Sejak kepulangan Nani dari dua minggu yang lalu, gadis itu diminta untuk tidak lagi mengurusi Ardo. Sebab, mereka tidak ingin jika Aerilyn terlalu lelah dan juga tidak fokus pada sekolahnya.
Aerilyn yang juga sudah sangat rindu pada Miu, demi bisa kembali bersamanya di apartemen, ia tidak ragu untuk menyetujuinya. Nani juga benar-benar memberikannya gaji atas ketelatenan yang ia lakukan dalam merawat Ardo. Jumlah uang yang di transfer sangat lumayan banyak, gadis itu tidak mungkin juga menolak karena ia sangat membutuhkannya dan tentunya hanya bisa mengucapkan terima kasih saja.
Sudah seperti kebiasaan sejak kejadian itu, Serly dan Regan selalu memberikan tumpangan kepada Aerilyn di mobil cowok itu untuk mereka berangkat bersama menuju sekolah.
"Kak Regan, emang kalau kaki sakit kayak Kak Ardo itu sembuhnya lama, ya?" tanya Aerilyn yang berada di belakang.
"Lumayan, tapi tergantung orangnya juga, sih. Kalau misalnya orang itu bertekad untuk sembuh dan terus rutin cek up ke rumah sakit, mungkin bisa cepet sembuh," jelas Regan membuat Aerilyn yang ada di belakang mengangguk paham. Berharap Ardo orang yang seperti itu juga.
Serly yang berada di depan, menoleh pada sahabat terbaiknya itu. "Hm, lo kenapa sih, Lyn? Gak usah terlalu banyak khawatir kayak gitu, lah ... Ardo itu cowok yang pasti gak bakalan betah banget kalau di rumah terus. Pasti dia punya tekad yang besar buat bisa sembuh, belum juga sebulan, tunggu aja dulu."
Aerilyn hanya mengangguk pasrah, ia juga mengembuskan napas berat. Entah kenapa, meskipun ia kadang kala pergi ke rumah Ardo untuk menjenguk. Akan tetapi, tetap saja ia ingin selalu berada di samping cowok itu. Ia ingin kembali berangkat bersama Ardo, atau dijahili di sekolah oleh cowok itu lagi seperti dulu saat sebelum kecelakaan yang dialami waktu itu.
Regan yang sedang menyetir, melihat pada kaca yang ada di depan. Ia bisa tahu kalau sahabatnya itu terlihat sedih. Mungkin rindu pada sosok Ardo.
Rindu itu suatu hal yang bisa membuat penderitanya merasa tersiksa, bahkan uring-uringan karena ingin berjumpa. Kadang kala selalu hadir untuk menyapa, membelai hati dan jiwa. Meski begitu, rindu terkadang menjadi sesuatu yang candu. Ya, candu yang begitu memabukan. Perpaduan antara membenci dan menyukai hal itu, membuat pengidap rindu mendapatkan situasi bad mood atau selalu dalam keadaan mood yang buruk.
***
Jam yang melingkar di tangan Aerilyn masih menujukan pukul 06:50, sedangkan bel masuk akan berbunyi pada pukul 07:30. Sepertinya Regan dan Serly terlalu pagi menjemputnya, sehingga merasa lebih jenuh merasa di kesal. Melihat kedua sahabatnya hanya fokus untuk menyalin tugas yang ada di buku miliknya seperti biasa, ia tak mungkin mengganggu mereka. Bisa-bisa nanti ia yang terkena amuk karena mereka sedang ngebut menyontek sebelum pelajaran pertama dimulai. Ya, meskipun sudah tahu nanti akan ada jam kosong, tetapi rasanya sangat malas jika mencatat tugas setelah bel masuk berbunyi. Ibaratnya lebih baik mengerjakan di awal, ya meski mencontek pada Aerilyn.
"Guys, aku ke kantin dulu, bentaran aja, ya? Aku mau beli minuman, kalian mau nitip apa? Biar sekalian nanti aku beliin," tanya Aerilyn yang sudah berdiri dari tempatnya duduk. Tenggorokannya terasa kering, butuh asupan air sekalian agar tak dehidrasi.
"Ah, kalau lo ketemu Regan di kantin, gue mau nitip salam buat dia aja. Bilang kalau istirahat nanti gue tunggu di rooftoop!" kata Serly mendongkan wajahnya dengan mata yang dikedip-kedipkan beberapa kali.
"Kalau gue sih, gak ada. Gue gak butuh apa-apa, apalagi doi gak punya jadi gak bisa nitip salam," celetuk Erina yang masih tetap fokus untuk mencatat. Namun, ucapannya berhasil membuat kedua sahabatnya itu terkikik geli.
"Oke deh, aku ke kantin dulu ya. Jangan rindu bestie!" Aerilyn langsung bergegas keluar dari kelas menuju kantin, sedangkan dua orang yang tengah mencatat itu hanya berdecak saja. Mana mungkin ditinggal sebentar ke kantin menimbulkan rasa rindu.
Aerilyn mengambil satu botol minuman yang mungkin saja bisa mengembalikan suasana hatinya yang terasa sedang kacau untuk saat ini. Setelah membayar, ia duduk di salah satu kursi kantin.
Gadis itu meneguk beberapa kali, sampai akhirnya tiba-tiba saja ada orang yang merampasnya dengan kasar.
"Kak Gita? Kenapa ngambil punya aku? Kalau haus, Kakak ambil aja yang di sana!" cetus Aerilyn saat melihat orang itu adalah kakak kelasnya.
Ia masih berada pada fase suasana hati yang buruk, tetapi Gita dan dua teman yang berada di belakang gadis itu, telah membuat Aerilyn berdecak sebal.
"Lo mau ini?" kata Gita dengan seringainya.
"Ambil, nih!" Gita dengan sengaja tiba-tiba menumpahkan minuman itu pada rambut Aerilyn, sehingga tentu saja membuat rambutnya akan terasa lengket. Aerilyn membulatkan bola mata, serta mulut yang terbuka dengan kepala yang menunduk, tentu saja ia terkejut. Memang benar-benar kakak kelas yang tak punya akhlak.
Fani dan Hani yang berada di belakang Gita ikut menertawakannya. "Yah, kasihan banget rambutnya yang indah jadi rusak. Rasain, tuh! Makanya jangan ganjen jadi cewek!"
Aerilyn masih diam sembari menahan amarahnya sendiri dengan cara mengatur napas. Ia tidak ingin sampai kebablasan menghajar mereka bertiga, apalagi di sini ada CCTV dan tidak sedikit ada siswa siswi yang sedang menonton. Ya, mereka hanya menonton dan tak berniat sama sekali untuk membantu, mungkin mereka hanya berjaga-jaga juga tak ingin terkena masalah oleh Gita and the geng.
'Ah, bagus banget mood yang buruk makin ambyar. Huh, untung aku masih punya hati gak kayak kalian! Perasaan aku gak bikin masalah sama mereka. Ini dengan tidak jelasnya datang-datang langsung bilang aku ganjen terus nyiram aku pake minuman aku lagi. Mana itu belinya pake duit!' batin Aerilyn merasa sebal dengan tingkah laku mereka.
"Kalian kenapa, sih?! Tiba-tiba dateng terus berbuat hal rendahan kayak tadi?!" geram Aerilyn, mempertahankan rasa sabarnya untuk tidak memukul wajah Gita. Namun, matanya menatap mereka dengan sinis.
"Itu adalah balasan buat lo yang berani-beraninya terus pepetin si Ardo! Gila ya, lo jadi cewek? Pede banget lo PDKT sama Ardo, apalagi menurut rumor yang beredar, kalian itu semakin dekat. Apalagi saat Aedo sakit, lo yang ngurusin dia, 'kan?!" Gita berteriak marah, ia terus menyerocos panjang.
"Apaan, sih?! Kak Ardo kan, lagi sakit! Aku aja udah lama gak ketemu sama dia! Lagian aku sama Kak Ardo emang deket, bukan pepet-pepetin. Dikira kendaraan apa main mepet-mepet gitu, hah?" Aerilyn sedikit menaikan nada bicaranya, ia benar-benar sangat kesal kali ini.
"Gue denger lo waktu itu sok-sokan ngurusin Ardo, kan? Ngaku lo!" ketus Gita menyudutkan.
"Ya, iya! Itu karena disuruh sama Mami Nita, maminya Kak Ardo! Kenapa? Kamu juga gak kenal kan, sama Mami? Gak usah kayak anak kecil deh, Kak Gita. Malu sama umur!" hardik Aerilyn berhasil membuat orang-orang yang ada di kantin menertawakan Gita.
Fani dan Hani malah terus mengompori Gita–ketua geng mereka. Tentu saja, hal itu membuat ia semakin menggila sampai menampar Aerilyn dengan berdalih untuk membalas perbuatannya. Tidak hanya sampai di situ saja, gadis itu rambutnya malah dijambak dengan kasar.
Gita semakin menjadi, kedua teman gengnya juga semakin panas untuk menyoraki dan mengompori, sedangkan mereka yang sedang menonton tidak berani mendekat, atau hanya bisa meringis dan ada pula yang ikut bersorak geram karena Aerilyn sama sekali tidak melakukan perlawanan.
"Stop! Siapa suruh kalian nge-bully pacar gue, hah?!"
Teriakan dari seseorang itu berhasil membuat semua kericuhan itu seketika menjadi hening. Semuanya menatap ke arah sumber suara, bahkan Gita saja sudah menurunkan tangannya saat melihat orang yang tadi berteriak adalah Ardo. Iya, Adelardo Adiraja–cowok populer yang ia puja-puja, parasnya tidak bisa untuk sedetik saja tidak memikat mata para perempuan.
Di belakang Ardo ada Fano, Regan, Serly, Erina, dan Riana. Mereka segera menghampiri Aerilyn dengan heboh, begitu khawatir dengan keadaan gadis itu yang terlihat kacau.
"Lyn, kamu ada yang sakit, gak?" tanya Ardo dengan sorot mata yang penuh kekhawatiran.
Kata 'kamu' yang dijadikan panggilan baru dari Ardo untuk Aerilyn. Membuat gadis itu sedikit merasa bingung, tetapi tak berniat untuk menanyakan hal itu dalam keadaan seperti ini. Belum lagi, ia benar-benar terkejut melihat kehadiran Ardo di sekolah ini, itu artinya cowok itu sudah sembuh?
"Eh? Kak Ardo udah bisa masuk sekolah? Wah, udah bisa jalan, ya? Berarti udah baik-baik aja, 'kan?!" Aerilyn malah memekik girang saat melihat Ardo tadi berjalan ke arahnya dengan lancar.
"OMG, Ilyn lagi keadaan kayak gini malah bersikap kayak gitu pas lihat Ardo. Aduh ... ampun banget dah, sama tingkahnya," ucap Riana membuat orang-orang yang ada di sana menahan tawa.
Ardo melihat wajah lugu dengan mata penuh binar dari Aerilyn, ia malah merasa meski dalam keadaan yang seperti ini, gadis itu tetap saja mendahulukan keadaanya. Padahal, tampilan gadis itu sudah sangat kacau, ia merapikan rambut yang basah karena minuman tadi.
Jujur saja, melihat Aerilyn yang hanya diam saja diperlakukan seperti itu, membuat Ardo merasa kesal sendiri jadinya.
"Heh, trio jamet yang gak ada akhlak! Berani-beraninya kalian ganggu sahabat gue, awas aja nanti gue bales! Tunggu aja nanti kalau Regan gak nahan gue, nih. Pulang lewat mana lo pada, hah?!" ujar Serly yang ingin menerkam mereka, tetapi apa daya jika tubuhnya malah ditahan oleh Regan agar tidak bisa melakukan perlawanan kepada trio gesrek itu.
"Bawa aja nanti ke ruang BP!" usul Fano yang disetujui Regan, agar Serly berhenti memberontak karena ia tidak mau pacarnya malah yang akan terkena masalah nantinya.
Ardo menatap Gita, Fani, dan Hani dengan tatapan tajam dan mengintimidasi. Membuat mental ketiga perempuan itu menjadi ciut, tentu saja mereka merasa takut jika berurusan dengan cowok galak sepeti dirinya. Meskipun ulah mereka membully Aerilyn karena alasan cemburu melihatnya dekat dengan Ardo.
"Kalian bertiga, berani banget ya, gangguin cewek gue? Siap gak gue kasih hukuman berat buat kalian, hah?! Minta maaf sekarang, sama Ilyn cepet!" Ardo berteriak marah, sampai urat-urat yang ada di lehernya menonjol.
"I–iya, kita minta maaf," ucap mereka bertiga dengan kompak sembari menunduk.
Ardo menghela napasnya saat Aerilyn mengguncang pelan tangannya, bahkan mengelus lembut tangan cowok itu agar tidak emosi. Tentu saja hal itu membuat semua orang yang ada di sana percaya jika mereka benar-benar pacaran. Beritanya memang sangat tidak terduga dan begitu mengejutkan karena menurut mereka terlalu cepat saja.
"Lagian Sayang, kamu kenapa diem aja gak ngelakuin perlawanan sih, heum? Padahal kamu itu jago bela diri, waktu itu aja bisa ngelawan dua preman dan nyelametin Mami aku, loh ... masa buat ngejaga diri kamu dari trio ganjen itu gak bisa? Padahal sekalian aja kamu patahin tangan sama kakinya biar tahu rasa!" ucapan Ardo membuat sebagian orang menahan tawa, sedangkan ketiga gadis yang tadi membully sudah merasa panas dingin di tempatnya.
Gita dan kedua temannya memang sudah terdiam, tetapi dalam hati mereka malah mengumpat dan menyumpah serapah. Selain itu Erina sejak dari tadi hanya diam dan menyimak, tidak ada seorang pun yang mengetahui apa isi hatinya.
Bel masuk tiba-tiba saja berbunyi, tetapi tidak membuat orang-orang yang ada di kantin tidak memiliki niat sama sekali untuk kembali ke kelas mereka karena sedang jam kosong, lagi-lagi guru sedang mengadakan rapat dadakan yang akan berlangsung sampai waktu istirahat.
"Guys, mumpung lagi jam kosong, ke taman belakang sekolah aja, kuy! Serius deh, gue gabut banget kalau di kelas, mana suka berisik lagi kalau gak ada guru gitu," ucap Serly mengusulkan, membuat yang lain hanya mengangguk setuju saja.
"Lagian, guru-guru perasaan doyan banget ngadain rapat dadakan!" keluh Riana yang malah mendapat sentilan dari Fano ke dahinya.
Mereka segera bergegas ke taman belakang sekolah. Akan tetapi, sebelumnya Aerilyn membersihkan dirinya terlebih dahulu dan mengganti bajunya yang ikut basah dengan baju olahraga. Untung saja setelah waktu istirahat nanti, akan ada jam pelajaran olahraga.
***
Aerilyn menghampiri semua teman-temannya yang tampak asyik bercanda tawa, duduk melingkar di tempat yang teduh di sana. Gadis itu sengaja menempatkan diri di samping Ardo, membuat cowok itu malah menjadi seperti diapit oleh dua perempuan itu, berada di tengah-tengah Erina dan Aerilyn.
"Kak Ardo, kenapa tadi Kak Ardo bilang aku pacarnya? Gak baik tahu bohong sama semua orang kayak gitu! Lagian gak enak juga kalau becanda sampai segitunya." Aerilyn menunduk sembari memilin ujung baju olahraganya. Interaksi mereka tidak luput dari perhatian para teman-temannya.
"Ehm, kalau gitu gimana kalau kita pacaran beneran aja? Pokoknya lo harus mau! Lagian kan, lo mulai sekarang jadi asisten pribadi gue, okey?" tekan Ardo sedikit memaksa.
"Ish, pemaksaan banget, sih! Cinta itu harus tulus dari hati," kata Aerilyn membuat Ardo mendengkus kesal.
"Kalau lo gak mau, gue makan lo sekarang juga!" Ardo mendelik ke arah Aerilyn, membuat gadis itu bergidik ngeri.
"Ih, kenapa jadi serem gini, sih? Kayak kanibal tahu gak? Aku kan, masih pengen hidup!" ucap Aerilyn dengan polos, membuat mereka mereka di sana nahan tawa.
"Terus?" Ardo mengangkat satu alisnya.
"Yaudah mau!" jawab Aerilyn malu-malu, tetapi dengan tegas membuat Ardo tersenyum misterius.
Akan tetapi, dibalik para sorakan teman-temannya yang lain. Mereka tidak menyadari ada sosok Erina yang tersenyum kecut dengan memegangi dadanya sendiri.
"Asoyy jomlo di dunia ini akhirnya berkurang satu!" Fano berteriak histeris membuat yang lain terkekeh.
"Kok satu, sih? Ya seharusnya itu dua lah! Emangnya si Ilyn udah ada pacar?!" bentak Ardo dengan sinis membuat Fano menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Sorry, kan gue cuman tertuju padamu wahai bos galak!" cetus Fano.
"Ya, masa bodoh, deh! Intinya sekarang gua gak akan lagi diledekin karena jomlo sama lo pada, sekarang gue udah ada pacar!" Ardo merangkul Aerilyn, membuat perempuan yang baru saja menjadi kekasihnya itu salah tingkah dengan pipi yang memerah.
Serly dan Regan saling tatap, mereka tersenyum smirk ke arah Erina. Entah apa arti senyuman itu.
"Godain dia tuh, sesekali lah," bisik Regan pada Serly. Membuat gadis itu mengacungkan jempolnya pertanda setuju.
"Ekhem, tinggal Erina aja nih, yang belom ada pacar. Cepet nyusul ya, gue ingetin lagi nih, ada cowok yang namanya Jono pengagum lo itu!" ujar Serly menaik turunkan alisnya. Hal itu malah membuat Erina jengkel di tempatnya karena ia ditertawakan oleh mereka semua.
Sekadar info, Jono adalah adik kelas mereka yang ternyata diam-diam mengagumi sosok Erina. Caranya yang berbeda dengan sering mengirimkannya coklat dan hadiah-hadiah kecil pada lokernya, membuat gadis itu malah jadi ilfeel sendiri apalagi dibarengi surat cinta.
"Halah, gak sudi gue! Mending sama karakter fiksi punyanya si Ilyn aja, deh!" ucap Erina, dongkol.
"Heh, enak aja! Setelah kamu hina-hina para karakter fiksi aku di novel. Sekarang tiba-tiba mau sama mereka, aku gak ikhlas banget lah, mereka tetep punya aku!" serobot Aerilyn tidak terima.
Akhirnya mereka malah menjadi berdebat satu sama lain. Apalagi saat Ardo yang malah tidak terima, meski Aerilyn suka dengan karakter fiksi. Tetap saja cowok itu malah cemburu karena dinomor duakan, atau pada nomor puluhan sekian? Sebab karakter fiksi yang disukai Aerilyn banyak sekali bukan satu atau dua.