Aku masuk ke dalam kamar ku, menatap sepi ruangan kamar ini, dinding kamar ini begitu dingin seolah tak ingin menyambut kedatangan ku. Aku menjatuhkan diri di sofa, membuka jendela besar di belakangku. Apa yang bisa kulakukan tanpa dia? Aku membuka nakas, mengambil buku yang dulu diberikan Temp padaku. Sekali lagi membaca tulisan tangannya di sana. Aku membacanya sekali lagi, bahkan sampai mengingat isinya dengan begitu jelas. Aku mengambil sebuah pena, dan menulis di balik kertas itu, Sebuah tulisan yang mewakili perasaanku hari ini. Aku tak peduli, jika suatu hari nanti Alex akan mengetahuinya, membaca rintihan hatiku yang tergores di secarik kertas ini. Aku adalah hidupmu, dan kau adalah lagu di dalam setiap petikan nada. Aku adalah gawai tak berdering tanpa sentuhan lembut t

