Chapter 1. Dia Terbangun
Anastasia terpaksa menikah dengan seorang lelaki yang sedang koma, dikarenakan pria tersebut harus memiliki keturunan sebelum ia meninggal untuk meneruskan perusahaan keluarganya. Ia yang merupakan pria karya raya, dan anak satu-satunya di keluarga itu.
Pria tersebut bernama Nathan.
Semenjak kecelakaan mobil, ia menjadi koma.
Dan perusahaannya kini membutuhkan seseorang untuk bertanggung jawab pada perusahaannya.
Sedangkan Anastasia sebenarnya tidak menghetahui siapa orang yang akan dijodohkan itu.
Pada saat hari pernikahannya Anastasia dan Natan.
Ana mengucapkan janji di depan penghulu.
Dan malamnya ketika Ana berada di tempat tidur Nathan. Di sampingnya ada Nathan yang sedang tertidur.
Namun Anastasia harus menyelesaikan tugasnya untuk kewajibannya itu.
Ia membuka pakaian Nathan lalu melakukan yang seharusnya orang-orang lakukan di malam pertamanya.
Ia berbaring di atas tubuh Nathan. Setelah dirinya tertempel dengan tubuh Nathan.
Tiba-tiba Nathan bergerak perlahan. Ia merasakan ada sesuatu di atasnya.
Namun pria itu malah sadarkan diri dan membuka matanya. Nathan sadar dan ia melihat sda gadis di atas tubuhnya.
Gadis itu kaget sekali.
Tapi Nathan malah membekap gadis itu.
Ana kaget ia ingin memberontak tapi Nathan keburu menindihnya.
Dan melakukan tugasnya sebagai suami.
Setelah puas tubuh Nathan kembali tertidur sementara Ana menangis.
Ia terkejut lantaran, Nathan sadar ketika malam pertama itu.
Paginya Ana terbangun. Ia baru menyadari, apakah yang semalam itu hanyalah mimpi stau kenyataan. Tapi di sampingnya itu telah ada seorang pria sedang tertidur di sana.
"Apakah benar, semalam pria ini tertidur denganku. Apakah benar ia telah sadar?" tanya Ana.
Lalu Nathan terbangun dari tidurnya.
Dan mulai mengingat kejadian semalam.
Dan dilihat Ana yang sedang menutupi badannya dengan selimutnya.
Nampak Nathan tersenyum pada gadis itu, sementara pakaian pengantin Ana berada di bawah lantai.
Nathan pun mengira Ana dan dirinya apakah bernar telah menikah?
Lalu melihat ke arah Ana,
"Apakah kau dan diriku telah menikah?" tanya Nathan.
"Apakah kau telah sadar?" tanya Ana.
"Jika benar, kau dan aku telah menikah. Pantas saja aku terbangun saat itu." kata Nathan.
"Ya benar kita sudah menikah. Orangtuamu yang menyuruhku untuk melakukan hal itu agar mereka mendapatkan keturunan. Kalau begitu aku ingin mandi dulu." kata Ana.
Ana merasa tugasnya telah selesai, untuk itu ia ingin mandi untuk membersihkan darah yang telah menetes semalam.
Sambil pergi ke kamar mandi, dia masih tak menyangka.
"Dia benar-benar telah terbangun. Dan semalam dia telah melakukannya. Ini benar bukan mimpi." batin Ana.
Setelah mandi.
Nampak Ana masih memakai handuk kimononya.
Dan Nathan melihat dirinya sedang keluar dari kamar mandi dengan memakai handuk.
Ana merasa sungkan untuk berganti baju dengan dilihat suaminya itu.
"Kenapa, anda tidak memberi tahu keluarga Anda jika anda sudah sadar?" tanya Ana yang bermaksud agar Nathan keluar dari ruangan itu agar ia bebas berganti pakaian.
"Kenapa harus sekarang? Berganti bajulah. Tidak usah sungkan. Kau ini kan istriku." jawab Nathan yang sudah tahu jalan pikiran Ana.
"Ta-tapi aku. Tuan lebih baik anda segera mandi. Karena pagi ini kita harus sarapan?" kata Ana.
"Ya. Aku akan segera mandi. Setelah kau berganti baju." kata Nathan.
"Ta-tapi tuan ak-aku malu. Jika tuan melihatku seperti itu. Biarkanlah aku mengantinya di kamar sebelah. Aku akan membawa bajuku." kata Ana.
"Hei, kau mau ke mana. Tidak usah ke kamar sebelah. Lebih baik kau menggantinya di sini saja." jawab Nathan.
"Tidak tuan, aku akan menggantinya di kamar sebelah saja." lalu Ana pergi dan membawa pakaiannya ke kamar sebelah.
Tapi sayangnya Ana begitu terburu-buru menghindari tatapan Nathan sehingga ia terpeleset dan jatuh.
Nathan terkejut melihat Ana terjatuh.
"Ana?" Nathan menggendong Ana ke bed.
Lalu mulai mencari bantuan ke luar.
Lalu Nathan keluar dari kamarnya, ia melihat seorang pelayan di sana dan mendatanginya.
"Bibi, cepat ke kamar. Perempuan itu pingsan." kata Nathan.
Bibi yang tiba-tiba terkejut melihat kehadiran Nathan yang sedang berdiri di depannya.
"Am Tuan Nathan? Tuan sudah bangun?" tanya bibi itu heran.
"Iya Bi, tapi lebih baik bibi ke kamar karena ada yang pingsan." ajak Nathan terburu-buru.
Mereka pun segera bergegas ke kamar.
Hal itu terlihat oleh bibi jika Ana pingsan dan sedang berada di bed
"Nyonya Ana, kenapa?" tanya bibi.
Lalu bibi memanggil semua pelayan untuk memberikan pertolongan pada Ana.
Ketika pelayan-pelayan itu sibuk menggantikan baju Ana.
Bi Yun mendekati tuan Nathan, lalu bertanya.
"Tuan Nathan telah sadar?" tanya bibi itu.
"Iya Bi."
"Oh tuan sudah sadar, baiklah kalau begitu. Saya akan memasak untuk sarapan tuan kali ini." kata bibi, ia pun pergi menyiapkan makan dengan senang karna tuannya telah sadar.
Sehabis mandi Nathan terlihat oleh pembantunya.
"Tu-tuan Nathan makanan telah siap." kata bibi itu.
"Oh iya, Bi. Di mana dia?" tanya Nathan.
"Siapakah tuan?" tanya bibi.
"Orang yang semalam berada di kamarku. Yang tadi pingsan di sini?"tanya Nathan.
"Oh nyonya Ana sedang di meja makan. Silahkan tuan." ajak bibi itu.
Lalu Ana melihat Nathan sedang menuju meja makan, ia nampak canggung dengan kejadian semalam.
Sedangkan Nathan yang sedang duduk. Malah tersenyum-senyum melihat ke arah Ana.
Mengingat kejadian tadi malam.
Dan bibi mengambilkan mereka makanannya.
Sementara Nathan mulai membuka suaranya.
"Siapakah namamu?" tanya Nathan.
"Apa?" jawab Ana bingung.
"Aku belum mengenalmu tadi malam. Sekarang kau boleh memperkenalkan dirimu?" kata Nathan.
"Aa. Namaku Ana. Aku ke sini karena disuruh oleh kedua orangtuamu. Tapi jika kau memang telah sehat. Sebaiknya menemui kedua orangtuamu
lebih dahulu." kata Ana.
"Ya tentu. Habis ini kita akan ke kantor. Kau harus ikut denganku." ajak Nathan.
"Ta-tapi." kata Ana menolak.
"Jangan menolah tawaranku, aku tidak suka ditolak. Lagi pula ada yang harus orangtuaku katakan dulu tentangmu." kata Nathan.
"Memangnya mau bertanya apa temtangku?" kata Ana.
"Apakah kau memang benar ditugaskan untuk menjadi istriku?" tanya Nathan.
"Kenapa bertanya seperti itu? Bukankah memang sudah benar begitu perjanjiannya." kata Ana.
"Tapi, kalau kau memang benar merupakan istri yang disuruh orangtuaku. Kenapa kau kelihatannya ragu-ragu." kata Nathan.
"Tidak benar aku bukan istrimu. Kalau kau tidak percaya. Aku punya surat perjanjiannya." kata Ana.
"Nanti saja, kita makan saja lebih dahulu." kata Nathan.
Selesai mereka makan. Nathan mengajak Ana ke kantor ayahnya untuk mengabarkan mereka.
"Ayo segera kita ke kantor, kalau kau memang benar istriku." kata Nathan.
Lalu ia menarik tangan Ana agar lebih mendekat dan membawanya ke mobil.
Ada supir di sana dan mereka duduk di belakang.
Ana nampak canggung saat mereka masuk dengan pintu yang sama.
Setelah Ana masuk mobil tiba-tiba saja Nathan masuk lewat pintu yang sama.
Sehingga Ana harus menggeser tempat duduknya.
Ana yang melihatnya heran sekejap. Sementara Nathan melihat Ana dengan tersenyum padanya lalu melingkarkan lengannya di pinggang Ana.
Ana terkejut merasa risih.
Lalu Nathan menarik tubuh Ana lebih memdekat dan menatapnya sesaat.
"Apakah yang seharusnya dilakukan, tugas istri pada suaminya?" tanya Nathan.
"Apa memangnya?" tanya Ana tak mengerti.
"Walau aku tak mengenalmu. Namun kuharap di depan orang tuaku nanti kau harus menyanjungku selayaknya suami-suami orang dapatkan." kata Nathan.