bc

Wanita Penghilang Alat Vital

book_age18+
232
IKUTI
1K
BACA
revenge
HE
heir/heiress
blue collar
serious
detective
small town
like
intro-logo
Uraian

Seorang lelaki bernama Indra ditemukan bersimbah darah di sebuah rumah kosong depan rumahnya. Saat mengetahui kejadian tersebut, Mirna, istri dari Indra tampak tercengang saat melihat alat vital suaminya yang telah terlepas dari tempatnya. Setelah Indra, beberapa warga lainnya mengalami hal serupa. Warga mengira bahwa pelakunya adalah sesosok makhluk halus penunggu rumah kosong itu. Namun, beberapa kali Mirna bertemu dengan perempuan misterius tersebut. Ia sangat yakin bahwa pelakunya adalah manusia, karena ia melihat dengan jelas sosok wanita itu menapak di tanah. Hanya saja wanita itu tak bisa ditemukan, meski polisi telah menggeledah seisi rumah kosong tersebut.

chap-preview
Pratinjau gratis
Gadis Misterius
Malam itu aku melayani suamiku dengan sepenuh hati, tetapi setelah selesai melakukannya, tiba-tiba kulihat raut wajah tak menyenangkan darinya. "Hidangan yang kamu sajikan sudah gak enak lagi, hambar," ucapnya sambil bangkit dari tempat tidur lalu mengenakan pakaian. Ucapannya benar-benar membuatku tersinggung. Setelah melahirkan empat orang anak untuknya, wajar saja jika aku tak sama seperti saat awal menikah. Akhir-akhir ini aku merasa sikapnya banyak berubah, ia sering ceplas ceplos, bahkan bersikap arogan tanpa mempedulikan perasaanku. Rasanya menyakitkan setiap kali menerima perlakuan tak menyenangkan darinya. Namun, yang bisa kulakukan hanya bersabar, berharap ia bisa semanis dan selembut dulu saat awal membina rumah tangga. Aku segera mengenakan pakaianku saat kulihat ia berjalan ke luar. "Mau kemana?" tanyaku. "Mau cari angin segar, di rumah membosankan, tiap waktu lihat istri gemuk dan tak sedap dipandang," ucapnya sambil melangkah pergi. Lagi-lagi dia mengatakan hal yang menyakitkan, tanpa memperdulikan perasaanku. Mengurus empat orang anak bukanlah hal yang mudah, sehingga aku sama sekali tak memiliki waktu untuk mengurus diriku sendiri. Banyak orang sering mengataiku kelinci, karena memiliki empat orang anak di usia 32 tahun. Sebenarnya aku pun tak menginginkan semua itu terjadi padaku. Saat anak kedua berusia 2 tahun, aku mengidap tumor p******a, tetapi alhamdulillah tumor itu berhasil diangkat. Namun, dokter menyarankan agar aku tidak menggunakan KB apapun. Karena KB hormonal bisa memicu tumor p******a itu kembali. Kulihat suamiku bergegas ke arah pintu, tetapi belum sempat ia membuka pintu, tiba-tiba terdengar suara pintu diketuk dari luar. Aku segera keluar kamar setelah berpakaian. Kulihat suamiku tengah menganga dengan tetesan air liur yang berjatuhan saat melihat seorang wanita cantik yang berdiri di mulut pintu. "Siapa ya?" tanyaku, karena suamiku hanya berdiri mematung sambil menatap wanita itu tanpa berkedip. "Saya penghuni rumah depan itu," ucapnya sambil menunjuk sebuah rumah yang terletak beberapa meter dari rumahku. Rumah itu telah lama kosong, rasanya sangat aneh jika ada yang tiba-tiba menghuninya, karena dari tadi siang aku tak melihat sebuah mobil atau motor yang berhenti disana. Kalaupun ada yang menghuni, pastilah orang itu membawa kendaraan untuk mengangkut barang-barangnya karena di rumah itu benar-benar tak ada benda apapun yang bisa dipakai. "Mbak penghuni baru? Sejak kapan?" "Baru saja tiba," ujarnya. "Oh, salam kenal, saya Mirna." Aku mengulurkan tangan. "Sun.." "Sun apa, Mbak, Sundari?" Ia mengangguk. "Perkenalkan saya Indra." Suamiku tampak antusias sembari mengulurkan tangannya. sementara ia tampak tersenyum misterius saat menanggapi sikap genit suamiku. Setelah itu ia mengutarakan niatnya untuk meminta air panas. Ia bilang belum membawa kompor dan baru membawa pakaian saja, jadi dia tidak bisa masak air untuk menyeduh kopi. "Malam-malam begini ngopi?" tanyaku lagi. Lalu ia menjawab kalau ia tak bisa tidur karena tinggal di rumah itu sendirian, selain itu ia juga tengah mengerjakan sesuatu yang membuatnya harus bergadang. "Memangnya Teteh belum berkeluarga?" Ia mengangguk. "Teteh beneran sendirian menempati rumah itu? Memangnya gak takut? Rumah itu lama kosong, loh." "Gak usah kepo dengan urusan orang lain," ujar suamiku tiba-tiba lalu meraih gelas aluminium yang dibawa oleh gadis itu. "Terima kasih," ujarnya sembari tersenyum ramah setelah mendapatkan segelas air panas, lalu setelah itu ia langsung pamit. "Kok tiba-tiba Kang Dedi menjual rumah itu, ya? Perasaan waktu itu dia bilang gak akan pernah menjual rumah itu, karena rumah itu menyimpan banyak kenangan bersama almarhumah istrinya." "Si Dedi kan sudah punya istri baru di Kalimantan, ya wajar saja jika rumah itu dijual. Ngapain dibiarkan kosong, jadi sarang Kuntilanak, apalagi istri pertamanya kan meninggal bunuh diri, hiiy." Suamiku tampak bergidik ngeri. "Ngomong-ngomong, berani juga wanita tadi tinggal sendirian di sana, apa dia gak tanya-tanya dulu gitu, tentang histori rumah itu?" "Sudahlah jangan banyak omong, ini sudah jam 11 malam, ayo kita cepetan tidur, harusnya kita bersyukur kalau rumah kosong itu ada yang menempati, karena siapa tahu dia bisa mengusir hawa angker dari rumah itu." Aku mengangguk, lalu kami bergegas menuju kamar. Kami segera membaringkan tubuh, sementara suamiku tiba-tiba terus membelai rambut ini, padahal tadi ia bersikap sangat dingin dan memprotes pelayanan yang kuberikan. "Memangnya aku gemuk dan gak menarik lagi, ya?" tanyaku saat mengingat hinaannya tadi. "Udahlah, jangan bahas itu." Ia mengusap-usap hidungku seperti yang biasa kulakukan pada anak-anak saat mereka masih bayi. Malam semakin larut, suasana yang sunyi senyap membuatku dengan cepat masuk ke alam mimpi. Setelah lumayan lama terlelap, tiba-tiba aku tenggorokanku terasa kering. Saat membuka mata, aku langsung terhenyak saat Bang Indra tak ada disampingku. Karena penasaran, aku bergegas menuju dapur, siapa tahu dia ada di sana tengah membuat kopi. Suamiku memang terkadang terbangun tengah malam, lalu ia bersantai di ruang tengah sembari menikmati kopi. Namun, setelah menyisir seluruh ruangan di rumahku, aku sangat bingung karena tak menemukannya di mana pun. Tiba-tiba terdengar suara teriakan suamiku dari arah rumah kosong. Aku menoleh ke arah jam dinding yang jarumnya menunjuk ke angka 2. Apa yang sedang ia lakukan disana? Apakah aku salah dengar? Lalu suara itu seketika menghilang. Namun, tiba-tiba suara teriakan itu kembali terdengar hingga memecah keheningan. "Aaaaaaaaaaaaaaak!" Suara tersebut semakin terdengar jelas dari arah rumah kosong. Namun, aku sangat takut untuk memastikannya seorang diri, karena bisa saja ada orang jahat yang tengah menganiaya suamiku. Setelah itu aku langsung menelpon tetangga sekaligus sahabatku, Surti namanya. Lumayan lama ia mengangkat, tampaknya ia telah terlelap sehingga membuatku kesal karena lama menunggu ia mengangkat telpon. Namu akhirnya tiba-tiba telponku diangkat. "Mau apa kamu nelpon malam-malam? Surti lagi tidur!" Terdengar suara Mas Parto yang merasa terganggu dengan telponku. "Mas Parto, ada masalah penting, tolong Mas Parto dan Surti kesini sekarang, suamiku dalam bahaya." Lalu tiba-tiba terdengar suara Surti. "Ngapain kamu nelpon suamiku?" tanyanya sembari terdengar menguap. "Ini aku menelpon nomormu bukan nomor suamimu, tolong kesini sebentar, penting." Tidak berapa lama kemudian mereka berlari kearahku, setelah mendengar semua penjelasanku, kami langsung menuju rumah kosong itu. Suara teriakan suamiku tak terdengar lagi. Mas Parto langsung mengetuk pintu rumah itu setelah aku menceritakan bahwa tadi ada wanita yang bilang telah menghuni rumah tersebut. Hening, tak ada jawaban, lalu sayup-sayup terdengar suara erangan suamiku yang membuat bulu kuduk ini meremang. Tanpa berlama-lama Mas Parto langsung mendobrak rumah itu. Lalu setelah memasuki rumah itu tiba-tiba mata kami langsung terbelalak saat melihat suamiku yang tanpa busana dan bergelimang darah sembari terus mengerang kesakitan. Selain itu, kami sungguh tercengang saat melihat darah yang mengalir dari balik kedua kakinya. "Aaaaaaaak!" Surti langsung berteriak histeris saat tak sengaja menginjak bagian penting suamiku yang tergeletak begitu saja di lantai. Bersambung

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Takdir Tak Bisa Dipilih

read
10.3K
bc

Jodohku Dosen Galak

read
31.0K
bc

Kusangka Sopir, Rupanya CEO

read
35.7K
bc

Troublemaker Secret Agent

read
59.2K
bc

(Bukan) Istri Simpanan

read
51.3K
bc

Pacar Pura-pura Bu Dokter

read
3.1K
bc

Desahan Sang Biduan

read
54.1K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook