ia hanya bertanya dan tidak berniat menyinggung sama sekali.
"Kak, sebelum Kakak bilang aku bakalan dibayar aja aku udah niat buat ngerawat dan juga jagain Kak Ardo. Karena kenapa? Karena itu adalah amanah dari Mami, aku melakukan itu semuanya dengan ikhlas dan tulus, sebab kalian juga sudah sangat baik sama aku. Tapi, ternyata apa yang aku lakukan selama ini hanya dianggap semata-mata untuk uang? Atau bahkan Kak Ardo juga mikir aku melakukan ini hanya sekedar untuk pencitraan, iya?!"
Ardo seketika menatap Aerilyn dengan tidak percaya. Ia bisa melihat kekecewaan yang tersirat pada mata gadis itu dengan jelas. Sekarang ia malah menjadi merasa sangat bersalah dan memang seharusnya ia tidak bertanya yang seperti itu.
Padahal Aerilyn selalu melakukan yang terbaik untuknya, selalu rela melakukan apa saja dan meluangkan waktunya. Memberikan tenaganya untuk merawat ia dan menjaganya saat ia demam waktu itu. Bahkan rela membersihkan rumah agar tetap selalu terjaga kebersihan dan kerapihannya. Juga rela tidak sekolah demi Ardo.
"Lyn, Sorry," ucap Ardo sembari menggenggam tangan gadis itu.
Aerilyn menghempaskan tangan Ardo, ia berlari meninggalkannya sendirian di taman. Orang-orang yang ada di sana sudah menyaksikan sejak tadi, tetapi mereka tak berniat melakukan apa pun selain hanya bisa menonton drama gratisan itu.
"Gue emang udah bodoh banget. Gue bener-bener gak bisa jaga ucapan gue sendiri! Arghhh, kenapa sih, Ardo? Kenapa lo jadi orang gak bisa nyaring omongan lo sendiri?!" Ardo berteriak frustrasi, membuat orang-orang di sana hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya saja.
Akan tetapi, tidak lama kemudian, Aerilyn kembali menghampirinya dengan dua ice cream dalam kemasan wadah kecil yang berada di tangannya.
"Lyn? Lo gak marah sama gue? Maafin gue ya, emang dasar mulut gue gak punya kendalinya nih, suka asal nyerocos aja tanpa mikir itu nyakitin orang apa enggak." Ardo menatap gadis itu dengan penuh penyesalan.
"Kak Ardo mau ice cream, gak? Kalau menurut aku, ice cream itu bisa naikin mood kita yang lagi jelek jadi bagus lagi! Nih, cobain yang rasa cokelat, deh!" Aerilyn menyondorkan ice cream rasa cokelat pada Ardo, tentu saja langsung diterima dengan senang hati.
Aerilyn langsung kembali duduk di bangku samping cowok itu. Ia tampak sangat menikmati ice cream yang ada di tangannya itu sembari menerima angin sepoi-sepoi yang menerpa wajahnya, hingga rambutnya lumayan mengganggu.
Ardo yang melihat itu, ia tidak tinggal diam. Cowok itu menyuruh Aerilyn memegangi ice cream miliknya, lalu dengan susah payah mengikat rambut gadis itu dengan gelang hitam yang ada di tangannya.
"Nah, kalau gini udah makin cantik, makan ice cream juga enggak keganggu," kata Ardo membuat Aerilyn berterima kasih.
"Lyn, maafin gue yang masalah tadi, ya? Mulut gue emang kayaknya udah jahat banget dari lahir, gak bisa ngontrol omongan gitu. Lo juga udah tahu kan, kalau omongan gue aja selalu ketus dan pedes banget," jelas Ardo membuat gadis itu mengangguk paham.
"Iya, gak papa, Kak. Lagian, tadi aku juga kayak kekanak-kanakan nanggapinnya, padahal bisa langsung jawab aja kalau aku itu ikhlas dan tulus, gak perlu marah-marah kayak tadi. Maafin aku juga ya, Kak Ardo ...," ucap Aerilyn dengan tulus.
"Ya, udah, makan lagi ice cream-nya!" titah Ardo.
Ardo menikmati ice cream miliknya sembari menatap wajah ayu Aerilyn yang pesonanya tidak akan pernah membuatnya bosan untuk terus memandang. Menurutnya beruntung sekali jika ada seorang pria yang bisa memiliki Aerilyn seutuhnya suatu hari nanti.
Aerilyn masih berantakan saat makan ice cream, untuk itu di sekitar bibirnya terdapat noda ice cream tak berdosa itu yang menggangu untuk wajah cantik gadis itu. Seketika, Ardo berinisiatif untuk membantu membersihkannya dengan ibu jarinya.
Saat itu, tatapan mereka tak sengaja bertemu. Saling memandang, tetapi fokus pada satu objek saja yaitu mata. Seperti mencari sesuatu di dalam sana, sampai akhirnya suara dehaman seseorang membuat mereka tersadar, hingga kembali tertarik pada dunia nyata di sekitarnya.
"Aduh, awas hati-hati, tuh. Nanti dari mata turun ke hati, terus pas udah kelamaan tumbuh jadi cinta, deh!" ucap Serly yang di sambut kekehan Regan, Fano, dan Riana.
Ardo dan Aerilyn malah gelagapan, merasa seperti orang yang tertangkap basah melakukan sesuatu kesalahan besar. Apalagi masih kebingungan dengan kedatangan mereka yang secara tiba-tiba.
"Ka–kalian kok, ada di sini, sih? Pada ngapain?" tanya Aerilyn dengan gugup.
"Yang ada harusnya kita yang nanya sama kalian. Ngapain coba di sini? Padahal kita tadi udah ke rumah tapi pada gak ada, kata Pak satpam di sana kalian ke taman," jelas Regan.
"Iya tuh, pas dicari ternyata lagi enak banget pacaran di sini," sambung Fano yang ikut memojokan.
"Bukannya mereka gak pacaran?" tanya Riana dengan polos, seketika membuat mereka di sana tampak menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Sayang, mereka itu temanan tapi rasa pacar gitu, loh," kata Fano sembari merangkul Riana, membuat gadis itu hanya bisa mengangguk saja.
Aerilyn dan Ardo juga masih terdiam, tidak tahu harus berkata apa. Mereka juga sepertinya lupa, bahwa akan ada teman-temannya ke rumah untuk kembali menjengkuk dan bermain sekiranya sampai sore hari. Menemani mereka agar tidak terlalu jenuh.
Aerilyn dan Ardo segera meminta maaf atas janji yang mereka lupakan tadi. Maka, mereka segera pergi dari taman menuju rumah cowok itu secara bersama-sama dengan berjalan kaki.
Soal Erina yang tidak ada di samping mereka, gadis itu tadi sudah meminta izin pada Aerilyn untuk tidak datang. Dengan alasan ada acara keluarga. Entah kenapa, terkadang memang jika ada acara kumpul seperti itu Erina tidak bisa datang.