XAVIER

1549 Kata
Reza mengantarkan Gisel ke kos-kosannya. Tapi di depan kossnya ia sudah melihat laki-laki yang berada di klub kemarin. Sesampainya di di depan kosnya. Gisel langsung turun dan memberikan helmya kepada Reza. Tapi melihat Sean sudah berada di depan kosnya membuatnya sangat kaget. Sean sendiri kaget melihat Gisel yang pulang naik motor dengan seorang laki-laki. Dan itu bukan Xavier. “Mau ngapain kesini?” tanya Gisel tanpa basa-basi. “Ngajakin lo makan.” “Nggak gue udah makan sama Reza.” memang benar Gisel sudah makan dengan Reza. Selesai dari Coffee house Reza mengajaknya makan Sate. “Ini Za makasih ya.” Kata Gisel kini ia memberikan kemaja flanel yang di berikan Reza untuk menutupi pahanya saat naik motor tadi. “Sama-sama. Btw, dia siapa Sel? “ “Temen.” “O.. Yaudah aku balik ya.” “Hati-hati Za. Kabarin kalau udah sampe. “ “Oke.” setelah mengatakan itu Reza pergi. Kini Sean menatap Gisel. “Dia siapa Gis?” tanya Sean. “Kepo.” jawab Gisel. Kini ia mengambil kunci pagar di tasnya dan membuka pintu kosnya. “Gisel. Gue tau gue salah lo marah sama gue. Tapi jangan diemin gue kayak gini dong..” kata Sean. Kini ia memegang tangan Gisel. Gisel menatap Sean. Sean sudah mengeluarkan wajah melas dan pupy eyes nya. “Maaf...” Gisel mendesah. Ini yang paling di bencinya melihat Sean memohon kepadanya. Sean memeluk Gisel. “Oke. Gue maafin.” Sean tersenyum senang. Ia melepaskan pelukannya dan ganti menatap wajah Gisel. “Serius??” “Iya Sean.” “Kalau gitu temenin gue makan. Gue belum makan dari tadi pagi.“ kata Sean. Gisel terpengarah mendengar perkataan Sean. “Kok bisa sih belum makan. Lo ngapain aja Sean dari tadi.” Kini Gisel menarik tangan Sean. “Yaudah kita cari makan.” kata Gisel lagi. ****** Hubungan Sean dan Gisel lebih baik sekarang. Dan hubungan Gisel dan Xavier juga lebih dekat. Sedangkan Reza masih berusaha mendekati Gisel. Gisel tau itu tapi ia menganggapnya hanya sebagai gurauan. Karena Reza mirip Sean. Suka main-main perempuan. Kini Gisel dengan Sean di kantin sedang makan. “Beb, ntar temenin gue ke mall dong.” pinta Gisel ke Sean. Beb?? Apa mereka pacaran?? Ya jelas nggak lah. Gisel masih setia akan statusnya yang di Friendzone Sean. “Baby, gue nggak bisa kalo ntar, gue udah janji mau jalan sama pacar gue.” tolak Sean. Gisel diam. Pacar?? sedetik kemudian ia langsung melihat Sean terkejut. “Lo pacaran sama siapa ?” tanya Gisel kaget. Harusnya Gisel tak usah lagi kaget dengan perilaku Sean yang satu ini. Baru saja putus dengan Mita kini ia udah punya pacar baru lagi. “Anak SMA. Vanya namanya.” “Hah?? Lo sejak kapan ada kenalam anak SMA?” tanya Gisel tak terima. Setaunya Sean akhir-akhir ini selalu dengannya. Dengannya pun Sean nggak pernah nyinggung tentang perempuan apalagi ngajak kenalan. Eh sekarang malah tiba-tiba punya pacar. “Ketemu di bar sih waktu itu.” Gisel menggelengkan kepalanya sekarang. “Ck- ck- ck...” Sean hanya tertawa cekikikan. “Sorry beb. Janji deh besok gue temenin.” “Nggak usah. Gue ngajak kak Xavier aja.” setelah mengatakan itu Gisel pun bangkit dan pergi meninggalkan Sean. **** Gisel sudah berada di mall dengan Xavier saat ini. Mungkin ini memang saatnya untuk move on dari Sean. Sean hanya laki-laki b***t. Dia suka main-main perempuan. Tak heran, mungkin kejadian kemarin adalah karma buat Sean. Sekarang Gisel tidak akan pernah luluh lagi. “Sel kamu kenapa?” tanya Xavier. Pasalnya Gisel dari tadi hanya diam. “eh gapapa kak.” jawab Gisel. “Oh ya Sel, kamu kalau nggak salah jumat sabtu minggu libur kan ya??” tanya Xavier. “Oh bener kak.” “Aku mau muncak kamu mau ikut nggak?” “Muncak?? Maksudnya daki gunung gitu??” “Iya.. Sama anak anak mapala juga. Mau ikut nggak??” “Gunung mana ya kak??” “Wilis.” “Oh boleh kak boleh. Aku mau ikut. Jadi aku harus bawa apa aja??” Gisel menikmati perbincangannya dengan Xavier. Jadi selain Xavier seorang atlit Basket. Xavier juga anggota BEM dan anak mapala. Gisel baru tau jika Xavier adalah mahasiswa yang aktif. Mangkanya tak heran jika Xavier banyak sekali penggemarnya. Eh tapi jika memang benar Xavier mengikuti semua itu bukannya seharusnya Xavier sangat sibuk terus kenapa Xavier masih menyempatkan waktu dengannya. “Aduh.. Aku jadi nggak enak sama kakak padahal kan kakak sibuk banget tapi masih sempet nemenin aku.“ kata Gisel berikutnya. “Eh.. Emang lagi nggak sibuk aja mangkanya aku mau nemenin kamu kesini. Lagian aku seneng juga bisa nemenin kamu.” Entah mengapa Gisel suka mendengar itu. Padahal sebenarnya Gisel mengajak Xavier karena Sean yang tidak bisa mengantarnya. **** Sepulangnya dari mall baru sejam ia langsung di telfon oleh Sean padahal ia sedang chattingan dengan Xavier dan Reza. Gisel mengangkatnya malas. Dasar penganggu. Setelah tau maksud dan tujuan Sean yang mengajaknya ke apartemennya. Gisel langsung turun dan menghampiri Sean yang menunggunya di bawah. “Lo ganggu gue aja sih.” Sean tersenyum bak anak kecil. Ia memeluk Gisel. “Gisel debest emang “ ****** Sean memeluk Gisel dari samping yang sedang duduk di sofa dengan menonton televisi. Lebih tepatnya TV yang menontonnya. Karena sedari tadi Gisel memegang hpnya. Sean menenggelamkan wajahnya di ceruk leher milik Gisel. Gisel berdebar. Ia jamin wajahnya sekarang pasti akan sangat memerah. “Beb lo pake sabun apa?? Kok wangi banget ya.” tanya Sean. Gisel menggigit bibirnya supaya ia menjadi lebih tenang. Dia tak ingin Sean mendengar detak jantungnya yang semakin marathon. “Apa sih.” kata Gisel dengan mendorong Sean jauh darinya. Dakk..... “Aduh..” rintih Sean. Gisel menatap Sean yang sekarang memegangi belakang kepalanya “Lo gila ya Sel?” tanya Sean emosi. “Ya abisnya lo deket banget sih yan.” “Ya terus kenapa kalo gue deket kayak gitu?? Lo deg-deg an gue gituin??“ “Apaan sih.. Ya nggak lah.” bantah Gisel. “ ya terus kalo nggak, lo ngapain dorong gue kayak gitu?? Orang biasanya juga lo gue peluk-peluk gapapa.” Gisel diam. Memang benar yang di katakan Sean. Tapi jika Sean mengatakann hal seperti itu. Gisel pasti akan berdebar semakin keras. “Udah deh. Gue balik aja.” kata Gisel berikutnya. Kini ia sudah bangkit berdiri “Apaan sih Sel, lo kan udah janji mau nemenin gue main PS gimana sih.” “Kenapa nggak ngajak pacar lo aja ?? Ntar doi cemburu lagi kalo lo deket-deket sama gue.” “Apaan dah.. Kalo dia cemburu ya udah biarin aja cemburu. Kalo misalnya dia nyuruh, ya gue milih lo Sel.” kata Sean berikutnya. “Bullshit!!” saut Gisel. Ia kesal jika Sean berkata seperti itu. Buktinya saja setiap Sean punya pacar, dia nggak pernah ingat Gisel. Gisel selalau jadi nomor sekian diantara sekian. Tapi jika Sean sudah putus baru ia ingat Gisel. Baru kemana mana sama Gisel. “no no honey...jangankan ngegoda pake baju seksi aja dia nggak pernah.” kata Gisel berikutnya mengikuti perkataan Sean yang dulu. Tak lupa Gisel memutar matanya malas dan menaruh kedua tangannya di pinggangnya. Sean terdiam. Sepertinya dia tidak asing dengan perkataan itu. Tapi dimana.. Dia tidak mengingatnya. Sean menatap wajah Gisel bingung. “Kok kayaknya gue nggak asing ya Sel sama perkataan itu??” tanya Sean polos. Gisel tak percaya jika Sean akan melupakan perkataannya itu. “Uh..” kesal Gisel. Setelah itu dia pergi ke arah dapur. “Beb..” panggil Sean. Gisel tak peduli. Sean masih mengingat-ingat perkataan itu sampai akhirnya Oh.. Ia ingat itu sekarang. Itu adalah perkataannya dengan Mita. Kalau ia tak salah ingat waktu itu ada seseoramg yang membanting pintunya dengan keras. Jangan jangan itu adalah Gisel?? Jadi... Gisel tau dan ia mendengar perkataannya. Damn! Shitt!! Pantas saja waktu itu Gisel marah. Dan sejak itu pula Gisel jadi mewarnai rambutnya. Baju yang ia kenakan juga selalu memperlihatkan lekuk tubuhnya. s**t!!! Apa Gisel sedang mencoba menggodanya mangkanya Gisel berperilaku Seperti itu. Sean tersenyum. Entah mengapa ia merasa senang dengan hal itu. Gisel kembali dengan membawa 2 gelas coklat panas. Sean memperhatikannya dengan tersenyum. Gisel memakai kaos yang kebesaran di badannya. Dan rambutnya ia kuncir. Gisel duduk di samping Sean. Tak lupa ia memainkan telfonnya dan sesekali tersenyum. Sean terganggu melihatnya. Gisel lebih asyik dengan telfonnya daripada dirinya. Dan Sean tak suka itu. “Ngapain Sel?” “Oh ini.. Reza. Dia lucu banget. Mirip kayak lo tau Yan. “ “Oh.. Reza cowok kemarin yang nganterin lo pake motor itu??” Gisel menganguk sebagai jawaban. “Btw lo sebenarnya lagi deket sama siapa sih Sel, Reza apa Xavier??” “deket sama lo.” Gisel ingin menjawab seperti itu. “Ya.. sama kak Xavier lah. Ini gue juga lagi chatingan sama doi. Dia ngajak gue naik gunung.” jawab Gisel lagi. “Naik gunung??” “Iya..” “Nggak boleh. Ntar kalo misalnya lo jatuh terus ilang gimana?? Jangan aneh-aneh deh Sel.” “Apaan sih Yan, Kak Xavier itu udah pengalaman. Jadi nggak mungkin lah kalo gue sampe ilang. Aneh-aneh aja.” “Ya kalau lo pingin camping kita bisa kok camping di pantai. Nggak perlu lah naik-naik gunung segala. Kurang kerjaan.” “Ya.. Suka-suka gue dong yan.. Kok lo malah ngelarang ngelarang gue.” “Gue khawatir Sel,”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN