KEJEBAK TAWURAN

2491 Kata
Gisel mengendari mobil sean untuk pergi ke kampus. Karena semalam ia menginap di apartemen milik Sean. Meskipun kejadian semalam membuatnya diam-diaman dengan Sean karena ia memaksa ikut untuk naik gunung. Sean sendiri masih tertidur pulas. Dia skip kelas untuk hari ini dan membiarkan Gisel mengendari mobilnya untuk kuliah karena malas untuk mengantarnya. Sekali lagi Sean kesal dengan Gisel yang tidak mau menuruti perkataannya. Gisel tidak ambil pusing. Ia mendengarkan lagu dengan headsatnya sesekali ia menyenandungkan lagu yang ia dengarkan. Daripada marah-marah karena jalanan sedang mancet. Gisel melihat jam di tangannya 09.30 gawat!! Dia telat. Dia hanya memilik waktu 35 menit untuk sampai kampus. Dan jalanannya saat ini tidak mendukung. Mancetnya saja bisa membuatnya tetap terduduk disini selama berjam-jam. Gisel menolehkan kepalanya ke kanan ke kiri. Ia ingat di sekitar sini ada jalan lain yang tidak terlalu ramai kendaraan. Gisel menjalankan mobilnya menuju jalan tersebut. Baru 5 menit menyetir mobilnya masuk jalan tersebut. Sudah banyak mobil-mobil dan motor-motor yang kebut kebutan untuk keluar dari jalan tersebut. Gisel hanya menggelengkan kepalanya melihat kejadian itu. Dia tidak terlalu ambil pusing. “Oi, jangan lewat sana ada tawuran.” teriak seorang bapak-bapak. Gisel tidak paham dengan apa yang di ucapkan bapak bapak tadi. Ia terlalu menikmati musiknya. Baru 500 meter mobil Gisel berjalan Gisel bergetar ketakutan. Ia sudah masuk ke daerah yang rawan di lewati. Ada tawuran antar anak SMA. Oke.. Gisel takut sekarang. Meskipun Sean sahabatnya sejak kecil kadang suka ikut tawuran tapi sahabatnya itu tidak pernah sekalipun memperlihatkan adegan tawuran di depannya. Gisel membekap mulutnya ketakutan saat ada seorang anak SMA yang di keroyok. Dia sudah babak belur. Gisel mematikan musiknya tadi kini ia searching nomor polisi terdekat. Dok.. Dok... Dok... Gisel gemetar ketakutan saat kaca mobilnya di ketuk orang dari luar. “Keluar- Keluarr sekarang...!! “ Gisel menelfon nomor yang sedari tadi di carinya. “Hallo.. Selamat..” “Hallo pak. Tolong ke sini ada tawuran. Saya kejebak di tengah-tengah tawuran pak. “ potong Giselk cepat. Ia panik “Tenang mbak.. Sekarang mbak berada dimana?” “Jalan Taruna pak. Deket SMA Garuda. Cepet sini pak. Ada yang gedor-gedor kaca mobil saya.” Gisel ingin menangis sekarang. “iya mbak.. Sekarang mbaknya keluar dari sana. Ini anggota aparat sudah ada yang menuju ke jln Taruna.” kata suara di sebrang sana sebelum mengakhiri panggilan. Gisel melihat ke samping sudah ada 3 orang di samping mobilnya dan berteriak menyuruhnya keluar. Gisel takut. Dia tidak mungkin menerobos tawuran itu. Tapi putar balik mobilnya juga tidak mungkin. Tau jika akan begini Gisel tidak akan pergi ke kampus. Lebih baik dia marathon film dengan Sean. Oke.. Sean. Gisel harus menelfon Sean. Tapi sebelum itu dia harus menjalankan mobilnya ke tempat yang agak aman. Ia ingat jika tawuran seperti ini pasti tidak jauh dari sekolahannya. Ia harus menuju ke sekolahan. Dan berlindung ke sana. Gisel menjalankan mobilnya maju dengan pelan selagi berusaha menelfon Sean. Agar laki-laki itu menjemputnya sekarang. Gisel takut. “Sean.. Pliss angkat!!” batin Gisel. Sedari tadi Sean tidak mengangkat panggilannya. Brakk... Gisel mengeremkan mobilnya mendadak saat seorang laki-laki berseragam SMA itu di dorong ke depan mobilnya. Anak satunya memukul siswa itu di depan mobilnya. Gisel semakin takut melihat adegan pemukulan di depannya. Ia melihat pagar yang mengelilingi sebuah bangunan. Pasti itu sekolahan. Lebih baik ia lari kesana. Jaraknya kurang dari 10 meter “Sean... Pliss tolongin gue!! Gue kejebak tawuran anak SMA. Gue takut.” teriak Gisel ketakutan saat telfonnya sudah di jawab oleh sahabatnya itu. Dia menjalankan mobilnya lagi saat anak anak itu menyikir di depan mobilnya. “Gue di jln Taruna yan. Deket SMA garuda.” kata Gisel lagi. ****** Sean mengangkat telfonnya malas setelah berulang kali Gisel menelfonnya. “Ya Sel..” Ucap Sean serak. Ia memaksa bangun dari tidurnya. “Sean... Pliss tolongin gue!! Gue kejebak tawuran anak SMA. Gue takut.” teriak Gisel ketakutan. Mendengar suara ketakutan Gisel. Nyawa yang tadinya belum terkumpul langsung terkumpul di dalam tubuhnya membuatnya sadar. “Lo dimana Sel??” tanya Sean khawatir. Ia akrab dengan suara bising itu. “Gue di jln Taruna yan. Deket SMA garuda.” kata Gisel lagi. “Lo sembunyi Sel sekarang.“ “Gimana gue mau sembunyi kalau mobil lo ini ada di tengah tengah tawuran sama gue.” jawab suara di sebrang sana bergetar. “Lo lari Sel. Cari tempat aman oke. Jangan matiin telfon lo. Gue otw sekarang.” “Cepet yan.. Gue takut.” “Its oke. Semua bakal baik-baik aja “ tenang Sean. Kini ia segera memakai bajunya. Sean segera turun dari apartemennya dan mencari ojek saat tiba-tiba ia mendengar Pyarr... suara kaca pecah di susul dengan jeritan dari Gisel. “Sel?? Gisel?? Lo baik-baik aja kan??” “Sell.. Pliss jawab gue. Lo masih disana kan??” Tak ada sautan dari Gisel. Sean panik. Ia tidak akan memaafkan anak-anak SMA itu jika Gisel sampai kenapa-kenapa. ***** Pyarr... Gisel membuka matanya dan mendekap mulutnya. Handphonenya jatuh karena ia kaget. Kaca mobil depan Sean pecah sudah saat seorang siwa itu memecahkannya dengan sebuah balok kayu. Beruntung serpihan itu tidak mengenai wajahnya. Hanya mengenai lengannya. Posisi Mobilnya ini sudah aman. Gisel nekat keluar dari mobil tersebut. Tak lupa ia membawa kunci mobilnya. Baru keluar dari mobilnya sudah ada yang mendekatinya. Beruntung seorang siswa SMA menolongnya. Ia menarik tangannya dan membawanya berlari. Gisel takut. Tapi genggaman kuat di tanggannya ini membuatnya merasa aman. Pemilik genggaman ini seolah-olah mengatakan Gisel tidak akan kenapa-kenapa. Gisel akan baik-baik aja. Seperti saat dengan Sean. “Pak buka..” kata laki-laki itu. Satpam itu membuka pagar sekolahannya. Laki-laki itu menarik Gisel masuk sekolahannya. Tak.... Gisel memegang kepalanya saat ada yang melemparkan batu mengenai kepalanya. Sakit... Reza povv... Aku melihat mobil sport itu berjalan pelan pelan meskipun sempat beberapa kali berhenti. Kesialan buat orang yang menaiki mobil itu. Aku menuju ke arahnya ingin menolongnya sampai aku mendengarkan jeritan seorang perempuan Sialann.... Anak sekolah Art school sudah lebih dulu memecahkan kaca mobil itu dengan balok. Aku langsung berlari ke arahnya berniat menolong. Jangan sampai warga sipil kena impasnya. Sampai aku melihat wajah yang sangat tidak asing bagiku. Wajahnya panik dan penuh ketakutan. Terlebih tanganya berdarah. Gisel?? Kenapa perempuan itu disini sekarang. Aku mendesah pelan. Kenapa harus perempuan itu. Kenapa Gisel selalu berada di lingkaran bahaya. Aku memukul orang yang berda di depan Gisel. Setelah itu aku menggenggamnya erat jemarinya dan membawanya berlari menyingkir dari tempat ini. Jari Gisel dingin sekali. Aku meminta satpam membukakan pintu. kami langsung masuk ke arena sekolahan saat pintu terbuka sedikit. Aku membawanya ke UKS sekolah dan mengobati lukanya. Sepanjang perjalannku menuju UKS banyak sekali pasang mata yang menatapku. Mungkin karena aku menggenggam tangan seorang perempuan dengan panik. “Dok... Tangannya berdarah.” kataku saat sudah sampai di UKS. Dokter itu langsung memeriksa tangan Gisel. Aku pergi mencuci tanganku yang terkena darah dari Gisel. ***** “Awh,” Gisel meringis saat dokter perempuan itu berusaha menarik serpihan kaca di lengan Gisel. Rasanya benar-benar perih. Gisel menatap laki-laki yang membawanya ke UKS saat laki-laki itu keluar dari kamar mandi. Gisel tidak percaya dengan apa yang di lihatnya sekarang. Laki-laki itu yang berada di kedai eskrim. Yang menolongnya saat di klub malam. Yang tidak sengaja bertemu dengannya di bioskop. Sekarang laki-laki ini malah yang menolongnya keluar dari arena tawuran. “Reza...” panggil Gisel untuk memastikannya. “Ya??” sautnya. “Oh kalian udah saling kenal.” kata dokter itu. Gisel melihat Reza dari atas ke bawah. Laki-laki itu memakai seragam SMA. Jadi... Selama ini Reza masih anak SMA. Harus di pastikan ini mah. “Lo masih SMA?” tanya Gisel kaget. “Iya.” jawab Reza. Gisel kaget. Ia kira Reza juga kuliah. “Lo sendiri ngapain tadi di tengah tengah tawuran ?” “Ya gue mau kuliah lah. Jalan utama lagi mancet banget. Mangkanya tadi gue lewat sini. Ya gue mana tau kalo lagi ada tawuran disini. Lagian lo juga. Ngapain sih tawuran-tawuran segala. Nggak jelas.” omel Gisel. “Di tolongin juga. Bilang makasih kek. Ini malah ngomel ngomel aja.” Kini Reza duduk di samping Gisel. “Kamu nggak balik tawuran lagi?” tanya dokter itu. “Nggak. “ jawab Reza. “Kenapa??” “Calon istri masa depan saya kan lagi terluka bu. Jadi saya harus dong nemenin dia.” jawab Reza lagi. Gisel menoleh ke arah Reza saat mendengar alasan Reza. “Dih, Kayak gue mau aja sama anak kecil kayak lo.” saut Gisel. Tak lupa ia tersenyum mengejek. Gisel menghela nafas. Untung saja dia tidak menggebet Reza. Bisa malu ia jika ketemu Sean kalau gebetannya anak SMA. Meskipun Gisel akui kalau Reza itu gantengnya di atas rata-rata. Nggak mungkin dong jika ia bronis. Sedangkan bergaul dengan Sean dan kawan-kawannya membuat Gisel sudah tidak terlalu tertarik dengan ketampanan seseorang. Kecuali Sean. Sean?? Gisel ingat ponselnya terjatuh. Sean sekarang pasti sangat khawatir dengannya. Mobill. Ia ingat mobillnya. Gisel ingin menangis saja sekarang. Aduh... Kenapa harus centenarionya yang pecah. “Shitt!!” maka Gisel. “Kenapa?” tanya Reza kaget .Pasalnya Gisel tiba-tiba memaki. “Mobilnya Sean... Aduh.. Itu berapa reparasinya? “ “Kayaknya masih ratusan juta.“ jawab Reza. Begitu-begitu Reza juga tau mana mobil mewah sama mana mobil biasa aja. Gisel melongo. Dia tau pasti akan habis jutaan tapi kalau sampe ratusan juta itu gimana?? Gisel harus ngapain buat tanggung jawab. Jual ginjaall?? Minta papanya?? Ya nggak mungkin. “Serius sampe segitu??” tanya Gisel lagi. Reza menganguk sebagai jawaban. “Itu mobilnya Sean ?” tanya Reza. Gisel menganguk. “iya.” “Emang lo nggak pernah lihat ia ngisi bensin??” tanya Reza. “Sering.” “Ganti oli??” “sering. Kenapa emang??” “Ya lo lihat aja kalau dia ngisi bensin sampe berapa biasanya.” jawab Reza. Gisel mengingatnya. Paling nggak jika Sean mengisi full bisa sampe sejuta lebih. “Lo pacaran sama dia?” tanya Reza memastikannya. “Nggak dia cuma sahabat.” “Ooo.. Di Friendzone toh.” sambung Reza lagi. Kini dia tertawa cekikikan. Kini Gisel mendelik marah melihat Reza tertawa. “Gue nggak di friendzone ya... Kita cuma sahabatan aja dari kecil.” bantah Gisel. “iya friendzone..” “ish.. Gue nggak naksir sama si playboy cap kadal itu.” kata Gisel dengan suara naik 4 oktaf. Hilang sudah moodnya untuk meminjam ponsel Reza agar bisa menelfon Sean. “Sudah selesai “ kata dokter itu. Gisel melihat tangannya. Sudah terbalut sempurna dengan perban. “Dok.. Makasih ya. Maaf kalau saya ngerepotin.“ “Iya mbak.. Saya yang harusnya minta maaf. Gara-gara siswa kita tawuran. Mbak yang jadi korbannya. Sekali kagi saya benar-benar minta maaf. “ “Nggak papa dok.. Makasih banget.“ “Reza...” panggil seseorang. Gisel dan yang lainnya melihat ke arah sumber suara itu. Ada anak laki-laki dengan wajah yang bonyok disana. “Kenapa? “ tanya Reza. Kini ia sudah berdiri. “Ada polisi. Terus kita lari kesini. Polisinya lagi bicara sama kepala sekolah. “ Reza menganguk-angukkan kepalanya. “Eh, lamboghini itu punya mbak ya?? “ Gisel menganguk. “Mobil gue gimana?” tanya Gisel panik. Habis sudah jika sampai lebih dari kaca pecah. “Spionnya ilang satu mbak. “ “Hah ??” “Jual aja jam tanganmu buat reparasinya.” sambung Reza “jam tangan mana?” “Ya itu, yang lo pake.” “Gila.. Ya mana cukup. Ini cuma 300rb.” “Yah.. Sok merendah. Lo pikir gue gak tau kalau jam ini orinya Rolex. Yaelah.. Nyokap gue juga punya keless...” jawab Reza kali ini. Gisel diam. “Berapa harganya??” tanya Gisel “Kenapa?? Mau ngajakin saingan harga?” “Berapa haraganya?” tanya Gisel serius. Reza menatap perempuan itu kali ini. “Jam Ini Sean yang kasih. Buat kado ulangtahun katanya.” sambung Gisel lagi. Dia menyentuh jam tersebut kemudian tersenyum bohong. Pantas saja banyak sekali yang tanya dimana ia beli jam yang ia kenakan itu. “Dia bilang katanya harganya murah. Cuma 300rb. Mangkanya gue ambil.” Reza diam mendengarkan penuturan Gisel. “Tawurannya udah selesai ?” tanya Gisel kepada laki-laki itu. “Udah mbak.” “Makasih dok, maaf kalau ganggu waktunya. Thanks Za.” setelah mengatakan itu Gisel keluar dari UKS. Gisel meminta kerumunan itu menyingkir agar dia bisa lewat. Gisel tak suka kepopuleran seperti ini atau menjadi bahan trending. Ia takut jika banyak kerumunan seperti ini. “Sel..” panggil Reza. Gisel tidak meresponnya. Dia bingung sembari meneruskan berjalannya. Dia nggak tau apa yang yang harus di lakukannya. Gisel mempercepat langkahnya. “Gisel..” teriak seseorang. Gisel mengenal suara itu. “Sean.” sebutnya pelan. Sean berlari dan memeluk Gisel. “Lo baik-baik aja kan?? Ga ada yang luka??” tanya Sean bertubi-tubi. Kini Sean menatap Gisel. Sahabatanya itu menangis. Air matanya keluar. Sean menghapus air matanya. Melihat kedua lengan Gisel terluka. Amarahnya membuncak. Sean memeluknya lagi. Terdengar suara sorakan dari sekelilingnya. Reza menatap kejadian itu dengan meremas kedua tangannya kuat. Dia tidak suka Giselnya di peluk laki-laki lain. Dia tidak suka laki-laki itu menghapus air mata Gisel. Tapi apa yang ia lakukan sekarang. Ia Hanya bisa menatap kejadian itu. Devan menatap kejadian itu seolah-olah merasakan apa yang di rasakan sahabatnya Reza itu. Devan tau Reza suka dengan perempuan itu. Tapi sayang cintanya bertepuk sebelah tangan. Perempuan itu menyukai sahabatnya. Devan mengerti sekarang saat melihat kejadian ini Reza hanya orang ketiga di antara hubungan mereka berdua. Sean berjalan ke arah Reza. “Makasih udah nolong Gisel.” Ucapnya. “Gue nggak mau bayangin dia bakal kenapa kalau lo tadi sampe nggak nolongin dia.” sambungnya lagi. “Santai aja. Gue kenal kok sama dia.” jawab Reza. “Kenalin gue Sean.“ “Reza.” jawabnya dengan menjabat tangan Sean. “Thanks sekali lagi.” “Yoi.” Setelah mengatakan itu Sean mengajak Gisel pergi meninggalkan halaman sekolah itu. Reza menatapnya nanar. “Yan mobil lo gimana?” tanya Gisel. “Its oke Gisela Luna. Gapapa. Gue lebih khawatirin lo daripada mobil itu. “ kata Sean. Yah meskipun Sean sangat marah saat melihat kondisi mobilnya tadi. Gisel menatap Sean yang sedang berbicara ke seorang mas-mas. Gisel mengerti ekspresi itu. Sean sedang menahan amarahnya. “Kita ke rumah sakit dulu periksain tangan lo. Gue nggak mau lo infeksi terus kenapa-kenapa. Bisa-bisa di bunuh bokap lo ntar gue.” kata Sean. Gisel tersenyum. Sean tau betul jika papanya tidak akan pernah khawatir dengannya. “Bilang aja lo khawatir sama gue. Mangkanya lo cepet cepet kesini kan??“ Ejek Gisel “Gue lebih khawatir sama centenario 30M gue.” jawab Sean lagi. Kita ia tersenyum dan mengacak rambut Gisel. “Awh..” Gisel menahan perih kepalanya saat Sean menyentuh kepalanya. Sean menatap Gisel. Ia melihat tanganya. Darah. Sean panik melihat darah itu. Gisel.. Kepala Gisel berdarah. “Anjing!! Siapa yang bikin kepala lo berdarah Sel?? b*****t!!” maki Sean marah. “Udah yan. Gue gapapa.” “Gapapa gimana?? Sialan!!” balas Sean marah. Sean bersumpah akan mencari orang itu sampai dapat. Dan membalasnya seratus kali lipat “Kita ke rumah sakit sekarang.” kata Sean akhirnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN