Aku membuka bungkus buku yang kubeli tadi, dengan sedikit kesal karena masih teringat ucapan Temp. Ah, bagaimana bisa dia mengatakan hal seperti itu terhadap orang yang dicintainya? Benarkah dia mencintaiku atau dia sedang mempermainkanku? Dan..kenapa aku begitu mudahnya menerima dia untuk berada di sampingku hanya karena aku kesepian? Tidak, sejak awal aku memang tertarik padanya. Aku memukul kepalaku sendiri dengan perlahan, isi kepalaku seolah sedang bergulat. Sebentar ia mengatakan apa, lalu sebentar ia menyanggahnya. Benar-benar merepotkan. Aku menoleh, menatap tumpukan buku di atas meja rias. Semua masih terbungkus plastik, aku bahkan tidak tahu apa yang sudah kubeli. Benar, saat memilih buku-buku itu, aku hanya memikirkan Temp, juga Alexander dengan semua bisnis yang ia lakukan. A

