“Apa Arsyla mengatakan sesuatu padamu, Eomma?” Tanya Do hyun
Eomma Do hyun yang tengah membereskan pakaian Do hyun pun menatapnya,
“Ibu tahu, malam disaat kau mabuk itu dan memaksa Arsyla untuk melayanimu, Video itu, Ibu sudah mengetahuinya,”
Do hyun langsung bangun dan terduduk,
“Tapi Eomma, Aww..” Ringis Do hyun karena jarum infusan yang semakin menusuk urat nadi Do hyun karena terlalu banyak bergerak, Hingga darahnya pun naik ke atas selang infusan,
“Ck, Kau ini! Jangan terlalu banyak bergerak!” Decak kesal Eomma,
“Suster!” Teriak Eomma,
Tak lama kemudian, suster pun datang dan memperbaiki infusan Do hyun,
***
Di lain sisi,
Aisya menyibukkan diri dengan sekolah dan pekerjaannya,
Namun, di sela sela kegiatannya, ingatannya tentang ucapan Arsyla benar benar mengganggunya,
Aisya menghela nafas kasar,
“Kenapa kau bernafas seperti itu?” tanya seseorang yang berhasil mengejutkan Aisya,
“Astagfirulloh! kau mengagetkanku!” Aisya menepuk nepuk lembut dadanya,
“Maaf,” Fathan terkekeh melihat reaksi wajah Aisya,
Fathan pun duduk di samping Aisya,
“Ada apa? Apa kau punya masalah?” Tanya Fathan
Aisya menggelengkan kepalanya, “Tidak ada,” Jawab singkat Aisya
“Kau sedang apa disini?” Tanya Aisya seraya menatap Fathan,
“Memangnya, Aku tidak boleh datang kesini?” fathan balik bertanya,
Aisya memutarkan kedua bola matanya,
“Jawaban mu tidak sesuai dengan pertanyaanku,” Aisya kemudian berdiri dari duduknya,
“Kau mau pesan apa?”
“Emm, seperti biasa Ame….”
“Americano ice coffee, ayam goreng dan kentang goreng, itu kan!” Potong Aisya
Fathan pun tersenyum, “Benar,”
“Baiklah, pesananmu akan segera datang” Aisya kemudian melangkah pergi ke dapur,
Beberapa saat kemudian, Aisya kembali dengan membawa pesanan milik Fathan,
“Ini pesanan anda, Tuan.” Ucap Aisya seraya menyimpannya diatas meja.
“Terima kasih,”
Fathan mulai menikmati makanannya, sedangkan Aisya kembali bekerja.
***
Aisya mengerutkan dahinya melihat Fathan yang masih belum beranjak dari tempat duduknya, meski ia telah selesai menikmati makanannya,
Ia kemudian menghampiri Fathan,
“Apa ada yang mau kau pesan lagi?”
“Tidak, sudah cukup!”
“Baiklah,” Aisya hendak melangkah,
“Tunggu,”
“Ada apa?”
“kau belum menjawab pertanyaanku,”
“Pertanyaan yang mana?”
“Apa kau tidak tertarik untuk bekerja dengan ku menjadi sekretaris ku?”
Aisya tersenyum,
“Untuk saat ini tidak, karena aku merasa tidak berkompeten di bidang itu, lagipula aku ingin fokus pada kuliahku,”
Fathan mengangguk paham,
“Baiklah, Tidak apa apa.”
Fathan pun berdiri dari duduknya,
“Jika kau berubah pikiran, kau bisa menghubungiku,”
Aisya mengangguk diiringi senyuman,
“Aku permisi dulu, Assalamualaikum,” Fathan berpamitan,
“Wa’alaikum salam,”
Setelah Fathan pergi, Aisya pun kembali melanjutkan pekerjaannya,
***
Hari berganti,
Aisya tengah fokus belajar di dalam kelas, tiba tiba seseorang melemparkan selembar kertas ke hadapannya,
Aisya mengernyitkan dahinya,
“Apa ini?” Aisya melihat ke arah sekitar, namun ia tidak menemukan siapapun,
Aisya merasa penasaran dan kemudian membuka lipatan kertas tersebut,
‘Aisya, Aku merindukanmu.’ Isi pesan tersebut,
Aisya membolak balikkan kertas tersebut, namun tidak temukan nama pengirimnya,
“Mungkin, hanya ulah iseng anak anak,” Gumamnya,
Aisya pun membuang coretan itu dan kembali fokus belajar,
Lagi lagi seseorang melemparkannya dengan sebuah gumpalan kertas, Aisya meraihnya dan melihat sekeliling, Ia tetap tidak menemukan siapapun,
Aisya pun menghela nafas kasar, dan membuka kertas tersebut,
‘Aku menunggumu di atap’ Isi pesannya.
Aisya berpikir sejenak,
“Jika aku kesana, apa tidak apa apa ya? tapi kalau aku tidak pergi, penasaran juga.” Gumamnya,
Aisya kemudian merapikan buku buku yang berada di atas meja dan memasukkannya ke dalam tas miliknya,
Aisya pun melangkah pergi menuju atap kampus, tempat yang jarang digunakan oleh para mahasiswa dan mahasiswi,
Setibanya disana,
“Hallo, Apa ada orang disini?” Tanya Aisya seraya melihat ke arah sekitar,
Namun, Aisya tetap tidak menemukan siapapun,
“Kenapa perasaanku tidak enak?” Gumamnya,
Aisya pun membalikkan tubuhnya hendak kembali, Namun..
Dug
Pintu atap tertutup, seseorang menguncinya dari dalam, Aisya panik dan mencoba untuk membuka pintu atap tersebut,
“Buka! Aku mohon buka!!” Teriak Aisya,
Namun tidak ada yang mendengar teriakan Aisya,
Aisya mencoba mencari jalan keluar yang lain, Ia berlari kesana kemari untuk mencari sesuatu yang bisa digunakan untuk membuka pintu,
Nihil, Aisya tidak dapat menemukan apapun,
“Ya Alloh, Gimana ini?” Aisya mulai menangis.
Tiba tiba ia teringat dengan ponsel miliknya, Ia bergegas mengeluarkan ponsel dari tas yang ia bawa,
Namun raut wajahnya menunjukkan kekecewaan, Karena nyatanya ponsel miliknya mati,
“ya Alloh, Aku lupa menchargenya semalem,” Aisya pun terduduk lemas,
***
Do hyun baru saja tiba di rumahnya, ia berusaha menghubungi Aisya untuk memberitahunya,
“Kenapa nomor Aisya tidak bisa dihubungi?” Ucap Do hyun,
Do hyun pun mulai merasa khawatir, Ia memutuskan untuk menemui Aisya yang menurutnya masih berada di tempat Aisya bekerja,
“Apa Aisya ada?” Tanya Do hyun langsung pada salah satu teman sekelas Aisya,
“Tidak, Dia tidak masuk dan tanpa kabar,”
“A-Apa? Tidak masuk?”
Do hyun semakin khawatir, Ia kemudian menelpon Aera,
In Call,
“Apa kau tau dimana Aisya?”
“Tidak, Aku bahkan belum kembali dari rumah nenekku di gwangju,”
Tut tut tut
End call
Telepon pun dimatikan sepihak oleh Do hyun,
“Aisya, kamu dimana?” Gumamnya,
Do hyun pun kembali melanjutkan pencariannya,
***
Hari semakin sore, botol air milik Aisya pun telah habis diminum oleh Aisya,
“Bagaimana ini?”
Aisya kembali menggedor gedor pintu,
“Aku mohon, seseorang tolong aku!” Teriak Aisya yang mulai lemah,
Cuaca pun mulai semakin dingin, Aisya pun duduk di ujung bangunan, dengan tubuhnya yang bergemetaran, Ia memeluk dirinya sendiri,
“Tolong aku,” Gumamnya,
Hari pun mulai gelap,
Aisya mulai kehilangan kesadarannya,
“Jangan sampai tidur,” Gumamnya,
Namun, kedua matanya tak kuat menahannya, Matanya pun perlahan mulai menutup,
Brakkk
Samar samar, Aisya melihat seseorang yang berhasil mendobrak pintu,
“Aisya! Aisya!” Teriakan seseorang sampai ke telinga Aisya,
***
Aisya tersadar dari pingsannya,
“Kau tidak apa apa?” Tanya seorang perawat sekolah,
Aisya mengangguk, “Aku tidak apa apa.”
“Emm. Kenapa aku bisa ada disini?” Tanya Aisya
Sang perawat pun menjelaskan apa yang dialami oleh Aisya,
Flashback
Aisya telah terkulai lemas dan juga kedinginan,
‘Aku pasrah ya Alloh, kapanpun itu.’ Batin Aisya,
Aisya mulai kehilangan kesadaran, Namun samar samar ia melihat sosok seorang pria yang mendobrak keras pintunya, hingga pintu itu pun terbuka,
“Aisya! bertahanlah,” Pria itu pun menggendong Aisya ala bridal style dan membawanya ke ruang kesehatan,
***
“Jadi, Do hyun yang menolongku?” tanya Aisya dengan tatapan sendunya,
“Ya,” Jawab singkat perawat,
Aisya menundukkan pandangannya,
‘Kenapa kau, yang menolongku’ Batin Aisya,
“Apa ini takdir yang harus aku hindari, atau…” Aisya tidak menyelesaikan kalimatnya
Sementara itu,
Do hyun menunggunya di luar ruangan, dengan raut wajah cemas ia menunggu perawat sekolah keluar dari ruangan, untuk menanyakan tentang keadaan Aisya,
Tak lama, seseorang yang ia tunggu pun muncul,
“Sus, bagaimana keadaannya?”
“Keadaannya sudah lebih baik, jadi kau tidak perlu khawatir, tapi.. yang membuatku heran, Kenapa Aisya bisa terkunci di atap?”
Pertanyaan sang perawat itu sama dengan pertanyaan yang Do hyun punya,
‘Itu benar, siapa yang mengunci Aisya?’ Batin Do hyun