Riana masih merasa bimbang, ia memikirkan ucapan Erina tadi malam yang seolah-olah mengancam dirinya. Namun, di satu sisi ia masih mengingat apa yang dikatakan Serly semalam tentang tidak usah mendengarkan perkataan Erina jika itu suatu hal yang buruk. Jadi ia harus mendengarkan yang mana? Hati gadis itu benar-benar bimbang saat ini.
Akan tetapi, satu sisi hatinya mengatakan ia tidak ingin jika nanti persahabatan antara Erina dengan Serly dan Aerilyn menjadi rusak hanya gara-gara dirinya.
"Lo kenapa, sih?" tanya Serly yang sedari tadi kebingungan melihat temannya itu selalu melamun dan terlihat gelisah.
Riana tersentak, lalu menatap Serly dengan raut wajah yang tidak bisa ditebak. Gadis itu hanya menggeleng pelan membuat temannya itu mengembuskan napas.
"Kayaknya gak jadi ikut deh, buat weekend hari ini," ucap Riana dengan lesu. Mungkin itu keputusan yang baik, meski sebenarnya ia ingin ikut.
"Gue tebak, lo kepikiran sama ucapan Erina? Emang dia ngomong apa sih, sama lo? Sampai lo kayak gini. Padahal kemaren lo yang paling semangat sama si Ilyn!" Serly mendelik, ia begitu jengah dengan semua hal yang dilakukan Erina.
Sekali lagi, Serly memberitahukan pada Riana. Jika Erina bukan orang baik seperti yang kelihatannya, dia penuh dengan tipu muslihat bahkan terkadang sering memanfaatkan Aerilyn yang masih lugu. Jika bukan karena ia gadis itu tak ingin membuka terlalu dalam tentang kedok musuh bertopeng teman itu.
"Tapi kenapa Ilyn gak pernah dikasih tahu? Kenapa gak mau memutuskan persahabatan kalian kalau kamu gak suka?" Riana mengerutkan kedua alisnya bingung, padahal ia masih baru di sini. Namun, sudah diberi tahu sangat dalam tentang pertemanan mereka itu.
"Ilyn itu lugu, gue gak mau dia sedih sama pertemanannya ini. Gue gak mau dia ngerasa dikhianati, cukup dengan semua rasa sakit yang pernah dia alami. Dia itu terlalu baik sama semua orang sampai gak bisa membedakan mana arti dimanfaatkan dan diberi kebaikan. Gak pernah tahu ia nolong orang baik apa jahat, bahkan mau orang jahat sama dia pun kalau minta tolong dia akan bantu semaksimal mungkin," Serly fokus menatap ke depan. Kemudian gadis itu tertunduk seraya mengembuskan napas panjang, ia benar-benar tidak tahu lagi harus bagaimana dengan sahabatnya yang satu itu.
Aerilyn begitu menyayangi orang-orang terdekatnya, ia terlalu sering dikecewakan oleh berbagai hal apalagi oleh keluarganya sendiri. Serly tidak mau jika kenyataan Erina itu adalah teman yang palsu, ia tidak ingin membuatnya sedih. Jangan sampai nanti sahabat tersayangnya jadi sangat trauma dan tak mau lagi dekat dengan siapa pun.
"Sampai kapan menutupi semua ini? Apa Ilyn gak akan sakit hati kalau kamu menutup-nutupi semuanya?" tanya Riana membuat Serly terdiam tak tahu harus menjawab apa.
***
Ardo, Fano, dan Regan sudah berada di depan gedung apartemen untuk menunggu kekasih mereka yang katanya masih berjalan untuk menghampiri. Hari ini mereka sengaja akan jalan-jalan dengan motor besar kepunyaan mereka, tidak dengan mobil yang semalam.
"Kak Ardo!" Aerilyn melambai diikuti Riana dan Serly di belakangnya yang langsung ikut menghampiri cowok mereka.
Stelan ketiga cewek dan cowok itu benar-benar sama, dengan hoodie yang semalam mereka beli dipadukan dengan celana jeans hitam yang panjang.
"Widih udah pada cakep bener, nih. Kayaknya langsung bawa ke KUA aja kali, ya." Regan mengedipkan matanya untuk menggoda Serly.
"Lo kalau kayak gitu malah bikin gue jijik," ucap Serly bergidik ngeri.
Teman-temannya hanya bisa terkekeh, memang mereka itu pasangan ternyeleneh. Panggilan saja kadang aku-kamu, lo-gue. Kadang bertingkah absurd, seperti tom and jerry, bahkan bisa juga saling manja-manjaan, sangat random.
Fano merasa aneh dengan tingkah pacarnya yang seperti tidak nyaman di tempatnya. "Yang, kamu kenapa? Lagi gak enak badan?"
"Aku gak jadi ikut aja, ya?" cicit Riana membuat semuanya menoleh padanya.
"Please deh, jangan kemakan sama omongannya nenek lampir itu! Udah gue bilangin santai aja, gak usah takut kayak gitu. Kalau pun dia ngancem-ngancem lagi, ada Fano dan kita semua yang bakalan lindungin lo!" celetuk Serly, seketika mereka langsung paham siapa nenek lampir yang dimaksud, sedangkan Aerilyn yang memang lemot itu tidak memahami apa yang mereka ucapkan.
"Nenek lampir siapa?" tanya Aerilyn mengerjapkan matanya dengan lugu.
"Husttt sayang, jangan kebawa emosi. Ada Ilyn," bisik Regan membuat Serly memberenggut di tempatnya, gadis itu benar-benar sangat kesal.
Ardo mengelus rambut Aerilyn, "Bukan siapa-siapa kok, Sayang. Maksudnya itu nenek lampir di dunia dongeng. Emang kamu gak tahu ya, kalau Riana suka dongeng? Jadi kata Fano, pacarnya itu jadi takut sama ucapan nenek lampir di cerita itu. Kan latarnya hutan yang katanya sudah dikasih kutukan, nah sekarang kita mau ke tempat wisata alam gitu. Serly jadinya kesel deh sama Riana, soalnya kan cuman dongeng."
Ardo mengarang cerita membuat Aerilyn yang polos hanya mengangguk saja tak mau memperpanjang masalah itu karena ia tipe yang tak mau ribet.
"Udah Riana, kamu gak boleh takut. Itu cuman tokoh dalam dongeng kok, lagian kalau itu beneran ada. Aku mau jadi power rangger buat lindungin kamu, boleh?" ucap Aerilyn ingin mencairkan suasana.
Riana hanya menanggapi dengan senyum tipisnya, sedangkan yang lainnya terkekeh gemas. Entahlah, kenapa gadis lugu itu sangat mudah sekali untuk percaya dengan ucapan orang lain, padahal Ardo tadi hanya mengarang, membuat mereka jadi semakin takut jika nantinya gadis itu akan mudah percaya dengan ucapan atau hasutan orang jahat seperti Erina nantinya. Akan tetapi, ada untungnya tadi percaya jadi tidak harus lagi menjelaskan bertele-tele, apalagi menjelaskan inti masalahnya. Itu sangat tak mungkin bagi mereka.
Fano membawa Riana ke dalam pelukannya untuk menenangkan karena gadisnya masih terlihat gelisah. Semalam juga kekasihnya itu sempat menelponnya soal ucapan Erina yang mengancamnya. Akan tetapi, sebagai pacar yang baik ia akan terus membuat gadisnya merasa nyaman.
"Ehm, ini jadi enggak?" tanya Aerilyn memecahkan kecanggungan yang tiba-tiba kembali muncul.
"Jadi dong, Sayang ... sesuai rencana hari ini. Yaudah, kita duluan aja gimana? Nunggu mereka drama lama banget," ujar Ardo sembari memasangkan jaket pink yang sengaja ia beli kemarin khusus kekasihnya itu.
"Ekhem, sosweet banget tu pasangan kek pengantin baru aja, dah. Gue aja gak pernah digituin sama Regan," ucap Serly berdeham pelan, ia juga ingin mencairkan suasana yang tadi kembali membeku.
"Oh, jadi pacar aku yang super duper cerewet dan galak ini mau kayak gitu juga, hm? Kenapa gak bilang aja?" Regan mengacak-acak rambut Serly dengan gemas.
"Emang harus bilang juga ya? dasar!" Serly mencebik, tangannya terulur untuk mencubit sang kekasih. Membuat sang empunya itu meringis kesakitan.
Untung saja di sini tak ada jomlo, misalnya seperti Erina. Kalau ada sudah dipastikan hatinya akan panas melihat mereka semua bermesraan tanpa melihat tempat.
"Hehe aku suka lupa bawa jaket Kak Ardo, ini buat aku aja, ya?" kata Aerilyn mengerlingkan matanya dengan gemas. Paling beda sedikit, ia malah ingin melakukan negosiasi dengan sang pacar.
Ardo terkekeh pelan, ia mengacak-acak rambut gadis itu dengan gemas. Selain itu, ia juga segera memasangkan helm padanya.
"Oke guys, gue duluan jalan. Kalian jangan lupa nyusul!" Ardo mengedipkan sebelah matanya, bukan untuk menggoda tapi untuk memberi kode agar mereka menyelesaikan masalah tadi.
Ardo dan Aerilyn segera segera menaiki motor, sampai motor itu melenggang pergi dan sudah jauh dari pandangan mereka. Riana baru berani melepaskan dirinya dari pelukan Fano.
"Udah Sayang, kamu tenang aja. Erina itu gak bakalan berani macem-macem sama kamu. Ada aku yang bakalan siap jagain kamu terus, kamu jangan takut okey? Jangan was-was, semuanya bakalan baik-baik aja. Percaya deh, dia cuman nge-gertak aja gak bakalan tuh berani buat ganggu kamu karena seharusnya dia itu tau lah, pawang kamu ini bakalan bikin dia nerima bayarannya atas perbuatan dia ke kamu nanti," ucap Fano menenangkan gadisnya itu dengan mengusap lembut surai rambutnya. Matanya mengedip untuk menggoda, seolah-olah ia juga berjanji ingin menjadi pelindungnya. Tetapi, niatnya hanya ingin melihat gadisnya tersenyum saja.
"T-tapi, aku cuman takut pertemanan Aerilyn, Serly, sama Erina itu jadi hancur gara-gara aku." Riana menunduk memilin ujung hoodie yang ia pakai. Bibirnya sedikit maju karena kesal dengan sang pacar yang bisa-bisanya malah menggodanya dengan kedipan mata.
Serly dan Regan saling menatap, sudah diduga Erina beraninya hanya menghasut dan juga mengancam. Membuat mereka semakin geram dengan tingkah teman fake yang semakin menjadi setiap harinya.
"Santai aja, kalau udah waktunya rusak ya, rusak aja. Cepat atau lambat itu akan terjadi. Sifat busuknya itu bakalan ketahuan juga," kata Serly.
"Tapi kalau menurut gue, yang lagi diincer sama Erina itu Ilyn. Gue harus nyuruh Ardo buat lebih jagain dia, dan kalian berdua harus terus ada di samping dia. Bahkan kalau bisa nginep di apartemennya dan jangan izinkan Erina nginep bareng sama Ilyn. Gue curiga banget sama tu anak punya niat macem-macem, bahkan saat kasus pembullyan Aerilyn waktu itu gue malah curiganya sama dia, sebab trio itu liatin dia terus kayak ngasih kode," ujar Regan yang tiba-tiba serius.
"Iya gue juga perhatiin gitu sih, jadi jaga-jaga aja." Serly setuju dengan pemikiran sang kekasih untuk sama-sama melindungi sahabat tersayang mereka.
Riana malah sekarang menjadi tidak enak, suasananya malah menjadi seperti ini hanya karena dirinya yang terlalu cemas. Padahal hari ini mereka weekend akan bersenang-senang.
"Ehm maafin aku ya, temen-temen. Lupain aja yang tadi sekarang kita seneng-seneng dulu gimana? Kasihan nanti kalau Kak Ardo sama Ilyn nunggu lama di sana." Riana menampakan senyum manisnya, seketika membuat mereka mengangguk.
"Iya, orang kayak Ardo jangan dibiarin lama-lama sama Ilyn, ntar yang ada dia keenakan malah dikasih waktu berduaan gitu," celetuk Fano yang langsung mendapatkan pukulan kecil dari Riana di bahunya.
***
Mereka bersama-sama memasuki gerbang taman wisata, mata ketiga gadis itu berbinar menatap indah tempat itu, benar-benar memanjakan matanya. Di sana bukan hanya mereka yang datang, banyak juga dari yang muda sampai yang tua ikut berwisata di sana.
"Ya ampun, di sini juga banyak spot fotonya! Ada sepeda gantung, ayunan yang latar belakangnya pemandangan indah dari ketinggian. Dan banyak lagi!" Aerilyn memekik girang, ia langsung menarik Ardo untuk mereka berfoto ria.
Mereka saling bergantian berfoto berdua, lalu berfoto bersama selama hampir dua jam. Setelah puas mereka berkeliling di sana, suasana sudah semakin siang membuat mereka merasa sudah cukup lelah.
Mereka mencoba untuk beristirahat dan makan di salah satu stan penjual bakso dan mie ayam yang ada di sana untuk mengisi perut mereka yang sudah meronta minta diisi untuk makan siang.
"Guys karena setelah jadian gue belum traktir, kalian makan aja sepuasnya. Beli makanan yang ada di sekitar sini bebas, gue nanti yang bayar!" ucap Ardo dengan congkak, membuat teman-temannya berseru heboh seolah mendapatkan harta karun.
Mereka segera memesan bakso, ingin cepat-cepat menghabiskannya dan nantinya akan mencoba seperti berburu makanan di sini karena stan penjualnya juga lumayan banyak dan menawarkan berbagai macam jenis jajanan olahan dan minuman yang menggiurkan. Kesempatan emas itu tidak akan mereka sia-siakan karena tidak akan datang dua kali dari seorang Ardo.
***
Hari sudah mulai sore, perut mereka juga sudah sangat kenyang. Akan tetapi, mereka masih ada jadwal untuk pergi menonton bioskop malam ini.
"Kak Ardo ayo kita ke bioskop! Katanya mau nonton?" kata Aerilyn sembari mengerucutkan bibir khas-nya membuat ia terlihat sangat imut.
Ardo mencubit gemas pipi chubby kekasihnya itu, entah pelet apa yang diberikan oleh Aerilyn sehingga membuatnya jatuh cinta dengan sedalam ini, padahal sebelumnya ia belum pernah merasakan benar-benar yang namanya jatuh cinta. Ya, meskipun sudah pernah pacaran tapi tidak benar-benar merasakan yang namanya jatuh cinta sampai sedalam ini.
"Sabar sayang, habisin dulu ice cream-nya, ya! Habis itu kita langsung ke bioskop, deh." Ardo mengusap lembut puncak kepala Aerilyn.
"Oke, tapi pasangin jaket dulu ke aku, dong!" rengek Aerilyn dengan manja membuat Ardo terkekeh, sedangkan teman-temannya yang lain hanya bisa menggeleng memperhatikan pasangan baru itu.
Aerilyn bahkan menyuruh Serly untuk memegangi sebentar ice cream miliknya, karena ia akan mengenakan jaket. Meski dirinya sudah memakai hoodie yang tebal, tetap saja Ardo takut jika sewaktu-waktu gadisnya malah akan merasa kedinginan, apalagi aktivitas mereka bisa-bisa sampai nanti malam.
"Mereka bucin banget, ya?" lirih Riana, membuat Fano ikut terkekeh.
"Iya, tapi aku masih gak nyangka sama mereka loh, sayang. Ardo itu dulunya suka sangar, galak banget sama Ilyn! Tapi, sekarang mereka malah jadi bucin banget, memang perubahan orang itu gak ada yang sangka, ya? Pawangnya dapet yang lugu gitu lagi," kata Fano menatap mereka dengan senyumnya yang mengembang.
"Kenapa sih, pake pawang-pawang segala? Emangnya ular kali pake pawang," ucap Riana menggeleng, sedangkan Fano hanya terkekeh untuk menanggapi.
Sedangkan di satu sisi tidak ada yang menyadari bahwa sejak tadi, Serly dan Regan lebih fokus pada sosok perempuan yang sedang menatap ke arah mereka. Lebih tepatnya menatap tajam ke arah Aerilyn dan Ardo.
"Gue tabak, si Erina bakalan nyamperin ke sini," ucap Serly tersenyum miring.
"Huh, itu cewek gak bisa ya, buat waras sebentar aja? Bisa-bisanya dari tadi ngikutin kegiatan kita terus. Lo juga kenapa udah tahu dia itu dulu jahat, ngapain malah dibawa masuk ke pertemanan lo sama Ilyn, sih? Lo tahu juga kan, kalau tu cewek suka sama Ardo?" lirih Regan dengan geram.
"Iya gue tahu dulu salah, tapi Ilyn juga yang maksa buat si Erina bisa masuk ke lingkaran pertemanan antara gue dan dia sampe nangis-nangis mohon buat bisa temenan sama cewek gak jelas itu! Huft, gue cuman takut aja nanti Erina bakalan ngelakuin hal yang nekat ke Ilyn. Gue masih belum siap kalau Aerilyn sedih lagi atau bahkan sampai mengurung diri, dan lebih parahnya yang gue takutkan itu dia nyakitin dirinya," ujar Serly benar-benar was-was, ia tak ingin semua itu terjadi. Jangan sampai!
Tidak ada yang mendengar percakapan mereka karena sibuk dengan kegiatan dan obrolan masing-masing. Dua sejoli itu saja mengobrol dengan intonasi suara yang lumayan rendah, sengaja agar tak ada yang mendengar percakapan mereka.
Benar saja, tidak lama kemudian. Tiba-tiba Erina datang dan pura-pura terkejut melihat keberadaan mereka di tempat wisata ini. Semua orang hanya terdiam bahkan berdecih dengan kebohongannya, sedangkan Aerilyn yang tidak tahu apa-apa malah menyambutnya dengan girang.
"Ish, kok kalian jalan-jalan gak ngajak gue, sih? Kesel banget, deh! Apa karena gue gak punya pasangan, ya? Jahat banget sih, kalian!" Erina memajukan bibirnya seolah-olah sedang merajuk, padahal hal itu malah membuat Serly dan Riana merasa jijik dengan tingkah muka duanya.
"Ih padahal semalem aku nge-chat kamu, terus tadi pagi juga berusaha telepon kamu tapi gak pernah diangkat," ucap Aerilyn dengan lugunya.
Regan dan Serly saling menatap, ternyata Erina membuntuti mereka sedari tadi memang sudah tahu rencana weekend mereka dari si lugu Aerilyn.
"Btw kita mau nonton, mau ngikut juga kagak? Jangan beraninya jadi penguntit terus!" ketus Serly menyindir Erina. Ia sudah tidak mau lagi berpura-pura baik di depan Aerilyn, selagi temannya masih lugu dan belum mengerti masalahnya. Mungkin tidak akan terlalu runyam, 'kan?
"Lo kenapa sih, Ser? Lo bahkan gak ngajak-ngajak gue, tapi lo malah ngajak Riana!" ucap Erina tidak terima.
"Heh, kok jadi bawa-bawa pacar gue?! Ada masalah apa sih, sama lo, hah?! Orang kayak lo kan emang gak pantes buat diajak!" ujar Fano tidak terima dengan jari yang menunjuk wajah Erina
"Loh? Gue masih orang dalem, kenal sama mereka lebih lama dari pada lo atau pun Riana!" sentak Erina seraya menatap tajam cowok itu dan Riana.
Regan yang masih tenang, berusaha untuk menyudahi pertengkaran mereka. Apalagi tidak mau semakin membuat Aerilyn menjadi lebih pusing dengan semua yang terjadi akhir-akhir ini antara Erina dan temannya yang lain.
"Kalian kenapa sih? Dari sebelum ke sini tingkahnya pada aneh banget! ini gak boleh, itu gak boleh, takutlah ini itu. Bisa gak kalau ngomong yang jelas? Aku gak tahu inti permasalahannya yang kalian obrolin tahu!" ucap Aerilyn mengerutkan dahinya dengan bibir khas-nya yang selalu dimajukan kala kesal, sedangkan yang lain hanya menghela napas panjang.
Ardo juga mulai menenangkan dan memberikan pengertian pada pacarnya yang lugu itu. Ini semua memang benar-benar sangat rumit. Salah langkah, akan beda cerita. Bukan tak ingin memberi tahu, mungkin saja ini waktunya yang belum tepat. Suatu hari nanti jika memang gadis itu harus mengetahui semuanya, mereka akan menjelaskan atau bahkan Erina sendiri yang akan membuka kedok muka dua munafiknya yang penuh dengan tipu muslihat itu?
Cepat atau lambat semua akan terbongkar pada waktunya jika masa itu telah tiba. Harus bisa siap jika semuanya terbongkar, mereka benar-benar harus bisa menjadi tempat paling nyaman untuk Aerilyn agar gadis itu tak merasa sendiri karena ditinggalkan. Entahlah, ibaratnya semua ini masih penuh misteri.
Mereka hanya takut saja respon Aerilyn nantinya akan buruk, takut gadis itu malah menjadi trauma karena ternyata tak disukai oleh orang terdekat yang ia anggap sebagai sahabat baiknya. Atau akan seperti saat dulu, ia menjadi penyendiri dan pemurung, tiba-tiba menjauhi Serly dan yang lain.
Membayangkan itu semua membuat mereka tak bisa berpikir jernih lagi. Bahkan sudah berpikir terlalu jauh, takut nantinya Aerilyn akan mencoba menyakiti dirinya sendiri, atau self harm. Ya, makanya harus benar-benar menjaga persaaan gadis itu, bukan karena dia lebai atau bagaimana. Namun, gadis itu begitu juga karena sudah banyak luka yang diterima dengan cara berbagai hal yang sangat menyakitkan.
Aerilyn bisa bertahan dan kembali ceria karena Serly dan Regan yang dulu selalu ada untuknya agar tak pernah lagi merasa sendirian. Bahkan dengan Julaeha juga yang sudah lama dengannya, hampir membuat gadis itu menjauhinya dengan banyak pemikiran buruk yang ada dalam benaknya.
'Lyn, gak salah semua orang sayang dan ngelindungin kamu. Sebab, kamu itu lebih dari pantas untuk mendapatkannya. Jadi ngerasa bersalah karena dulu hampir mikir macem-macem, ngerasa mereka terlalu berlebihan dan lebai.' pikir Riana, membuat bibirnya tersenyum simpul.