Aku berjalan mengendap-endap, ah, sial. Kenapa aku harus melakukan ini demi bisa keluar dari rumahku sendiri. Aku bahkan tidak memiliki kekuasaan atas pelayan-pelayan itu. Ya, kurasa mereka tidak memiliki rasa hormat sama sekali padaku. Dan ini yang membuatku heran, sebenarnya apakah keberadaanku di rumah ini sama sekali tidak dianggap. Aku merasa seperti terkurung di dalam istana ini. "Sepertinya aman," gumamku membuka gerbang besar dengan sangat berhati-hati. Aku tidak melihat penjaga gerbang, biasanya pria itu tidak pernah meninggalkan tempatnya. Ah, barangkali ini adalah keberuntunganku. Dengan langkah cepat, aku pergi dari rumah. Menutupi kepala dan wajahku dengan selembar kain yang kubawa tadi. Semakin menjauh menuju halte bus yang berada di tengah jalan ini. Aku beruntung, bu

