Raiden Vel merasa risih dan dia berkata "Berhentilah! Sekarang lepaskan aku, Ini aku sudah bawakan makanan untuk kau jangan sampai kau tidak memakan nya. Jadi jangan berharap kalau aku akan mengunjungi kau lagi."
"Argh, Kau sangat menyebalkan! Berikan kepada aku! Tidak pernah berharap bagaimana pun saat ini hanya ada satu yang aku inginkan yaitu makan bersamamu." Ucap Lia yang memasangkan senyuman miring.
Raiden Vel sudah merasa risih dan tidak tahu harus bagaimana lagi di sisi lain yang di saat ini gua liat semakin tidak ada akal Sehatnya lagi entah apa yang dipikirkan dia.
Di saat itu dia berusaha untuk agar tidak terjadi apa-apa, dia tidak mau kalau semua yang telah terjadi itu tidak akan membuahkan hasil.
Dia melihat Lia yang semakin hari semakin tidak menentu ini berusaha untuk mendapatkan yang terbaik juga Sampai detik ini di dalam perjuangan hidupnya terus saja berjuang tanpa ada keinginan yg nyata Apapun yang terjadi di situlah kehidupan dia dimulai.
"Iya sudah ayo kita makan, setelah ini aku akan pergi untuk bekerja! Ingat pesan aku kalau kau harus berada di dalam Paviliun ini terus, jangan sampai keluar sendiri dan ingin melakukan hal yang tidak-tidak." Jelas Raiden Vel.
"Baiklah, asalkan aku mau mengunjungi aku setiap hari."
"Iya, kau tenang saja jangan berharap begitu terus! Di sini aku akan terus melihat keadaanmu!"
Lia tersenyum bahagia tatapan mata Lia yang begitu sangat berhasrat kepada Raiden Vel. Dan pria tersebut baru menyadari kalau dia selalu du perhatikan oleg Liat dari tadi.
"Kenapa kau melihat aku seperti itu?" Tanya Raiden Vel dengan sinis.
"Apa ada yang salah denganku? Tidak aku berpikir keras untuk melakukan yang terbaik jangan sampai aku merasa diri kau tidak berarti saja saat ini."
Raiden Vel baru menyadari kalau adik nya memang tidak bisa di kerasi lagi, di dalam kondisi nya yang masih kurang sehat berusaha Raiden Vel memberikan perhatian yang begitu sangat ekstra.
"Sudahlah, apakah kepalamu masih terasa sakit?" Tanya Raiden Vel.
"Hmm, Seperti masih juga, saat aku memikirkan kan sesuatu kepala aku sangat sakit."
"Iya sudah, sekarang segera minum obat yang sudah di resepkan Tabib, aku tidak mau mendengarkan kau merintih kesakitan."
"Iya tentu, aku akan terus meminum obat yang sudah kau siapkan Raiden Vel, aku tidak mau kalau ku akan mengambil sendiri." Ucap Lia yang merasa diri nya semakin ingin terus mendekati Raiden Vel.
Raiden Vel menarik napas panjang, "Hmm, Iya nanti aku akan siapkan, dan aku taruh di kamarmu. Dia bilang mau makan aku susah di sini aku akan bekerja jangan membuat diri ini semakin kacau kau tidak tahu bagaimana perjuangan anak untuk melakukan yang terbaik tidak tahu kan?"
Raiden Vel merasa sedikit kesal dengan tingkah Lia yang tidak beraturan itu, di memandangi wajah Lia yang terdiam dan termenung , itu yang membuat Raiden Vel kembali lagi untuk membujuk nya.
"Sudah maafkan aku, aku tadi sedikit kesal kepadamu. Kalau begitu aku akan pergi ke Perserikatan dan jangan lupa pesanku."
"Baiklah, tapi kau berjanji untuk selalu mengunjungi aku sampai aku bisa mendapatkan yang terbaik saat ini. Aku masih membutuhkan kau Raiden Vel."
"Iya, aku lagi tidak ada waktu untuk melakukan nya. Sekarang pergi!"
Lia begitu bahagia setelah Raiden Vel mengunjunginya entah apa yang dia rasakan sama saudaranya itu memperhatikannya.
Di dalam hati nya berkata, "Waahh, Aku tidak tahu lagi harus bagaimana menjalani hari-hari. Saat ini juga. Tanpa aku sadari di dalam perjuangan hidup itu akan terus berjalan sampai di mana pun. Raiden Vel begitu sangay perhatian kepadaku. Tetapi aku harus menyingkitkan Kekasih nya dan kembaran dia hahaha,"
Lia yang tidak pernah berubah entah apa di pikirannya saat ini begitu pikirannya kacau dia mulu terus untuk melakukan yang terbaik untuk saat ini. Di sisi lain Lia begitu Itu memiliki sifat yang tidak masuk akal.
"Pokok nya aku harus membuat rencana agar bisa keluar secara diam-diam di Paviliun ini! Hahaa, Aku harus mencari tahu keberadaan Analika Pirlien dan Claudine Vel, karena mereka begitu sangat menganggu di dalam kehidupan aku." Ucap Lia yang berbicara sendiri Di depan cermin.
Di perjalan itu Raiden Vel begitu sangat gelisah dengan keadaan Lia yang semakin tidak masuk di pikiran nya, Di setiap hari nya Lia selalu saja memperlakukan Raiden Vel sangat berlebihan itu. Tanpa di sadari nya saat ini.
"Huft, Aku begitu sangat pusing, dia yang tidak pernah melakukan yang terbaik saat ini menjadikan diri ini semakin tidak menentu saja."
Kekhawatiran Raiden Vel selalu saja timbul jika mengingat keadaan Analika Pirlien dan Claudine Vel saat ini.
Sesampainya bertemu dengan Kekasihnya, dengan wajah kusut nya dia langsung menemui dan berkata, "Seperti nya aku tidak bisa diam lagi, aku harus lebih ekstra membantunya."
"Aku selalu mendukung, demi kesembuhan Lia." Ucap Analika Pirlien.
Begitu besar rasa peduli Analika Pirlien, dan memiliki ke khawatiran yang sama seperti Raiden Vel.
“Sepertinya tidak ada, aku harap tidak ada yang bisa di lakukan demi mendapatkan yang terbaik. Jangan membantah aku lain kali, aku di sini berusaha untuk kau bersiap cepat melakukan nya untuk kau bisa sarapan.” Ucap Raiden Vel.
“Aku hanya ingin selalu dekat dengan kau saja, tanpa berpikir bagaimana lagi, jangan memaksa diri kau untuk menolong Lia Vel kalau hati kau sangat kacau.”
“Kenapa kau berkata begitu?” Tanya Raiden Vel.
“Hm, aku merasa kau seperti tidak bisa melakukan demi mendapatkan yang terbaik untuk dirimu itu, aku baru berpikir tadi bagaimana pun semuanya bisa di lakukan lagi tanpa diri ini semakin berpikir panjang.” Ucap Analika Pirlien.
Raiden Vel tersenyum samping memegang kedua tangan Analika Pirlien Kekasih nya yang sudah merasa tidak nyaman.
Lalu Raiden Vel berkata “ Sayang, aku tidak terpaksa, aku hanya mengkhawatirkan keadaan kau saat ini tidak ada yang bisa aku lakukan sampai aku baru mengerti, menjaga perasaan itu tidak bisa begitu saja sayang,”
Senyuman Analika Pirlien terlihat sangat begitu manis, dan dia berkata dengan tenang, “Sayang, sudah beberapa kali aku kata kan aku tidak apa-apa, aku di sini selalu mendukung apa yang sudah kau katakan kepadaku saat ini jangan membuat diri ini semua akan mendapatkan yang terpikir apa yang sudah terjadi saat ini apa pun terjadi semakin tidak berarti saja.”
“Iya sudah lah ayo kita makan dulu, jangan di pikir kan lagi, aku tidak mau memikir yang lain lagi yang terpenting sebuah kesehatan yang tidak bisa aku lakukan yang terbaik juga.