Zaelena memilih untuk mengunjungi sebuah kafe di tengah kota bersama dengan Jeane. Jeane satu-satunya penghuni grup KatoKaMa punya free time di hari minggu malam. Christina dan Tabita sudah mulai sibuk untuk mempersiapkan diri untuk kembali bekerja di pagi hari senin. Emang keduanya sepertinya b***k korporat sejati.
"Tumben lo mau di ajak keluar di hari minggu malam kayak gini?" tanya Zaelena. Mereka memiliki cafe lantai atas yang terbuka. Keduanya sama-sama memesan soda.
"Gue mumet, pala gue pening!" seru Jeane. Zaelena mengamati wajah Jeane dengan sangat lekat. Memang sih kalau di lihat-lihat wajah Jeane memang lagi lusuh banget. Seperti orang yang sedang memikirkan hutang negara.
"Kenapa sih lo? Cerita dulu cerita!" seru Zaelena. Dia mulai memasang wajah seriusnya.
"Adek gue kek anjir banget. Gue capek kerja di sini buat bayarin itu kuliah dia eh sih t*i malah asik dugem!" seru Jeane. Emosinya dapat banget sampai Zaelena sedikit kaget. Jeane memang si anak keren dan kuat. Jeane sudah kerja part time sejak jaman kuliah karena Jeane memang berasal dari keluarga yang sederhana. Itu juga yang membuat Jeane sangat perhitungan soal uang karena mencarinya uang memang sesulit itu. Waktu lulus kuliah memang Jeane yang paling gercep duluan cari kerja karena Jeane harus membantu orang tua nya bayar kuliah adik nya.
"Keren juga adek lo dugem. Kenapa kita nggak kepikiran ya dulu waktu kuliah. Apa kita pergi dugem sekarang aja Je?" tanya Zaelena dengan polosnya. Jeane terlihat semakin emosi.
"Emang curhat sama lo itu hal yang paling nggak bener buat di lakuin. Buang-buang air ludah!" seru Jeane. Zaelena langsung ngakak.
"Gue rasa itu bocah stres terus kebawa temen. Mungkin awalnya coba-coba eh sekarang malah ketagihan. Gue pengen ngupat, dia pikir cari duit gampang. Kepala gue hampir meledak tiap hari harus kerja!" seru Jeane tetap melanjutkan curhatannya walau dia sendiri sudah tahu Zaelena tidak akan pernah menanggapi dengan serius. Tapi itu lebih baik karena Jeane tidak akan mendapatkan tatapan kasihan dari Zaelena.
"Emang pergaulan anak sekarang kebanyakan nggak bener nya tapi kalau di lihat-lihat asik tau Je. Gue pengen nyobain." Kan apa di bilang. Tanggapan Zaelena itu tidak akan pernah serius.
"Emang gue punya saudara nggak ada yang benar. Punya abang yang malesan dan biasanya cuma emosian terus punya adek tingkahnya juga kek dajjal. Gini banget hidup gue!" seru Jenae, dia meneguk soda nya dengan begitu santai.
"Je gue pikir lo juga titisan setan," ucap Zaelena dengan santainya, mata Jeane langsung melotot.
"Emang kurang ajar lo, gampang bener itu mulut kalau ngomong!" seru Jeane. Zaelena cengengesan.
"Tapi gue serius. Lah terus sekarang itu bocah gimana keadaannya Je? Ada adegan nggak sadarkan dirinya juga nggak setelah dia dugem?" tanya Zaelena. Jeane mengangguk cepat, emosinya terlihat kembali begitu jelas.
"Ada, lo harus liat video ini. Dia benar-benar kayak orang gila!" seru Jeane. Jeane menunjukkan sebuah video pada Zaelena, gadis itu menonton nya dengan sangat seksama kemudian di beberapa detik awal, Zaelena langsung ngakak. Bagaimana tidak adik nya Jeane benar-benar mabuk. Dia menunjuk-nunjuk kamera kemudian mengatakan hal random yang bahkan setiap kata yang keluar dari mulut bocah itu nggak bisa dicerna dengan baik dan tak lama kemudian bocah jatuh dan kehilangan kesadarannya.
"Lucu banget ya ternyata orang mabok. Gue juga jadi pengen coba," ucap Zaelena di sisa-sisa tawanya. Gadis itu terlihat sangat puas.
"Coba aja lo kalau berani, paling pulang-pulang lo langsung di pecat jadi anak sama aman lo karena udah nggak berguna terus g****k lagi!" seru Jeane dengan mudahnya. Sepertinya mulut mereka itu menang tidak ada kontrol nya sama sekali.
"Kurang ajar lo. Terus Je siapa yang bawa dia pulang ke kosan nya?"
"Kawannya." Wajah Jeane masih saja terlihat kusut.
"Untung baik ya itu kawannya. Je capek ya?" tanya Zaelena. Mata Jeane langsung melotot.
"Nggak usah nanya nggak usah! Lo nggak lihat selusuh apa wajah gue sekarang? Capek banget nih gue menanggung hidup orang-orang nggak tahu diri!" seru Jeane kembali menggebu-gebu. Zaelena menarik napas nya pelan.
"Tapi Je, lo itu keren banget. Nggak banyak orang yang bisa meluapkan amarah dengan sangat mudah seperti lo. Walau jujur nih ya gue agak ngeri melihat lo marah-marah kayak gini tapi itu lebih baik setidaknya nanti kalau lo gila gue nggak kaget-kaget banget, gue tinggal bilang aja nanti gini 'wajar sih, gue sering dengar dia ngupat, berat hidup nya berat'," ucap Zaelena. Jeane terlihat semakin gregetan pada gadis itu tapi Jeane kali ini memilih untuk menghembuskan napasnya. Sudah mulai pasrah.
"Thanks loh, pengertian banget lo!" seru Jeane. Zaelena mengangguk sambil menahan tawa.
"Secapek itu ya Je punya kakak sama adek?" tanya Zaelena.
"Capek kalau kakak sama adek yang lo punya udah nggak ada gunanya terus di tambah nggak tahu diri lagi," jawab Jeane. Zaelena kali ini mengangguk dengan kalem. Entah apa yang dipikirkan gadis itu tapi sepertinya pembicaraan tentang adik sepertinya juga menjadi hal yang sangat sensitif untuk Zaelena.
"Kenapa wajah lo mendadak sedih gitu?" tanya Jeane.
"Emang wajah gue kenapa? Mana ada gue sedih. Nyengir nih gue nyengir!" seru Zaelena. Jeane kemudian mengidik acuh. Dia kemudian kembali meneguk sodanya.
"Amam lo nggak ada di rumah lagi?" tanya Jeane. Tadi pagi memang saat sarapan bersama sebelum pulang ke rumah masing-masing, Aileena sudah sangat rapi. Katanya ada pekerjaan ke luar kota.
"Lo tahu sendiri, Amam gue memang manusia super sibuk di dunia ini. Kek kalau tengah malam dapat panggilan kerja pun dia akan berangkat saat itu juga. Kadang gue heran sebenarnya Amam gue itu sebenarnya manusia atau bukan," ucap Zaelena.
"Tapi Amam lo keren banget sih Cil. Kek penuh power banget gitu. Nggak ada capeknya," ucap Jeane. Sosok Aileena Razeta Abdilah itu memang sangat mudah membuat orang yang melihatnya merasa kagum. Zaelena hanya tersenyum menanggapi itu.
"Emang sih, emang keren banget Amam gue!" seru Zaelena. Gadis itu juga ikutan meneguk sodanya. Senyum Zaelena tidak lagi selebar awal-awal mereka datang ke kafe ini.
"Je pasti bapak dan ibu lo bangga banget kan sama lo? Buktinya hampir tiap hari mereka selalu nanya kabar lo lewat telpon walaupun kalian tinggal jarak jauh," ucap Zaelena. Jeane yang tadi bawaannya emosi terus kini senyum terukir di wajah gadis itu.
"Banget, kayak setiap hari itu apapun yang gue lakukan, sekecil apapun pencapaian gue. Bapak sama ibu itu akan selalu bilang gue keren kemudian mengucapkan terima kasih berulang kali ke gue. Rasanya setiap kali gue mendengar itu semua capek yang gue rasakan langsung hilang, rasa kesal gue lenyap begitu saja yang tersisa di hanya rasa syukur dan gue ingin menangis," ucap Jeane. Zaelena tersenyum mendengar itu. Suara antusias Jeane dengan mata berkaca-kaca ketika mengatakan itu membuktikan bahwa gadis itu memang sangat senang ketika menceritakan bapak dan ibu nya.
"Tumben lo nanya hal kayak gini ke gue. Ini juga suasananya mendadak jadi serius banget. Kenapa? Awas aja kalau mulut lo itu bilang kalau keluarga lo broken home, gue cekek lo!" seru Jeane. Zaelena terkekeh tapi entah kenapa kekehan gadis itu justru terdengar sangat miris kali ini. "Apap lo sayang nya nggak main-main sama lo begitu juga Amam lo. Dah lah nggak usah belagak sedih, itu bukan lo banget gila!" seru Jeane. Gadis itu kemudian bangkit dari kursinya dan kembali memesan soda ketika soda miliknya dan Zaelena habis.
"Ini kenapa hawanya jadi serius gini sih. Zae ayok ngegosipin bintang aja gimana atau bulan kek kok masih sabit aja," ucap Jeane. "Serius-serius gini nggak cocok banget buat lo!" lanjut Jeane. Zaelena langsung ngakak.
"Iya a***y kenapa gue jadi ikutan melow. Ini gara-gara lo sih. Emang paling bener kita tuh ngobrolin hal nggak penting. Menurut lo kenapa bintang jarang kelihatan di langit Jakarta padahal langitnya cerah?" tanya Zaelena.
"YA KARENA POLUSI b**o PAKE NANYA LAGI!" seru Jeane langsung ngegas.
"SIALAH MEMANG LO ANJIR!" seru Zaelena kemudian mereka berdua kompak tertawa. Memang semudah itu bagi mereka untuk merubah suasana diantara mereka. Sedih-sedih dalam waktu yang lama itu tidak pernah berlalu dalam kehidupan mereka seberat apapun itu.