"Lyn, sekarang lo gak usah lagi nutup-nutupin semuanya dari gue! Gue paling gak suka deh, kalau misalnya bestie gue sendiri gak mau buat buka suara untuk berkeluh kesah. Apalagi kita udah temenan lama loh, Ilyn" ujar Serly yang diangguki oleh Riana pertanda bawah gadis itu juga setuju dengan ucapan sahabatnya itu.
Setelah pulang dari rumah Regan, Serly dan Riana memutuskan untuk menginap di apartemen gadis itu karena masih merasa khawatir dan perlu mengawasinya. Takut terjadi hal-hal yang tidak boleh terjadi.
"Ilyn, dengerin gue! Serius ya, gue bukannya kepo atau gimana, nih. Cuman gue takut lo mikir kayak gitu aja sih, tapi sumpah ya gue gak pernah ada niatan cuman sekedar kepo aja gitu, loh! Gue hanya ingin tahu keadaan sahabat gue yang paling cantik ini gimana, gue bener-bener khawatir dan gak bisa mikir positif kalau sikap lo berubah gitu, gue gak mau dan gue takut lo itu kenapa-napa. Makanya kalau ada apa-apa itu lo harus cerita sama gue, oke?" ucap Serly menggebu-gebu, gadis itu benar-benar akan menjadi sangat cerewet bila berhubungan dengan Aerilyn. Ia seperti seorang Ibu yang sedang mengkhawatirkan anaknya, atau mungkin seperti orang yang mengomeli anaknya?"
Riana mengangguk ikut membenarkan saat mendengar ucapan dari Serly. "Iya Lyn, kamu jangan sungkan. Jangan takut buat cerita." Riana melempar senyum tulusnya pada Aerilyn sampai membuat matanya menyipit, sangat cantik.
Aerilyn malah menatap mereka secara bergantian, lalu matanya mulai memerah dan mengembun. Detik berikutnya ia tiba-tiba saja menangis membuat Riana dan Serly seketika semakin khawatir dan membantu meredakan tangisan gadis itu.
"Lyn, udah jangan nangis lagi. Tenang aja, ada gue sama Riana. Kalau perlu gue kasih tahu cowok-cowok juga, lo butuh apa biar kita penuhin. Gak usah takut atau apa ya, di sini banyak orang yang selalu peduli sama lo dan percaya aja kita semua gak bakalan ninggalin lo, tanpa alasan apa pun!" cerocos Serly yang merasa terlalu khawatir pada sahabatnya itu.
"Iya Lyn, meskipun ada ribuan alasan buat ninggalin kamu. Pasti ada aja satu alasan yang akan membuat kita pertahanin kamu, buat terus ada untuk kamu selalu. Jangan khawatir soal itu," ungkap Riana yang ikut menenangkan Aerilyn yang malah semakin menangis histeris saat mendengar ucapannya itu.
Aerilyn mulai meredakan tangisannya, hanya tinggal tersisa segukan dan jejak air mata di pipinya. Saat sedang menangis seperti ini gadis itu malah terlihat seperti anak kecil yang menangis karena tidak dibelikan permen oleh ibunya.
"Hustt, kamu kenapa? Coba bilang sesuatu biar kita paham, ya?" ucap Riana yang masih menenangkan dengan nada yang lembut.
Aerilyn mengerucutkan bibirnya, ia benar-benar merasa terlalu diperhatikan. Setelah apa yang ia perbuat kepada sahabat-sahabatnya, mereka masih tetap peduli dan sangat tulus dengan semua itu.
"A-aku minta maaf, padahal aku udah jahat sama kalian. Aku udah diemin kalian, tapi kalian tetep baik sama aku. Maafin aku yang gak tahu diri," ucap Aerilyn menunduk.
Riana dan Serly saling tatap lalu detik berikutnya mereka menghela napas lega, tadinya merasa takut terjadi sesuatu pada Aerilyn. Namun, ucapan yang dilontarkannya terasa seperti membebaskan mereka dari sangkar yang menyesakan.
"Ilyn, kita gak apa-apa. Kita malah khawatir sama keadaan lo, kita gak mau terjadi sesuatu apa pun itu. Kita janji bakalan selalu ada buat lo dan jagain lo," ungkap Serly menatap Aerilyn dengan sungguh-sungguh.
Aerilyn tidak pernah melihat kebohongan dari mata Serly dari dulu hingga sekarang, ia akan selalu percaya kepada sahabat-sahabatnya yang sekarang. Untuk saat ini seharusnya fokusnya pada orang-orang di sekitarnya yang begitu menyanganginya dan siap kapan saja untuk memeluknya dengan hangatnya.
"Kamu itu pantas mendapatkan ini Ilyn, jangan pernah terpengaruh sama ucapan orang yang iri sama kamu. Kak Fano pernah bilang, kalau kita itu yang menentukan kebahagiaan kita sendiri. Semua orang berhak bahagia dengan jalannya sendiri, tanpa harus memikirkan orang-orang yang tidak mendukungnya. Apalagi masih banyak yang sayang dan juga selalu ada buat kamu, jadi jangan mikirin hal-hal di luar kebahagiaan kamu, okey?" ujar Riana yang semakin membuat Aerilyn terpaku dan terharu.
"Nah, bener apa yang diucapin sama Riana, tuh! Intinya kita itu gak perlu bahkan gak usah ngurusin dan mikirin orang yang berpangaruh sama kita," ujar Serly membenarkan.
Aerilyn tersenyum dan mengangguk, ia segera memeluk mereka berdua dengan perasaan yang benar-benar bahagia. Sangat merasa bersyukur karena dikelilingi oleh orang-orang seperti mereka yang selalu mendukungnya dan selalu ada dalam situasi apa pun.
"Lyn, sekarang lo hubungin Ardo. Lo gak kasihan sama dia? Gue lihat dia selalu hati-hati buat ngomong sama lo tadi karena takut salah ngomong terus buat Lo jauh lagi sama dia," ucap Serly menasehati.
"Iya tuh, cowok kamu sampe uring-uringan terus tahu karena diabaikan sama kamu. Apalagi sama perubahan sikap kamu itu, tapi bagus juga, ya? Soalnya itu menandakan dia bener-bener sayang sama kamu," kekeh Riana malah membuat Aerilyn tersipu malu.
Aerilyn mengangguk dan setuju dengan mereka. Kemudian ia mengambil ponselnya di nakas, lalu mulai mencari kontak Ardo untuk ia kirimkan pesan singkat. Saat membukanya ia memang sedikit terkejut begitu banyak spam yang diberikan oleh kekasihnya itu yang begitu perhatian dan selalu khawatir dengan kondisinya.
Ia mulai berpikir untuk memulainya lagi dan bersikap biasa saja seperti biasanya. Sebab, untuk apa menjauhi orang yang bahkan tidak bersalah pada kita?
Aerilyn Bellvania :
{Selamat malam Kak Ardo. Gimana tadi makan di rumah Bundanya Kak Regan? Masakan Bunda enak banget, 'kan?}
Ardo Adiraja :
{Malam juga sayangnya akuuu. Iya tau, masakan Bundanya Regan itu emang enak pake banget malah! Meski dulu sering juga ngerasain masakannya, tapi tetep aja rasanya itu candu.}
Aerilyn Bellvania :
{Ish, apaan deh Kak Ardo. Mana ada makanan bisa jadi candu! Kan gak ada apa-apanya.}
Ardo Sdiraja :
{Haha, bisa dong sayang. Bahkan kamu aja candu banget buat aku loh! Suara kamu, manjanya kamu, cerewet nya kamu. Pokonya semua tentang kamu itu candu buat aku.}
Aerilyn Bellvania :
{Haduh, lucu banget kamu. Pacarnya siapa, sih?}
Adro Adiraja :
{Pacarnya Aerilyn Bellvania dong! Gimana, sih? Masa kayak gitu aja enggak tau, heum?}
{Hm, btw aku kangen banget deh, sama suara pacar aku itu. Kangen sama suara manja malu-malunya, kangen juga sama tangannya yang suka gandeng tangan aku.}
Aerilyn tersenyum membacanya, sebenarnya sejak tadi ia memang sudah senyum-senyum sendiri, sampai Riana dam Serly yang memperhatikannya ikut tersenyum diam-diam. Mereka jadi merasa ikut senang melihat sahabat mereka bisa kembali tersenyum.
Aerilyn Bellvania :
{Besok bisa ketemu kok, Kak di sekolah. Sabar aja, ya, nanti besok jemput aku di apartemen buat berangkat sekolah bareng. Nanti Riana sama Serly biar aku suruh dijemput pacar mereka juga.}
Ardo Adiraja :
{Btw, aku kangennya udah gak bisa ditahan nih, pengen ketemu kamu. Kita nonton yuk, gimana? Mumpung masih jam setengah delapan. Aku pengen nonton drama komedi romance biar kita bisa ketawa bareng sama kamu, terus pas adegan romantisnya siapa tahu bisa aku jadiin inspirasi buat romantis kayak gitu sama kamu.}
Aerilyn Bellvania :
{Ya ampun, Kak Ardo. Besok aja gimana? Takutnya Kakak masih capek, emang sekolahnya juga gak ada tugas, ya? Terus Mami di rumah masa nanti gak ditemenin sama anaknya, sih?}
Ardo Adiraja :
{Sekarang sama besok itu beda sayang, aku maunya sekarang buat nutupin rasa rindu aku karena kamu diemin aku terus, mau ya, sayang?}
Aerilyn menghela napasnya, ia juga merasa bersalah dan tak enak untuk menolak. Namun, di satu sisi ia tidak mungkin meninggalkan dua sahabatnya di apartemennya ini.
Gadis itu menatap Serly dam Riana yang tampak fokus pada ponselnya masing-masing. Sampai akhirnya ia memberanikan diri untuk berbicara kepada mereka.
"Kenapa, Lyn?" Serly menaikan satu alisnya.
"Kak Ardo ngajak aku ke bioskop, aku gak enak nolaknya soalnya ini buat nebus kesalahan aku sama dia. Tapi, kalian juga gak mungkin aku tinggalin di sini," ucap Aerilyn sembari menggaruk kepalanya.
Serly dan Riana saling menatap, lalu mereka terkekeh. Merasa pemikiran Aerilyn terlalu berlebihan untuk meninggalkan mereka berdua di sini.
"Santai aja, kita gak apa-apa lo tinggalin. Santai, kita juga di sini berdua dan gak bakalan ngapa-ngapain ... suer dah, kanjeng ratu!" ujar Serly sembari mengangkat dua jarinya membentuk huruf 'V'
"Iya Lyn, jalan aja sama Ardo sana, seneng-seneng! Kalian juga butuh waktu berdua untuk menikmati kebersamaan, semoga langgeng!" ujar Riana membuat hati Aerilyn lega.
Gadis itu segera membalas pesan kekasihnya dan menyuruh untuk menjemputnya setengah jam lagi. Ia segera bersiap-siap dibantu oleh Riana dan Serly tentunya. Mereka benar-benar semangat padahal yang akan nonton bioskop itu Aerilyn.
***
Aerilyn dan Ardo duduk bersebelahan di kursi bioskop yang berwarna merah itu, di depannya ada layar besar yang akan menayangkan film pilihan mereka. Tentu saja genre-nya sesuai dengan yang dipilihkan oleh cowok itu. Acaranya memang belum mulai, mungkin beberapa menit lagi sehingga harus sedikit bersabar untuk menunggu.
Ardo merangkul gadisnya dan membiarkan bahu kokohnya itu untuk dijadikan sandaran ternyaman untuk Aerilyn. Di tangannya ada satu wadah besar yang berisikan popcorn yang sedang dinikmati oleh kekasihnya.
"Kak, aku selalu nyaman deket kayak gini. Aku gak mau kehilangan Kakak, bisa-bisa gak akan punya semangat hidup lagi kayaknya," celoteh Aerilyn membuat Ardo langsung menatap gadisnya dengan penuh tanya.
"Kok, gitu? Padahal aku gak terlalu punya peran penting seperti Serly dan Regan yang sudah lama kenal sama kamu," ucap Ardo sembari mengelus lembut rambut Aerilyn yang beraroma vanilla itu.
"Iya, tapi Kak Ardo sudah berhasil masuk ke dalam kehidupan aku dan ikut berdiri di barisan terdepan di hati aku. Kehilangan sosok manja yang dulunya galak itu gak enak, loh. Masa capek-capek aku bikin Kakak berubah drastis gitu, terus aku lepasin gitu aja? Gak bakalan lah, gak enak di akunya!" cerocos Aerilyn membuat Ardo terkekeh.
Di belakang mereka, ada seorang wanita yang merasa mual mendengar percakapan mereka. Sebenernya lebih kepada iri karena melihat keromantisan yang terus terjadi sejak tadi. Rasanya rencananya menonton bioskop untuk menghibur diri malah gagal melihat mereka.
"Duh, gue niatnya mau nonton film komedi malah liatin orang alay pacaran," ucapnya membuat dua orang itu langsung menoleh ke arahnya.
Bisa dilihat mereka sedikit terkejut melihat Erina yang juga berada di bioskop ini. Rasa-rasanya malah terkesan jika gadis itu adalah seorang penguntit.
"Ih, dasar jomlo. Iri aja bisanya, huh!" hardik Ardo membuat Erina menahan amarahnya.
"Makanya cepet cari pacar Erina, aku doain semoga dapet pacar yang bisa bahagiain kamu, ya? Asal jangan pacar orang," ujar Aerilyn seperti terkesan menyindir, sebelah mata gadis itu mengedip menggodanya.
Dua sejoli itu malah kembali menikmati momen berdua sebelum film dimulai. Bahkan mereka tertawa-tawa kecil seolah meremehkannya, membuatnya semakin geram. Dengan penuh amarah, ia segera keluar dari ruang bioskop karena sudah tidak peduli dengan filmnya.
Erina lebih mementingkan perasaanya sendiri, tidak mau nanti karena cemburu yang disertai rasa kesal akan membuat gedung bisokop ini kebakaran.