Hinaan yang dilayangkan pada Aisya membuatnya marah,
“Jaga ucapanmu!” Bentak Aisya
“Yak! Ku berani melawan?”
“Aku tidak bersalah, jadi aku akan melawanmu!”
Karyawati itu pun mendorong Aisya, “Baik, Ayo lawan aku!”
Aisya melangkah maju,
“Aku sama sekali tidak takut!” Tantang Aisya
“Huh, meskipun kau sudah naik jabatan bukan berarti aku tidak berani melawanmu!”
“Ok, silahkan!”
Plaakk
Karyawati itu berhasil melayangkan satu tamparan keras di pipi mulus Aisya, dan membuat Aisya jatuh tersungkur di atas lantai,
“Aww,” Ringis Aisya,
“Rasakan itu!”
“Ada apa ini?” tanya Fathan yang tiba tiba muncul,
Melihat Aisya yang terduduk di atas lantai seraya memegangi pipinya, membuat Fathan murka,
“Katakan! Siapa yang berani melukai Aisya?”
Para karyawan pun terdiam dan hanya menundukkan kepalanya,
“Katakan!” Teriak Fathan
“Aku!” dengan lantangnya karyawati itu menunjukkan dirinya,
“Kenapa? Lebih baik kau bawa kekasihmu itu keluar, dan bawa dia pergi jauh dari sini! Kau tidak tau betapa murahannya dia, yang berani menjajakan dirinya hanya untuk naik jabatan,” Tambahnya
“Oh, Jadi kau yang berani melukai kekasih pemilik dari restoran ini?”
Mata semua orang membulat sempurna saat mendengar ucapan Fathan,
“A-Apa?” Ucap syok karyawati itu
Manajer pun tiba dengan nafas tersekat sekat,
“Ya ampun, ada apa ini?” Tanya manajer
Fathan menatap tajam manajer, seraya menunjuk ke arah karyawati tersebut,
“Dia, berani melukai Aisya!”
“A-apa?”
Manajer itu pun melihat ke arah karyawati itu, ”Apa itu benar?”
Karyawati itu pun menundukkan kepalanya,
“Aku ingin mereka, terutama dia diberhentikan dari sini!” Ucap tegas Fathan
“Apa?” Syok mereka bersamaan,
“Itu hukuman yang setimpal untuk para pecundang,”
“Tapi Tuan, ini tidak adil! Kami sudah lama bekerja disini, hanya karena anak baru ini, kami dipecat begitu saja? Seharusnya suara kami didengar, kenapa kinerja kami yang sudah bekerja bertahun tahun tidak dinilai, sedangkan dia yang bekerja beberapa bulan langsung mendapatkan kenaikan jabatan, Ini tidak adil!” Ucap salah satu diantara mereka,
“Yang aku lihat bukan seberapa lama dia bekerja, tapi bagaimana dia ber attitude pada orang lain, pelanggan dan juga rekan kerjanya, jika begitu saja kalian tidak bisa, maka kedepannya kalian hanya akan membuat hancur restoran ini,” Tutur Fathan
Fathan menatap ke arah Aisya,
“Ayo, kita pergi Aisya.” Ajak Fathan
Aisya kemudian mengikuti langkah Fathan,
***
Di perjalanan,
“Aisya, Kau tidak apa apa?” tanya Fathan seraya menatapnya sekilas
Aisya hanya terdiam,
“Aisya?”
“Kenapa kamu gak pernah bilang, kalau kamu pemilik restoran tempat aku kerja?”
Fathan tersenyum tipis,
“Maaf, awalnya aku juga gak tau kalau kamu kerja disitu, tapi setelah aku tau, aku pikir kamu gak perlu tau biar nanti gak ada rasa canggung diantara kita,” Terang Fathan
“Tapi jujur, itu malah buat aku jadi merasa gak enak sama kamu,”
“By the way, Kamu mau melanjutkan sekolahmu atau tetep kerja?”
“Aku…”
Suara dering ponsel memotong pembicaraan mereka,
Aisya pun menatap nama Ibu yang tertera di layar ponselnya,
“Ibu?” Gumamnya yang terdengar oleh Fathan,
Aisya kemudian mengangkat telepon dari ibunya,
In Call,
“Assalamualaikum?”
“Wa’alaikum salam, Aisya?”
“Iya bu,”
“Bagaimana kabarmu, nak?”
“Alhamdulillah baik bu, Ibu bagaimana kabarnya?”
“Ibu dan Ayah Alhamdulillah baik, Bagaimana dengan kuliahmu, Nak?”
Aisya terdiam sejenak,
“Nak?”
Terdengar beberapa kali sang ibu memanggil namanya, namun Aisya hanya meneteskan air mata tanpa menjawabnya,
“Aisya?” Untuk kesekian kalinya sang ibu memanggil, tiba tiba..
Tut tut tut
Panggilan berakhir secara sepihak,
Fathan mengerutkan dahinya,
“Kenapa dimatikan?” Tanya heran Fathan
Aisya menghapus air matanya kasar,
“Apa kau menangis, karena merindukan keluargamu?”
Aisya menghela nafas panjang,
“Aku, aku sangat merindukan ibu, tapi aku tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya kalau aku sudah kehilangan beasiswaku,” Tutur Aisya
Fathan kemudian menghentikan mobilnya,
“Katakanlah sejujurnya pada kedua orang tuamu, walau seberat apapun walau sepahit apapun, mereka adalah satu satunya tempatmu untuk pulang,”
Aisya terdiam dan kembali meneteskan air matanya,
Di lampu merah, tanpa sengaja Aisya melihat Do hyun tengah bersama dengan Arsyla dalam satu mobil,
Arsyla bergelayut manja di lengan Do hyun, dan tidak ada larangan dari do hyun,
Arsyla yang menyadari keberadaan Aisya pun mulai memanas manasi Aisya,
Arsyla mencium pipi Do hyun dan tersenyum ke arahnya,
Sedang Aisya memalingkan wajahnya dan menatap ke arah lain,
Fathan yang menyadari itu pun hanya bisa menatap Aisya,
Lampu merah pun berganti hijau,
Mobil yang Do hyun kendarai berlalu pergi begitu saja, tanpa Do hyun sadari ada sepasang mata yang terus menatapnya,
Fathan pun melajukan mobilnya,
“Apa dia kekasihmu?” tanya Fathan tiba tiba,
“Dulu,” Jawab singkat Aisya
Fathan pun mengangguk pelan,
***
Beberapa hari pun telah berlalu,
Aisya disibukkan dengan pekerjaannya sebagai head waiter, meski ia masih terus mendapatkan ancaman dari bekas karyawan karyawati yang dulu bekerja bersamanya,
Namun, Aisya mencoba untuk tetap kuat,
“Lagi lagi seperti ini,” Aisya tertunduk lemas saat melihat sepatu miliknya diberi lem hingga menempel di dalam loker,
Aisya mencoba melepasnya dengan berbagai cara, namun tidak ada yang berhasil,
“Hari ini, terpaksa aku tidur di sini, lagi.” Ucap Aisya
Setelah semua orang pulang dan hanya tertinggal Aisya, Ia kemudian mencoba untuk membereskan tempat istirahat yang biasanya digunakan untuk karyawan beristirahat,
Aisya merapikan beberapa kardus untuk digunakan sebagai alas,
“Dingin,” Ucap Aisya yang mulai merasa kedinginan karena suhu udara yang rendah.
Aisya pun perlahan memejamkan matanya,
Pada dini hari,
Terdengar samar samar suara dari kejauhan,
“Sudah aku bilang, lebih baik kita bunuh saja dia langsung,”
“Tidak, Aku ingin dia merasa tersiksa dulu karena teror kita,”
“Tapi, Aku sudah bosan dengan itu, akan lebih baik jika kita langsung habisi saja dia!”
Degh
Aisya mulai merasa ketakutan, Perlahan ia meraih ponsel yang berada disampingnya, dan tanpa melihatnya Aisya langsung menghubungi siapa saja yang ia tekan nomornya,
“Aisya?” Ucap seseorang di sebrang sana,
Tiba tiba salah satu diantara mereka menyadari apa yang dilakukan Aisya,
“Yakk!” Teriaknya seraya bergegas meraih ponselnya dan membantingnya hingga pecah berkeping keping,
Ia kemudian menarik Aisya,
“Jadi kau berpura pura tidur, hah!” Bentaknya
Aisya hanya terdiam, Ia ingin sekali melawan namun senjata yang kini berada di depan wajahnya membuatnya mengurungkan niat.
“Kau takut?” Ia kemudian menertawakan Aisya,
“Dimana mulut besarmu waktu itu?” Bentaknya
“Lepaskan aku!” Pinta Aisya
“Gara gara kau, Aku jadi kehilangan pekerjaan!” Sarkasnya
Ia kemudian melepas pegangannya kasar, sehingga membuat Aisya terjatuh cukup keras,
“Aku akan membakar restoran sialan ini bersamaan denganmu, Agar tidak ada lagi orang yang diperlakukan tidak adil sepertiku!”
“Aku tidak pernah melakukan apapun padamu,”
“Dasar sampah! Kau berani mengelak? Setelah semua yang terjadi, kau masih menyangkalnya?”
“Karena aku memang tidak melakukan apapun yang kau tuduhkan! Semua itu adalah takdir!” Sanggah Aisya
“Kau bilang takdir? Jadi, pertemuan kita juga sudah ditentukan oleh takdir?”