23

1579 Kata
Aerilyn menatap dirinya di depan cermin yang ada di dalam kamar. Di sana ada Serly juga yang sedang merebahkan dirinya di kasur sembari memainkan benda pipih yang selalu dibawa ke mana-mana itu. "Ser, menurut kamu Kak Ardo serius apa enggak ya, sama aku?" tanya Aerilyn tanpa menoleh. Gadis itu masih sedikit ragu dan lumayan terkejut karena Ardo tiba-tiba saja menjadikannya pacar saat di sekolah tadi. Bahkan langsung mengakuinya sebagai pacar saat belum resmi, di hadapan siswa siswi yang ada di kantin. Serly yang tadi fokus pada ponselnya, beringsut menghampiri gadis itu. "Gak ada alasan buat dia gak serius sama lo. Kalau menurut gue, Ardo itu serius dan kayaknya emang lo itu penting banget buat hidup dia. Regan aja udah berani lepasin lo buat dia, itu artinya pacar gue tahu kalau Ardo gak bakalan macem-macem sama lo, dan juga mempercayakannya untuk jagain lo." Aerilyn menatap wajahnya di cermin, pipinya yang terasa memanas itu benar-benar terlihat jelas memerah seperti tomat pada kulitnya yang putih. Gadis itu bulshing, membuat Serly terkekeh. Aerilyn merasa jika ia memang bisa saja menerima cowok itu, jujur saja ia selalu merasa nyaman saat berada dekat dengannya. Bahkan, ia juga memiliki perasaan yang berbeda, sepertinya Ardo memiliki ruangan tersendiri di hatinya itu. "Btw, nanti malem gue sama Regan mau main-main loh, ke pasar malem. Lo ajak Ardo juga, gih! Pasti dia mau aja, masa bisa nolak dari pacar barunya yang cantik ini," kata Serly menjawil hidung Aerilyn, lalu ia duduk di tepi kasur. Gadis itu menunggu respon Aerilyn, ia mengambil Miu yang ada di sana dan mengelus lembut kucing milik sahabatnya itu yang memang saja ia akui jika hewan peliharaan itu sangat menggemaskan. "Miu, bujukin Mama lo itu, gih! Biar dia jalan sama Papa baru lo nanti malem," kata Serly menatap Miu dengan gemas, ucapannya malah membuat Aerilyn tampak salah tingkah sendiri di tempatnya. Aerilyn meraih ponselnya yang ada di meja rias, lalu ia mencari kontak Ardo untuk ia hubungi. Aerilyn Bellvania : {Kak Ardo} Adelardo Adiraja : {Kenapa heum? Kangen, ya? Baru aja tadi aku anterin kamu pulang.} Aerilyn Bellvania : {Ish apaan, deh! Btw, Kakak lagi sama temen-temen?} Adelardo Adiraja : {Iya, kenapa? Kamu mau ngomong sesuatu sama aku? Ada apa sayang? Coba bilang, atau mau aku telepon?} Aerilyn Bellvania : {Eh, gak usah Kak. Nanti aja deh aku bilangnya, takut ganggu. Gak perlu telepon juga, nanti aku chat lagi} Serly mengerutkan dahinya saat melihat wajah Aerilyn di pantulan cermin tampak senyum-senyum sendiri. Apalagi saat sedang memegang ponselnya, membuatnya menyeringai. Ia juga selalu seperti itu saat chattingan bersama Regan, mungkin saja sahabatnya itu sedang chattingan dengan Ardo. "Cie, yang lagi kasmaran. Senyum-senyum sendiri kayak gitu," ledek Serly membuat Aerilyn tersipu. Aerilyn menghampiri Serly dengan senyuman yang tidak pernah pudar dari bibir mungilnya. "Hehe, aku belum bilang ... kayaknya Kak Ardo lagi sama temen-temen yang lain di rumahnya. Nanti aja lagi aku kabarin," ujar Aerilyn menyengir, membuat Serly hanya bisa untuk menggedikan bahunya. Sedetik kemudian, nama Ardo terpampang jelas di layar ponsel Aerilyn. Gadis itu menatap Serly, membuat sahabatnya itu segera menyuruhnya untuk mengangkat panggilan itu. Tidak lupa Serly menyuruhnya untuk me-loud speaker. [Kenapa sayang? Kamu butuh sesuatu atau apa? Ada yang mau diomongin heum? Bilang aja sama aku, kamu gak pernah ganggu waktu aku kok. Aku pasti bakalan luangin waktu terus buat kamu,] ucap Ardo di seberang sana yang terdengar lembut membelai telinga dan hati. Membuat Serly dan Aerilyn saling menatap tidak percaya. "H-ah? Enggak ada apa-apa kok, ini tadi Serly ngajakin buat ke pasar malem bareng, sama Kak Regan juga. Ehm, mau enggak Kak?" ucap Aerilyn hati-hati, ia merasa jantungnya berdetak tidak karuan. [Oh, yaudah ayok aja kalau aku. Nanti malem aku jemput kamu di apart ya, berangkatnya bareng sama mereka. Itung-itung juga kan, kita jalan bareng. Soalnya nanti malem itu malam minggu, biar gak suntuk pacar aku di apartemen terus.] kata Ardo, Aerilyn bahkan bisa mendengar kekehan dari cowok itu. Serly merasa tiba-tiba bulu kuduknya meremang, jujur saja baru pertama kali ia mendengar cowok itu berucap dengan manis dan mempertahankan nada lembutnya saat berbicara dengan Aerilyn. Aerilyn yang sudah tidak tahan langsung memutuskan telepon secara sepihak, ia berusaha menetralkan perasaanya sendiri. Mungkin ini pertama kalinya ia diperhatian dengan baik oleh laki-laki sampai seperti itu, selain oleh Regan. "Lyn, kayaknya dia kesambet mbak kunti genit penunggu pohon yang ada di taman sekolah waktu itu, iya gak? Gue jadi merinding gini," ucap Serly mengusap lehernya sendiri, membuat Aerilyn terkekeh. *** Fano dan Regan sedari tadi menahan tawa saat melihat Ardo senyum-senyum sendiri, bahkan saat cowok itu sedang menelepon Aerilyn dengan suara lembut dan menurut mereka sangat manis daripada biasanya. Saat Ardo selesai menelepon, tawa mereka seketika pecah. Ardo yang melihat kedua temannya itu seketika tergagap di tempatnya duduk. "Heh, sejak kapan lo kayak gitu? Serius ya, sejak dari dulu kita temenan sama lo, baru kali ini lihat lo pacaran sampe segitunya. Biasanya juga tetap bersikap cuek bebek sama yayang lo, tapi sekarang beda banget woy!" Fano berteriak histeris sembari tertawa bersama Regan, sehingga suara mereka menggema di ruang tamu itu. "Haduh, lo kesambet apa gimana? Biasanya aja ketus, kalau pun baik sama Ilyn belum pernah kayaknya sampai segitunya. Duh, lo kayak orang yang baru pertama kali pacaran!" kata Regan setelah meredakan tawanya itu. "Bro, ternyata memang benar pawang yang sesungguhnya untuk Ardo itu si Ilyn! OMG, gue bengek sampe ngik ngok sama perubahan drastisnya," ujar Fano dengan wajah yang masih tampak memerah. Nani yang berada di balik tembok dapur mendengarnya, mengembangkan senyumnya. Ia bisa merelakan Ardo untuk bisa bersama Aerilyn, daripada bersama perempuan lain. Sebab, saat ini ia hanya ingin anaknya bersama gadis itu. Menurutnya, Aerilyn adalah gadis baik-baik tidak seperti pacar-pacar Ardo yang dulu. Ia juga sudah menganggap gadis itu anaknya sendiri, bahkan ia mendengar percakapan anaknya dengan Regan dan Fano seperti merasa lega. Ia yakin Aerilyn bisa lebih diperhatikan oleh Ardo, begitu pun sebaliknya. "Eh, btw tadi kalian janjian mau ke pasar malem bareng? Heh, gue sama Riana kok gak diajak, sih?! Gak best friend lagi lo berdua sama gue, ah!" kata Fano dengan wajah kesalnya. "Yaudah, lo suruh aja Riana ke apartemen Aerilyn. Pacar gue juga ada di sana, kayaknya dia yang ngajak si Ilyn buat ikut jalan ke pasar malem." Regan menyilangkan tangannya di depan d**a, temannya yang satu itu memang sedikit baperan. "Nah, gitu dong! Kasihan Riana kalau gak diajakin, dia itu sebenarnya gak gampang bergaul. Tapi pas waktu itu deket sama mereka, dia jadi lebih bisa berbaur," kata Fano membuat kedua temannya menoleh. "Yaudah, sering-sering aja Riana main bareng sama mereka, sekalian gantiin Erina di geng mereka. Pacar Fano lebih baik daripada cewek itu menurut gue, soalnya gue gak mau nantinya Aerilyn yang lugu gampang terpengaruh sama ucapannya. Kalau Serly udah tahu sifat aslinya jadi gak takut terpengaruh," celetuk Ardo membuat Fano dan Regan menoleh ke arahnya. Entah kenapa sekarang mereka seolah-olah sedang serius. Regan dan Fano saja hanya mengangguk setuju dengan ucapan cowok itu. *** Aerilyn dan Serly hanya bisa memijit kepala mereka melihat Riana tampak riweh sendiri dalam mencari-cari tutorial make up. Gadis itu juga sampai membuka aplikasi online shop untuk memilih baju-baju yang akan ia beli nantinya untuk nanti malam. "Ri, lo emang belum pernah nge-date sama Fano, ya? Masa sampe riweh kayak gini," ujar Serly merasa sudah pusing dengan tingkah gadis itu yang uring-uringan. "Huh, sebenarnya kalau di rumah bisa dibantu sama ART aku yang jago ngerias gitu. Tapi kadang Fano gak suka ngelihat aku dandan menor, katanya mending natural aja gak usah dandan. Tapi, kalau aku jalan sama dia selalu ngerasa gak pantes, soalnya suka ngelihat banyak cewek-cewek cantik yang ngelirik dia terus," jelas Riana dengan lesu. Aerilyn dan Serly mendekat ke arahnya, lalu mereka berdua memberikan semangat. Membalikan badan Riana untuk menatap dirinya sendiri di cermin. Sesuai faktanya mereka mengatakan kalau gadis itu sangatlah cantik, Fano juga tipe cowok yang sebenarnya tidak mudah untuk luluh dengan seorang perempuan. Meski di luar ia kelihatan seperti cowok yang selalu menggoda kaum hawa, justru hatinya tidak pernah merasa pas untuk menjadikannya sebagai pasangan. Sampai akhirnya, Riana-lah gadis yang terpilih olehnya, tentu saja juga tidak salah memilih. "Lo harus percaya diri, harus benar-benar bangga kalau lo itu satu-satunya cewek yang bisa milikin Fano. Mereka cuman bisa melirik atau suka aja, tapi gak bisa milikin dia kayak lo," ucap Serly yang diangguki oleh Aerilyn pertanda setuju. "Iya, gak ada yang lebih beruntung daripada kamu di antara mereka yang menyukai Kak Fano. Menurut aku, kalian juga cocok banget tahu, aku juga yakin kalau Kak Fano gak salah pilih pasangan," ujar Aerilyn membuat senyum Riana mengembang. Riana benar-benar beruntung bisa dekat dengan Aerilyn dan juga Serly. Mereka berdua selalu menyemangati dirinya dalam hal apa pun, bahkan mereka yang selalu membangkitkan kepercayaan dirinya. Secara perlahan, ia yang tadinya selalu merasa kesepian dan merasa tidak pantas untuk memiliki teman bahkan seorang kekasih, kini ia harus menjadi orang yang lebih terbuka dan percaya diri. Membangun jati dirinya yang baru, tentu saja itu yang ia inginkan sejak dulu untuk lebih membahagiakan dirinya. "Masalah riasan dan baju, biar gue sama Aerilyn yang bantu. Kita berdua pinjem baju Ilyn aja, punya dia bagus-bagus semua, kok!" kata Serly yang diangguki oleh Riana. "Ya, ampun, gak sabar banget pengen naik bianglala sama Kak Ardo!" pekik Aerilyn terlalu senang. "Yeu, lo mah emang pengen mulai ngerasain pacaran juga, yakan?" Serly terkekeh. Mereka kemudian tertawa dan saling berpelukan. Sungguh, sudah tidak sabar untuk bisa keluar di malam minggu, berkunjung ke pasar malam. Mereka ingin mencoba berbagai wahana yang tentu saja akan terasa sangat menyenangkan, membayangkan semua itu semakin membuat mereka bersemangat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN