27

1586 Kata
"Ibu aku kangen," gumam Aerilyn dengan lirih. Matanya menatap sendu ke depan sana. "Miu, kamu kangen juga enggak sama Ibu?" tanya gadis itu pada kucing yang ada di dalam gendongannya. Aerilyn menatap rumah mamanya itu dari seberang jalan dan menyembunyikan tubuh mungilnya di balik pohon. Matanya berembun, ia begitu merindukan sosok Julaeha, bukan rumah ataupun mama papanya. Ya, sebab ia tahu tak pernah diinginkan oleh kedua orang tuanya, terlalu terbiasa tak diperhatikan dan diberi sayang pada mereka. Hanya Julaeha-lah yang selalu menyalurkan kasih sayang dan cinta selayaknya orang tua kepada anaknya. Ya, begitu pun Julaeha pada Aerilyn. Wanita setengah baya itu yang sudah berhasil membuat Aerilyn selalu ingat ia tak pernah sendiri, ia juga bisa menjadi orang penting yang layak diberikan cinta dan kasih sayang. "Bu, aku kembali dipatahkan sama sesuatu. Aku pengen peluk Ibu kayak dulu lagi, aku kangen sama pelukan hangat Ibu yang selalu siap menampung keluh kesah aku. Apalagi disaat aku lagi kayak gini, aku bener-bener butuh support dan suara lembut Ibu yang selalu bisa membuat aku tenang." Aerilyn menahan sesak di dalam d**a. Entah kenapa rasa rindu itu menyusup dalam hati, momen-momen saat bersama dengan Julaeha selalu terekam jelas dan tersimpan rapi dalam memori gadis itu. Tiba-tiba matanya menangkap sosok Julaeha yang keluar dari gerbang, kelihatannya wanita setengah baya itu hendak membuang sampah. Tanpa berpikir panjang lagi ia segera berlari ke arahnya dan menubruk tubuh wanita itu untuk langsung mendekapnya. Soal Miu, kucing itu ia lepaskan tadi sebelum memeluknya. Julaeha masih terkejut, bahkan plastik sampah di tangannya sampai terjatuh. Akan tetapi, ketika menyadari jika orang itu adalah Aerilyn, ia segera membalas untuk memeluknya juga. Sejujurnya, jika Aerilyn seperti ini ia benar-benar khawatir. "Sayang, kamu kenapa?" tanya Julaeha sembari mengusap punggung gadis itu, suara tangis Aerilyn seolah ikut mengiris hatinya. Entahlah, mereka tidak ada ikatan darah, tetapi mungkin karena sudah sangat dekat jadinya sampai seperti ibu dan anak. Aerilyn tidak menjawab, gadis itu terus memeluknya dengan erat bahkan suara tangisnya semakin kencang. Julaeha tahu, dia dalam keadaan yang tidak baik-baik saja. Rasa rindunya memang terbayarkan dengan kembali bertemu, tetapi bukan dengan cara seperti ini yang ia inginkan. "I-ibu, kenapa orang-orang jahat? Harus berapa banyak lagi orang yang akan meninggalkan aku? Kenapa dunia sekejam ini?!" Aerilyn semakin histeris, emosinya semakin meledak lewat tangisan dan air mata yang terus membanjiri pipi mulusnya. Julaeha melepaskan pelukan mereka itu. Ia menatap Aerilyn dengan pilu karena seperti ikut merasakan rasa sakitnya juga, tangannya mulai menghapus air mata yang nakal membasahi pipi gadis itu. "Sayang, jangan berpikir seperti tadi lagi, ya? Tidak semua orang jahat, tidak akan semuanya meninggalkan kamu. Contohnya Ibu, akan terus bersama kamu, doa Ibu juga selalu menyertai kamu. Meskipun kamu bukan anak kandung Ibu tapi kamu tahu sendiri kan, seberapa sayangnya ke kamu? Jangan pernah putus harapan hanya karena ditinggalkan oleh satu orang," ujar Julaeha mulai menenangkan Aerilyn. Aerilyn mengangguk kecil, ia mulai menenangkan dirinya dan mengontrol dirinya. Ucapan wanita itu selalu bisa membuatnya tenang, memeluk dan melihat wajahnya yang sudah mulai mengerut bisa meluapkan rasa rindu yang selalu ia pendam. "Lagian, bukan kah Ibu selalu berpesan padamu. Agar kamu tak pernah menaruh harapan kebahagiaan pada orang lain, jadinya sekarang dia pergi perasaanmu menjadi hancur begini. Lain kali, jangan begini lagi, ya?" Julaeha kembali memberikan nasihat yang selalu ia ulang-ulang kepada Aerilyn. Namun, pada dasarnya gadis itu yang keras kepala kadang tak pernah mau mengingat nasihatnya itu. "Hem, lain kali aku akan mengingatnya, Ibu ... oh iya, Bu, maafin aku karena baru berani sekarang buat ke sini. Bahkan aku hanya berani melihat dari luar, untung aja tadi Ibu keluar dari rumah. Aku, cuman takut Mama bakalan marah-marah terus, aku gamau nanti penyakit darah tinggi Mama kumat," jelas Aerilyn menatap Julaeha dengan sendu. Selalu ada perasaan tak enak hati yang terselip dalam hatinya. Julaeha mengelus lembut surai rambut Aerilyn, gadis itu memang selalu bisa membuatnya tersenyum. "Gak apa-apa, Ibu ngerti. Tapi, hari ini Ibu sendirian loh, di rumah ... kamu mau nginep di sini gak? Temenin Ibu di rumah besar ini, sendirian terus nih Ibu. Kan, kamu tahu sendiri kalau asisten rumah tangga yang lain kerjanya cuman sampai sore aja. Terus sekarang Mama kamu masih sibuk ngurusin pernikahannya yang akan dilaksanakan tidak lama lagi," ujar Julaeha seketika membuat mata Aerilyn berbinar. Gadis itu mengangguk dengan cepat, hatinya yang tengah dilanda gundah gulana itu seketika tergantikan oleh rasa bahagianya. Ia tidak bisa mengatakan apa pun selain mengangguk untuk mengiyakan saja. Kesempatan emas itu tentu saja tidak boleh disia-siakan oleh Aerilyn. Ia tidak bisa membohongi diri sendiri yang terlalu senang karena Julaeha mengajaknya untuk menginap di rumah itu. Jujur saja sudah rindu untuk banyak berbincang dan tidur bersama. Menceritakan semua hal apa saja yang bisa membuat tertawa sebelum tidur. Julaeha izin terlebih dahulu kepada satpam dan menyuruhnya untuk tidak melapor kepada Rani bahwa Aerilyn datang ke rumah. Tentu saja lelaki paruh baya yang juga selalu prihatin pada anak majikannya itu selalu patuh. "Sayang, besok kamu masih sekolah, 'kan?" tanya Julaeha sembari menggiring Aerilyn masuk ke dalam rumah. "Iya, Bu. Tapi, aku gak mau sekolah dulu besok, gak apa-apa, 'kan? Soalnya juga di sini gak ada seragam aku, yakan?" kata Aerilyn membuat Julaeha menggeleng pertanda tidak setuju dengan pemikiran gadis itu. "Sayang, kamu gak boleh kayak gitu. Lagian, di lemari kamar kamu. Masih ada seragam ganti punya kamu gak dibawa," ucap Julaeha menyunggingkan senyum hangatnya. Aerilyn hanya mengangguk saja, tetapi hatinya tertawa kecil karena ia ke sini tidak membawa tas atau pun buku satu pun. Mungkin besok ia hanya akan datang ke sekolah saja tanpa mau ikut pelajarannya. ** Aerilyn sudah senang-senang bersama Julaeha. Wanita setengah baya di sampingnya itu telah terlelap, sekilas senyum terbit di bibir mungilnya. Ia selalu merasa aman, nyaman, dan damai ketika dekat ibu angkatnya itu Gadis itu kemudian mengambil ponselnya di atas nakas, lalu menghidupkannya. Ada puluhan panggilan tak terjawab, selain itu ada spam chat yang beruntun dari Ardo, Serly, Regan, Fano, dan Riana. Ia tahu pasti Riana dan Serly tidak menemukannya di apartemen karena mereka tadinya membuat janji untuk menginap. Akan tetapi, Aerilyn tetap cuek dan tidak peduli. Gadis itu tidak ingin diganggu oleh siapa pun sekarang, alhasil hanya tarik ulur beranda di sosial media. Saat tangannya tak sengaja mengklik pesan dari Serly, ia malah merasa bersalah saat membaca pesannya karena sudah membuat orang-orang khawatir. Serly Andini : {Ilyn, lo ada di mana, sih?! Kenapa kemana-mana gak bilang? Kenapa gak minta anter Ardo atau Regan aja? Atau seenggaknya bilang kek.} {Aerilyn Bellvania!} {Aerilyn Bellvania! Please bales chat gue, wahai sahabat tersayang. Lo bikin cemas tahu gak sih?!} {Jangan bikin gue emosi, deh!} _20 panggilan suara tidak terjawab_ _5 panggilan video tidak terjawab_ _10 panggilan suara tidak terjawab_ {Ilyn, please deh, gak lucu tahu hp lo gak aktif!} {Jangan sampe gue ke dukun buat nyariin lo, deh!} {Lyn, gue nangis loh. Di mana sih keberadaan lo wahai tuan putri? Gue sama Riana ada di apartemen lo. Regan, Fano, sama Ardo bahkan nyariin lo di mana-mana.} {Ilyn, gue sama yang lain khawatir sama lo!ಠ︵ಠ} Aerilyn Bellvania : {Maaf Serly, aku gak kenapa-napa, kok. Bilangin sama yang lain kalau aku baik-baik aja di sini, aku gak bisa ngasih tahu ada di mana sama kalian. Bilangin juga permohonan maaf aku ke yang lain, ya. Aku juga lagi males bales chat yang lainnya hehe, bilangin jangan spam sama telepon aku lagi.} Pesan yang baru saja dikirimkan, tiba-tiba langsung dibaca oleh Serly dan ada pemberitahuan gadis itu sedang mengetik. Serly Andini : {Huftt, syukur kalau lo baik-baik aja. Tapi lo gak bohong, 'kan? Gue harap lo beneran baik-baik aja. Serius gue sama yang lain hampir gila nyariin lo, tapi pas lo bales ini gue langsung lega.} {Gue udah bilang sama yang lain, tapi kita boleh nginep di sini? Soalnya udah malem, tapi janji Riana sama gue gak bakalan macem-macem sama tu cowok-cowok.} Aerilyn Bellvania : {Iya.} Setelah mengirim balasan itu, ia lebih memilih untuk segera tidur dan mematikan ponselnya saja. *** Sejak dari subuh Aerilyn sudah bangun dan membantu Julaeha untuk membersihkan rumah seperti dulu yang pernah dia lakukan. Gadis itu benar-benar merindukan suasana itu, wajahnya selalu bersinar dan tak henti-hentinya tersenyum ia seperti selalu merasa flashback. "Bu, aku pengen banget terus kayak gini. Rasanya kalau aku gak sayang Mama, aku udah ngajak Ibu buat ikut sama aku," ucap Aerilyn terkekeh. Sekarang gadis itu masih bersantai menikmati sarapan yang dibuatkan oleh Julaeha. Wanita setengah baya itu yang sedang fokus makan otomatis menatap Aerilyn. "Iya, tapi kamu maunya Ibu harus di sini dan memastikan Mama kamu baik-baik aja. Padahal Ibu maunya ikut kamu," kata Julaeha sedikit kesal. Jam sudah menujukan pukul 07:00 WIB. Meski sudah rapi mengenakan seragam, Aerilyn masih tampak santai dan tidak terlalu peduli jika ia terlambat sekalipun, ia hanya ingin lebih lama lagi di sini, sebab setelah ini ia tidak mungkin lagi pulang ke sini karena pasti mamanya sudah pulang menurut informasi dari Julaeha kemarin malam. "Baiklah, Ibu aku mau berangkat dulu. Dengan berat hati, aku dan Miu langsung ke sekolah dan tidak bisa lagi kembali ke sini. Doakan saya semoga nanti aku bisa ke sini lagi." Aerilyn menatap teduh Julaeha lalu memeluknya seakan tak ingin berpisah. "Iya, kamu belajar yang benar, ya. Jangan lupa nanti beli alat tulis karena kamu gak bawa tas sama alat tulis," ucap Julaeha mewanti-wanti. Aerilyn hanya mengangguk kecil, setelanya ia mencium tangan wanita setengah baya itu dengan takzim. Setelahnya ia menggendong Miu dan keluar dari rumah itu. Ia sudah memesan taksi online untuk berangkat sekolah. Ia malah meminta supir taksi melambatkan perjalanan mereka, ia ingin lebih menikmati perjalannya. Ingin merekam lebih dalam jalan dari rumah menuju tempatnya menuntut ilmu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN