Jasmine tidak bisa membendung air matanya lagi setelah sampai di parkiran mobil, Entah kenapa hatinya terasa sakit melihat Jian dan juga Medi mempermainkannya padahal yang Jian bisa saja langsung mendorong Medi dan bukan nya malah membiarkannya terus menempelkan bibirnya membuat bayangan tersebut kembali terlintas di pikiran Jasmine.
Jasmine langsung memasuki mobil dengan menutup pintu mobil dengan kasar
“benar-benar orang yang menjijikkan" ucapnya sambil menghapus air matanya dengan kasar Jasmine tidak tahu apa yang terjadi dengan dirinya Kenapa dirinya bisa merasakan sakit sampai air matanya harus mengalir begitu saja padahal itu urusan antara Jian juga Medi membuat Jasmine langsung mengacak rambutnya frustasi Entah kenapa rasa kesal kepada Jian begitu berkali-kali lipat daripada kemarahannya kepada Medi membuat Jasmine kini menatap kearah Jian yang tengah berlari Yang sepertinya akan menghampirinya membuat Jasmine langsung hendak bergegas pergi ketika Jian beberapa langkah lagi hendak mendekat kearah mobilnya.
Jasmine langsung menancap gas dan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi membuat Jian langsung tidak tinggal diam dan mengejar mobil Jasmine, dia tidak tahu mobil siapa yang tengah dia pinjam namun yang ada dipikiran Jian saat ini adalah segera menghentikan laju mobil Jasmine karena Jian tahu Jasmine mengendarai mobil dengan keadaan yang kesal, Jian tidak ingin terjadi apapun dengan Jasmine saat mengendarai mobil tersebut.
Dan benar saja Jian sulit mengikuti arah laju mobil Jasmine yang begitu cepat bahkan Jasmine sengaja mengabaikan klakson dari mobil lainnya yang hampir saja bersenggolan dengannya" apa dia tidak takut nyawanya akan melayang " gumam Giant menatap terus ke arah mobil Jasmine yang kini melaju cepat di hadapannya membuat Jian pun harus mengikuti Jasmine menginjak pedal gas.
Jian akhirnya bisa menghembuskan nafas lega nya ketika Jasmine selamat sampai di rumah mereka, Jasmine keluar dari dalam mobil begitupun dengan Jian yang langsung mengikutinya dan langsung mencekal lengan Jasmine ketika Jasmine hendak menghindarinya
" jangan sentuh aku "sentak Jasmine sambil menepis cekalan tangan Jian setelah itu hendak kembali meninggalkannya namun lagi-lagi Jian menahan nya Jian mencengkeram Bahu Jasmine setelah itu mendorongnya ke arah mobil di belakang nya membuat Jasmine sedikit meringis
"Dengarkan Aku, Ada apa denganmu,?"tanya Jian sambil menatap kearah manik mata Jasmine yang menatapnya dengan penuh amarah
" lepaskan aku atau aku bisa saja menamparmu "jawab Jasmine mengabaikan pertanyaan Jian membuat Jian Malah semakin merapatkan tubuhnya kepada Jasmine
“Tampar saja aku, aku tidak akan mundur hanya dengan tamparanmu itu "ucap Jian membuat Jasmine mengepalkan tangannya dengan kuat kali ini dia benar-benar sangat kesal kepada suami di hadapannya dan sepertinya Jian menyadari hal tersebut
"kau itu benar-benar menjijikkan sama seperti Medi dan kalian itu sama, sepertinya tawaran Medi tadi Lebih baik kau terima saja karena kalian akan terlihat sangat cocok "ucap Jasmine membuat cengkeraman Jian pada bahu nya semakin menguat membuat Jasmine lagi lagi meringis
" kau menyakitiku jadi lepaskan aku " ucap Jasmine membuat Jian sedikit tersentak karena dirinya tidak sadar sudah terbawa emosi
"jadi kau inginkan aku menerima tawaran Medi,?" Tanya Jian membuat Jasmine terdiam Entah kenapa mengiyakan perkataan yang sebelumnya rasanya berat sekali di lidahnya membuat Jasmine hanya bisa menundukkan kepalanya
“jawab aku, kau ingin aku berhenti dari kantor dan menerima tawaran untuk menjadi asisten pribadinya” Tanya Jian kembali membuat Jasmine menegakkan kembali kepalanya dan tersenyum ramah kepada Jian, bukan kah itu yang kau inginkan menjadi asisten pribadi nya ah atau menjadi kekasihnya, apa Kau pikir aku tidak tahu apa yang dia inginkan saat kalian b******u tadi "ucap Jasmine membuat Jian terdiam Jian bisa melihat Bagaimana mata berkaca-kaca Jasmine yang diliputi amarah menatapnya dengan tatapan kecewa
" dan Kau pikir aku akan menerimanya” tanya Jian
“tentu saja saat kau menerima cumbuan nya aku rasa kau juga menerima tawarannya dan selamat atas hubungan baru kalian " ucap Jasmine hendak kembali melepaskan cekalan tangan Jian namun lagi-lagi gagal
“ dia yang menciumku terlebih dahulu "
" tapi kau menerimanya dengan senang hati aku tahu laki-laki seperti kalian akan sangat senang apalagi ketika Medi melihatkan dengan jelas bahwa dia menyukaimu kau Pasti sangat bangga bukan dan apalagi yang kau tunggu, aku akan langsung menyetujui kau berhenti dari kantor dan kau bisa pergi bersama Medi " ucap Jasmine membuat rahang Jian mengeras
“ Lalu bagaimana dengan pernikahan kita,?” tanya Jian membuat Jasmine terdiam tidak menyangka Jian akan mempertimbangkan pernikahan mereka
"Kau pikir aku hanya memikirkan tentang jabatan sebagai sekretaris di kantor tanpa memikirkan tentang pernikahan kita, apa kau juga akan menandatangani surat perceraian kita selain surat pemberhentian kerja ku? "Tanya Jian membuat Jasmine tidak bisa menjawab pertanyaan nya Entah kenapa lidahnya menjadi kelu ketika membahas tentang pernikahan mereka
“jawab aku, Apa. Kau benar-benar ingin mengakhiri pernikahan ini?" Tanya Jian kembali membuat Jasmine membalas tatapannya dengan tidak kalah tajam
" Jika kau menginginkan bersama dengan wanita itu Aku tidak bisa menahanmu dari awal pernikahan kita bukanlah kemauan ku" Ucap Jasmine yang entah kenapa sangat sulit sekali untuk mengungkapkan kata-kata tersebut membuat tangan Jian lepas dari bahunya ia menatap kecewa kearah Jasmine mendengar fakta bawa Jasmine memang tidak menginginkan pernikahan ini dari awal
" Ya kau benar dari awal kau memang tidak menginginkan pernikahan ini dari awal pernikahan kita memang harusnya tidak ada "ucap Jian dan mendengar jawaban dari Jian membuat hati jasmine merasa sesak .
“tetapi dari awal kau sudah berjanji kepada daddy untuk melindungi ku bukan, tapi hanya karena wanita itu Kau benar-benar melupakan janji itu” Ucap Jasmine yang merasa terluka, saat ini Hanya bayangan Daddy nya saja yang terlintas di pikiran Jasmine membuat dirinya pun sekuat tenaga untuk tidak menangis di hadapan Jian.
Jian terdiam sejenak bukan seperti itu yang dia inginkan, hubungan mereka yang tadinya diharap semakin membaik Malah semakin renggang
" Baiklah kalau begitu katakan saat ini juga apa maumu? " Tanya Jian membuat Jasmine terdiam
“ Jika kau menginginkan aku untuk bersama dengan Medi aku akan melakukannya bahkan jika kau juga menyuruhku untuk menjauh dan tidak memilih Medi aku juga akan melakukannya, aku hanya akan melakukan semua perkataanmu” ucap Jian membuat Jasmine memikirkan apa yang ingin hati kecilnya inginkan tanpa memikirkan ego dalam dirinya
“ aku kesal aku tidak suka dia mendekatimu secara terang-terangan seperti itu tanpa memikirkan ku meskipun dia tidak tahu tentang pernikahan kita tapi setidaknya dia tahu bukan bahwa kau sekretarisku dan dia dengan sengaja nya mendekatimu dan menawari untuk bekerja dengannya, dari dulu aku tidak suka ketika Medi merebut sesuatu dariku bukan hanya mainan tapi bahkan dia juga ingin merebutmu "ucap Jasmine masih dengan kepala menunduk membuat Jian hanya terdiam
“yang membuatku semakin kesal adalah kau dengan senang hati menerimanya saja saat dia__” ucapan Jasmine terhenti Jasmine tidak bisa melanjutkannya lagi ketika bayang-bayang ketika Jian dan Medi b******u___ Jian kemudian kembali merapatkan tubuhnya kepada Jasmine
“saat apa?" Tanya Jian semakin melangkah mendekat membuat Jasmine menegakkan tubuhnya Jasmine menatap kearah bibir Jian setelah itu tersenyum meremehkan ketika mengingat bahwa ada jejak bibir wanita lain di bibir suaminya tersebut tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa membuat Jasmine merasa dirinya benar-benar menyedihkan
" Apa kau semakin kesal karena ini "ucap Jian setelah itu langsung menempelkan bibirnya dengan bibir Jasmine membuat tubuh Jasmine benar-benar membeku saat itu juga ketika merasakan hangatnya bibir Jian menempel dengan bibirnya hanya sebuah kecupan manis tanpa ada lumatan sedikitpun Yang Jian berikan tapi sudah mampu membuat desiran darah pada tubuh Jasmine menyusut begitu saja bahkan Jasmine lupa cara bernafas lututnya terasa lemas sampai Jian kembali memberikan jarak di antara mereka.