Bab 5: Foster Sister (a)

1106 Kata
Kehabisan ide untuk melakukan sesuatu adalah hal yang sering dialami oleh Zaelena. Setelah menyelesaikan semua pekerjaannya hampir subuh setelah dia pulang nongki bersama dengan Jeane. Sekarang Zaelena bingung untuk melakukan apa. Zaelena sudah puas bolak-baik membuka akun sosial medianya. Dia juga sudah mendapatkan beberapa referensi untuk konten nya selanjutnya. "Apakah gue benar-benar harus jadi b***k korporat juga?" gumam Zaelena. Dia bangkit dari tempat tidurnya dan melangkah keluar dari kamar. Sepi menyambutnya. Tentu saja. Amam nya belum pulang dari luar kota sedangkan Apap nya jelas sedang ada di restoran. "Mau sedih tapi gue memang bukan anak broken home dan kalau di pikir-pikir lagi ternyata gue anak home alone!" seru Zaelena sambil mengacak rambutnya yang jelas masih bertahan berwarna pink. Zaelena memilih melangkah ke luar dari rumah. Menghirup udara di siang hari tidak terlalu buruk walaupun matahari sangat terik setidaknya ini akan membuat otak Zaelena yang membeku karena terlalu lama berada di ruang ber AC mencair. Zaelena melihat ke sekitarnya. Komplek perumahan ini memang sangat sepi terutama di hari kerja seperti sekarang. Paling-paling sang pemilik rumah baru terlihat ketika weekend itu pun kalau mereka tidak pergi liburan keluar kota. "Heran gue, kenapa orang-orang kok bisa sibuk!" seru Zaelena. Gadis itu kemudian duduk di sofa yang ada di teras rumahnya. Bunga-bunga kesayangan Apap nya yang dirawat sepenuh hati terlihat tidak memiliki semangat untuk hidup mungkin karena mereka juga tidak tahan akan panas. Zaelena menarik napasnya, kalau Amam dan Apap nya sedang sibuk seperti sekarang, jelas makan siang tidak akan tersedia di atas meja. Zaelena bangkit dari sofa. Senyum gadis itu terukir sempurna ketika tatapan matanya terpaku ke rumah yang ada di hadapannya. "Mobilnya ada, motornya ada, berarti orangnya juga ada di rumah. Gue mau iseng-iseng siapa tahu dapat suami!" seru Zaelena. Dengan piyama kebanggaanya dan rambut yang selalu lupa disisir setelah rebahan, Zaelena langsung bergegas ke rumah tetangga nya itu. Langkahnya benar-benar terlihat sangat riang. Raut wajah bosan Zaelena entah hilang kemana. "ASSALAMUALAIKUM!" "ASSALAMUALAIKUM, MAS ARHAN!" "MAS ARHAN!" "MAS ARHAN PUNYA MAKANAN NGGAK?" "MAS ARHAN, ZAELENA NUMPANG MAKAN DONG!" "ASSALAMUALAIKUM, MAS ARHAN!" Zaelena berdiri di ujung tangga dekat teras rumah Arhan. Belum ada tanda-tanda sang pemilik rumah akan keluar dari balik pintu kayu tinggi yang tertutup setengah itu. Zaelena terlihat menarik nafasnya pelan. Dia jadi teringat ucapan Arhan di pagi hari minggu. Apakah Arhan sudah tidak mau lagi berurusan dengannya? Tapi itu tidak mungkin bukan, bagaimana Arhan bisa mengabaikan gadis menyenangkan seperti nya hahaha pokoknya anggap saja begitu dulu. Jika apa yang dikatakan oleh Arhan pagi itu adalah bentuk sebuah penolakan, maka Zaelena akan melakukan itu secara terus-menerus sampai Arhan terbiasa berada di dekatnya, terbiasa dia ganggu secara terus menerus. Zaelena akan melakukannya. "ASSALAMUALAIKUM, MAS ARHAN!" seru Zaelena lagi bahkan suaranya jauh lebih keras. Dan ya, kali ini gadis itu berhasil. Arhan muncul dari balik pintu dengan pakaian rumahan. "Waalaikumsalam, Zaelena. Ada apa?" tanya Arhan, pria itu terlihat cukup bingung. Ya bagaimana tidak bingung jika orang yang Arhan hadapi adalah orang seperti Zaelena. Zaelena nyengir. "Mas Arhan punya makanan?" tanya Zaelena tanpa malu sedikitpun. Seperti tekad Zaelena, dari awal ketemu juga sudah malu-maluin yaudah sekalian aja terobos! "Punya, saya baru saja selesai masak makan siang," jawab Arhan. "Mas Arhan bisa masak?" tanya Zaelena, nada suaranya semakin antusias. "Saya bisa, kamu belum makan?" tanya Arhan. Zaelena otomatis langsung menggeleng sekuat tenaga. "Belum, Amam pergi ke luar kota sedangkan Apap sibuk di restorannya. Kalau aku yang masak nanti malah rame," jawab Zaelena. "Rame?" tanya Arhan. "Kebakaran soalnya rumah," jawab Zaelena sambil cengengesan. Arhan terkekeh pelan dan itu langsung membuat Zaelena takjub, sungguh tampan sekali manusia seperti Arhan ketika tertawa. "Yaudah kamu makan siang bareng saya aja," ucap Arhan. Zaelena hampir saja melompat kegirangan ketika Arhan mengatakan itu. Tapi untung saja Zaelena masih bisa menahan dirinya untuk tidak melakukan itu. "Mas Arhan beneran boleh?" tanya Zaelena sok nggak enakan padahal dia sudah nggak sabar ingin makan berdua dengan Arhan. "Boleh Zaelena, silahkan masuk," ucap Arhan ketika Arhan membalikkan tubuhnya untuk masuk ke dalam rumah Zaelea mengepalkan tangannya ke udara, gadis itu terlihat benar-benar sangat senang. "Ajay gue makan bareng crush, masakan dia sendiri pula. Zaelena lo adalah manusia paling beruntung dunia ini!" jerit hati mungil Zaelena. "Kamu suka sayuran kan Zaelena?" tanya Arhan ketika mereka berdua sudah duduk di meja makan. Menu yang tersedia di atas meja itu memang sayuran hijau dan beberapa jenis lauk-pauk. "Suka kok mas Arhan. Mas Arhan memang sering masak?" tanya Zaelena. "Nggak sering juga, kalau ada waktu luang aja," jawab Arhan. Zaelena mengangguk. Masih mending Arhan berarti, kalau mendang-mending sih sudah jelas Arhan mending dalam segala hal dibandingkan dirinya. "Mas Arhan ini enak banget, aku suka," ucap Zaelena ketika memakan masakan Arhan. Rasanya benar-benar enak. Sesuai dengan selera Zaelena. Dia sangat suka memakan sayuran. Beberapa lauk yang tersedia di atas meja juga jenis lauk yang Zaelena sukai. "Bagus lah, makan yang banyak kalau gitu," ucap Arhan. Zaelena mengangguk antusias. Zaelena rasanya ingin sujud syukur sekarang. Iseng-isengnya kali ini membawa banyak sekali berkah. Udah bisa menatap wajah tampan Arhan kemudian bisa makan siang bareng Arhan, makanannya masakan pria itu pula! "Mas Arhan sebelumnya nggak pernah tinggal di rumah ini ya?" tanya Zaelena sembari menatap sekitarnya. Sebagian barang-barang yang ada di rumah ini terlihat klasik bahkan sofa nya pun masih sofa model lama. "Sepertinya hanya sampai saya umur tiga tahun setelah itu kami pindah karena orang tua saya memiliki pekerjaan di luar. Jadi saya nggak punya banyak cerita tentang rumah ini," jawab Arhan seadanya. Itu memang benar. Arhan tidak memiliki banyak hal yang bisa dia ceritakan tentang rumah ini. "Aku pikir memang rumah ini nggak akan pernah ditempati lagi. Semenjak aku lahir. Rumahnya selalu kosong. Hanya ada tukang bersih-bersih yang datang sesekali. Terus orangnya setiap ditanya siapa pemilik rumahnya, kenapa nggak pernah tinggal di rumah ini. Dia hanya selalu senyum. Dan setelah itu aku selalu takut menatap rumahnya. Aku pikir rumah hantu lah atau sarangnya manusia seperti Jeane lah. Pokoknya yang serem-serem. Aku bahkan nggak berani jalan depan gerbangnya saking takutnya!" seru Zaelena. Arhan terkekeh pelan mendengar itu. "Wajar sih kalau kamu berpikir seperti itu. Rumahnya memang sudah lama sekali tidak ditempati. Untung orang yang punya tugas untuk merawat rumahnya bekerja dengan baik. Jadi bangunan beserta perabotannya masih aman," ucap Arhan. Zaelena menganggukkan kepalanya. "Nggak sia-sia memang bapak dan ibu yang selalu datang bersih-bersih itu dan menjawab semua pertanyaan orang dengan senyuman. Memang senyum selalu membawa berkah," ucap Zaelena nggak nyambung. Arhan hanya menggelengkan kepalanya. "Ngomong-ngomong mas Arhan nggak ke kampus hari ini?" tanya Zaelena, pakaian Arhan kelewat santai untuk pergi mengajar. "Saya hanya punya dua kelas hari ini. Dan semua kelasnya ada di pagi hari." "Oh pantesan mas Arhan udah di rumah."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN