Hidayah

1481 Kata
Do hyun menghampiri Aisya yang masih terbaring lemah, “Bagaimana keadaanmu?” Aisya menunjukkan raut wajah kesal pada Do hyun, “Sudah lebih baik,” Do hyun duduk disamping Aisya, “Bagaimana kau bisa terkunci di atap gedung?” “Bukankah kau yang memintaku kesana?” “Aku?” “Iya, Kau yang mengirimiku secarik kertas dan mengatakan ingin menemuiku disana,” Do hyun mengerutkan dahinya, “Aku tidak mengirimkan apapun padamu, aku baru pulang dari rumah sakit pagi ini,” Aisya terkejut mendengar pengakuan Do hyun, “J-jadi, siapa yang mengirimiku pesan itu?” Do hyun pun merasa semakin aneh, “Apa mungkin, Aera kembali jahat seperti waktu itu?” Gumamnya yang terdengar oleh Aisya, “Tidak mungkin Aera, Dia sedang pergi ke rumah neneknya di gwangju,” Do hyun kembali menatap Aisya, “Sepertinya aku tau, siapa.” Do hyun kemudian melangkah pergi menemui seseorang yang ia curigai. *** Do hyun tiba di depan sebuah gerbang pabrik, Ia meminta izin untuk menemui seseorang, “Apa? jadi dia sudah tidak bekerja disini beberapa hari yang lalu?” Petugas keamanan itupun mengangguk, “Itu benar, karena dia sering meminta izin untuk tidak masuk, jadi perusahaan memecatnya,” Ujar petugas keamanan. “Baiklah, kalau begitu terima kasih pak,” Ucap Do hyun seraya membungkukkan badannya, Do hyun melanjutkan langkahnya, “Dimana dia sekarang?” Gumamnya, Do hyun mencoba untuk menemuinya di tempat ia tinggal, “Apa? Dia sudah pindah? Apa anda tahu kemana dia pergi?” “Tidak,” Jawab singkat pemilik rumah sewa, Do hyun menarik nafasnya panjang, “Dia menghilang,” Do hyun pun memutuskan untuk pulang terlebih dahulu, Setibanya di rumah, “Kim Do Hyun,” Panggil Appa yang sudah menyambutnya di muka pintu, “Appa? Tumben jam segini appa ada di rumah,” “Tidak perlu basa basi, Kau harus menjelaskan apa yang sudah terjadi?” Do hyun mengernyitkan dahinya, “Maksud Appa?” “Jelaskan! Apa maksudnya ini?!” Bentak Appa seraya menyodorkan secarik kertas, Do hyun meraihnya, dan membuka kertas itu, perlahan ia membacanya dan seketika kedua matanya membola, “A-Apa ini?” Do hyun membaca surat yang ada di tangannya, “Seharusnya, Appa yang bertanya padamu! Tega teganya kau mempermalukan keluarga kita!” Bentak Appa “T-Tapi, Ini tidak benar, Appa harus percaya padaku!” “Percaya padamu? Bagaimana Appa bisa mempercayaimu sedangkan hasil dari tes ini sudah jelas dan membuktikan kau telah menghamili Arsyla!” “Tidak! Tidak Appa, dengarkan aku, aku sama sekali tidak melakukannya!” Do hyun bersikukuh, “Oppa,” Panggil seseorang yang mengalihkan pandangan Do hyun ke arahnya, “Kau?” Do hyun dikejutkan dengan keberadaan Arsyla yang tiba tiba ada di rumahnya, “Maaf, Aku terpaksa memberitahu Eomma dan Appa tentang anak kita,” Ucap Arsyla seraya mengelus perutnya yang rata, Do hyun murka mendengar pengakuan Arsyla, Ia menarik kasar baju Arsyla, “Apa yang kau lakukan, Hah!” Teriaknya Appa Do hyun pun menarik Do hyun dan.. Plakk Satu tamparan keras mengenai pipi mulusnya, hingga terlihat bekas merah di pipinya, Do hyun memegangi pipinya yang terasa perih, “Tadinya, Appa tidak ingin melakukan ini, Tapi kau memaksa Appa untuk melakukannya! Appa tidak pernah mengajarkan mu untuk bersikap kasar pada perempuan, Apa ini hasil dari pendidikan yang kau dapat selama ini di sekolahmu?!” Bentakan Appa Do hyun semakin keras, Do hyun hanya bisa terdiam, “Sudahlah, jangan terlalu keras pada Do hyun,” Eomma mencoba untuk menenangkan Appa, “Kau harus menikahi Arsyla! Dan itu sudah menjadi keputusanku!” “Apa!” Do Hyun syok mendengar keputusan Appa, Appa pun melangkah pergi, diikuti oleh langkah Eomma, Arsyla mendekat ke arah Do hyun, “Maaf, Aku tidak bermaksud untuk…..” “Apa kau sudah puas menghancurkan hubungan orang tua dan anaknya?” Potong Do hyun, Ia kemudian melangkah pergi meninggalkan Arsyla yang menunjukkan senyuman tipis di sudut bibirnya, *** Do hyun mengendarai mobilnya tanpa tujuan, Ia bahkan tidak bisa berpikir apapun, Ia pun berhenti di suatu tempat, yang tanpa ia sadari membawanya ke tempat Aisya sering menenangkan diri, Tiba tiba terdengar suara adzan berkumandang, dan membuatnya tersadar ia berada dimana sekarang, “Tempat ini, kan?” Untuk sejenak Do hyun terdiam dan hanya mendengar suara adzan yang terdengar sedikit samar, Do hyun kemudian turun dari mobilnya, Ia berjalan menuju ke depan masjid, Seseorang menepuk bahunya, “Assalamu’alaikum?” Sapa seorang pria yang tidak asing baginya, “Bukankah kau…” “Ah kau lagi, sudah lama aku tidak melihatmu, Apa kau baik baik saja?” Tanya pria itu yang melihat Do hyun kacau, “Ya, aku baik baik saja,” “kalau begitu, Ayo sholat, Seberat apapun masalahmu Itu akan menenangkanmu,” Ajaknya, “T-tapi aku bukan…” Belum selesai ucapan Do hyun, pria itu langsung melanjutkan langkahnya karena mendengar suara iqomah pertanda sholat berjamaah akan dimulai, Do hyun pun mengikuti langkah pria tadi, Ia pun mengikuti saran dari pria tersebut dan mencoba untuk sholat, meski ia sendiri tidak mengetahui caranya, ia hanya mengikuti gerakan orang orang yang ada di hadapannya, Selesai melaksanakan Sholat, Do hyun menghampiri pria tadi yang tengah berdzikir, “Ada apa?” Tanya ramah pria itu, “Emm, Ada yang ingin aku tanyakan,” Ucap ragu Do hyun “Silahkan,” “Apa kau sudah lama menjadi seorang muslim?” Pria itu mengangguk. “Belum terlalu lama,” “Apa yang membuatmu mengambil keputusan menjadi seorang muslim?” Pria itu pun tersenyum, “Alloh akan menggerakkan hati setiap orang yang ia kehendaki untuk bisa kembali padanya, dan itu disebut dengan hidayah, Alhamdulillah Alloh memberikan hidayah itu padaku, dan aku merasa lebih tenang dalam menjalani hidup, Hidupku tidak lagi hanya sekedar mengejar kesuksesan dengan bekerja keras, atau mengejar cinta demi untuk memilikinya, Aku lebih fokus pada penerimaan dan berbagi, tidak berekspektasi berlebihan yang bisa membuat depresi, dan benar benar menjauhi apa yang selama ini dilarang agar hidupku bisa lebih sehat dan juga bahagia,” Do hyun kembali terdiam sejenak, “Bagaimana caranya untuk mendapatkan hidayah itu?” Pria itu kembali tersenyum, “Hidayah itu harus kau cari, dan Alloh yang akan menuntunmu lewat hati,” Seketika Do hyun teringat dengan perkataan Aisya saat itu, ‘Jika kau menjadi muslim karena aku, percayalah itu bukan karena ketaatan tapi keegoisan, karena untuk menjadi muslim kau harus mendapatkan hidayah lewat ini,’ Aisya menunjuk ke arah Hati Do hyun. Do hyun kembali menatap ke arah pria itu, “Bagaimana caranya kau bisa mengetahui jika hatimu tergerak dan ingin menjadi seorang muslim?” “Kau akan mengetahui dengan sendirinya, karena takdir akan menemukan jalannya,” *** Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit Do hyun memikirkan apa yang diucapkan pria tersebut. Sesampainya di rumah sakit, Do hyun pun segera menemui Aisya, Namun betapa terkejutnya ia saat ia tidak melihat Aisya di tempat tidurnya dan hanya ada seorang office girl yang tengah membersihkan ruangan tersebut, “Dimana gadis yang dirawat di ruangan ini?” Tanya Do hyun padanya, “Apa maksudmu gadis dengan penutup kepala yang aneh itu?” Do hyun mengangguk, “Iya,” “Gadis itu sudah pulang sejak tadi, sekitar satu jam yang lalu.” Do hyun pun hendak melangkah, namun ia kembali membalikkan badannya, “Maaf, Lain kali jangan mengatakan penutup kepala yang aneh, karena kain itu memiliki nama yang indah sesuai dengan tujuannya dalam menghormati seorang wanita, panggillah dengan sebutan Hijab,” Office girl tersebut pun hanya mengangguk paham, Do hyun kembali melanjutkan langkahnya, *** Di lain sisi, Aisya baru saja tiba di asrama, “Aisya?” Panggil seseorang dari arah belakang, Aisya berbalik, “Iya,” “Aku ingin bicara denganmu, aku tunggu di kantor,” Ibu kepala asrama pun melangkah lebih dulu diikuti oleh langkah Aisya, “Duduk,” Titahnya Aisya pun duduk berhadapan dengan ibu kepala asrama, “Aisya, Ada sesuatu hal yang penting yang ingin aku bicarakan denganmu,” “A-Apa itu?” Kepala asrama pun menyodorkan sebuah map berisi beberapa lembar kertas, “A-Apa ini?” “Bukalah,” Aisya kemudian membuka map tersebut, Matanya membulat sempurna saat ia membaca jika dirinya tidak lulus untuk mendapatkan beasiswa tahun ini, “Ini bercanda kan bu?” “Apa aku terlihat sedang bercanda denganmu?” Aisya menggelengkan kepalanya pelan, “Aku sudah memperingatkanmu sejak awal agar kau lebih memperhatikan kuliahmu, ditahun ini aku melihat kau begitu sibuk bekerja dan juga sibuk terlibat percintaan, itu membuatmu sedikit lengah,” Tutur Ibu kepala Aisya menundukkan pandangannya, “Dengar, kau masih bisa melanjutkan sekolahmu tapi dengan membayar seperti mahasiswa yang lain,” Jelas Ibu kepala, Aisya pun berpamitan untuk kembali ke kamarnya, Sesuai peraturan, seorang pemegang beasiswa akan disediakan asrama jika ia memang membutuhkan tempat tinggal, namun sebaliknya jika ia gagal meraih beasiswa, maka ia harus segera meninggalkan asrama yang ia tinggali saat itu, ‘Ya Alloh, kenapa jadi begini?’ batin Aisya seraya meneteskan air mata, Aisya pun mulai mengemasi barang barangnya, Drrt Drrttt Drrtt Terdengar suara getar ponsel milik Aisya, yang tersimpan diatas meja, Namun tidak terdengar oleh Aisya,
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN