*Author Pov*
Selama latihan juga belajar membuat Juna sedikit keteteran dalam mengerjakan keduanya. Terlebih ia juga tidak ingin membuat keluarga nya kecewa jika ia mendapatkan hasil ulangan yang tidak baik.
"Gimana otak lo?" tanya Haikal yang sedang memakan kacang di sela jam kosong karena guru mereka sedang melaksanakan rapat.
"Untung gak meleduk sih. Cuma berasep." jawab Juna ngasal.
"Btw lo masih bakal latihan sampai ujian nanti?"
Juna mengangguk. "Iya, karena ini kesempatan yang sudah kami dapatkan dengan susah payah. Klub basket juga kan?"
"Yoi, katanya anak kelas satu juga jangan sampai malas hanya karena beberapa yang turun saat pertandingan adalah pemain inti yang sebagai memang kelas dua dan tiga."
Jawab Haikal.
"Lo juga pemain inti kan?" tanya Juna kembali yang di angguki oleh Haikal.
"Iya, gw salah satu anak kelas satu yang jadi anggota inti bareng Jeno sama Bagas."
Juna mengangguk-anggukan kepalanya. "Ngomong-ngomong lo ada masalah sama Riri?" tanya Haikal tiba-tiba.
"Hah?"
"Lo ada masalah sama Riri? kayaknya tuh cewek jutek abis ke lo, kenapa?"
Juna mengangkat bahunya. "Enggak tahu. Gw juga bingung."
"Terus gimana Riri sama Sania? masih marahan juga?"
"Itu juga gw gak tahu. Waktu kapan hari gitu, pas gw ke kantin duluan, gw ngeliat si Sania masih makan sendiri gitu. Karena gw gak tega dan ngerasa bersalah, jadi gw samperin dia. Dan selebihnya lon kan tahu karena kita makan bareng satu meja. Jadi kalau lo tanya apa Riri masih marahan sama Sania, gw gak tahu."