Bab 4: Always You (a)

1744 Kata
Arhan melangkah masuk ke dalam rumah tua yang akan selalu menjadi tempat yang dia kunjungi di waktu-waktu senggangnya bahkan jika seseorang yang ingin selalu Arhan lihat seperti biasanya ada di dalam rumah itu, Arhan akan selalu menyempatkan waktunya untuk datang ke rumah ini. Rumah ini memiliki banyak sekali cerita. Memang benar-benar rumah lama yang jendelanya tidak setinggi-tinggi rumah modern. Lantainya pun masih diplester menggunakan semen belum pakai keramik atau granit. Pintunya juga belum setinggi pintu-pintu rumah modern. Halamannya juga masih ditumbuhi rumput gajah belum di paving blok. Intinya rumah ini benar-benar rumah tua jaman dulu tapi rumah ini sangat nyaman. Alasan sang pemilik tidak pernah berniat untuk merenovasi rumah ini karena dia sangat senang dengan unsur klasiknya. Setiap kali mendorong pintu masuk rumah itu, fokus Arhan akan selalu tertuju pada dinding. Di sana ada sebuah lukisan gadis kecil yang wajahnya tidak terbentuk sempurna. Kemudian di bagian bawah foto itu ada tulisan. 'Lukisan pertama Ari' dan tulisan itu pun huruf nya tidak kalah berantakannya, sulit di baca tapi Arhan selalu suka menatap lukisan itu. "Kebiasaan banget ya selalu berhenti di sini langkahnya, aku sudah bilang langsung ke ruang makan!" seruan itu membuat Arhan langsung menoleh. Sosok cantik yang menggunakan dress sederhana dengan rambut terurai menatapnya sembari bersedekap d**a. Arhan langsung terkekeh. Dia melangkah dengan cepat ke arah gadis kesayangannya itu. "I miss you, Ari," ucap Arhan sembari memeluk gadis cantik itu dengan sangat erat. "Nggak usah mulai bohong!" seru gadis cantik itu. Namanya Ariana Putri Daneswari. Orang yang memiliki tempat spesial di hidup Arhan bahkan sangat spesial karena sekarang hanya Ariana yang tersisa satu-satunya. Hanya Ariana yang bisa Arhan jadikan tempat pulang. "Aku nggak bohong Ri," jawab Arhan. Dia mengurai pelukannya dengan Ariana mengecup pelipis gadis itu kemudian kembali memutar tubuhnya untuk menatap lukisan pertama Ariana yang selalu menarik perhatiannya. "Kenapa sesuka itu melihat lukisan berantakan itu?" tanya Ariana. Gadis itu kemudian berdiri ikut berdiri di samping Arhan. Ikut menatap lukisan yang di selalu membuat Arhan berdiri cukup lama untuk menatapnya sebelum benar-benar masuk ke dalam rumah. "Menyenangkan. Lukisan itu menjadi langkah awal seorang Ariana menjadi desainer hebat. Kalau hari itu untuk pertama kalinya kamu nggak pernah memberanikan diri untuk melukis mungkin sampai sekarang kamu nggak akan pernah menyadari kemampuan kamu yang satu itu. Kamu mungkin masih kebingungan mencari hal yang kamu sukai," jawab Arhan. Terdengar sangat tulus sekali. Ariana menatap Arhan dengan dengan mata menyipit, senyum langsung tersungging di bibirnya. Arhan memang selalu saja memiliki cara untuk membuatnya merasa sangat beruntung. "Han kebiasaan banget sih!" seru Ariana. Dia kemudian merubah posisi berdiri Arhan dan mendorong pria itu ke ruang makan. "Aku serius Ri," ucap Arhan, dia tetap berjalan dengan Ariana yang mendorong punggungnya. "Iya-iya tahu yang selalu serius," jawab Ariana. Mereka kemudian duduk di kursi meja makan. Hanya ada dua kursi di meja makan itu. Pertanda penghuninya memang satu orang dan tamu yang sering berkunjung juga hanya satu. Arhan dan Ariana itu sama. Sama-sama anak yatim piatu. Mereka sudah lama kehilangan orang tua mereka. Kebetulan yang sangat menyedihkan bukan? Tapi seperti itulah yang terjadi sebenarnya. Mereka hidup dalam kesedihan dan rasa takut sepanjang hidup mereka. "Akhirnya terasa jauh lebih baik," ucap Arhan tiba-tiba. "Apanya?" tanya Ariana. Dia mengambilkan nasi dan lauk-pauk untuk Arhan. "Setiap kali aku menghabiskan waktu sama kamu. Itu akan membuat aku merasa jauh lebih baik Ri," jawab Arhan. Ariana mencibir. "Kamu selalu mengatakan hal yang sama." "Karena itu yang aku rasakan." Arhan langsung menikmati makan siangnya. "Dan sayur asem Ariana rasanya nggak pernah mengecewakan sedikitpun. Ini sangat enak," lanjut Arhan. Sayur asem yang dibuat oleh Ariana adalah salah satu menu favorit Arhan. Dia sangat suka itu. "Terima kasih atas pujiannya, itu karena efek kamu sangat jarang memakan masakan Indonesia saat di Amerika," ucap Ariana. "Kamu juga jarang Ri. Kita selalu memakan makanan cepat saji karena tidak memiliki banyak waktu untuk mengolah makanan," ucap Arhan dengan mulut penuh. Arhan dan Ariana memang baru sama-sama pulang ke Indonesia. Sebelumnya mereka menetap di Amerika untuk melanjutkan pendidikan mereka kemudian mulai merintis karir mereka di sana. Arhan fokus menjadi seorang dosen sedangkan Ariana fokus menjadi seorang desainer pemula. Jalan yang mereka lewati dalam mengawali karir mereka jelas tidak mudah tapi mereka sama-sama berusaha dengan keras sampai pada akhirnya jalan mereka di permudah seiring berjalannya waktu. "Tidak ada pilihan lain memang dan sepertinya perut sudah sangat terbiasa dengan makanan-makanan tidak sehat itu," ucap Ariana sambil meringis, Arhan langsung terkekeh tapi apa yang dikatakan oleh Ariana memang benar juga. Sepertinya memang perut mereka sudah sangat terbiasa dengan itu. "Di paksa keadaan dan akhirnya terbiasa," ucap Arhan. Mereka tertawa bersama. "Han gimana rumah? Apakah nyaman tinggal di sana?" tanya Ariana. Ariana memang tidak tahu banyak tentang rumah orang tua Arhan yang ada di sana. Ariana hanya tahu rumah kerabat Arhan karena sebelumnya Arhan selalu pulang ke sana. "Nyaman, suasana komplek nya cukup tenang," jawab Arhan, "tapi rumahnya terlalu besar untuk ditempati sendirian," lanjutnya. Ariana hanya menanggapi itu dengan senyuman. Ariana yang menempati rumah tua peninggalan orang tua nya yang tidak luas saja kerap kali merasa kesepian. "Ya, bagaimana lagi Han. Hidup memang menakdirkan kita seperti itu. Menempati sebuah rumah yang para penghuninya telah pergi dan hanya kita yang tersisa satu-satunya. Ya jelas kita akan selalu berteman dengan sepi," jawab Ariana, ada kesedihan yang terselip dari nada suara itu. Arhan langsung menggenggam tangan Ariana dengan sangat lembut. Arhan dan Ariana sama-sama kehilangan kedua orang tua mereka saat mereka masih kecil, di saat mereka hanya bisa merasakan kehilangan itu tanpa bisa banyak bicara. Karena perasaan anak sekecil mereka jelas tidak akan dianggap penting oleh orang-orang dewasa. Orang-orang dewasa itu hanya akan mengedepankan perasaan mereka, bertindak seperti merekalah yang paling kehilangan. "Ri, aku boleh nambah sayur asem nya?" tanya Arhan mengalihkan topik pembicaraan. Arina langsung terkekeh mendengar itu. Dia langsung mengangguk. "Kamu bisa menghabiskan semua sayur asem nya," ucap Ariana. Ariana mendorong mangkuk berisi sayur asem itu ke arah Arhan. Di bandingkan Ariana, sebenarnya Arhan yang jauh lebih rentan. Arhan memiliki trauma masa lalu yang jika trauma nya itu kambuh maka Arhan benar-benar tidak akan terlihat seperti Arhan. Pokoknya sangat menakutkan. "Ini benar-benar enak," ucap Arhan, dia menikmati sayur asam itu. Ariana lagi-lagi tersenyum melihat itu. "Han, gimana tempat ngajar kamu yang baru?" "Itu juga menyenangkan, kamu tahu tetangga depan rumah aku juga seorang dosen disana, jadi lebih gampang untuk mempelajari bagaimana sistemnya karena orangnya sangat enak diajak diskusi," jawab Arhan, "namanya ibu Aileena Razeta Abdila, kalau nggak salah dia juga seorang penulis terkenal pada masanya kemudian dia juga pembicara di seminar dan pebisnis juga. Keren sih memang orang nya," lanjut Arhan dengan sangat jujur. Dia selalu sedetail itu memang ketika menjelaskan sesuatu pada Ariana. "Namanya kedengeran nggak asing. Aku boleh tahu sosial media atau hal lain yang dimiliki oleh ibu Aileena?" tanya Ariana. Arhan langsung mengangguk dengan cepat. Dia mengeluarkan ponselnya dari saku celana kemudian mencari username Aileena dan memperlihatkan foto wanita itu pada Ariana. "Han serius ibu Aileena yang ini?" tanya Ariana. Arhan langsung mengangguk. Kening Arhan berkerut ketika melihat perubahan ekspresi wajah Ariana. "Iya yang itu, kamu kenal atau pernah dengar orangnya?" tanya Arhan dengan santai. Ekspresi wajah Ariana masih sama kemudian dia memberikan ponsel milik Arhan. "Dia salah satu penulis favorit aku pada masanya," jawab Ariana dengan senyum, "dia memang sudah terkenal sangat keren sejak dulu," lanjut Ariana lagi. Arhan mengangguk walau dia merasa ada sedikit yang aneh tapi Arhan memilih mengabaikan itu mungkin Ariana memang sangat kaget melihat penulis favorit gadis itu sekarang menjadi rekan kerjanya. "Ri, kamu ingin melakukan apa hari ini?" tanya Arhan ketika dia sudah menyelesaikan makan siangnya. "Kamu sibuk hari ini?" tanya Ariana. "Aku free, malam baru take video buat konten," jawab Arhan. "Kamu ada hal penting yang harus dilakukan?" tanya Arhan lagi. Ariana sibuk. Terkadang gadis itu bisa menghabiskan waktu nya di meja kerja seharian penuh untuk membuat desain baru atau mengerjakan pesanan kliennya. "Aku berencana untuk ke makam Bapak dan Ibu hari ini, kamu ikut?" tanya Arina. Arhan langsung terdiam. Raut wajah pria itu langsung berubah. "Ri, aku... " Ariana langsung tersenyum. "Aku tahu, kamu nggak perlu ikut. Penawaran aku hanya candaan aja. Aku tahu kamu," ucap Ariana. Arhan meringis pelan. "Maaf, aku nggak pernah bisa memenuhi ajakan kamu yang satu ini. Aku benar-benar nggak bisa," ucap Arhan. Ariana lagi-lagi tersenyum. "It's oke Han, jangan minta maaf sama aku," ucap Ariana. Pasangan itu kemudian melangkah ke ruang santai yang ada di rumah itu. Tidak luas tapi lagi-lagi ruang santai itu sangat nyaman. "Ri, kamu benar-benar nggak mau mengubah apapun bagian dari rumah ini?" tanya Arhan. "Buat apa? Ini saja sudah nyaman. Aku suka suasana rumah seperti ini. Ini membuat aku merasa jauh lebih dekat dengan Bapak dan Ibu," jawab Ariana santai. Dia kemudian duduk di samping Arhan. "Kamu kapan mau main ke rumah aku?" tanya Arhan lagi, tangannya bergerak memainkan rambut Ariana. Itu adalah favorit Arhan sejak dulu. Rambut Ariana warnanya sama sekali tidak pernah berganti. Ariana selalu mempertahankan warna rambut aslinya yaitu hitam. "Minggu depan mungkin, aku akan kabarin kamu. Seminggu ini aku full kerja," jawab Ariana. Kepalaku bersandar dengan nyaman di pundak Arhan. "Oke, kabarin aku kalau mau main ke rumah, aku akan jemput kamu." "Iya, Han." Mata Ariana terpejam. Seperti nya saat makan siang tadi ada beberapa bagian obrolan nya bersama Arhan yang cukup mengganggu Ariana. "Ri, kenapa kamu tidak pernah mengganti warna rambut?" tanya Arhan. Rambut Ariana itu bagus, lurus dan sangat lembut. "Buat apa, ini saja udah cukup. Ketika aku memutuskan untuk merubah sesuatu yang diberikan oleh Tuhan, itu sama saja aku sudah siap dengan resikonya. Perawatan rambut yang warna berganti itu cukup sulit karena rentan rusak. Jadi aku pikir mempertahankan keaslian rambut itu lebih baik walau tetap saja harus dirawat," jawab Ariana, dia mengubah sedikit posisi duduknya, "kenapa? Kamu bosan lihat aku dengan rambut gelap terus?" tanya Ariana. Arhan otomatis menggeleng dengan sangat cepat. "Ya enggak dong, aku cuma penasaran aja. Soalnya jarang orang yang bertahan dengan warna rambut asli mereka," jawab Arhan tidak kalah cepat. "Oh, tapi memang cantik-cantik sih warna rambut sekarang aku hanya takut nggak bisa merawatnya dengan benar karena aku nggak punya banyak waktu untuk merawat rambut lebih ekstra." Arhan mengangguk paham mendengar jawaban Ariana. Itu sangat masuk akal, terkadang jika sedang sibuk-sibuknya Ariana bahkan tidak memiliki waktu untuk makan bahkan mandi. Jadi sangat wajar Ariana mengatakan itu. Dan satu hal lagi yang membuat Arhan sangat menyukai gadis ini. Arhan belum pernah sekalipun mendengar Ariana menjatuhkan orang lain. "Han, makasih udah datang hari ini dan menemani aku makan siang." "Sama-sama Ri, aku selalu senang menghabiskan waktu bersama kamu."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN