Mata tembaga Aileen Aldari yang menyerupai seekor serigala lapar mengedarkan pandangan, memencar mengamati tiap sudut kabin tua yang luasnya bahkan tak lebih besar dari kamar mandi di rumahnya. Ketika ia memberi aba-aba, sejumlah anak buahnya yang berjumlah lima orang memasuki ruangan itu. Mereka menggeledah tiap tempat, sudut, segala hal yang terlihat mencurigakan seolah menyimpan rahasia kotor. Aileen Aldari tak cukup berdiam diri. Ia berkeliling, turut memeriksa. Dilihatnya ranjang tertutup seprai putih yang menempel dinding kayu sudah menguning dipenuhi butir debu tebal. Ia yakin rumah itu tak ditinggalkan sebulan dua bulan saja. Tiap ia melangkah suara kayu turut berderit seolah akan rubuh, sementara atap di atas kepalanya bolong di satu sudut dekat jendela kecil yang salah satu ba

