"Cil berhenti nyanyi kayak orang bener, ayamnya keburu hangus!" seru Adnan terlihat sangat gregetan pada putri semata wayangnya itu. Tidak hanya Adnan, Aileena, Christina, Jeane, dan Tabita sejak tadi terlihat sangat bosan mendengar suara Zaelena yang benar-benar tidak enak di dengar. Namun yang namanya Zaelana tetap akan menjadi Zaelena. Gadis yang sekarang berambut warna pink itu tetap bernyanyi layaknya penyanyi profesional sambil memegang kipas.
"Lumpuhkanlah ingatanku. Hapuskan tentang dia. Hapuskan memoriku tentangnya. Hilangkanlah ingatanku. Jika itu tentang dia. Kuingin kulupakannya. Ooh nggak jadi-nggak jadi. Aku tetap mau diaaaaa!" seru Zaelena dengan lirik sesuka hatinya apalagi melihat sosok Arhan yang lagi-lagi mendorong pintu gerbang rumahnya. Mereka memang sedang mengadakan acara bakar-bakaran itu di taman depan rumah. Tempat yang selalu menjadi pilihan untuk menghabiskan waktu malam minggu jika para penghuni rumah sedang tidak sibuk.
"Ku ingin kau tahu isi hatiku. Kaulah yang terakhir dalam hidupku. Tak ada yang lain hanya kamu. Tak pernah ada. Takkan pernah ada" Lagu lumpuhkanlah ingatanku milik Geisha kemudian langsung berganti menjadi tak kan pernah ada milik band yang sama ketika Arhan semakin dekat dan tentu saja suara Zaelena semakin lirih. Gadis berambut pink yang sudah menggunakan piyama itu langsung mesem-mesem nggak jelas. Dia bahkan mengambil alih piring yang dipegang oleh Jeane dan mulai memindahkan ayam yang sudah matang ke sana.
"Nggak usah cari muka. Noh, muka lo udah ada dari tadi!" seru Jeane, dia mengambil alih kembali piring itu dan memindahkan semua ayam yang sudah matang ke sana. Kalau nunggu Zaelena yang memindahkan itu, sudah di pastikan mereka akan makan ayam rasa arang nanti.
Christina dan Tabita langsung menahan tawa mereka melihat wajah Zaelena yang langsung berubah menjadi mupeng. Jeane memang ahli nya tentang hal yang satu itu. Zaelena itu sudah kebanyakan modus jadi jelas apapun yang ingin dilakukan oleh gadis itu sangat mudah terbaca.
Zaelena kemudian memilih duduk di samping Christina dan Tabita. Tatapannya tertuju pada Arhan yang sedang ngobrol bareng Adnan dan Aileena. Dibandingkan pertemuan pertamanya dengan Arhan dua hari yang lalu, malam ini Arhan menggunakan pakaian yang santai. Pria itu hanya memakai celana pendek dan juga kaos polos. Hal itu membuat Arhan terlihat jauh lebih tampan bahkan rambutnya yang juga tidak tertata serapih dua hari yang lalu membuat Arhan terlihat semakin seksi. Sungguh idaman sekali. Rasanya Zaelena ingin menerjang pria itu kemudian memeluknya dengan sangat erat.
"Kalian setuju kan, kalau dia memang ganteng?" tanya Zaelena dengan suara yang masih lirih.
"Ganteng sih tapi jelas lo bukan tipe dia. Mana mau dia sama anak ayam!" seru Jeane dengan sinis. Gadis berambut pendek itu sedang membantu Adnan untuk menyusun lauk-lauk pauk di atas meja. Semuanya terlihat sangat segar. Arhan masih ngobrol dengan Aileena. Obrolan nya terlihat cukup serius. Lagian siapa juga yang kalau lagi ngobrol sama Aileena tidak serius. Paling yang berani cuma Zaelena dan Adnan kadang-kadang.
"Kurang ajar memang anda kurang ajar!" seru Zaelena tapi Jeane hanya mengidik acuh. Dia kemudian menuangkan air ke gelas yang sudah di tata di sana. Kalau ada acara seperti ini memang Jeane adalah orang yang akan menjadi asisten pribadi Adnan karena Jeane sangat dapat diandalkan. Jeane sangat cetakan dalam hal ini.
"Gue akuin dia ganteng. Tapi tipe dia pasti bukan manusia kayak lo. Kalaupun dia mau milih pasangan dan di dunia ini cuma ada kita berempat perempuannya. Sudah pasti dia akan memilih Christina!" seru Jeane, dia menarik kursi yang ada di depan Zaelena kemudian duduk di sana ketika makanan hasil bakar-bakaran mereka sudah tersaji di atas meja.
"Je jangan ngomong terlalu jujur," ucap Tabita dengan kalem. Itu jelas membuat Jeane dan Christina langsung terkekeh. Zaelena mengerucutkan bibirnya.
"Emang kalian nggak suportif!" seru Zaelena misuh. Itu lagi-lagi membuat mereka terkekeh.
"Zae tapi orang kayak dia itu nggak mungkin banget nggak ada pawangnya. Lagian umurnya gue yakin sudah matang untuk menikah. Dia pasti sudah memiliki hubungan yang sangat serius dengan seseorang," ucap Christina.
"Apalah arti hubungan serius kalau nggak bikin nyaman. Kalian lihat aja nanti, gue akan membuat dia nyaman sama gue dan akan gue pastikan kalau orang yang akan jadi istri dia itu adalah gue!" seru Zaelena dengan penuh tekad.
"Gue sih nggak percaya. Paling ini juga cinta seminggu paling lama!" seru Jeane.
Obrolan ke empat gadis itu kemudian terhenti ketika Aileena dan Arhan melangkah ke arah mereka.
"Oke, Girls, perkenalkan ini adalah Arhan Alfandi. Dia adalah rekan kerja Amam di kampus sekaligus penghuni rumah depan yang sudah lama kosong," ucap Aileena memperkenalkan Arhan secara resmi pada mereka. Arhan tersenyum tipis pada keempat gadis itu. Mereka kemudian berkenalan satu persatu. Zaelena bahkan sampai menahan napas nya ketika tangannya dan Arhan menggenggam dalam hitungan detik.
"Aku udah ketemu mas Arhan pas hari pertama pindahan," ucap Zaelena memulai aksinya. Gadis itu jelas sedang menjalankan rencana pertamanya. Zaelena kalau soal yang seperti ini memang tidak akan pernah menyerah sedikitpun. Gadis itu akan selalu berusaha dengan keras.
Arhan menoleh ke arah Zaelena, pria itu terlihat berpikir cukup keras, "yang duduk di sofa sana dengan rambut hitam berantakan?" tanya Arhan dengan santainya sambil menunjuk sofa yang ada di teras rumah membuat Zaelena langsung terbatuk. Sahabat-sahabatnya bahkan Apap dan Amam nya langsung mati-matian menahan tawanya.
Zaelena kembali mendengus, "haha iya, itu abis main sama Prince soalnya, dia memang suka jambak-jambak rambut!" seru Zaelena. Kali ini semua orang benar-benar tidak bisa lagi menahan tawa mereka. Sejak kapan pula Prince bisa menjambak rambut. Yang ada Prince itu bisa menjambak pusar! Prince itu Angsa peliharaan Zaelena.
"Senang ketemu kamu Zaelena. Warna rambut terang cocok buat kamu," ucap Arhan lagi-lagi dengan nada suara yang sangat santai. Hal itu membuat Zaelena menggigit paha ayam nya kuat-kuat saking mau terbangnya. Siapa juga yang nggak salah tingkah parah ketika dipuji oleh crush sendiri.
"Terima kasih mas Arhan. Mas Arhan juga lebih cocok dengan pakaian kasual seperti malam ini," ucap Zaelena. Gadis itu terlihat sekali salah tingkahnya membuat Jeane yang duduk di hadapannya seperti ingin melempar tulang ayam ke wajah Zaelena. Betina satu itu memang pemain yang sangat handal.
"Gimana Han ngajar di kampus lancar?" tanya Adnan mengambil alih obrolan. Kalau di biarkan Zaelena terus menerus. Yang ada Arhan nggak mau bertamu lagi ke rumah ini.
"Alhamdulillah sejauh ini lancar, Pak. Rekan-rekan di sana banyak membantu saya," jawab Arhan dengan sangat sopan. Hal itu lagi-lagi membuat Zaelena terlihat sangat takjub. Gadis itu terlihat sangat-sangat menahan dirinya untuk tidak berteriak dengan keras.
"Mas Arhan ngajar di kampus yang sama seperti Amam?" tanya Christina. Nggak sopan juga kalau mereka hanya diam-diam saja. Posisi mereka sekarang adalah tuan rumah walau mereka juga bertamu di rumah ini tapi ini lebih ke tamu yang tidak tahu diri karena mereka selalu datang ke sini sesuka hati mereka.
"Benar, saya baru mulai bekerja dari kemarin di kampus yang sama dengan ibu Aileena," jawab Arhan. Lagi-lagi dengan nada suara yang sopan banget lewat di telinga.
"Kita berempat juga alumni kampus yang sama dari dua tahun lalu," ucap Tabita juga ikut bicara. Lagian kata orang, jangan pernah sia-siakan kesempatan bicara dengan orang lain ketika memiliki kesempatan apalagi orangnya itu memiliki wawasan yang luas.
"Iya?" tanya Arhan. Pria itu terlihat mulai tertarik.
"Benar sekali mas Arhan. Sayang banget nggak ketemu ya karena kita udah keburu lulus," ucap Zaelena. Arhan tersenyum menanggapi itu.
"Kalau boleh tahu, sebelumnya mas Arhan ini kerja dimana?" tanya Jeane. Informasi dasar seperti itu sebenarnya memang sangat penting untuk ditanyakan. Mumpung obrolannya memang sedang ke arah sana.
"Sebelumnya saya bekerja di Amerika karena saya melanjutkan pendidikan saya di sana kemudian sempat menjadi asisten dosen juga di sana. Setelahnya baru pulang ke sini dan mengajar di kampus yang sama dengan ibu Aileena," jawab Arhan. Jeane terlihat berdecak kagum. Tidak heran sih kalau pria ini bersikap sangan sopan dan penuh wibawa karena memang latar belakangnya yang sangat bagus.
"Kalian sekarang sibuk apa?" tanya Arhan. Entah memang karena nyaman ngobrol atau Arhan yang hanya menghargai pembicaraan saja. Tapi suasana seperti sekarang jauh lebih baik karena tidak ada salahnya berkomunikasi dengan orang lain. Yang namanya komunikasi sudah jelas harus timbal baik.
"Kita berempat mas Arhan?" tanya Jeane. Arhan langsung mengangguk.
"Saya sendiri reporter, Tabita kerja di salah satu perusahaan sebagai Business analyst, Christina bekerja sebagai sekretaris di perusahaan multinasional, kalau Zaelena, mas Arhan bisa tanya sendiri," jawab Jeane santai. Zaelena melotot mendengar ucapan Jeane. Kalau dalam kondisi seperti sekarang Zaelena mendadak menyesal tidak pernah mencari pekerjaan karena pekerjaan teman-temannya entah kenapa terdengar mendadak keren.
"Zaelena kerja apa?" tanya Arhan.
"Ternak angsa, Mas," celetuk Zaelena asal-asalan dan lagi-lagi hal itu berhasil membuat mereka semua tertawa. Arhan juga ikut tertawa. Pasti pria itu berpikir Zaelena hanya bercanda dengan jawabannya padahal jawaban Zaelena serius. Zaelena memang beternak Angsa.