Tujuh Puluh

1639 Kata

Aileen Aldari berbaring tenang di atas empuk pangkuan La Vie sebagai bantal tidur, sampai membuatnya lupa sejenak bagaimana rasa tak nyaman berbaring di atas sofa empuk namun sempit dan pendek yang terpaksa membuat kaki panjangnya menekuk di atas lengan sofa. Begitupun setengah lengannya yang tak bisa ia baringkan sepenuhnya. Samar bersama balutan senja menjelang malam yang sendu dan sunyi, hidung Aileen Aldari menangkap betapa wangi tubuh La Vie di sisinya. Rambutnya yang hitam legam, berombak memancarkan aroma minyak Nilam sementara tubuhnya yang ramping dengan kulit putih sedikit menguning mengeluarkan bau bergamot dan cendana yang seolah habis diguyur deras air hujan. Meninggalkan aroma basah begitu menenangkan hingga membuat tubuh dan pikirannya seolah melayang. Di telinganya masih

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN