Setelah satu minggu lamanya dari kejadian bencinya Erina padanya, Aerilyn sudah benar-benar tidak peduli lagi dengan sosok teman fake-nya itu. Ia hanya ingin fokus pada kebahagiaannya sendiri dengan orang-orang yang ada di sekitarnya, tentu saja mereka adalah orang yang akan selalu membuat ia tertawa lepas tanpa beban. Beruntung sekali ia masih bisa memiliki orang-orang yang memang benar-benar sayang padanya, memberikannya masukan yang sangat baik.
"Ilyn, gue mau nyontek tugas lo dong. Serius gue udah nyoba kerjain tapi itu soal matematikanya bener-bener susah banget! Semalem gue sampe mau nangis sumpah deh," ucap Serly memohon dengan puppy eyes andalannya itu. Mungkin jika tidak dalam situasi yang mendesak seperti ini, ia tidak akan mau melakukannya karena menurutnya ini sangat menggelikan.
Aerilyn hanya terkekeh, baru saja ia datang malah langsung ditagih contekan tugas. Ia tidak pernah mempermasalahkan itu, ia memang terlalu kelewat baik, sampai pernah hampir semua penghuni kelas ia berikan contekan. Jika saja Serly tidak mencegah hal itu terjadi, sahabatnya yang lugu sudah dipastikan menjadi bahan untuk dimanfaatkan orang lain dengan begitu saja.
Erina kesal di tempatnya duduk, ia juga sama sekali belum bisa menyelesaikan soal matematika itu. Salahnya kemarin tidak memperhatikan guru yang sedang menjelaskan. Ia malah fokus melamum sampai akhirnya ketiduran sampai jam pelajaran berakhir. Alhasil sekarang ia tak tahu harus menjawab soal itu bagaimana, mana mungkin ia menulis ulang soalnya? Kalau begitu sama saja dengan tidak mengerjakan tugas, malah akan semakin mempermalukan dirinya sendiri. Daripada seperti itu, lebih baik ia tidak mengerjakan sekalian. Kemudian ia tinggal mengeluarkan jurus alasan kalau dirinya lupa. Namun, perasaan sekarang ini sangat was-was karena ia yakin Serly tidak akan membuatnya selamat saat diinterogasi oleh guru matematika nya yang killer itu nanti.
Ia bahkan sudah meminta contekan pada teman-teman yang ada di kelasnya. Namun, seperti dugaanya bahwa mereka memang benar-benar pelit apalagi untuk sosok seperti Erina yang juga sangat pelit jika diminta contekan. Ibaratnya yang pelit tidak boleh juga dikasihani, mungkin agar seimbang.
"Rasain dah, yang di belakang lagi frustrasi sendiri karena kagak bisa ngerjain tugas matematika tuh, Lyn. Gue syukurin ah, soalnya gak dapet contekan dari lo yang baik hati seperti malaikat ini. Salah sendiri buang berlian demi pungut trio absurd di tong sampah. Kalau misalnya nih, tapi amit-amit ya kalau beneran, ini hanya sekedar misalnya aja! Jadi kalau misalnya gue jadi dia sih ogah banget buat melepaskan orang sebaik lo ini demi orang yang mau manfaatin gue gitu," cerocos Serly yang semakin membuat Erina ingin mengacak-acak rambutnya yang sudah tertata rapi itu. Gadis itu benar-benar frustrasi mendengar ocehan yang tiada hentinya itu.
"Serly gak boleh gitu, nanti kalau udah beres kasih ke Erina juga. Sekarang aku mau ke kelas Kak Ardo dulu, bye!"
Aerilyn segera melenggang pergi keluar dari kelas, Serly yang mendengar penuturannya tadi jadi mendengkus kesal. Sudah tidak paham dengan ucapan sahabatnya itu, meski ia tidak peduli lagi terhadap sikap Erina. Kebaikannya tidak segan-segan selalu ia berikan, kepada siapa pun meski orang itu sudah melukai hatinya. Memang benar-benar terlalu memiliki hati yang baik dan tidak pendendam, bahkan jika orang itu sudah berulang kali menyakitinya ia akan tetap memaafkan dan menerimanya kembali. Seolah-olah semua perasaan sakitnya itu tak pernah ada.
"Manusia langka, tapi kalau gak dijaga bisa disalah gunain, nih ... apalagi sama manusia-manusia akhlakes macem Erina," gumam Serly.
"Suttt, bagi contekan!" ujar Erina malu-malu.
"Apa lo? Masih punya muka juga ya, minta sama gue? Kurang sempurna ya, hati lo tuh? Butuh disempurnakan pake lem gak?" ujar Serly melantur, ia terlalu jengkel dan tak mau lagi bersikap baik padanya.
"Ish, gitu banget lo. Padahal lo udah biasa sama sifat gue!" ketus Erina, bibirnya tampak mengerucut seolah-olah ia sedang merajuk.
Serly mencomot bibir Erina membuat sang empunya meringis dan memukul bahu gadis itu. "Heh, bibir seksi gue ternodai!"
"Naj*s! Udah, minggat aja lo dari sini. Terlalu enek gue sebagai princess liat manusia kayak lo yang membutuhkan ganti kulit!" Serly mengibaskan tangannya, seolah sedang mengusir seekor hewan yang sangat mengganggu.
"Bilangnya manusia, tapi disuruh ganti kulit dikira gue seekor ular apa!" desis Erina menatap Serly tajam.
"Nah, gak sadar lo? Lo itu silum*n!" sentak Serly membuat Erina menelan salivanya sendiri.
Bahkan sekejam apa pun Erina pada Aerilyn, ia masih berani untuk berbicara pada Serly seperti biasanya. Ya, begitu saling berucap sinis.
***
"Kak Fano, jangan mulai lagi, deh! Ngeselin banget sih, kamu!" ucap Riana dengan sebal, bibirnya tampak mencebik.
"Lagian sih, Sayang ... kamu lagi chattingan sama siapa, sih?" tanya Fano dengan raut wajah cemberut.
"Kepo!" delik Riana membuat Fano mendesis.
Regan dan Serly hanya terkekeh melihat mereka yang sedari tadi selalu beradu mulut. Tangan mereka bahkan tidak berhenti untuk saling mejahili satu sama lain.
"Eh, Ilyn sama Ardo ke mana? Ada yang lihat kagak?" tanya Serly membuat kedua insan itu berhenti berdebat.
"Enggak tahu tuh, kayaknya lagi pacaran," ujar Riana dengan tak acuh. Ia masih tampak kesal dengan perbuatan sang kekasih yang ada di sampingnya itu.
"Udahlah, kalian santai aja berdua pacaran di sini. Palingan mereka juga lagi di taman belakang kayak biasanya. Kayak gak tahu aja," ujar Fano membuat Regan dan Serly mengangguk.
Riana menggetok kepala Fano, membuat sang empunya meringis. Jika bukan ulah dari kekasihnya, cowok itu pasti sudah membalas perbuatannya bahkan lebih dari itu mungkin saja.
"Kenapa, Hm? Sayang, coba sini deh, bilang sama aku," ujar Fano sembari merangkul gadisnya.
Cowok itu sudah mulai peka dengan sikap rese dari Riana, memang tidak biasanya seperti ini. Ia mengira jika sang kekasih sedang berada pada masa datang bulan yang membuat mood-nya menjadi gampang berubah bahkan lebih terkesan sering membuat ia kesal.
"Ya, masa Kak Regan sama Serly kamu suruh buat pacaran di sini. Kamu tahu ini kantin, 'kan? Bukan restoran romantis?!" delik Riana membuat Fano meringis.
"Sayang ... jadi kamu mau makan malam romantis sama aku, heum? Yaudah nanti malam kita dinner gimana? Mau hm?" Fano menaik turunkan alisnya membuat Riana berdecak sebal. Gadis itu sebenarnya senang dengan ajakannya, tetapi saat melihat wajah kekasihnya yang tampak menyebalkan itu membuat mood-nya semakin berantakan.
"Syuttt, kita tinggalin mereka aja, yuk? Serasa malah jadi nyamuk tahu liatin mereka terus," bisik Regan yang membuat Serly terkekeh, tetapi tak ayal disetujui oleh gadis itu dengan anggukan. Lalu mereka berdua pergi meninggalkan dua sejoli yang sekarang sedang saling menggelitiki satu sama lain.
***
Ardo mengelus rambut Aerilyn dengan penuh kasih sayang. Kini mereka sedang duduk di bawah pohon taman belakang sekolah seperti dugaan teman-temannya. Mereka ingin menikmati momen berdua lebih lama, menikmati hal-hal yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya.
Rasa nyaman dan merasa seperti lebih tenang saat bersama dengan pasangannya. Ardo dan Aerilyn akan selalu berdoa semoga hubungan mereka akan terus membaik seperti ini.
Sejak satu minggu lalu tentang masalah Erina dan Aerilyn. Ardo menyuruh kekasihnya itu untuk tidak terlalu peduli dengan teman yang sudah menyakiti dirinya, karena apa pun kondisinya ia dan teman-temannya yang lain akan terus berada di sampingnya.
Tentu saja, Aerilyn yang mudah menerima ucapan orang lain, langsung membawanya ke dalam hati dan menyimpan janji itu di memorinya dengan sangat baik.
"Kak, tahu enggak? Aku sedih deh, Mama sama Papa gak ngundang aku ke pernikahan mereka," ucap Aerilyn sembari menatap wajah Ardo dengan intens.
Ardo malah mengerutkan dahinya, sampai detik berikutnya ia malah terkikik karena merasa ucapan kekasihnya itu adalah lawakan lama.
"Dih, lawakan kamu garing banget Sayang ... kan, emang kamunya belum lahir pas mereka nikah." Ardo mengacak-acak rambut Aerilyn dengan gemas, membuat sang empunya cemberut.
"Enggak, mereka udah berpisah dan memutuskan untuk menikah lagi. Sakit banget rasanya bener-bener dianggap gak ada! Kemarin malam, aku liat Papa upload story di akun sosmednya kalau dia udah nikah dan aku sama sekali gak tahu. Hari ini Mama juga nikah sama orang yang dia cinta tapi lagi-lagi aku gak diundang. Aku gatau kalau sampai Nenek tahu kelakuan mereka," jelas Aerilyn membuat cowok itu berhenti untuk tersenyum, merasa bersalah karena sudah mengejeknya tadi.
Aerilyn bercerita tanpa beban, seolah ia benar-benar percaya dengan cowok yang ada di sampingnya ini untuk ia bagi sedikit tentang kisah hidupnya. Ia merasa sudah percaya dan nyaman kepadanya.
"Aku pernah berharap Mama sama Papa itu ngundang aku sebagai anaknya ke pernikahan yang mereka adakan. Memikirkan hal itu membuat aku bahagia, tapi saat tahu ini juga sedikit sedih, sih. Tapi aku emang gak pernah berharap banyak dan gak pernah nyalahin mereka kalau gak mau anggep aku," ungkap Aerilyn sembari menunduk dan memainkan jarinya. Bibir mungil itu ia paksakan untuk menarik sudutnya agar bisa sedikit tersenyum.
Ardo mengelus lembut rambut gadisnya itu, ia menatap perempuan yang ia cintai. Lalu ia berkata, "Sayang maafin aku. Aku seneng kamu mau cerita ke aku, tapi aku juga gak bisa ngelakuin banyak hal tentang ini untuk kamu. Aku hanya selalu berharap kamu bakalan terus bahagia. Aku akan selalu berada di sisi kamu dan selalu ada buat kamu selama kamu butuh aku."
Aerilyn tersenyum mendengarnya, kalimat itu seperti pendukung untuknya. Memang kalimat dari Ardo adalah moodboster baginya, ia selalu senang ketika melihat wajah Ardo yang sedang berbicara serius.
"Kamu tahu enggak tiga huruf yang ada di nama kamu itu yaitu ILY punya arti tersendiri dari aku, loh," ujar Ardo tersenyum jahil membuat Aerilyn menautkan alisnya karena penasaran.
"Cepet kasih tahu!" rengek Aerilyn membuat cowok itu terkekeh.
"I artinya ai, L artinya love, dan Y artinya you. Kalau di satuin jadi apa?" kata Ardo membuat Aerilyn berpikir sejenak.
"I love you!" ujar Aerilyn penuh semangat.
"I love you too, my baby!" ujar Ardo sembari menjawil hidung Aerilyn, membuat gadis itu tersipu malu.
Keromantisan mereka tidak bertahan lama saat suara dering ponsel Aerilyn tiba-tiba berbunyi, mengganggu mereka. Tadinya gadis itu tidak ingin memperdulikannya, tetapi saat melihat nama kontak yang memanggil adalah neneknya, ia buru-buru mengangkatnya.
"Hallo, Nenek cantik yang paling aku sayang ... apa kabar?" ucap Aerilyn saat sudah mengangkat panggilan itu.
[Ilyn, kenapa kamu gak dateng ke pernikahan Mama kamu?! Kamu gak dianggep sama mereka atau apa? Nenek marah sama kamu kalau banyak bohong, sekarang Nenek belum bisa percaya sama alasan Mama kamu. Apalagi saat Nenenk tahu kalau kemarin Papa kamu itu nikah lagi dan banyak yang bilang kamu gak diundang.] suara Sari–neneknya di seberang sana, membuat Aerilyn gugup seketika, ia tidak tahu harus menjawab apa.
[Lyn, Nenek gak mau tahu pokoknya sekarang kamu ke sini! Sebelum Nenek acak-acakan pernikahan Mama kamu ini, jangan sampe Nenek murka!] Suara yang menggelegar itu membuat Aerilyn langsung tersadar dari lamunanya.
"I-iya Nek, Ilyn izin dulu ke guru buat pulang. Yaudah kalau gitu Nenek tunggu di sana, Ilyn bakalan sesegera mungkin cepet datang!" setelah mengucapkan itu, Aerilyn langsung menutup teleponnya.
"Aku anter!"
Aerilyn hanya mengangguk, ia juga tidak bisa jika datang sendirian karena takut nanti malah gugup dan tak tahu harus menghadapi neneknya. Mungkin saja kekasihnya itu bisa membantu dirinya di sana nanti, sekalian untuk memperkenalkannya saja.