Hari ini Erina sengaja datang lebih lambat daripada biasanya yang selalu menjadi siswi rajin dengan datang pagi. Ia masih merasa jengkel dengan kejadian kemarin melihat teman-temannya begitu bahagia jalan-jalan tanpa dirinya. Ia pikir dengan ia tidak ikut, mereka akan membatalkan weekend mereka, tetapi malah semakin menjadi.
Mood Erina yang sedang buruk, malah semakin lebih buruk lagi saat baru saja masuk kelas, langsung melihat Aerilyn, Serly, bahkan Riana yang bukan asal kelasnya ikut bermesraan di sana. Mereka seolah tidak peduli dengan orang-orang di dalam kelas yang memperhatikan. Gadis itu tampak semakin menatap mereka dengan sinis, sebab ia menganggap mereka benar-benar sangat tidak tahu sopan santun dan aturan, malah seenaknya saja bermesraan dalam kelas, apalagi tempat duduknya di tempati oleh Riana dan Fano.
"Awas minggir lo! Tempat duduk gue, nih!" Erina menarik Fano agar menyingkir dari tempat duduknya.
"Santai aja kali, gak usah ngamuk gitu. Numpang duduk bentaran doang juga malah diusir-usir aja. Gak sopan banget lo jadi orang!" sinis Fano yang memang sudah sangat tidak menyukai sifat gadis itu.
"Lo bilang gue gak sopan, hah?! Lebih gak sopan mana, gue yang minta lo menyingkir karena ini tempat gue, atau kalian yang seenaaknya duduk di situ dan gak minggat saat gue udah ada di sini? Kalian ini gak punya malu, ya? Pacaran di dalem kelas dilihat sama banyak temen-temen gini, apalagi lo sama Riana gak malu pacaran di kelas orang, hah?! Di gudang sana pacarannya, kek. Mau ngapain aja bebas, gak ada orang yang ngelihat! Jijik banget gue liat ke-alayan kalian pacaran di sini. Padahal udah mau masuk," ketus Erina dengan wajah kesalnya. Emosinya sedang tidak stabil sehingga ia tidak berpikir jernih untuk mengontrol emosi yang ia miliki sampai seperti itu. Hatinya sudah benar-benar tidak mau menoleransi mereka yang ia anggap selalu saja seenaknya, ia seperti bukan teman mereka dan bahkan mungkin ia tak dianggap?
Riana langsung menarik Fano untuk keluar, padahal mereka tidak melakukan hal yang tidak wajar. Hanya ingin main ke kelas itu sebab diajak oleh Regan dan Ardo. Lagi pula mereka berdua hanya duduk sambil mengobrol ringan dan sesekali bercanda tawa tidak melakukan hal-hal yang memalukan lainnya. Bahkan teman-teman kelas yang ada di sana tidak ada yang protes juga mereka berasa di situ.
"Serly, emang hari ini jadwalnya Erina PMS? Perasaan dia biasanya akhir bulan deh, iya 'kan? Atau jadwalnya dia sekarang jadi lebih cepet?" tanya Aerilyn dengan tatapan polosnya.
"Apa lo?! Sok imut banget jadi orang, gue gak suka banget sama manusia munafik jenis lo! Pagi-pagi udah bikin emosi banget kalian, apalagi lo Lyn ... emang suka bikin mood gue ancur, karena apa coba? Karena sifat sok lugu, sok polos, pokoknya sok aja deh lo jadi orang!" Erina mendelik ke arah Aerilyn, ia membuat gadis itu semakin kebingungan. Aerilyn seperti merasa bersalah, mungkin ia sudah membuat temannya itu marah. Namun, ia tak menyadari atau ada hal lain yang tidak pernah ia ketahui?
Aerilyn memilin jarinya, sepertinya ia sudah salah bicara. "Maaf ya, kalau aku salah ngomong Erina. Serius deh, aku gak punya maksud apa-apa. Cuman nanya aja, soalnya kamu dateng-dateng tiba-tiba marah."
"Salah lo itu banyak banget sama gue, Lyn! Lagian gak akan pernah ada asap kalau gak ada api, dan begitupun dengan gue. Gak bakalan tuh gue emosi kalau gak ada pemicunya!" bentak Erina menunjuk gadis itu.
Ardo yang merasa tidak terima jika gadisnya dibentak seperti itu, langsung menyingkirkan tangan Erina yang menunjuk wajah Aerilyn dengan kasar. Bahkan ia hendak menamparnya jika kekasihnya itu tidak menahan dan membantu untuk meredakan emosinya. Untung masih saja Aerilyn membuat perempuan yang ia tak suka itu selamat dari hukuman tangan ganasnya.
"Apa lo hah?! Manusia rendahan! Orang gak salah apa-apa lo bentak-bentak! Seharusnya lo itu introspeksi diri aja deh, jadi orang. Lo punya kaca di rumah, kan? Pake tuh buat ngaca, buat sadar diri lo itu banyak salah. Andai ini kemunafikan orang bisa dilihat dengan cara orang itu mengeluarkan bau, pasti lo udah bau sampah badannya! Kaca di rumah lo cuman buat liat wajah lo doang mending pecahin aja! Gak ada yang bisa dibanggakan dari wajah munafik lo!" hardik Ardo emosi dengan suara yang meninggi. Membuat orang-orang yang masih berada di dalam kelas memperhatikan mereka. Bahkan tak sedikit dari mereka mulai berdesas desus.
"Apa sih, bacot lo!" hardik Erina dengan wajah merah padam. Merasa tidak terima dimarahi oleh cowok yang ia sukai hanya karena lebih membela Aerilyn. Tentu saja di hatinya semakin tersimpan dendam dan juga amarah yang ia tujukan pada Aerilyn. Memang siapa lagi selain gadis itu yang sangat benar-benar ia benci?
Aerilyn menenangkan Ardo, ia ingin menyudahi perdebatan itu. Tak mau membuat keributan lebih lama lagi. Terlebih malu dengan teman-teman sekelasnya di sana. Takut menimbulkan gosip yang tidak-tidak, jangan sampai terdengar juga oleh guru-guru.
"Erina, maafin aku kalau misalnya aku ada salah sama kamu. Kalau misalnya kamu kesel soal kemarin gak ikut, lagian kamu juga gak nerima ajakan aku," kata Aerilyn sembari menunduk, gadis itu kemudian merapatkan bibirnya takut semakin salah bicara.
"Lo cuman bujuk gue satu sampai tiga kali, gak mencoba lebih! Bahkan saat gue gak bisa dihubungi kalian ada gak ngerasa khawatir? Atau kalian ngerasa gak enak karena seneng-seneng tanpa gue? Enggak sama sekali, kalian malah bahagia banget juga!" Erina menatap Serly dan Aerilyn dengan tatapan tajamnya.
"Berisik, bacot lo! Lo yang munafik ya, lo tuh minus akhlak. Makanya simpen otak di kepala jangan di dengkul! Oh, gue tahu atau jangan-jangan otak lo itu jatoh di jalan? Sana gih, lo cari lagi terus lo pungut! Kalau gak ketemu lo carinya di tong sampah sana! Obrak-abrik sampai dapet biar akhlak lo itu nambah, soalnya biar bisa mikir!" Serly membentak tak suka, sedari tadi Regan selalu menahannya untuk tidak emosi, tetapi Erina sudah keterlaluan.
Erina bergegas keluar dari kelas itu, tidak memperdulikan teman-teman kelasnya yang semuanya memperhatikan perdebatan mereka. Di luar ia melihat Riana dan Fano yang sedang asik mengobrol, Erina hanya memberikan senyuman sinis dan mengacungkan jari tengah untuk mereka. Membuat dua sejoli itu menggedikan bahunya.
"Gak usah dianggap, dia itu cuman orang stress!" bisik Fano yang hanya bisa diangguki oleh Riana. Gadis itu sudah tak mau lagi ambil pusing, ternyata memang benar saja sifat Erina sangat membuat kejutan yang sangat menghebohkan hari ini.
***
Aerilyn tidak fokus belajar dari pagi sampai sekarang akan pulang sekolah. Pikirannya selalu tertuju pada Erina, ia selalu merasa bersalah. Hatinya tidak pernah tenang karena sudah merasa sangat jahat kepada temannya itu. Ia harus bisa berbicara dengannya nanti, ingin semuanya diluruskan dengan benar kembali.
"Sayang ... ayo, pulang!" ujar Ardo merangkul Aerilyn.
Cowok itu tahu, sepertinya kekasihnya sedang banyak pikiran. Bahkan kelihatannya sedang tidak baik-baik saja. Ia tahu pasti tak jauh penyebabnya adalah soal kejadian tadi pagi. Ardo benar-benar mengumpat dalam hati, menyumpah serapahi sosok Erina yang tak punya hati nurani itu.
"Ehm, aku mau ke toilet dulu ya, Kak. Tungguin aku aja di parkiran," ucap Aerilyn membuat Ardo mengangguk saja.
Gadis itu berlari ke toilet, ia ingin mencuci wajahnya dan menetralisir rasa bersalah yang terus menerus muncul. Ia tidak boleh selalu seperti ini, sebab itu tidak akan terlalu baik untuk kesehatan mentalnya. Apalagi sangat tak ingin merepotkan banyak orang lagi kala nanti mentalnya benar-benar down.
"Ck, muka dicuci gitu apa enggak takut muka duanya kehapus? Mending dijaga aja baik-baik biar tetap bisa memerankan sosok gadis yang diidamkan, dikasihi, disayangi, diutamakan. Jangan dicuci lagi ya lain kali?" ujar seseorang yang sedang menyender di pintu toilet.
"Erina? K-kenapa kamu bilang kayak gitu? Sebenernya salah aku apa sih, sama kamu? Kalau ada hal yang kamu gak suka dari aku, kamu bilang dong ... aku capek untuk berpikir sebenarnya aku udah ngelakuin kesalahan besar apa sampai kamu marah dengan luar biasa seperti tadi pagi? Jujur aja, aku takut Erina," Aerilyn menunduk, meremas roknya karena terlalu takut.
Erina tertawa dengan keras, sehingga suaranya itu menggema di dalam toilet. Sekolah yang sudah sepi dan di toilet itu hanya ada mereka berdua saja. Sudut bibirnya terangkat, ia tersenyum misterius sehingga membuat kesan menyeramkan bagi Aerilyn yang melihatnya.
"Duh, tangan gue gatel, nih!" seketika Erina langsung memgangkat tangannya untuk melakukan sentuhan menyakitkan pada pipi chubby Aerilyn dengan tenaganya yang lumayan besar. Tentu saja cukup untuk membuat sudut bibir gadis itu berdarah.
Erina secara tiba-tiba dengan sarkas mengambil gayung berisi air dari dalam toilet dan langsung menyiramkan nya pada Aerilyn sehingga membuat gadis itu basah kuyup. Dia semakin menggila dengan melakukannya secara berulang kali. Semakin melihat orang yang ada di hadapannya itu ketakutan dan terlihat berantakan, semakin ia menjadi bahagia. Tawanya yang terkesan menyeramkan di indera pendengaran Aerilyn, membuat gadis itu tak bisa berbuat apa-apa.
Aerilyn hanya bisa berdiam diri, tidak memperdulikan keadaanya yang semakin basah kuyup bahkan tamparan keras yang diberikan Erina masih terasa ngilu di pipinya. Ia berpikir mungkin sudah jahat tanpa disadari dan itu harga yang setimpal untuknya. Ia rela diperlakukan seperti apa saja jika memang ia salah dan mungkin itu bisa memperbaiki hubungan mereka lagi pada esok harinya. Semoga saja.
Erina menatap Aerilyn dengan penuh kebencian. "Lo itu jadi sahabat gue atau mau jadi musuh gue, sih?! Kenapa setiap yang gue mau malah lo yang dapetin? Kenapa harus lo terus yang selalu segala-galanya di atas gue, sih? Kenapa semua orang itu selalu menjadikan lo bulan di antara ribuan bintang?! Padahal lo itu gak ada apa-apanya dibandingkan dengan gue! Jujur aja gue iri! Kenapa gue gak bisa mendapatkan seperti yang lo dapetin, hah?! Hidup lo kayaknya hoki terus deh, ya? Bikin gue bawaanya kalau ngeliat lo itu pasti benci banget!" Gadis itu semakin menjadi, tertawa seperti orang kerasukan. Bahkan mencaci maki Aerilyn, dan memberikan pukulan pada tubuh gadis yang malang itu. Padahal Aerilyn selalu berbaik hati padanya, kenapa balasan yang diberikan semenyakit kan itu? Tak berperikemanusiaan.
Aerilyn hanya bisa menunduk dan mendengarkan kemarahan Erina. Ia tidak bisa berbuat apa-apa selain diam, seperti seorang anak yang sedang dimarahi oleh ibunya. Ia juga tidak kuat melihat kilatan amarah yang penuh dengan kebencian dari mata temannya itu. Ia bahkan rela mati-matian menahan rasa sakit yang menjalar pada tubuhnya akibat pukulan dan tamparan yang diberikan oleh orang yang ia anggap sahabat itu.
Sungguh, Aerilyn tidak bisa menyangka jika hal ini terjadi. Apalagi Erina selalu memojokan dirinya sebagai tersangka, yang semakin membuat gadis itu merasa sesak. Ia hanya bisa menahan isak tangisnya, agar tidak terlihat lemah dan cupu di depan orang itu, sebab tak mau lagi mendengar caci maki yang keluar dari mulut orang di hadapannya itu.
"Semua orang selalu mengutamakan diri lo, perhatian semua orang selalu tertuju pada lo! Gue juga paling iri kalau Serly lebih perhatian sama lo ketika lo ada masalah, sedangkan ketika gue ada masalah kalian gak pernah ada buat gue, 'kan?! Seolah-olah gak punya mata dan sok gak tahu kalau gue juga punya masalah pribadi yang banyak!" cerocos Erina dengan nada tinggi. Emosinya semakin menjadi-jadi, membuat Aerilyn sudah tidak kuat untuk mendengarnya lagi.
"Erina, ini semua gak seperti yang kamu banyangkan. Aku sama Serly gak pernah tahu kalau hidup kamu itu juga sulit, aku minta maaf jika selalu menjadi orang yang paling sedih. Sekarang mau kamu apa?" Aerilyn mendongak memberanikan diri menatap lekat Erina.
"Lo nanya mau gue apa? Gue mau semuanya, gue mau Ardo, gue mau Serly, gue mau semua temen-temen deket lo! Gue mau lo menyingkir dari dunia ini, dan biar gue yang menggantikan lo!" sarkas Erina seketika berhasil membuat bola mata Aerilyn membulat sempurna.
"Erina, kamu gak harus juga kan, mengambil kebahagiaan yang baru aja aku dapet setelah semua penderitaan yang aku alamin?" tanya Aerilyn hati-hati. Ia benar-benar tidak akan pernah rela jika kebahagiaan yang baru dia dapatkan itu kembali direnggut. Ia tak mau lagi sendirian, tak ada teman.
"Oke, kita gak usah kenal lagi! Dan inget satu hal, gue bakalan rebut semua orang yang menyayangi lo, tapi yang paling gue incer adalah Ardo, inget itu!"
Erina segera keluar dari toilet, meninggalkan Aerilyn yang sedang menatap penampilannya yang sudah kacau di depan cermin. 'salah aku apa, sih? Salah jika aku bahagia? Kenapa Erina segitu bencinya banget sama aku! Tuhan, kenapa semua ini harus terjadi lagi? Aku benar-benar tidak pernah bisa mengerti tentang semua kejutan yang selalu diberikan!'
"Ya, ampun! Sayang, kamu kenapa?" tiba-tiba saja Ardo datang dan melihat tampilannya yang tidak bisa dikatakan baik-baik saja.
Aerilyn segera menghampiri cowok itu dan memeluknya dengan erat. Menumpahkan segala isak tangisnya di dekapan Ardo, d**a bidang kekasihnya terasa nyaman untuk dijadian tempat menumpahkan air matanya. Ia menangis tersedu-sedu, tak peduli jika banyak orang yang mendengar suara tangisnya atau tidak.
Ardo hanya bisa membalas pelukannya dan mengelus lembut rambut gadisnya itu seraya berusaha menenangkannya. Ia tidak tahu apa yang telah terjadi pada Aerilyn. Pantas saja sedari tadi ia merasa tidak enak hati dan langsung menghampiri Aerilyn.
"A-aku mau pulang," lirih Aerilyn dengan isak tangis yang masih setia menemani.
Ardo melepaskan pelukan mereka, cowok itu mengambil jaket Aerilyn di dalam tasnya yang tidak sengaja terbawa. Lalu ia menyuruhnya untuk mengganti baju yang basah dengan jaket itu.
Aerilyn hanya menurut karena takut juga jika dibiarkan saja alerginya akan kambuh. Untungnya Ardo juga membawa mobil, mungkin untuk seterusnya cowok itu harus membawa mobil.
Setelah selesai, Ardo langsung menggandeng kekasihnya itu untuk segera ke parkiran karena sekolah akan ditutup sebentar lagi. Cowok itu tidak berani untuk menanyakan tentang apa yang sudah terjadi menimpa Aerilyn karena tak mau membuatnya semakin bersedih.