28

1563 Kata
Aerilyn menarik napas panjang, sebelum kemudian dia memanjat lewat tembok belakang sekolah. Namun, sepertinya takdir baik belum mau berpihak padanya untuk saat ini, sehingga gadis itu merasa s**l sebab penjaga sekolah melihat aksinya itu. Untungnya Miu sudah berlari menjauh. Nanti saja ia akan mencari Miu yang mungkin tidak berada jauh dari sini, tak mau memikirkan hal itu dulu. Karena pada dasarnya sekarang ia harus memikirkan bagaimana caranya menghadapi orang yang memergokinya tadi. "Hehe, hallo Pak Regi yang gantengnya ngalahin pacar saya," cengir Aerilyn membuat pria setengah baya itu menggelengkan kepalanya. "Emang siapa pacar kamu?" Alis pria paruh baya itu sedikit terangkat karena penasaran, dengan gaya khas bapak-bapak yang berkacak pinggang. "Wah berarti belum semua yang ada di sekolah ini tahu, ya? Ck, tapi kira-kira kenapa ya, Bapak Regi yang saya hormati tidak tahu? Hm, baiklah saya akan memberitahukan bahwa pacar saya adalah Ardo Adiraja!" ucap Aerilyn tersenyum, sedikit merasa bangga sekaligus lega karena bisa mengalihkan pembicaraan. Apa, mungkin itu untuk sementara waktu? Pak Regi membelalakkan matanya, siapa juga yang tidak kenal dengan cowok yang dulu biasanya menjadi biang onar di sekolah? rajin sekali untuk bolos kelas hanya untuk nangkring di kantin sekolah dengan alasan perut manjanya yang selalu membuat lapar katanya. Pria paruh baya itu tentu tahu siapa Ardo. Jika dibandingkan dengan dirinya, sangat berbeda jauh. Ya, tentu saja ia sudah menjadi bapak-bapak berkumis dan botak tidak bisa disandingkan, disamakan, atau bahkan dimirip-miripkan saja tidak cocok. Lalu, tadi Aerilyn malah bilang ia lebih tampan dari Ardo? 'Haduh, saya masuk perangkap omongan buaya betina ini tadi. Pantas saja jadi lupa untuk bertanya kenapa dia lewat belakang sini," pikir Pak Regi, ia merasa jengkel karena seperti dibanding-bandingkan antara langit dan bumi. "Kamu itu cewek kenapa locat tembok, mana lewat belakang. Kamu telat?" ucap Pak Regi, penjaga sekolah itu menatap tajam gadis yang ada di hadapannya ini tanpa merasa kasihan. Aerilyn hanya mengangguk sembari menggaruk tengkuknya, hatinya yang penuh dengan kejujuran tidak tega jika harus membohongi orang yang lebih tua darinya. "Kalau gitu saya harus melakukan kewajiban saya yang harus menghukum kamu. Jadi kamu mau dihukum apa?" tanya Pak Regi yang memberikan kebebasan pilihan hukuman karena merasa gadis di hadapannya sudah mau jujur. Aerilyn berpikir sejenak, kemudian menjawab, "Pengen bersihin gudang aja gak apa-apa Pak?" Pak Regi hanya mengangguk, ia juga percaya jika Aerilyn akan melaksanakan tugasnya karena gadis itu sudah berani jujur sejak awal, meskipun ya tadi sempat mengalihkan pembicaraan. Lagian ia tak mau berlama-lama juga berurusan dengannya, ia harus kembali bertugas mengecek keamanan sekolah, berkeliling. Aerilyn mengembuskan napasnya saat Pak Regi menjauh, lalu mencoba mencari Miu. Tubuhnya agak sedikit membungkuk untuk mencarinya. Sampai akhirnya, kucing kesayangannya itu ternyata ada di balik pohon bahkan menghancurkan salah satu pot bunga di sana. "Aduh Miu, sekarang ayo pergi aja!" Aerilyn meringis sembari menggendong kucingnya itu sebelum ada yang mengetahuinya. Aerilyn berjalan santai, memang semua murid sudah berada di kelasnya. Akan tetapi, saat melewati koridor menuju gudang ia malah bertemu dengan Serly. "Ilyn, akhirnya lo ke sekolah juga. Lo kenapa matiin handphone lo lagi, sih?" tanya Serly dengan khawatir. "Ehm, itu karena HP punya aku lowbet," dusta Aerilyn. Serly baru menyadari bahwa sahabatnya itu membawa Miu ke sekolah. "Lyn, lo ngapain bawa Miu? Padahal pagi-pagi lo bisa telepon Ardo minta tolong sama dia buat jemput lo dan titip Miu sama maminya." Aerilyn hanya tersenyum sekilas, "Gak apa-apa aku gak mau terus nyusahin orang lain, lagian HP aku kan, lowbet. Kalau gitu aku mau ngerjain hukuman aku dulu karena telat, bye Serly!" Serly hanya mengangguk lalu melihat punggung Aerilyn yang sudah menghilang karena belokan. Gadis itu sampai lupa ia tadi ingin ke toilet karena sudah kebelet ingin buang air. *** "Miu kamu jangan kemana-mana ya, kamu diem di situ aja. Oke, kucing pintar?" ucap Aerilyn seperti seorang Ibu yang sedang memperingatkan anaknya. Miu hanya mengeong, setelah memastikan kucingnya tetap diam di tempat. Aerilyn mulai membereskan barang-barang yang terlihat berantakan. Ia memang lebih memilih untuk seharian berada di sini tanpa harus keluar dan masuk kelas. Ruangan ini terkesan gelap, hanya ada sedikit pancaran cahaya dari jendela luar yang ia buka agar memudahkan untuk membereskan gudang yang terlihat sangat berantakan. Setelah hampir dua jam Aerilyn membereskan gudang ini, akhirnya semuanya beres. Akan tetapi, sekali lagi gadis itu tak memiliki niat untuk keluar dari gudang. Ia lebih memilih duduk di pojok sembari memeluk Miu. Ia seperti orang yang kesepian, berada di ruangan yang gelap dan mengobrol bersama seekor kucing. Gadis itu terlihat sangat kacau, bajunya sudah terlihat lusuh bahkan rambutnya berantakan, semakin menandakan seperti orang yang tidak mengurus diri selama satu minggu. "Miu jangan takut ya, ada aku. Untung tadi sebelumnya udah aku kasih makan. Jadi kamu belum laper, 'kan?" kata Aerilyn sembari mengelus Miu dengan penuh kasih sayang. Tiba-tiba saja pintu gudang terbuka, menampakan sosok Erina dan trio absurd yang pernah membully-nya dulu. Mereka berempat melangkah mendekat ke arahnya. "K-kalian tahu aku di sini?" tanya Aerilyn menatap mereka. Ia segera sedikit merapikan tampilannya agar tidak dikira seperti orang gila. "Ya, tahu dong ... apa sih, yang gue gak tahu tentang lo?" ucap Erina dengan tenang, tetapi matanya menatap nyalang gadis yang terduduk di lantai itu. Gina dan dua dayangnya di belakang malah tertawa kecil, tawa mereka seperti mengucilkan Aerilyn. "Gak enak kan, mengasingkan diri sendirian?" tekan Erina sembari menyilangkan kedua tangannya di depan d**a. Aerilyn segera berdiri agar tidak merasa kecil dan tak ingin mendongak untuk menatap mereka. Ia sedikit bingung untuk mencerna ucapan temannya itu, sebelum akhirnya paham apa yang dimaksud. "Tapi kamu tahu Erina, baik aku maupun Serly selalu ada buat kamu. Bahkan kita selalu ketawa bareng, 'kan? Aku Serly atau pun kamu selalu bercerita tentang suka duka, apa kamu enggak merasa semua itu menyenangkan?" "Ya, itu kan menurut lo! Menurut gue semuanya itu hambar. Gue capek pura-pura terus tahu gak? Dan teman gue yang sebenarnya itu mereka bertiga yang ada di belakang gue!" ucap Erina sembari memainkan rambutnya dengan congkak, ketiga orang yang ada di belakangnya bahkan ikut mencibir. Aerilyn menatap tiga orang yang ada di belakangnya. Ia menatap Erina dengan tatapan yang aneh. Membuat mereka merasa risih. "Erina, kalau aku boleh jujur mereka itu gak baik buat kamu. Apa kamu pernah merasa mereka selalu ada buat kamu disaat kamu down dan butuh bantuan? Kamu yang memiliki banyak harta, hanya ingin dimanfaatkan. Apa kamu merasa seperti itu Erina? Mereka gak akan pernah peduli sama kamu, mereka hanya ingin uang kamu!" ujar Aerilyn dengan tegas, matanya menyorot keseriusan membuat Erina bimbang. Trio absurd yang ada di belakangnya itu malah gelagapan, tetapi mereka juga tak kehabisan akal untuk mengompori, mambuat Erina yang tadinya ingin percaya dengan ucapan Aerilyn seketika hatinya malah semakin mengeras oleh hasutan mereka yang terus menggema di telinganya. Ketika hati sudah menyimpan dendam dan iri hati, tak lantas membuatnya semakin menjadi-jadi. "Lo gak usah deh, sok-sokan hasut gue buat benci sama mereka bertiga! Gue gak peduli mereka mau manfaatin gue atau enggak, yang penting mereka tetap dukung gue dan lo gak usah bujuk gue lagi buat temenan sama lo!" kata Erina mendorong sebelah bahu gadis itu. Aerilyn hanya menghela napas panjang, sudah tidak mengerti dengan jalan pemikiran Erina yang tidak bisa ia tebak. "Lo tahu kagak yang nyuruh mereka bertiga buat bully lo itu siapa? Dalang di balik semuanya itu gue!" ujar Erina sembari mengangkat kepalanya berbangga diri. Ingin menunjukan jika ia itu hebat. Aerilyn hanya tersenyum dan terlihat sangat tenang sekali sembari mengelus kucing yang ada di gendongannya. "Aku gak paham sama pemikiran kamu, semua itu terserah kamu dan aku gak akan maksa kamu Erina. Semua pilihan ada pada diri kamu sendiri, cuman ... aku mau ingetin sama kamu kalau seandainya butuh aku sama Serly, kita bakalan selalu ada buat kamu. Dua tangan aku bakalan selalu siap buat peluk kamu, rangkul kamu, dan mengulurkan untuk menolong kamu." Aerilyn mengakhiri ucapannya dengan sebuah senyuman yang begitu tulus. Erina dan tiga kawannya yang lain malah tergagap di tempatnya. Mereka bahkan sempat ternganga mendengar ucapan yang di lontarkan gadis itu, merasa heran dengan pemikirannya. Sampai akhirnya Aerilyn melangkah melewati mereka untuk keluar dari gudang. "Heh, lo gak benci gue?!" sentak Erina sembari membalikan badannya menatap punggung tegak Aerilyn. "Bagaimana bisa aku benci sama orang yang udah pernah bikin aku tertawa. Aku memang kecewa, tapi ini gak akan bertahan lama." Aerilyn yang sempat terhenti, kembali melangkah keluar dari gudang. Rencananya untuk mendekam lebih lama di gudang menjadi gagal karena kedatangan mereka. Aerilyn memilih untuk berjalan di koridor sekolah, bahkan sekarang sedang jam istirahat jadi sudah lumayan ramai karena semua siswa siswi keluar dari kelas. "Sayang!" Aerilyn membalikan badannya karena sangat mengenal suara itu. Ia memasang wajah datarnya, sampai akhirnya Ardo menghampiri dirinya. "Sayang, kamu kemana aja? Aku kangen tahu sama kamu," ucap Ardo dengan suara manjanya. Jika ada di situasi normal, Aerilyn akan terkekeh karena mendengar suara manja kekasihnya. Akan tetapi, saat ini ia terlalu malas untuk itu, wajahnya tidak bisa selalu tersenyum apalagi pikirannya penuh dengan hal-hal yang tidak bisa dibagi dengan orang lain. "Udah kan, gitu aja? Yaudah aku masih ada urusan lain," ujar Aerilyn yang segera berbalik dan melangkah pergi. Ardo yang masih berdiri di tempatnya malah heran dengan kekasihnya itu. Ia malah semakin khawatir dengan keadaanya, apalagi Serly pernah mengakatan jika Aerilyn akan terlihat beda daripada biasanya jika sedang mengalami situasi yang membuat gadis itu sedih. Akan tetapi, ia tidak berniat untuk semakin mengusiknya. Ingin memberikan ruang terhadap Aerilyn agar gadisnya itu bisa memiliki waktu untuk menyendiri. Ia akan tetap selalu ada untuk kekasihnya, jika dibutuhkan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN