Husband 16

1076 Kata
Jasmine menatap tidak suka ke arah laki-laki yang sedari tadi terus menampilkan senyum menyebalkannya itu "kenapa kau harus ikut denganku dan bukannya Jian?" Tanya Jasmine membuat Justin hanya tersenyum mengembang ke arahnya “  karena sekretaris mu itu menyuruh untuk mendampingimu lagi pula aku juga ingin memantau bagaimana kemajuan dari kinerja mu untuk sebulan ini dan menurut tim direksi yang lain ternyata kau juga cukup lumayan menangani semua masalah dan juga kinerja mu di perusahaan ini "ucap Justin yang terlihat seperti meremehkan kemampuan Jasmine " Kenapa kau selalu terganggu ketika aku memiliki prestasi” ucap Jasmine membuat tawa Justin pecah begitu saja  haei aku tidak terganggu Aku ingin memujimu kau benar-benar menyakiti hatiku mine " ucap justin membuat Jasmine hanya memutar bola matanya malas hendak kembali menimpali perkataan dari Justin namun  sepertinya Jasmine harus menahan nya karena harus mulai rapat dengan kliennya tersebut untuk 2 jam ke depan, sepanjang rapat Jasmine Terus merutuki keputusan Jian yang tidak ingin mendampinginya padahal sebelum-sebelumnya Jasmine sudah mengatakan bahwa setiap ada pertemuan atau apapun itu dia harus berada di sampingnya untuk membantunya tapi ini kali pertama bagi Jian yang malah menyerahkan semua tanggung jawabnya itu kepada Justin yang notabene merupakan sepupu Jasmine sendiri “bagaimana kalau aku mengantarkanmu pulang" ucap Justin saat mereka sudah selesai dengan rapat yang kebetulan sudah menunjukkan pukul 5 sore dan bertepatan dengan waktu jam kantor mereka pulang “tidak terima kasih karena aku harus kembali ke kantor banyak pekerjaan yang menunggu" ucap Jasmine membuat Justin menatap kearah jam di pergelangan tangannya "Ayolah semua pekerjaan itu bisa kau serahkan kepada sekretaris mu itu Kau itu harus menjaga kesehatan mu untuk mempertahan kan kinerjamu yang terbilang cukup bagus itu untuk dua minggu ke depan ingat waktumu satu bulan untuk membuat kami percaya bahwa perusahaan ini tepat berada di tanganmu " ucap Justin membuat Jasmine berjalan mendekat ke arahnya untuk beberapa langkah "dan Bukankah idemu itu menyarankan untuk Aku mundur dari jabatanku dengan menyerahkan semua pekerjaan kepada sekretaris ku, Bukankah itu akan mempermudah mu untuk mengatakan kepada direksi lain bahwa aku tidak becus menangani semua laporan dan malah memberikan kepada Jian, Ayolah aku ini tidak bisa dibodohi seperti waktu Kecil “ucap Jasmine membuat tawa Justin akhirnya pecah membuat kekesalan Jasmine langsung bertambah berkali-kali lipat “Aku kira kau tidak ingat bahwa kita pernah berada di fase dimana kita itu saling dekat tapi entah kenapa kau berubah menjadi menjauhiku Kau seperti membenciku apalagi akhir-akhir ini" ucap Justin membuat Jasmine terdiam mengingat bagaimana kedekatannya dulu dengan Justin, bisa dibilang mereka memang bisa disebut keluarga dan Jasmine tidak ingat Kenapa hubungan di antara mereka menjadi renggang mungkin ditambah dengan sikap Justin yang terlihat semakin menyebalkan bagi Jasmine membuat jasmani tidak ingin lagi dekat-dekat dengan nya  “apa pun yang kau katakan lebih baik kau pulang saja aku bisa kembali ke kantor seorang diri "ucap Jasmine setelah itu berjalan menuju parkiran mobil  dan masuk setelah itu kembali menyandarkan tubuhnya yang terasa lelah mantap ke arah mobil Justin melalui kaca spionnya yang kini mulai melaju meninggalkan parkiran tersebut. Jasmine menghembuskan nafas panjangnya ternyata pekerjaan yang dulu sempat Jasmine remehkan saat sang ayah masih memikulnya kini sangat terasa berat bagi nya, Jasmine jadi merasa bersalah kepada mendiang ayahnya tersebut karena sudah meremehkannya. Jasmine kemudian memijat sekitar tengkuknya yang terasa pegal setelah rapat panjang yang dilalui belum lagi setumpuk pekerjaan masih menunggunya di kantor membuat Jasmine akhirnya kembali menginjak pedal gas untuk melajukan mobilnya, harusnya saat ini dia sudah bisa beristirahat di rumah tapi kewajiban yang menuntut apalagi dewan direksi memaksanya untuk memberikan kan hasil yang bagus untuk dua minggu ke depan membuat Jasmine tidak ingin usaha ayahnya sia-sia untuk menjadikannya sebagai pewaris dari perusahaan, Jasmine yakin dirinya mampu dan bisa. Jasmine kemudian sampai di kantor dan langsung melangkahkan kakinya menuju lantai paling atas Di mana tempat kantornya berada namun langkahnya terhenti ketika pintu tersebut terbuka menampilkan Jian yang tengah membereskan ruang kerja Jasmine dan juga beberapa berkas yang dia ambil begitu pun dengan Jian yang terhenti ketika mendengar pintu tersebut dibuka Jasmine langsung menatap tajam kearah Jian, rasa kesalnya semakin bertambah kepada suaminya itu selain tentang masalah Fiona akhir-akhir ini Jian pun mengabaikannya yang entah kenapa membuat Jasmine merasa tidak nyaman ketika Jian berubah dingin kepadanya. Jasmine melangkahkan kakinya dan langsung duduk di kursi kebesarannya memperhatikan Jian yang kini sepertinya sudah selesai dengan semua berkas-berkasnya dan hendak berbalik tanpa sepatah kata pun  membuat Jasmine garam untuk menahan kembali mulutnya untuk diam  "Kenapa kau tidak ikut rapat Bersamaku dan malah menyuruh Justin untuk pergi bersamaku?" Tanya Jasmine membuat Jian akhirnya kembali berbalik dan menatap kearah Jasmine "saya harus mengerjakan beberapa__" " berhenti berbicara formal padaku Bukankah aku sudah mengatakan jika kita sedang berdua saja kau bisa berbicara santai denganku Aku tidak nyaman mendengarkanmu terus berbicara sesopan itu denganku "potong Jasmine dengan cepat membuat Jian menatapnya dengan tatapan datar untuk beberapa saat terus memperhatikan gerak-gerik Jasmine yang membuatnya malah terlihat tidak nyaman " kenapa kau terus memperhatikan aku seperti itu? "Tanya Jasmine "Saya tidak bisa berbicara Santai dengan atasan saya sendiri apalagi ini masih di dalam lingkungan kantor" Jawab Jian membuat Jasmine memutar bola matanya malas  "Ayolah kita hanya berdua saja di sini” ucap Jasmine " tetap saja Anda atasan saya "jawab Jian setelah itu berbalik hendak meninggalkan ruangan namun lagi-lagi Jasmine menghentikannya "aku akan lembur selama 2 jam" kecap Jasmine membuat Jian hanya terdiam di tempatnya tanpa berbalik menatap ke arah Jasmine "Saya akan menunggu Anda di ruangan saya " jawab Jian  "Kau bisa membuat pekerjaanmu dan mengerjakannya Di ruanganku saja agar aku tidak merasa sendirian di dalam ruangan sebesar ini " Ucap Jasmine yang entah kenapa menginginkan Jian terus berada di dalam ruangannya dan yang Jasmine pikirkan itu karena hanya dirinya merasa tidak nyaman di ruangan nya sendiri padahal dalam hati kecilnya Jasmine hanya  ingin terus berada di dekat suaminya tersebut dan sepertinya Jasmine butuh waktu untuk menyadari hati kecilnya tersebut " pekerjaan saya banyak dan akan lebih memakan waktu jika harus telur bolak-balik ke ruangan Anda jadi lebih baik Saya mengerjakan di ruangan saya sendiri "ucap Jian yang terdengar seperti penolakan halus di telinga Jasmine membuat Jasmine berdecak kesal ketika Jian melanjutkan langkahnya dan menutup pintu ruangannya tersebut Jasmine ingin sekali rasanya melemparkan sesuatu ke muka suaminya yang tersebut yang menurutnya sangat jauh berbeda dari sebelum-sebelumnya  meski pun dari awal Jian memang tidak terlalu banyak berinteraksi dengan nya tapi Jasmine bisa membedakan dan merasakan perubahan dari Jian semenjak dirinya membahas tentang Fiona  membuat Jasmine merasa geram dengan sifat diam yang dingin padanya
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN