"Miu, kamu tahu? Mendapat kabar sebentar lagi Mama akan menikah, rasanya aku gak nyangka. Aku bakalan punya papa baru lagi ... tapi, kira-kira aku diundang gak, ya?" ucap Aerilyn, ia bertanya pada kucingnya seraya mengelus lembut bulu tebal hewan itu.
Meong, meong ....
Respon yang seperti itu hanya bisa membuat Aerilyn tersenyum saja. Ia cukup senang, meski hanya berbicara dengan seekor hewan. Namun, ketika seperti mendapatkan respon ia juga menjadi senang karena tahu bahwa yang diajak bicara sudah pasti mendengarkan, 'kan? Ya, meskipun hewan seperti Miu.
Aerilyn sekarang sedang berada di taman belakang sekolah, ia duduk di bawah pohon dan menyender pada pohon besar yang kokoh itu. Di pangkuannya ada Miu yang tetap setia menatap gadis itu.
"Hm, Miu pasti aku diundang dong ... iya, 'kan?! Masa sih, mereka gak undang anak mereka satu-satunya yang paling cantik ini ... iya, 'kan?" Aerilyn menatap Miu penuh harap.
Miu mengeong lagi, sehingga membuat gadis itu berseru heboh. Ia menandakan respon Miu itu adalah tanda setuju atau mengiyakan. Gadis itu dengan gemas mengangkatnya lalu mencium kucingnya itu.
"Yes! Miu emang paling the best deh, pokoknya nanti aku pasti bakalan tampil cantik. Nanti kalau misalnya di keluarga Papa baru itu dianya punya anak, pasti bakalan jadi temen aku juga. Wah, aku ada sodara! Miu juga sebagai teman aku yang paling baik banget dan gemesin ini, bakalan aku ajak dan pakein baju kucing yang gemoy-gemoy gitu. Gimana, kamu mau, 'kan?!" Aerilyn berseru heboh.
Hanya membayangkannya saja Aerilyn sudah sangat senang bukan main, apalagi jika hal itu benar-benar terjadi. Hatinya begitu berdebar menanti hari itu tiba. Matanya terus saja berbinar, perasaan di hati terus menggebu kala mengingat hal itu. Apa ini masih disebut sebagai angan-angan, atau hanya sebuah ekspetasi yang bahkan seringkali dipatahkan oleh realita nantinya? Akan tetapi, seperti kebanyakan orang lainnya. Aerilyn tidak peduli untuk masa ke depannya nanti seperti apa, ia hanya ingin ber-ekspetasi yang membuat hatinya sekarang jauh lebih baik.
"Pasti enak ya, punya orang tua banyak? Coba deh hitung, berarti aku punya orang tua empat dong? Wow banget gak sih, Miu?! Punya sodara yang bisa diajak tidur bareng sama bisa diajak cerita, diajak berantem, main bareng, shopping bareng! Ah, ini mah kalau aku bahagia pasti Nenek juga bakalan seneng! Nanti ya, kalau beneran aku ketemu nih, sama Nenek bakalan aku ceritain lagi semua kisahnya. uhh seneng banget aku, jadi Nenek juga gak bakalan tahu kalau sebenarnya aku gak bahagia pas sama Mama dan Papa." Aerilyn terus saja berbicara tanpa lelah, ia terlalu bersemangat dalam membuat ekspetasi yang sangat tinggi.
Aerilyn lantas berdiri dan berputar-putar sembari mengangkat kucingnya itu tinggi-tinggi untuk ikut berputar. Entah apa yang akan terjadi jika semuanya itu hanya ekspetasi, tetapi ia tetap ingin berpikir positif agar ia bisa bahagia selalu.
Akan tetapi, meski begitu tetap saja ia telah menyiapkan ruangan tersendiri untuk mempersiapkan diri jika ekspetasinya tak sesuai realitanya nanti. Dan, ruangan itu harus lebih besar daripada ruangan ekspetasi yang tadi ia buka.
***
"Ardo, lo lagi ada masalah sama Ilyn? Kok Ilyn jadi beda banget, sih? Ini pasti semuanya gara-gara lo, 'kan?" tanya Serly dengan tegas, seraya menatap tajam ke arah Ardo yang terlihat lesu.
Ardo menggeleng cepat, entah kenapa dia yang berani dan bahkan banyak ditakuti, sekarang malah menjadi seperti anak kucing.
"Gue juga gak tahu apa yang terjadi sama pacar gue, kenapa juga dia tiba-tiba jadi kayak gini. Emang gue ada salah, ya? Tapi kayaknya enggak deh, soalnya kemaren-kemaren juga baik-baik aja, gak ada bikin salah. Dia pun, masih sikapnya fine gitu sama gue," ungkap Ardo membuat Serly mengembuskan napas panjang.
"Awas aja lo kalau beneran udah nyakitin si Ilyn sampe dia kayak tadi. Meskipun lo sahabat gue tapi gue gak segan-segan bikin lo babak belur!" ujar Regan menatap serius Ardo. Ia berbicara dengan sungguh-sungguh, tak ada kebohongan juga di dalam matanya.
Cowok itu memang benar-benar tidak akan membiarkan sahabat yang sudah ia anggap sebagai adiknya itu disakiti oleh orang lain. Ia akan kembali menyakiti orang yang sudah melukai Aerilyn, siapa pun itu. Bahkan jika Serly sendiri yang melukai, ia akan memutuskan hubungan dengannya, meski harus mempertaruhkan rasa cintanya ia tak peduli. Namun, jika dilihat pada kenyataanya Serly juga tak akan bisa menyakiti gadis itu karena rasa sayangnya sebagai seorang sahabat. Ia bahkan menjadi salah satu orang yang akan selalu berada di sisi sahabatnya itu.
Ardo hanya mengangguk sembari menggaruk kepalanya yang tak gatal. Ia juga benar-benar bingung dengan sifat Aerilyn yang berubah 180 derajat. "Gue enggak bakalan nyakitin Aerilyn. Suer deh, gue sayang banget sama dia. Lo tahu, gimana bucinnya gue ke Ilyn."
Mereka masih bergelut dengan pemikiran masing-masing, entah apa yang sebenarnya terjadi pada Aerilyn yang bahkan terlihat dingin. Senyum cerianya seakan tertarik oleh aura dinginnya. Serly dan Regan hanya merasa takut ada sesuatu hal yang membuat gadis itu menjadi seperti sekarang ini. Tentu saja perubahan seseorang yang sangat berbeda drastis dari biasanya, akan ada hal atau penyebab yang membuatnya seperti itu.
"Kalian sayang banget ya, sama Aerilyn?" tanya Riana hati-hati. Ia takut salah bicara.
"Kok kamu ngomong gitu, sih? Kita ini solid banget Sayang, Aerilyn itu cewek yang harus kita perhatiin karena takut kondisi psikisnya keganggu. Dia udah banyak banget nanggung beban, tapi akhir-akhir dia seneng-seneng kita juga ikut bahagia liatnya. Nah, sekarang ada hal yang buat dia jadi beda lagi bikin kita was-was, tapi gak tau juga kan apa yang bikin dia sampe berubah bahkan seolah-olah ngejauhin kita gini," jelas Fano membuat Riana mengangguk paham.
"Pantes aja Erina iri ngerasa mereka gak adil. Tapi kayaknya dia itu yang terlalu berlebihan menyikapi semuanya," gumam Riana bermonolog, membuat mereka menatapnya seperti meminta jawaban.
"Maksudnya apaan?" tanya Ardo mewakili rasa penasaran orang lain.
Riana tertegun, ia merutuki dirinya sendiri. Meski tadi suaranya pelan tapi masih tetap bisa didengar oleh mereka yang indera pendengarannya tajam. Ia berpikir kenapa tidak di dalam hati saja tadi berbicara? Sekarang ia sudah seperti seorang mangsa untuk beberapa singa yang kelaparan. Bedanya, mereka hanya menuntut jawaban dari pertanyaan yang dilontarkan oleh Ardo tadi.
Akibatnya ia harus menjelaskan kejadian kemarin sore saat pulang sekolah. Ia hendak ke toilet, tetapi pintu toilet wanita terkunci, ia yang tadinya mengira banyak perempuan yang mengganti baju karena sudah pelajaran olahraga. Namun, ia kembali urung membalikan badannya saat mendengar suara Erina yang menggelegar, hingga ia memutuskan untuk menguping.
"Kenapa lo gak mau masuk terus tolongin Ilyn?" tanya Regan membuat Riana menunduk.
"Pintunya dikunci, terus aku gak mau ngebela Aerilyn di depan Erina. Takut dia makin benci sama Ilyn, apalagi dia benci juga sama aku," ungkap Riana menunduk sembari memilin jarinya.
"Iya Bro, Erina udah cukup aja neror Riana. Jangan nyalahin cewek gue lagi ya, soalnya dia gak sepenuhnya salah. Yang harusnya disalahkan ya cuman Erina si biang keroknya itu," kata Fano membela kekasihnya.
"Pantes aja kemarin gue gatau kenapa pas nyamperin dia di toilet karena terlalu lama nungguin dan gak enak perasaan juga sih. Pas gue lihat tiba-tiba dia udah basah kuyup aja gitu terus nangis gatau kenapa. Gue juga pengen nanya cuman gak berani buat nanya dia lagi kenapa. Takutnya nanti malah Aerilyn makin sedih, kan gue juga yang bakalan ikut ngerasain sakit," ucap Ardo membuat yang lain menatapnya.
"Awas aja, gue bakalan bikin perhitungan sama dia!" Serly mengepalkan tangannya, matanya menyorot kebencian.
Riana memang tidak terlalu tahu banyak tentang Aerilyn. Akan tetapi, melihat teman-temannya dan Fano yang diam-diam sedikit menjelaskan peran pentingnya dalam pertemanan mereka. Mungkin sekarang ia bisa memahami situasinya juga, sebab jika ia sendiri yang berada di posisi gadis itu pasti juga membutuhkan support atau dukungan dari orang-orang sekitarnya agar masih bisa percaya bahwa tidak semua orang jahat, masih ada orang-orang baik yang mampu memberikannya rasa aman dan nyaman. Selain itu, adanya orang yang masih berada di dekatnya, membuat orang itu bisa percaya bahwa ia masih layak dan pantas untuk diberikan rasa sayang oleh mereka.
Aerilyn memang orang yang paling mereka sayangi dan yang paling diperhatikan. Mereka berharap dengan banyaknya orang di sekitar yang menyayangi gadis itu dan memberikan kehangatan, setidaknya dia akan merasa masih pantas mendapatkan cinta dan kasih sayang dan orang-orang terdekatnya juga.
"Gue ingetin sekali lagi, cukup Erina aja yang punya sikap gak tahu diri kayak gitu. Kalian jangan sampai buat dia kayak gitu lagi, gue gak mau dia stress dan gue gak mau dia kehilangan kepercayaannya untuk punya teman karena sudah dikhianati!" tegas Regan membuat yang lain mengangguk setuju.
***
Bel sekolah berbunyi menandakan sudah waktunya pulang sekolah. Aerilyn yang berada di taman belakang sekolah juga mendengarnya. Ia segera siap-siap untuk pergi dari sana. Waktu menyendirinya sudah habis, ia sudah bisa menenangkan pikiran dan hatinya. Ia sudah merasa cukup bisa mengobrol dengan Miu meski hanya dibalas oleh suara mengeong dari kucingnya itu. Tak mungkin juga jika ia harus manjat tembok lagi untuk keluar dari sekolah, padahal ada gerbang depan yang terbuka? Jangan terlalu mempersulit hidup, pikir Aerilyn.
"Sayang, pulang bareng, yuk!" Ardo tiba-tiba menghampirinya bersama dengan teman-temannya yang lain.
Aerilyn menatap mereka satu persatu, tampak sangat bersemangat. Entah apa yang akan mereka rencanakan juga ia benar-benar tidak tahu.
"Aku kayaknya mau pulang sendiri aja deh. Eh, tapi makasih ya atas tawarannya tadi," ucap Aerilyn tak enak hati.
Ardo menampakan raut sedih di wajahnya. Mereka juga tampak menghela napas, merasa gadis itu ingin selalu menghindar.
"Lyn, kita sebelumnya makan bareng dulu kuy! Makan siang bareng, di rumah Bunda!" Serly menaik turunkan alisnya. Ini salah satu trik untuk membujuknya agar tam menghindar lagi.
"Iya Lyn, gue juga bakalan maksa banget, nih. Soalnya kasihan Bunda gue udah kangen berat sama lo," ucap Regan memelas. "Lyn, lo tahu kagak? Bunda udah siapin masakan kesukaan lo tahu! Kasihan kalau misalnya Bunda masak buat lo tapi lo-nya gak dateng. Lo sayang sama Bunda, 'kan? Jangan dikecewain ya, Bunda gue," lanjutnya, sengaja ingin membuat perasaan Aerilyn tersentuh.
Hati Aerilyn seketika luluh, ia mengangguk sebagai tanda setuju karena bunda Regan yang memintanya. Ia tidak pernah bisa menolak permintaannya dan tak pernah mau mengecewakannya juga.
"Sayang kamu berangkatnya semobil sama aku, ya? Soalnya mereka juga bakalan semobil masing-masing, kamu jangan nolak, ya?" Ardo memelas sembari menggenggam sebelah tangan kekasihnya.
Aerilyn menatap Ardo dengan iba, ia malah merasa bersalah. Apalagi mengabaikan orang-orang yang begitu peduli padanya, akhirnya ia memilih untuk tersenyum dan mengangguk. Gadis itu malah terkekeh karena malah sang kekasih yang merasa sudah membuat salah padanya padahal pada kenyataannya tidak seperti itu.
Dengan gerakan refleks cowok itu memeluknya, tetapi ia malah didorong oleh Aerilyn. Membuat Ardo menatapnya heran.
"Miu ntar kejepit!" ujar Aerilyn sedikit marah, membuat Ardo segera meminta maaf.
Ardo benar-benar merasa takut jika Aerilyn akan marah dan terus mendiamkannya, ia tidak ingin kehilangannya. Baru didiamkan oleh kekasihnya sehari saja ia sudah hampir gila.
"Dasar lo, kalau sampai ngelukain Miu dikit aja nanti malah lo yang bakalan kesiksa karena Ilyn marah. Ntar seminggu lo gak bakalan bisa ngajak Ilyn bicara, itu pun bujuknya harus banyak akal," celetuk Serly terkekeh. Apakah gadis itu tak berpikir bahwa ucapannya berhasil membuat Ardo ketakutan setengah mati di tempatnya berdiri?
"Hehe Sayang aku bener-bener minga maaf, aku gak inget kalau kamu gendong Miu. Tadi refleks aja karena seneng, kamu jangan diemin aku, ya? Jangan marah," ucap Ardo menggaruk tengkuknya sembari cengengesan.
"Huft, iya tapi jangan diulangi lagi, ya? awas aja!" ucap Aerilyn yang diakhiri dengan ancaman.
"Yaudah, aku pengen main ke rumah Kak Regan. Kuy, kita numpang makan!" Riana berseru membuat yang lain terkekeh.