24

1841 Kata
"Wah, kalian berdua cantik banget ya, malam ini," ujar Riana dengan matanya yang berbinar. Malam ini mereka benar-benar terlihat pangling. "Kamu juga cantik, pasti Kak Fano bakalan kagum deh ngeliat kamu," ucap Aerilyn yang diangguki oleh Serly. Mereka bertiga kompak menggunakan baju dress selutut tanpa lengan berwarna biru. Memang tadinya mereka ingin mengenakan baju-baju milik Aerilyn, tetapi saat tak sengaja Serly melihat dress di aplikasi belanja online, mereka jadi kompak membeli dengan pengiriman tercepat agar bisa dipakai malam ini. Meski hanya ke pasar malam, mereka malah kompak ingin mengenakan dress, alasannya hanya karena ingin tampil beda dan mencolok di antara pengunjung yang lain di sana. Mereka juga menyuruh para cowok untuk mengenakan stelan jas, karena nantinya mereka sebelum pulang akan makan malam di restoran. Menganggap malam ini akan menjadi malam yang indah untuk mereka nge-date barsama. Aneh memang, tapi ya itu terserah mereka juga, sih. Mereka mengenakan make up tipis yang terlihat natural, tetapi hasilnya sangat wow. Ketiganya memang benar-benar terlihat sangat cantik karena memang tanpa riasan make up juga sudah cantik. "Foto dulu yuk, guys! Gue mau upload nanti di sosmed, biar ada cacing kepanasan liat kita seneng-seneng!" seru Serly tersenyum misterius. *** Regan memijit pelipisnya, kedua temannya itu benar-benar tidak bisa diajak kerja sama. Mereka malah berebutan jas warna hitam yang dimiliki Regan, mereka beradu mulut dan tidak mau mengalah. "Gue pengen pake ini, lo pake yang warna merah. Regan aja masih santuy tuh, belum siap-siap!" Ardo menarik jas hitam itu, tetapi di sisi lain juga Fano masih bertahan menariknya. Sampai akhirnya jas itu menjadi robek. "Rasain tuh, kalian rebutan mulu, sih! Lagian ngapain malah minjem jas ke gue dah? Heran banget, gue udah gak punya lagi di rumah ... ada yang lain juga sih, tapi gue males balik ke rumah lagi," ucap Regan membuat mereka terdiam dan meminta maaf. Fano dan Ardo malah kembali beradu mulut, membuat Regan semakin pusing. Apalagi saat Serly terus saja meneleponnya, ia juga sudah terlalu kesal untuk itu sama sekali tidak berniat mengangkatnya. Namun, di sampingnya juga terdapat ponsel Fano dan Ardo yang terus berdering. Regan yang was-was takut terjadi sesuatu kepada mereka, alhasil langsung saja menjawab panggilan Serly. "Hallo Sayang, kenapa? Kamu baik-baik aja, 'kan?" tanya Regan khawatir, seketika membuat dua orang yang tadi beradu mulut itu langsung terdiam. Regan dengan sengaja me-loud speaker, agar mereka bisa mendengarkannya. Sebab tadi ia juga mendengar suara Riana dan Aerilyn. [Kalian jadi gak? Kok ditelepon minta kepastian gak juga diangkat, sih! Awas aja kalau misalnya enggak jadi, kita udah siap tahu. Pokoknya kita tunggu satu jam lagi, jangan telat!] ucap Serly dengan suara melengking di ujung sana, selain itu Aerilyn dan Riana juga ikut mengancam. Setelah itu tiba-tiba telepon diputuskan sepihak oleh Serly. Tentu saja hal itu membuat ketiga lelaki tersebut uring-uringan. Mereka masih belum siap-siap juga. "Yaudah, jangan pake jas aja, deh! Lagian cuman ke pasar malem ngapain pake jas. Heran banget sama cewek-cewek," ucap Fano dengan wajah kesal. "Tapi kita udah janji, gue gak mau ngecewain Aerilyn. Padahal gue baru aja jadian sama dia, kalau gak diturutin gue gak mau nanti gue malah ngasih kesan yang buruk buat malam mingguan pertama kalinya ini." Ardo terduduk sembari mengacak-acak rambutnya frustrasi. Tiba-tiba saja Nani datang dan membawakan tiga jas berwarna biru untuk mereka. Katanya tadi ia sudah menyiapkannya, mereka juga harus segera siap-siap agar tidak terlambat menjemput bidadari mereka. *** "Aku gak mau ikut, ah! Nervous, aku gerogi banget, apalagi ini pertama kalinya buat aku," ucap Aerilyn sembari memilin jari-jarinya. "Loh, kenapa gitu, Lyn? Bukannya justru ini pertama kalinya buat lo, jadi harus bisa memberikan kesan istimewa untuk Ardo. Emang lo mau juga nanti cowok lo kecewa? Apalagi kalian baru jadian," ujar Serly yang disetujui oleh Riana. "Padahal kamu suka jalan juga kan sama Kak Ardo? Kalian udah kenal deket, santai aja." Raina menepuk pundak Aerilyn untuk menenangkannya. Aerilyn berulang kali menarik napas dan mengembuskan secara perlahan, guna menetralkan rasa aneh yang ada di dalam d**a. "Guys, ayok turun ke bawah! Regan tadi chat gue, kalau mereka udah nyampe, ada di depan apartemen," ucap Serly membuat kedua temannya mengangguk. Sepanjang lorong apartemen, orang-orang yang ada di sana terus memperhatikan mereka bertiga. Perhatian orang-orang seakan terpusat untuk mereka saja. Setelah keluar dari gedung apartemen itu, mereka seketika bisa langsung melihat tiga cowok yang sedang bersandar pada satu mobil dengan mata yang terpejam serta kepala yang mendongak ke atas langit. Mereka terlihat seperti pangeran yang ada di dongeng, begitu memukau dengan tampilan yang simple tapi keren. Para gadis cantik itu segera menghampiri untuk mengakui pada orang-orang yang memperhatikan, kalau yang mereka tunggu itu adalah Serly, Aerilyn, dan juga Riana yang merupakan kekasih mereka. "Hallo," ketiga gadis itu menyapa dengan nada lembut yang berhasil membuat mereka yang sedang memejamkan mata itu segera membukanya. Regan, Ardo, dan Fano seketika terdiam melihat pasangannya masing-masing yang nampak mempesona. Tampilan mengenakan dress sederhana dengan make up tipis, serta rambut yang dicurly sengaja digerai untuk dipamerkan. Tampilan yang begitu anggun dan terlihat memanjakan mata mereka. Sangat sempurna seperti bidadari yang akan menemani mereka. Jas warna biru yang dikenakan oleh mereka sepertinya sangat cocok dengan dress biru yang dipakai oleh para gadis mereka. Sungguh seakan serasi dan menambah kesan untuk tersendiri. "Jadi apa enggak?!" suara ketus dari Serly seketika langsung membuyarkan mereka. Ardo lebih dulu membuka pintu mobil yang ada di depan untuk Aerilyn. Sedangkan Regan dan Fano membukakan pintu di sisi kanan dan kiri untuk pasangan mereka masuk. Ardo dan Aerilyn duduk di depan dengan cowok itu sebagai pengemudi. Sedangkan keempat temannya yang lain duduk di bagian kursi belakang, untung saja muat. "Kalian yakin dengan tampilan seperti ini mau ke pasar malem? Atau kita makan malam aja?" tanya Fano untuk meyakinkan. "Ih, jangan gagalin rencana dong. Gak seru kalau ubah alur, nanti gak sesuai ekspektasi!" kata Riana memukul bahu cowok itu. Ardo yang ada di depan tentu saja harus tetap membawa mereka ke pasar malam yang jaraknya ditempuh hanya 10 menit saja. Setelah sampai mereka turun dari mobil, lalu dari parkiran menuju ke pasar malam. Di sana sudah terlihat sangat ramai, banyak muda-mudi yang juga ikut meramaikan tempat ini. Mereka rata-rata juga bersama pasangannya. "Pertama-tama mau naik wahana apa?" "Bianglala! kita bertiga cuman mau naik wahana itu, setelahnya nanti cuman main-main yang lain aja," ucap Serly yang seketika disetujui yang lain. Mereka segera membeli tiket untuk naik wahana bianglala. Lalu setelahnya memberikan tiket dan segera masuk ke dalamnya terlihat seperti sangkar burung. Mereka juga mengisi hanya berdua-berdua. Bianglala sudah setengah jalan, tetapi Aerilyn melihat Ardo yang tampak pucat apalagi saat melihat ke bawah, cowok itu memejamkan matanya. "Kak Ardo takut ketinggian, ya?" tanya Aerilyn hati-hati. Ardo membuka matanya, "Sebenarnya aku takut, tapi apa pun itu aku bakalan turutin kemauan kamu ini." Aerilyn tersenyum, ia menggenggam tangan Ardo. "Kak, jangan terlalu tegang. Santai aja, lihat keindahan malam ini." Mereka berada pada puncaknya, Aerilyn menunjuk pada indahnya pemandangan kota dengan bangunan-bangunan pencakar langit dan dihiasi banyak cahaya yang membuat semua itu tampak sangat indah dilihat di atas sini. Apalagi saat melihat indahnya gemerlap bintang yang menghiasi langit, bintang itu menemani bulan untuk memberikan keindahan langit malam. "Kamu bener, gak semuanya itu harus mendominasi pada ketakutan aku. Tetapi, aku juga harus melihat keindahannya. Aduh, pinter banget pacar aku!" Ardo tersenyum lalu mencubit gemas pipi pacarnya itu. Gadis itu hanya bisa menyandarkan kepalanya di bahu cowok itu. Setelah turun dari bianglala. Mereka memutuskan untuk berkeliling, membeli arum manis dan mencoba berbagai macam permainan yang ada di sana. Suasana perasaan bahagia yang selalu membuncah membuat mereka lupa dengan masalah yang ada di dalam diri mereka masing-masing. Seolah-olah semuanya hilang dan tergantikan oleh kebahagiaan yang tidak bisa mereka beli ini. Entah ada angin dari mana, ketiga cowok itu tanpa sengaja secara bersama-sama melepaskan jas mereka dan memakaikan pada pacarnya masing-masing. Itu seakan semakin menambah kesan romantis tersendiri untuk mereka. "Besok weekend mau jalan-jalan bareng enggak? Ke taman wisata yang baru dibuka beberapa hari yang lalu itu loh, aku lihat ke sana banyak banget spot foto yang bagus buat kita. Nanti foto bareng di sana, mau kagak?" Serly menawarkan kepada mereka. "Boleh, aku ngikut aja soalnya kalau di apartemen juga bakalan suntuk. Tapi nanti Miu aku titip dulu ke Mami, boleh enggak Kak Ardo?" ucap Aerilyn yang diangguki oleh Ardo dengan senyumnya sembari merangkul gadisnya itu. Kelihatannya yang lain juga setuju, jadi sepertinya mereka akan weekend bareng untuk rencana besok. "Guys, gimana beli baju couple-nya aja di sini? Banyak yang jualan, tuh!" kata Riana yang langsung disetujui oleh mereka. Alhasil mereka segera memilih-milih mana yang akan mereka kenakan besok. Sampai akhirnya, jatuh pada hoodie berwarna cokelat s**u. Untuk stelan bawahnya mereka akan mengenakan jeans yang mereka punya saja. "Yaudah, pulang yuk!" ajak Serly yang disetujui oleh yang lainnya. Mereka juga tidak jadi untuk pergi ke restoran karena sudah cukup kenyang dengan berburu makanan di situ, belum lagi sudah cukup lelah karena jam sudah menunjukan 23:00 malam. Riana hampir saja terjatuh jika Fano tidak buru-buru menahannya. Di sampingnya ada Erina yang meminta maaf, entah kenapa gadis itu ada di sini dan menubruk Riana. "Lo gak punya mata udah nabrak cewek gue, hah?!" Fano berteriak marah. "So-sorry Fan, gue gak sengaja dan gak tahu juga itu Riana. Btw kalian ke sini barengan, ya? Kok gak ngajak-ngajak gue, sih?" kata Erina membuat mereka terdiam sejenak. "Sebenernya kita udah ngajak lo tadi siang, tapi lo sendiri yang nolak mentah-mentah katanya males banget kalau ke pasar malem bikin bete. Kalau lo lupa, itu tadi gue ingetin," ujar Serly tersenyum meremehkan membuat Erina tergagap di tempatnya. Bukan Erina namanya jika tidak memiliki 1000 alasan. Ia berdalih kalau bosan di rumah dan mencoba berjalan-jalan ke pasar malam dan ternyata tidak sengaja bertemu dengan mereka. "Eh, Fano gue pinjem pacar lo bentar, boleh, 'kan? Gue kemaren mau bilang sesuatu tapi lupa, jadi sekarang aja mumpung inget." Erina tiba-tiba membawa Riana menjauh dari mereka untuk berbicara secara empat mata. Riana sendiri sudah merasa was-was dengan apa yang akan diucapkan oleh Erina. Ia merasa gadis itu tidak ramah dalam menarik dirinya saja tadi. "Eh, denger ya, Riana! Lo jangan sok deh, buat deket-deket sama dua sahabat gue. Jangan mentang-mentang kalian main bareng, lo bisa rebut posisi gue di geng mereka! Awas aja kalau gue lihat lo jalan sama mereka lagi, meskipun lo ceweknya Fano, seenggaknya jangan terlalu deket sama temen-temen gue!" bisik Erina dengan tegas, tak ingin yang lain mendengarnya. Riana hanya mematung di tempat, setelah itu dengan wajah polos Erina, membawanya kembali mendekat ke arah pacar dan teman-temannya. "Duh, gue ke sini juga sendirian. Jadi, gue mau pamit pulang, ya. Bye, night all!" Erina melambaikan tangan dan pergi menjauh dari mereka. 'Sendirian? Tapi mata gue lihat lo jalan mendekat ke arah trio jamet yang kemaren ganggu Ilyn.' Serly membatin dengan senyum smirk. "Riana, apa pun yang diucapin Erina. Lo jangan mudah terpengaruh, gue yakin dia ngomong yang gak baik sama lo," ujar Serly yang tiba-tiba serius. Riana yang masih terkejut hanya bisa mengangguk saja, sedangkan Aerilyn malah kebingungan sampai bertanya. Akan tetapi, tidak ada yang berani menjawabnya dan malah mengalihkan untuk segera pulang. Ketiga gadis itu akan diantarkan ke apartemen Aerilyn, sekalian Ardo ingin mengambil Miu untuk dibawa pulang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN