Kekecewaan

1975 Kata
Do hyun melihat ke arah Aisya yang berdiri di muka pintu, “Aisya?” Ia seketika berdiri dan menghampiri Aisya, “A-apa maksud perkataan dokter tadi?” “Itu..” “Bukankah sudah jelas? Kenapa kau masih bertanya?” Potong Arsyla Aisya menatap nanar Arsyla, “Kau benar benar keterlaluan! Kau melakukan segala cara untuk mendapatkan Do hyun?!” Bentak Aisya, “Aisya!” Teriak seseorang dari arah belakang. Dengan langkah cepatnya ia mendatangi Aisya, Plakk Satu tamparan keras tepat mengenai pipinya, Hingga sudut bibirnya mengeluarkan darah segar, “Appa!” Teriak Do hyun yang tidak terima perlakuan sang ayah pada Aisya, Appa menunjuk ke arah Aisya, “Jangan pernah kau bersikap kasar pada menantuku! Dia sedang mengandung cucuku, darah dagingku!” Tutur Appa Aisya yang sedari tadi menahan tangis pun pada akhirnya cairan bening itu mengalir begitu saja di pipinya, “T-tapi, Appa.. Aisya tidak bermaksud untuk..” “Pergi!” Potong Appa, “Appa, aku mohon! Dengarkan..” “Pergi!!” Bentak Appa, Aisya pun melangkah pergi, “Appa, tidak seharusnya kau sekasar itu pada Aisya!” Ucap Do hyun “Iya Appa, aku tidak apa apa, mungkin Aisya masih belum bisa menerima keputusan Appa saja,” Ujar Arsyla, “Mau tidak mau, suka tidak suka, Aisya harus menerima keputusan Appa, dan ini juga berlaku untukmu, Kim Do Hyun!” Ucap tegas Appa, Appa kemudian melangkah pergi meninggalkan Do hyun dengan raut wajah kesalnya, “kau keterlaluan Arsyla!” Do hyun menatap Arsyla, “K-kenapa aku yang kau salahkan? Bukankah semua itu memang Aisya yang salah?” Arsyla memasang wajah tanpa dosa, “Ckk,” Decak kesal Do hyun yang ikut melangkah pergi, Do hyun pun menyusul Aisya, namun baru sampai tangga, ia berpapasan dengan Aisya yang tengah menarik kopernya, “Aisya, Tidak! jangan pergi, aku mohon,” Do hyun berusaha mencegah Aisya untuk melanjutkan langkahnya, “Dengar, Aku akan berusaha untuk membujuk kedua orang tuaku, jadi jangan khawatir,” Do hyun mencoba untuk terus meyakinkan Aisya. Aisya menggelengkan kepalanya, "Tidak, Appa benar, lebih baik kau bersama dengan Arsyla, lagi pula anak itu butuh sosok ayahnya," Aisya pun melanjutkan langkahnya dan meninggalkan Do hyun yang mematung, *** Hari telah larut, Aisya belum menemukan tempat untuk nya bermalam, air mata itu tidak mau berhenti keluar dari kedua bola matanya, "Jangan nangis lagi, Kamu kuat, kamu pasti bisa ngadepinnya." Ucapnya pada diri sendiri. Aisya terus berjalan tanpa tujuan, Cuaca pun semakin terasa dingin malam ini, Aisya terduduk sendiri di pinggir jalan, dengan air mata yang terus mengalir deras, Pandangan Aisya beralih pada seseorang yang tiba tiba mengenakannya jaket tebal, “K-Kau?” Aisya perlahan berdiri “Aku sudah menunggu mu cukup lama di restoran,” terang Fathan Aisya menundukkan pandangannya, “Maaf, Aku lupa.” Fathan pun tersenyum tipis, Ia memperhatikan koper besar yang berada disamping Aisya, “Kau mau pergi kemana?” Tanya Fathan heran, “Aku juga tidak tau harus pergi kemana,” Fathan mengerutkan dahinya, “Apa ada masalah?” Aisya mengangguk pelan, “Kau mau menceritakannya padaku?” “Aku.. Aku kehilangan beasiswaku yang mengharuskan aku untuk keluar dari asrama, kecuali aku bisa membayar seperti yang lain,” “Jadi karena itu, larut malam seperti ini kau masih diluar?” Aisya kembali mengangguk, Fathan memperhatikan raut wajah sendu Aisya, “Apa kau masih ingin belajar disini?” Tanya Fathan seraya menatapnya serius “Aku tidak mungkin meneruskan sekolahku, biaya hidup disini cukup tinggi, Mungkin aku akan kembali bekerja mengumpulkan uang untuk kembali ke indonesia,” “Begitu?” Aisya mengangguk pelan, “Apa kau benar benar tidak ingin menerima bantuan ku untuk melanjutkan sekolahmu disini?” Aisya menggelengkan kepalanya, “Tidak, terima kasih.” Fathan menghela nafas panjang, “Bagaimana jika untuk malam ini, kau menginap di hotel dan aku akan membayarnya untukmu,” “Tidak usah, aku baik baik saja.” “kau tidak perlu khawatir, aku tidak akan melakukan apapun padamu, kita tidur di kamar yang terpisah, anggap saja aku memberimu pinjaman, dan kau bisa mengembalikannya kapanpun kau bisa,” Terang Fathan Aisya terdiam berpikir, “Jangan terlalu banyak berpikir, kau tau kan seberapa bahayanya seorang wanita muslim berkeliaran di tengah malam seperti ini di negeri orang?” Aisya kembali teringat masa lalunya, saat ia pertama kali datang ke korea dan hampir saja ia kehilangan kehormatannya sebagai seorang wanita oleh sekelompok berandalan jalanan, “Baiklah, Aku menerima tawaranmu.” Aisya pun pergi bersama Fathan ke sebuah hotel tempat Fathan menginap untuk sementara. tanpa mereka ketahui, Do hyun sedari tadi menatap mereka dari kejauhan, Do hyun mengikuti mereka hingga ke depan hotel, Melihat orang yang dicintai melangkah masuk ke dalam hotel bersama pria lain, membuat Do hyun murka, raut wajah kecewa Do hyun pun tidak bisa disembunyikan, “Ternyata aku salah menilaimu, Aisya.” Gumamnya dengan cairan bening yang menetes begitu saja. “Kau tidak lebih baik dari Arsyla, dasar pengkhianat!” Teriak Do hyun di dalam mobil seraya memukul mukul setir mobil yang berada di hadapannya, Do hyun yang merasa tidak kuat melihat Aisya yang masuk ke dalam hotel pun memutuskan untuk pulang dan berhenti mengikuti Aisya, Sepanjang perjalanan, Do hyun hanya menangis, Ia membayangkan bagaimana aisya bermesraan dengan pria yang sama sekali Do hyun tidak kenal. “b******k!! Dasar kurang ajar!!” Teriak marah Do hyun. Ia melajukan kendaraannya begitu kencang, sehingga hampir saja menabrak pejalan kaki, “Yaakk!! Gunakan matamu saat berkendara!” Maki si pejalan kaki, Do hyun hanya terdiam mematung karena syok, Beberapa saat kemudian ia melanjutkan perjalanannya. Setibanya di rumah, Do hyun langsung melangkah masuk ke kamarnya. Ia kemudian membanting kan dirinya di atas tempat tidur, tok tok tok “Do hyun?” Terdengar suara seseorang dari balik pintu, Dengan rasa malas, Do hyun pun membuka pintu kamarnya, “Ada apa?” Tanya Do hyun dengan nada dingin, “Ada apa denganmu? kenapa kau sedingin itu pada ibu?” Tanya Eomma yang merasakan keanehan pada sikap sang putra. “Tidak ada,” “Ya sudah, Eomma dan Appa akan pergi ke acara pernikahan saudara kita, kau mau ikut bersama kami?” “Tidak,” “Baiklah, Appa dan Eomma akan pergi, jaga dirimu baik baik, jangan lupa makan,” Do hyun mengangguk paham, *** Pagi pun tiba, Do hyun yang baru saja bisa memejamkan matanya, dikejutkan oleh kedatangan Arsyla yang tiba tiba sudah berada di dalam kamarnya dengan membawakan sarapan pagi, “Apa yang kau lakukan disini?” Arsyla melemparkan senyumannya, “Aku membuatkan sarapan untukmu,” Arsyla menghampiri Do hyun dan menyimpan makanannya di meja kecil disamping tempat tidur Do hyun, “Ini, makanlah.” Do hyun pun meraihnya dan mulai memakan makanannya, Ia terlihat begitu lahap karena memang sejak semalam Do hyun belum makan apapun. Tiba tiba, Do hyun merasakan panas di tubuhnya, “Kenapa rasanya panas sekali?” Do hyun meminum air mineral yang berada di dalam gelas dalam satu tegukan, Arsyla menyunggingkan senyuman di sudut bibirnya, Ia kemudian perlahan menurunkan resleting dress yang ia kenakan, dan membukanya, melemparkannya ke sembarang arah, Hingga hanya menampilkan tubuh polosnya saja, Ia kemudian melepas ikatan rambutnya hingga rambut panjangnya kini tergerai, Arsyla mulai menggoda Do hyun dengan sentuhan sentuhannya, Do hyun mencoba untuk menolak, “Apa yang kau masukkan dalam makananku?” Tanya Do hyun Arsyla tersenyum, Ia berbisik di telinga Do hyun, “I’m Yours,” Bisikan Arsyla membuat Do hyun merasa merinding, Arsyla kemudian naik ke atas tempat tidur, Ia mulai menyentuh wajah Do hyun dan mengelusnya lembut, Matanya pun tertuju pada bibir milik Do hyun, perlahan ia memiringkan kepalanya dan mulai mendekat ke arah wajah Do hyun, Cup Satu kecupan berhasil mendarat di bibir Do hyun, Perlahan Do hyun mulai menikmati sentuhan Arsyla, Ia mulai memperdalam ciumannya, Do hyun semakin gila dibuatnya, Arsyla dengan cepat melepas kancing baju Do hyun satu persatu, Permainan panas itu pun dimulai, *** Di lain sisi, Aisya sedang melamun dan melihat ke arah luar jendela, “Tidak ada lagi yang bisa aku perjuangin disini, mungkin lebih baik aku pulang,” Gumamnya, Tok tok tok “Aisya?” Aisya membuka pintu, “Fathan,” “Aku akan mengantarmu ke tempatmu bekerja,” Aisya menganggukkan kepalanya Di perjalanan, “Oya, Aku sudah menyewakan sebuah rumah sederhana untuk kamu sementara,” Aisya menatap Fathan, “Kenapa kau menatapku seperti itu?” “Kenapa kamu begitu baik padaku?” “Emm, Karena aku adalah seorang muslim begitupun denganmu, dan aku hanya ingin membantumu, itu saja.” Terang Fathan Aisya menatap ke luar jendela, “Terima kasih, sudah mau membantuku, Aku harap suatu hari nanti aku bisa membalas semua kebaikan mu,” “Jangan terlalu dipikirkan,” Sesampainya di restoran, Aisya kembali bekerja seperti biasanya, Tanpa sepengetahuan Aisya, Fathan menemui manajer restoran, “Ada apa Tuan?” Tanya manajer resto, “Bagaimana kinerja dari karyawan kita?” “Baik Tuan, semuanya berdedikasi tinggi, dan selalu disiplin,” “Emm, Maksudku karyawan kita yang bernama Aisya.” “Oooh, Aisya karyawan yang telaten, Dia juga disiplin, terlebih dia sangat ramah pada pelanggan,” “Begitu, baguslah. Emm, Bagaimana jika Aisya dinaikkan jabatannya,” Manajer terkejut dengan ucapan Fathan, “Maaf Tuan, Tapi untuk kenaikan jabatan, Aisya masih belum memenuhi kriteria, saya takut akan terjadi kecemburuan sosial jika kita melakukannya,” Fathan mengangguk angguk, “Begitu, Lalu bagaimana jika kita naikkan gaji nya saja?” “Itu…” Manajer terlihat canggung untuk mengungkapkan rasa keberatannya. “Ada apa? Kau tidak setuju?” “B-Bukan begitu Tuan, Aku hanya…” “Apa kau menolak? Baiklah, lebih baik kita berikan kenaikan jabatan dan juga menaikkan gajinya, itu sudah menjadi keputusanku.” Potong Fathan, manajer pun hanya mengangguk pelan, ‘Kenapa dia bertanya padaku, jika dia sendiri sudah membuat keputusannya,’ Batin sang manajer. Beberapa saat kemudian, Aisya dipanggil ke kantor, “I-iya sajangnim,” “Aisya, duduklah!” Aisya pun duduk berhadapan dengan manajer, “Karena dedikasi mu pada pekerjaan, karena itu kami memutuskan untuk menaikkan jabatanmu menjadi head waiter dan juga menaikkan gajimu.” “A-apa?” Syok Aisya “Apa aku tidak salah dengar? Tapi Tuan, Aku belum terlalu lama bekerja disini, Apa tidak lebih baik jika senior seniorku saja yang mendapatkan kenaikan jabatan?” Manajer pun menatap ke arah balik pintu yang ternyata Fathan bersembunyi disitu sedari tadi, Fathan memberi kode agar manajer mencari alasan lain mengenai kenaikkan jabatan Aisya, “I-itu sudah menjadi keputusan pemilik restoran, jadi lebih baik kau terima, anggap saja ini keberuntunganmu.” “B-Baik, Terima kasih,” Aisya pun melangkah pergi meninggalkan ruangan, “Kerja bagus manajer!” Puji Fathan “Terima kasih Tuan, Oya Tuan, kenapa Tuan tidak memberikan bantuan secara langsung saja pada Aisya? Kenapa anda mengambil cara rumit seperti ini?” Tanya manajer penasaran, “Karena Aku tidak ingin melukai harga diri Aisya sebagai seorang perempuan,” Manajer itu pun mengangguk paham, *** Aisya masih kebingungan dengan keputusan manajer tadi, “Ini aneh, kenapa ya?” Gumamnya, “Hey, Ada apa?” Tanya salah satu rekan Aisya “Tidak apa apa, Aku hanya sedikit bingung.” “Bingung? Bingung kenapa?” “Aku mendapatkan kenaikan jabatan menjadi head waiter,” “Apa?!” Syoknya “Kenapa kau bisa dengan cepat mendapatkan promosi dan mendapatkan jabatan sebagai head waiter? Apa yang sudah kau berikan pada bos? Apa kau sengaja mencari perhatiannya agar bisa segera mendapatkan posisi lebih tinggi?” Ucapnya, “T-tidak, bukan begitu, aku sama sekali tidak tau,” Bantah Aisya, “Ah, kau pasti dengan sengaja menjajakan dirimu agar kau bisa segera mendapatkan promosi,” “Tidak, aku tidak seperti itu.” Keributan antara mereka berdua pun mendapatkan perhatian dari pekerja yang lain, “Ada apa ini?” tanya salah satu dari mereka, “Apa kalian tau? Aisya mendapatkan promosi pekerjaan menjadi head waiter, bukankah seharusnya salah satu diantara kita yang mendapatkannya bukan dia, yang baru ikut bergabung!” Bentaknya, “Tapi, Aku sendiri juga tidak mengerti, kenapa kau tidak protes saja pada manajer?” Ucap tegas Aisya, “Huh, Dasar perempuan murahan!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN