Trauma

1152 Kata
“Jadi, melenyapkanmu juga merupakan takdirku,” Ucap mantan karyawati itu Aisya berjalan mundur, dengan ujung pistol yang masih ada di depan wajahnya, “Jangan bertindak ceroboh seperti itu, aku tidak ingin semua berkepanjangan dan menjadikan kita masuk ke dalam penjara,” Cegah temannya “Kau tidak perlu khawatir, Jika memang nanti harus masuk penjara, setidaknya dendam ku sudah terbayar lunas,” Bugh Satu pukulan keras menghantam perut Aisya, hingga keluar cairan merah segar dari mulut Aisya, “Apa itu sakit?” Aisya meringis kesakitan di atas lantai, “Aku rasa, sakitmu itu tidak akan sepadan dengan sakit yang aku alami,” “Sudahlah! jangan dilanjutkan, lebih baik kita pergi, aku tidak ingin terlibat lebih jauh,” Ujar temannya, “Jika kau memang tidak punya keberanian untuk membalaskan rasa sakitmu, lebih baik kau pergi saja! Kau tidak lebih dari seorang pecundang!” Merasa kesal dengan ucapan yan dilontarkannya, Ia pun pergi.. “Terserah kau saja!” Mantan karyawati itu pun menarik hijab yang Aisya gunakan, melemparkannya ke sembarang arah, “Ternyata kau cantik juga tanpa kain itu, bagaimana jika aku menjualmu dan menjadikanmu sebagai seorang ‘Gisaeng’? Aku pasti akan mendapatkan banyak uang,” Degh Aisya yang mengerti apa maksud ucapannya pun, mendorong keras wanita itu dengan kakinya, Dugh Wanita itu pun jatuh terlentang, “Kurang ajar!!” Ia murka dan kembali berdiri menghampiri Aisya yang berusaha untuk lari seraya merasakan sakit di perutnya yang teramat sangat, Aisya menggunakan beberapa meja dan kursi di dalam restoran untuk memperlambat langkah wanita tersebut, Hingga di depan pintu, Aisya mencoba untuk membuka pintu utama, namun ia lupa jika kunci tersebut berada di tasnya, Berkali kali Aisya mencoba untuk mendobraknya, namun pintu itu terlalu keras untuk ia orong sendiri, “Tolong! Tolong Aku! Siapapun, aku mohon bantu aku!!” Teriak Aisya Wanita itu pun tertawa, “Berteriaklah dengan kencang! Karena tidak akan ada yang menolongmu, Lebih baik kau ikut dengan ku untuk menjadi ‘Gisaeng’.” “Tidak!” Teriak Aisya, Langkah wanita itu pun semakin dekat, jantung Aisya semakin berdebar keras, “Ya Alloh, Tolong aku!” Jerit Aisya seraya menangis, Aisya kembali mencoba untuk mendobrak pintu, namun ia masih kesulitan, Wanita itu semakin mendekat, Ia kemudian mengangkat senjatanya dan mengarahkannya pada Aisya, “Selamat tinggal, gadis malang.” Wanita itu melepas pelatuknya, Brakkk Pintu berhasil didobrak oleh seseorang, “Aisya?” Ia langsung menarik Aisya dan membungkukkan tubuhnya, Hingga peluru itu pun meleset dan mengenai pohon yang berada diluar, Pria itu berlari menghampiri wanita itu, menepis keras pistol yang ada di genggamannya hingga terlepas, Ia kemudian memutarkan tangan wanita itudan menguncinya, “Lepaskan!” Teriak wanita itu, Selang beberapa detik kemudian polisi pun tiba dan menggelandang wanita itu ke kantor polisi, “Kau tidak apa apa, Aisya?” Aisya menggelengkan kepalanya, Tubuhnya bergemetar ketakutan, dengan luka lebam di wajahnya dan luka di perutnya, “A-Aku takut, Do Hyun.” Do hyun bergegas mengambil kain hijab milik Aisya dan memasangkannya kembali pada Aisya, “Jangan takut, aku ada disini bersamamu,” Do Hyun memeluk Aisya, Ini pelukan pertama Aisya dengan seorang pria, Aisya yang masih merasa ketakutan pun, Tanpa sadar ia tidak menolak pelukan itu. Do Hyun kemudian membawa Aisya ke rumah sakit, agar Aisya mendapatkan perawatan, *** “Aisya, lebih baik tinggalah bersamaku, agar kau lebih aman.” Ucap Do hyun “Aku tidak ingin Appa mengusirku lagi,” Aisya menundukkan pandangannya Do hyun kemudian mengusap kepala Aisya lembut, “Kalau begitu, tinggalah di apartemen milikku,” “tapi..” “tidak ada penolakan! Setidaknya, terimalah bantuanku kali ini.” Aisya kemudian setuju dengan tawaran Do hyun, Do Hyun pun mengantarkannya ke apartemen, Setibanya di apartemen, “Aku harap, kita akan tetap berbaikan dan bisa bersama selamanya,” Ucap do hyun Aisya tersenyum tipis mendengar ucapan Do hyun *** Hari pun berganti, Aisya sedikit mengalami trauma karena kejadian kemarin malam, Ia kemudian memutuskan untuk menemui manajer, “Maaf Tuan, apa saya bisa bertemu dengan Tuan Fathan?” “Tuan? Ada apa kau ingin bertemu dengannya?” “Em, Ada hal yang ingin aku bicarakan, itu saja!” “Tapi, Tuan Fathan sedang pergi ke negaranya, Jika kau mau, kau bisa mengatakannya padaku.” “t-tapi..” “Tapi jika kau merasa keberatan, tidak usah.” Aisya pun terdiam merasa kebingungan, “Maaf Tuan, Sebenarnya yang terjadi semalam..” Aisya mulai menceritakan tentang apa yang terjadi semalam, “Wah, Itu bahaya sekali, Aku tidak tau jika salah satu bekas karyawati disini sudah seperti psikopat, tapi syukurlah kau selamat.” Aisya mengangguk pelan, “Lalu, Bagaimana?” Tanya Manajer “Aku ingin mengundurkan diri dari siini,” “Apa?” “Kejadian semalam membuatku sedikit trauma, jadi aku memutuskan untuk berhenti dari sini dan mencari pekerjaan yang lain,” Manajer itu pun mengangguk angguk “Baiklah, jika itu sudah menjadi keputusanmu,” “Terima kasih Tuan,” Aisya berpamitan, *** Do hyun menjemput Aisya, “Bagaimana? Kau sudah membicarakannya dengan manajer?” Aisya mengangguk, “Sudah,” “Mulai sekarang, Kau tidak boleh menolak apapun itu bantuan dariku, oke?” “Aku, masih belum bisa melupakan tentang Video itu,” Ucap Aisya tiba tiba, Do Hyun kemudian menghentikan kendaraannya, “Apa kau masih belumbisa memaafkan kekhilafanku?” Aisya menatap Do Hyun, “Jika kau menjadi aku, Apa luka seperti itu bisa dengan mudah sembuh?” Do hyun menghela nafasnya kasar, “Tidak,” Aisya menatap ke arah luar jendela, “Sekalipun aku bisa memaafkanmu, bukan berarti tidak akan ada bekas luka yang tersisa,” Do hyun kemudian melajukan kembali kendaraannya, Sesampainya di apartemen, Aisya yang hendak melangkah masuk pun terhalang oleh pegangan tangan Do hyun, “Aku akan menjadi obat untuk luka mu, dan memastikan jika bekas luka itu akan benar benar hilang dari hatimu,” Aisya kemudian perlahan melepas pegangan tangan Do Hyun dan melangkah masuk, Do hyun yang hendak mengikuti langkah Aisya pun tertahan oleh suara notifikasi pesan yang masuk ke dalam ponselnya, ‘Sayang, Cepatlah pulang! Aku menunggumu,’ Do hyun pun melangkah pergi meninggalkan apartemen, Sedangkan Aisya menatap kepergian Do hyun yang melangkah semakin menjauh, *** Sesampainya di rumah, Do hyun langsung menemui Arsyla yang tengah berada di kamar tamu, “Ada apa kau menyuruhku pulang?” Tanya kesal Do hyun Arsyla melangkah mendekat ke arah Do hyun, “Hey, jangan terlalu sinis begitu, Apa kau tidak kasihan pada anak kita?” Ucap Arsyla seraya mengelus perutnya, “Ada apa?” “Aku hanya ingin bermanja padamu, jadi tolong temani aku,” ucap manja Arsyla yang bergelayut di lengan Do hyun Do hyun melepas paksa pegangan Arsyla, “Lepaskan!” Arsyla tersenyum, “Jangan dingin seperti itu, Bukankah kau sangat menyukai permainanku? Jadi, bersikaplah sedikit lembut padaku, agar nanti aku bisa lebih memuaskanmu,” Raut wajah kesal Do hyun tak bisa ia sembunyikan, “Apa yang terjadi waktu itu, semua karena jebakanmu! Bukan keinginanku!” Arsyla menyentuh wajah Do hyun dengan jari jarinya, “Tapi, kau menikmatinya bukan?” Do hyun memalingkan wajahnya,
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN