Aisya melihat sekeliling ruangan, tidak ada yang menarik perhatiannya, hingga derap langkah seseorang yang mendekat ke arahnya membuatnya memalingkan pandangannya,
“Assalamu’alaikum Aisya,” Sapanya seraya tersenyum lembut,
“W-Wa’aalikum salam Fathan,”
Mereka pun duduk berhadapan,
“Maaf, jika sudah membuatmu terkejut, dengan membawamu ke sini,”
“Tidak apa apa, tapi ada apa kau mengundangku kesini?”
“Aku hanya ingin menawarkanmu pekerjaan yang lebih baik,”
“Pekerjaan yang seperti apa yang kau maksud?” tanya heran Aisya,
“Kebetulan, Aku membutuhkan seorang sekretaris untuk cabang perusahaanku di sini,”
“Sekretaris?”
Fathan menganggukkan kepalanya, “Iya,”
“T-tapi, Aku sama sekali tidak memiliki pengalaman di bidang itu,”
“kau boleh mempertimbangkannya terlebih dahulu,”
Aisya kemudian kembali diantar pulang oleh sopir Fathan,
***
Setibanya di asrama,
Aisya langsung membantingkan tubuhnya diatas tempat tidur,
“Haa.. Lelah sekali,”
Aisya termenung sejenak,
“Sepertinya, Aku melupakan sesuatu,”
Seketika ia terperanjat dan mengingat janji nya bersama Do hyun,
“Astagfirulloh, Aku kan sudah berjanji pada Do hyun untuk menemuinya,” Aisya menatap jam dinding,
“Tapi, ini sudah terlalu malam, Apa dia masih menunggu?” Ucapnya pada diri sendiri,
“Ah sudahlah, lebih baik aku lihat dulu,” Aisya bergegas mengenakan jaket miliknya, dan juga sepatunya, Ia kemudian berlari ke tempat Do hyun,
Dengan nafas terengah engah, Aisya memperhatikan sekeliling, Matanya pun menangkap sosok seorang pria yang tengah duduk sambil memeluk dirinya sendiri karena kedinginan,
“Ya Alloh, kenapa kamu sangat bodoh Do hyun,” Aisya kemudian menghampiri Do hyun,
Ia berjongkok di hadapan Do hyun,
“Hey, Apa kau baik baik saja? Kau tidak mati kan?” Tanya Aisya seraya memperhatikan Do hyun yang tertunduk,
Aisya pun menggoyang goyangkan tubuh Do hyun, tiba tiba Do hyun terjatuh diatas tanah,
“Dia pingsan? Aduh, bagaimana ini?” Aisya panik melihat Do hyun yang terkulai lemas,
Wajah Do hyun yang memerah menandakan jika Do hyun sudah terlalu lama berada di luar,
Aisya kemudian menelpon ambulance,
Do hyun pun bergegas dilarikan ke rumah sakit,
***
Sepanjang malam, Aisya menemani Do hyun yang terbaring di rumah sakit, Hingga ia tertidur karena kelelahan,
Hari pun berganti,
Do hyun tersadar dari pingsannya dan mendapati Aisya yang tertidur dengan posisi duduk di sampingnya,
Ia kemudian tersenyum,
Do hyun pun mengelus lembut kepala Aisya, hingga membuat Aisya sedikit terusik,
Aisya yang merasa ada yang mengelusnya pun membuka matanya,
Namun dengan cepat Do hyun kembali menutup kedua mata matanya, berpura pura jika ia masih tertidur,
Aisya menatap Do hyun dan tersenyum,
“Seharusnya, kau tidak usah menungguku selama itu, Kau juga harus memikirkan kesehatanmu, Jangan bertindak bodoh lagi seperti itu,” Aisya pun memperbaiki posisi selimut yang membalut tubuh Do hyun,
Ia kemudian hendak berdiri, namun Do hyun menahannya dengan memegang tangannya.
“Tunggu,”
Aisya menatap ke arah Do hyun,
“Kau sudah sadar?”
Do hyun menganggukkan kepalanya,
“Kenapa kau terlambat?” Tanya Do hyun langsung
Aisya merasa salah tingkah,
‘Aku tidak mungkin memberitahukan yang sebenarnya,’ Batin Aisya
“Ada apa? kenapa kau diam?” Do hyun semakin curiga pada Aisya,
“Tidak apa apa, Aku…”
“Sayang, Kau tidak apa apa?” Potong Arsyla yang tiba tiba masuk begitu saja,
Aisya seketika melepaskan pegangan Do hyun,
Arsyla langsung memeluknya tanpa menatap Aisya,
“Lepaskan!” Do hyun melepas paksa pelukan Arsyla,
“Kau kenapa? Aku dengar dari Eomma kau masuk rumah sakit, karena itu aku mengambil cuti untuk menemuimu disini,” pandangan Arsyla pun beralih ke arah Aisya,
“Terima kasih, sudah menolong calon suamiku,”
Degh
Aisya terkejut mendengar pengakuan Arsyla,
“C-calon suami?”
“Iya, Apa Do hyun oppa belum menceritakannya padamu?”
Aisya menatap ke arah Do hyun, sedangkan Do hyun hanya menggelengkan kepalanya,
“Kalau begitu, selamat untuk kalian,” Aisya kemudian melangkah pergi meninggalkan mereka berdua,
‘lagi lagi, Aku harus kecewa olehmu!’ Batin Aisya,
Aisya terus berjalan,
Langkahnya pun terhenti oleh panggilan seseorang,
“Tunggu, Aisya.”
Aisya kemudian membalikkan tubuhnya,
Dengan senyum sinisnya, Arsyla menunjukkan senyuman di sudut bibirnya,
“Aku rasa, kali ini kau tidak bisa mendapatkan apa yang kau inginkan,”
Arsyla menunjukkan senyum penuh kemenangan,
“Apa kau sudah puas?”
Arsyla hanya tersenyum,
“Sejak awal, Aku dan Do hyun memang tidak mungkin bisa bersama, dan kami menyadari hal itu, Karena itu kami hanya ingin membahagiakan dan saling menjaga satu sama lain, setidaknya sampai kami benar benar menemukan seseorang yang akan menjadi pendamping kami nanti, Dan aku tidak akan keberatan jika wanita itu adalah kau, tapi aku hanya menyayangkan, kau menggadaikan imanmu hanya demi ingin menang dariku, mengubah cara berpakaianmu hanya untuk menarik perhatian Do hyun, Itu menyedihkan,” Tutur Aisya,
Arsyla pun tertawa,
“Jangan mengajariku tentang iman, Apa kau pikir tindakanmu itu juga bisa dibenarkan? Berpacaran dengan seorang pria yang bahkan tidak seiman denganmu, Setidaknya, Aku tidak munafik sepertimu, Aku mampu mengambil keputusan ku sendiri demi kebahagiaanku, tidak seperti mu, yang sok alim, nyatanya kau tidak jauh lebih baik dariku.” Arsyla pun melangkah pergi meninggalkan Aisya yang terdiam mematung,
Dengan langkah lemah, Aisya melangkah, Ucapan Arsyla membekas di hatinya,
‘Apa benar yang Arsyla katakan?’ Batin Aisya,
Cairan bening itu pun kembali menetes,
Perhatian Aisya teralihkan oleh suara dering ponsel yang berbunyi,
Aisya melihat layar ponselnya,
“Nomer siapa ini?” Gumamnya,
Aisya pun memutuskan untuk tidak mengangkat telepon dari nomor yang tidak dikenal tersebut,
Dilain sisi,
Seorang pria yang tengah duduk di sebuah ruangan yang luas dan ber ac ini sibuk dengan tumpukan berkas yang tertata rapi di atas meja,
Ia pun teringat dengan sosok seorang gadis yang akhir akhir ini menarik perhatiannya,
Ia melepas kacamatanya dan meraih ponselnya, memutuskan untuk menghubungi gadis itu, namun telepon darinya ditolak oleh gadis itu,
“Eh, kenapa di reject?” Gumamnya,
Ia berpikir sejenak,
“Apa karena, nomorku tidak dikenal? Ah sudahlah, nanti aku hubungi lagi,”
Pria itu pun menyimpan ponselnya di atas meja, dan melanjutkan kembali pekerjaannya,
***
Di rumah sakit,
Do hyun hanya menatap ke arah luar jendela dan melamun, perhatiannya pun teralihkan oleh suara pintu yang terbuka, dan menampakkan sosok sang ibu yang melangkah masuk,
“Do hyun?” panggil sang ibu,
Do hyun kemudian tersenyum,
“Hallo Eomma,”
“Hallo Nak,”
“Bagaimana keadaanmu sekarang?”
“Sudah lebih baik,”
Eomma pun menghampiri Do hyun, dan mengelus kepalanya lembut,
“Em, Tadi.. Arsyla menemui eomma di rumah,”
Do hyun pun memalingkan pandangannya ke arah lain,
“Ibu rasa, Arsyla adalah anak yang baik, dia ramah, dan yang penting dia sama seperti kita,”
Do hyun yang mengerti arah pembicaraan sang Eomma pun langsung menyanggahnya,
“Tapi ibu tau kan, bagaimana perasaanku? dan Arsyla lah yang menghancurkan semuanya, terutama hubunganku dengan Aisya,”
“Nak, tanpa Arsyla hancurkan pun, cepat atau lambat hubunganmu dengan Aisya juga akan hancur dengan sendirinya, perbedaan kalian bukanlah hal yang bisa dibicarakan, jika kalian hanya berbeda negara dan budaya, ibu masih bisa memaklumi itu, tapi perbedaan keyakinan, yang kalian lawan bukanlah keluarga, tapi Tuhan kalian sendiri!”
Do hyun pun terdiam,
“Eomma, Aku..”
“Eomma juga sudah tahu sejauh apa hubunganmu dengan Arsyla, dan kau tidak bisa menyangkalnya,” Potong Eomma
Do hyun pun syok mendengar pengakuan sang Eomma yang telah mengetahuinya,