Bab 3: The First Plan (b)

1630 Kata
"Akhhhhhh! Ganteng banget. Udara mana udara? Gue nggak bisa napas dengan normal!" seru Zaelena ketika dia masuk ke dalam kamar setelah acara bakar-bakar sekaligus makan malam itu usai. Zaelena bahkan langsung melakukan roll depan di kasurnya saking hebohnya gadis itu. "Nggak usah lebay!" seru Jeane. Gadis berambut pendek itu duduk di atas bean bag yang ada di kamar Zaelena. Kamar Zaelena ini memang sangat nyaman sekali. Siapa saja pasti akan betah berada di dalamnya. "Gue benar-benar senang banget. Baru kali ini gue merasa ketemu cowok yang benar-benar cowok!" seru Zaelena. Gadis itu nyengir. Dia memeluk boneka angsa nya di atas tempat tidur. "Tapi Zae, lo harus ingat. Orang seperti dia kalau cari istri pasti maunya karakternya nggak beda jauh-jauh dari dia." Tabita keluar dari kamar mandi. Habis cuci muka. Si paling rajin memang. Tabita memiliki kulit wajah yang sensitif karena itulah dia sangat rajin merawat wajahnya. "Benar itu yang dibilang Bita. Kalau menurut gue sih. Lebih baik yang kali ini juga buat senang-senang kayak sebelumnya karena kalau lo seriusin endingnya udah kelihatan. Bakal sakit banget!" seru Christina. Gadis itu sibuk dengan ponsel nya sudah jelas Christina sedang membalas pesan dari bos nya. Christina itu jarang banget benar-benar libur pasti ada aja pesan yang masuk dari bos nya. "Tapi ganteng banget. Semangat gue semakin menggebu-gebu untuk mendapatkan dia!" seru Zaelena penuh keyakinan. Para sahabatnya hanya menghembuskan napas mereka lelah. "Up to you deh, ntar nangis bombay kita bagian yang dengerin aja," ucap Jeane. Zaelena mengabaikan itu. Gadis itu kemudian berpindah ke bean bag yang ada di sebelah Jeane. Ikut nimbrung nonton bareng Jeane. Tabita yang sangat jarang begadang sudah mulai ambil ancang-ancang di kasur. Mencari posisi yang sangat nyaman untuk tidur. "Lo nggak mau ganti desain kamar?" tanya Tabita setelah dia mendapatkan posisi yang sangat nyaman di kasur. "Kenapa nanya gitu?" tanya Zaelena. "Kamar lo terlalu nyaman. Pantes banget lo males banget! " seru Tabita setelah itu mata Tabita langsung merem "Manusia kalem yang satu itu memang kadang-kadang!" seru Zaelena. "Tapi apa yang di bilang Tabita memang bener sih. Kamar ini terlalu nyaman pantes aja lo pemalas banget. Menghabiskan waktu di sini!" seru Jeane. Matanya tetap fokus pada film horor yang dia tonton. Genre film favorit Jeane. Kadang Zaelena suka heran. Jeane itu kalau nonton film horor wajahnya serius banget terus matanya melotot nggak akan pernah terdengar teriakan Jeane sepanjang film itu berlangsung. Zaelena selalu berpikir bahwa Jeane adalah titisan setan. "Gue kerja setiap hari di sini." Zaelena memalingkan wajahnya dari televisi ketika setan-setan itu mulai bermunculan. Jeane hanya berdehem menanggapi ucapan Zaelena. "Mbak Chris. Pak Bos lagi?" tanya Zaelena ketika melihat Christina masih fokus pada ponselnya. Menurut gosip yang sedang beredar dan desas-desus yang Zaelena dengar. Christina itu sedang dekat dengan bos nya di kantor. Nggak heran juga sih karena Christina memang semenarik itu. Sangat cocok jika bersanding dengan seorang pemimpin perusahaan. Penuh kharisma banget soalnya. "Ngomongin kerjaan." Christina menjawab dengan wajah yang sangat serius. Fokus matanya masih pada ponselnya. Zaelena langsung mencibir. "Nggak ngomongin kerjaan juga nggak masalah kok. Lagian kerjaan apa lagi yang harus dibicarakan setelah clossingan. Gue yakin itu pak Bos cuma alasan aja soal kerjaan padahal dia mau chat sama lo!" seru Zaelena. "Lo dengerin tuh betina yang satu ini. Kali ini gue setuju sih sama apa yang dia bilang. Itu pak Bos lo cuma kebanyakan modus aja. Alasannya kerja mulu. Masa iya udah mau tengah malam di hari weekend masih ngomongin kerjaan. Punya adab nggak tuh dia!" seru Jeane dengan mulut tajam nya seperti biasa. "Beneran ngomongin kerjaan!" seru Christina. Gadis itu kemudian menutup ponselnya dan beralih pada toples cemilan yang ada di atas meja. "Ngomongin masa depan lebih bagus sih mbak Chris lagian itu pak Bos juga masih bujangan kan?" tanya Zaelena. "Hati-hati lo, dunia per bosan dan sekretaris agak ngeri. Jangan lah coba-coba masuk dalam dunia gelap itu kalau dari awal nggak di kasih kejelasan!" seru Jeane lagi. "Iya-iya," jawab Christina. "Ini nggak ada film lain apa Je? Horor mulu. Sesekali nonton komedi kek!" seru Christina reflek memejamkan matanya ketika setan itu muncul memenuhi layar televisi. "Ngapain buang-buang waktu untuk nonton film komedi sedangkan hidup kita udah komedi banget apalagi betina di samping gue ini! Beuh komedi banget itu hidupnya" seru Jeane. "Lucu lo!" seru Zaelena terlihat gregetan. Dia memeluk boneka Angsa nya dengan sangat erat. Itu adalah barang favorit Zaelena dari semua barang yang ada di kamar ini. "Makasih!" seru Jeane. "Gimana Je tingkat kriminalitas belakangan ini di Indonesia?" tanya Christina. Kalau mau berita update tentang hal seperti itu, sumber paling terpercaya nya sudah jelas Jeane. "Pokok nya kalian hati-hati dan waspada ada terutama pada para buaya di luar sana karena mereka siap menjadikan kalian korban kapan aja. Kayak makin hari orang-orang makin nggak menggunakan otak mereka sesuai fungsi nya. Lama-lama gue gulai juga otak mereka kayak di rumah makan padang!" seru Jeane. Kalau Jeane sudah bicara seperti itu bahkan pakai emosi berarti memang begitulah yang terjadi sekarang. "Gue jadi ingat belakangan ini emang banyak banget orang nekat. Menghabisi nyawa anak orang karena alasan cinta dan apa lah itu. Itu kayak memang nggak ada otaknya," ucap Christina sambil mengidik ngeri. Memang benar banget sih sekarang tingkah orang ada-ada aja. Semakin hari sudah seperti hewan berkaki empat. Zaelena hanya menyimak obrolan Christina dan Jeane dengan mata yang juga terlihat mulai sayu. Kebiasaan Christina dan Jeane memang seperti itu. Semakin malam obrolan mereka semakin berat dan Zaelena tidak akan bisa mengikuti obrolan itu lagi. Zaelena malas berpikir lebih tepatnya Zaelena selalu malas berpikir kapanpun itu. *** "Kenapa Zaelena?" Zaelena langsung menoleh ke sumber suara. Cengiran khas gadis itu langsung tersungging begitu saja di bibirnya ketika melihat Arhan benar-benar berdiri di hadapannya. Tadi Zaelena mengirimi pria itu pesan. Niatnya sih iseng tapi isengnya juga penuh harapan sedalam samudra. Zaelena menatap Arhan dari atas sampai bawah. Wajah gadis itu langsung mupeng. Pakaian yang digunakan pria itu susah berbeda dari semalam. Rambut pria itu basah, keringat juga mengalir di pelipisnya. Aroma parfum bercampur keringat di pagi hari minggu dari tubuh Arhan sungguh kenikmatan yang disyukuri oleh Zaelena. "Mas Arhan lagi lari pagi?" tanya Zaelena. "Iya makanya saya cepat sampai sini karena lagi lari di taman, kamu ngapain di sini? Apa yang bisa saya bantu?" tanya Arhan. Mereka memang tidak bertemu di rumah tapi hampir dekat taman yang ada di rumah mereka. Zaelena masih menggunakan piyama nya semalam dengan rambut yang sudah pasti berantakan. "Prince melarikan diri dan masuk ke dalam selokan," jawab Zaelena dengan wajah sangat serius nya. Kening Arhan terlihat berkerut. "Oh yang kamu ceritain semalam, Prince yang sering jambak rambut kamu?" tanya Arhan dengan serius Zaelena sampai meringis mendengar Arhan bertanya seperti itu. "Mas Arhan, sebenarnya soal Price kemarin aku cuma bercanda. Prince nggak pernah jambak rambut aku," ucap Zaelena hati-hati. Arhan terlihat semakin bingung. "Prince ini siapa kamu? Adik?" tanya Arhan. Dia melihat ke sekitar selokan. Tapi tidak ada tanda-tanda seorang manusia ada di sana. "Adik angkat," jawab Zaelena kembali asal. Zaelena masih terhipnotis dengan ketampanan Arhan di pagi hari. Pakaian yang digunakan Arhan mencetak tubuh proporsional pria itu dengan sempurna. "Mana? Kok saya nggak lihat siapa-siapa di sekolan?" tanya Arhan. Zaelena terkejut. Gadis itu seolah kembali ke alam sadarnya. "Mas Arhan pikir Prince itu manusia?" tanya Zaelena tidak kalah polosnya. "Loh memangnya bukan?" tanya Arhan. Zaelena meringis sambil menggelengkan kepalanya. "Prince itu angsa peliharaan aku. Itu dia di selokan. Dia melarikan diri dari kandangnya pagi tadi." Zaelena menunjuk Prince yang memang ada di dalam selokan dekat taman itu. Zaelena sudah berusaha keras untuk menarik perhatian Prince sejak tadi supaya Price mau naik ke atas tapi Prince menolak dan tetap bermain di selokan yang lumayan becek itu. "Angsa?" tanya Arhan, pria itu terlihat sangat terkejut. Dia menatap Zaelena dan Prince berulang kali. Seorang gadis seperti Zaelena yang menurut Arhan sangat manja sekali memelihara seekor angsa. Itu benar-benar di luar ekspektasi Arhan. Benar-benar di luar nalar. "Setiap orang yang baru tahu aku memelihara seekor Angsa pasti akan memasang ekspresi yang sama kayak mas Arhan," ucap Zaelena dan untunglah saat Zaelena mengatakan itu Prince naik ke atas. Leher Prince memanjang dan suaranya terdengar nyaring membuat beberapa orang yang sedang lari mengidik ngeri. Zaelena hanya cengengesan kemudian memanggil Prince untuk mendekat padanya. Dan Prince benar-benar menuruti apa yang Zaelena katakan. Menakjubkan. "Lagian aneh aja. Dari semua jenis binatang peliharaan, kenapa kamu justru memilih untuk memelihara angsa?" tanya Arhan. Arhan terlihat sedikit ngeri ketika Prince melingkari kaki Zaelena dengan lehernya yang panjang itu. "Lucu soalnya, mas Arhan lihat baik-baik. Prince lucu kan?" tanya Zaelena. Arhan meringis pelan kemudian mengangguk. "Prince nya udah naik ke atas, terus ada yang bisa saya bantu lagi?" tanya Arhan sembari melirik jam tangannya. "Mas Arhan mau kemana setelah ini?" tanya Zaelena. Kalau kata Jeane, betina yang satu ini memang tidak pernah kehabisan akal untuk menangkap mangsanya. "Saya mau pulang ke rumah. Siang ini punya janji soalnya," jawab Arhan. Zaelena senyum. "Aku juga mau pulang. Ke sini memang buat nyari Prince doang," ucap Zaelena. Mereka kemudian berjalan bersama ke arah rumah mereka yang jaraknya lumayan juga kalau jalan kaki. Prince melenggok di depan ketika Zaelena memintanya berjalan di depan. Arhan sampai heran melihat interaksi Zaelena dan Prince. "Prince jalannya di pinggir!" seru Zaelena ketika Prince mulai berjalan di tengah dan lagi-lagi membuat beberapa orang yang sedang berlari di sisi kiri jalan semakin ke pinggir dan hampir masuk ke dalam selokan. Prince lagi-lagi menuruti apa yang Zaelena katakan. "Zaelena." Panggil Arhan. Zaelena otomatis nyengir. Jantungnya mendadak jumpalitan lagi. Entah kenapa suara Arhan ini sangat sopan ketika masuk ke dalam telinga. Zaelena rasanya ingin menjerit ketika mendengar suara Arhan. "Iya mas Arhan?" "Kamu kalau chat orang memang seperti itu ya?" tanya Arhan. "Gitu gimana?" tanya Zaelena. "Konyol. Jangan di biasakan Zaelena, nggak semua orang nyaman dengan pesan seperti itu." Zaelena langsung terdiam, tertampar tertohok dan terjungkal. Apakah ini semacam penolakan?Apakah dia sudah gagal di rencana pertama?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN