“Aku sama sekali tidak menyangka jika Seo jin akan sejauh itu dalam bertindak,” Ujar Aera
“Hm, Aku juga sama sekali tidak menyangka dia akan tega berbuat seperti itu padaku,” Mata Aisya berkaca kaca,
Untuk sejenak Aera tertegun,
“Oh ya, apa kau tau alasan Seo jin melakukan semua itu padamu?” Tanya Aera
“Aku juga tidak tahu pasti, tapi sepertinya ada hubungannya dengan Do hyun,” Terang Aisya
Aera mengerutkan dahinya,
“Do hyun? apa Seo jin cemburu melihat kedekatan kalian?”
Aisya menyeringai,
“Kedekatan apanya? Aku tidak merasa sedekat itu dengan Do hyun,”
Aera hanya mengangguk pelan,
***
Hari berganti malam,
Aisya hanya seorang diri di dalam ruangan, Do hyun yang ingin menemaninya namun Aisya menolak, Ia tidak ingin ada fitnah yang muncul jika hanya Do hyun yang menemaninya, Do hyun pun mengalah dan berusaha mengerti apa yang menjadi kepercayaan Aisya,
Waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam, namun Aisya masih belum bisa tidur, Ia juga tidak bisa menghubungi Aera karena ponselnya kehabisan baterai,
“Ck, Kenapa aku tidak bisa tidur?” Gumamnya
“Lebih baik aku berjalan jalan sebentar,”
Aisya pun turun dari tempat tidurnya dengan tangan kanannya yang memegang infusan, Ia mulai melangkah berjalan keluar ruangan,
Di lorong rumah sakit sudah mulai sepi, hanya terlihat beberapa petugas rumah sakit yang tengah berjaga,
Mata Aisya pun tertuju pada sosok seorang pria yang tidak asing baginya, yang sedang duduk di kursi ruang tunggu tak jauh dari ruangan miliknya, dan itu membuat Aisya ketakutan,
‘D-Dia, kenapa dia ada disini?’ Batinnya
Pandangan mereka pun bertemu, dan membuat Aisya memundurkan langkahnya,
Aisya kemudian melangkah cepat untuk menghindar dari pria tersebut.
Aisya bergegas mengunci ruangan miliknya, menggeser meja yang berada di samping tempat tidurnya sebagai pengganjal, dengan menahan sakit, hingga darah yang berada di pergelangan tangannya itu pun naik ke dalam tabung infusan,
Aisya pun mencabut jarum infus dari tangannya, dan berlari ke atas tempat tidurnya dan menutupi tubuhnya dengan selimut,
Tubuh Aisya bergemetaran,
‘tok tok tok,’
Terdengar suara pintu kamarnya diketuk dari luar, Namun tidak terdengar suara seseorang dari arah balik pintu,
Aisya semakin ketakutan tatkala suara gedoran pintu semakin keras terdengar,
Hingga suara salah seorang keamanan terdengar memberi peringatan pada orang yang mengetuk pintu tadi, Hingga tidak terdengar lagi suara ketukan tersebut.
Dengan langkah ragu Aisya melangkah dan menghampiri pintu,
Ia mencoba untuk melihat dari balik lubang kunci,
Tiba tiba,
“aaaaaaa,” Teriak keras Aisya,
Aisya melihat mata yang melihat ke arahnya melalui lubang kunci tersebut.
Seketika Aisya kembali berlari ke tempat tidurnya,
***
Hari berganti,
kemarin malam merupakan malam yang panjang bagi Aisya,
Aisya sama sekali tidak bisa memejamkan matanya, ketakutan itu benar benar menghantuinya.
‘tok tok tok’
“Selamat pagi Nona? Bisakah anda membuka pintunya? Saya harus memeriksa keadaan Nona,” Ucap seorang perawat,
Dengan langkah yang berhati hati, Ia kemudian perlahan menggeser meja, dan membuka pintu
Terdengar nafas lega yang dikeluarkan oleh Aisya, saat ia melihat seorang perawatlah yang berdiri di hadapannya,
Aisya mulai mendapat pemeriksaan dari perawat,
“Sepertinya tidur anda tidak nyenyak nona? Apa ada yang mengganggumu?”
Aisya sedikit ragu untuk menanyakan tentang pria yang semalam ada di depan pintu kamarnya itu.
Perawat yang melihat gelagat aneh pada diri Aisya pun mencoba bertanya,
“Apa anda ingin menanyakan sesuatu?”
‘Apa aku harus menanyakannya pada suster atau lebih baik tidak usah saja ya?’ Batin Aisya berkata.
“Em, T-tidak suster.”
“Jika tidak ada lagi, saya pamit terlebih dulu,” Pamit suster
***
Tak lama setelah suster tersebut pergi,
“Selamat pagi Aisya,” Sapa Do hyun
“Kau datang sepagi ini?” tanya heran Aisya
“Memangnya kenapa?” Tanya Do hyun
“Ah tidak, Dimana Aera?”
“Dia bilang padaku, dia tidak bisa menemuimu, karena ada acara keluarga, karena itu dia minta maaf,” Jelas Do hyun.
Aisya hanya mengangguk angguk,
“Apa kau kecewa?”
“Tidak, lagipula aku sudah tidak apa apa, Aku akan pergi hari ini juga.”
Aisya yang hendak membereskan barang barangnya,
“Eh, Kau mau kemana?”
“Berkemas,”
“Apa kau yakin kau sudah tidak apa apa? Apa tidak sebaiknya kau disini saja sampai lukamu sembuh?”
“Tidak perlu, Aku baik baik saja.”
Aisya pun mulai melangkah,
“Tunggu, Ada apa? Seperti sudah terjadi sesuatu,” sarkasnya
Langkah Aisya pun terhenti mendengar ucapan Do hyun,
Do hyun menghampiri Aisya,
“Ada apa? Apa Seo jin muncul lagi?”
Aisya memegang erat tas miliknya, tanpa menjawab pertanyaan dari Do hyun,
“Aisya?” Panggil Do Hyun,
Tanpa terasa buliran bening itu pun lolos begitu saja,
Do Hyun syok melihat Aisya yang tiba tiba menangis,
“Ada apa? Katakan!” Desak Do hyun
“Semalam, A-Aku melihat pria yang menculikku saat itu, Dia duduk di kursi ruang tunggu, Aku sangat ketakutan karena dia mengikutiku hingga di depan ruangan, Pria itu juga menggedor keras pintunya,” Terang Aisya terbata bata,
Do Hyun sangat terkejut mendengar cerita Aisya,
‘Apa pria itu juga suruhan Seo jin? Aku harus mencari tahu,’ batin Do hyun
“Jika begitu, demi keselamatanmu, lebih baik kau tinggal bersama kami,”
“M-maksudmu?”
“ya, Tinggal bersama dengan ku dan orang tuaku,”
“T-tapi…” Ucapan Aisya terpotong karena Do hyun yang tiba tiba menarik Tas yang ia pegang,
“Eh,” Kaget Aisya
***
Setibanya di rumah Do hyun,
Aisya disambut hangat oleh keluarga Do hyun,
“Selamat datang Do hyun, Selamat datang Aisya,” sapa ramah sang ibu
“Terima kasih bu,”
Sang ibu pun mengantar Aisya ke kamar tamu,
“Silahkan, Mungkin memang tidak terlalu bagus, tapi ini cukup nyaman untuk digunakan,”
“Ah iya terima kasih,” Ucap Aisya seraya membungkuk,
***
Do Hyun yang tengah asyik dengan ponselnya, perhatiannya pun teralihkan oleh panggilan ibu,
“Do hyun, Ibu ingin membicarakan sesuatu hal denganmu,”
Do hyun meletakkan ponselnya,
“Ada apa, Bu?” Tanya Do hyun
“Do hyun, Apa kau yakin dengan perasaanmu?”
Do hyun memegang tangan sang ibu, dengan tatapan yang dalam,
“Aku yakin, bu,”
Sang ibu pun membelai kepala sang putra,
“Kau sadar kan dengan perbedaan kalian? Apa yang akan memisahkan kalian bukanlah masalah jarak, waktu maupun bahasa?”
Do hyun mengangguk paham,
“Ayah dan ibu hanya mampu mendukungmu, kami tidak akan melarangmu mencintai siapapun, tapi kau harus ingat perbedaan diantara kalian merupakan jurang paling terjal dalam sebuah hubungan, sangat kecil kemungkinan kalian bisa bersama,”
“Aku mengerti bu, Aku sadar dengan semua itu, karena itu aku hanya ingin menjaganya, bukan memilikinya, Karena aku tau, sainganku bukanlah seseorang yang bisa aku kalahkan, melainkan pencipta-Nya, dan bagiku, melihatnya menjalani hidupnya dengan baik itu sudah lebih dari cukup,”
Ibu Do hyun pun tersenyum menatap sang putra,
Percakapan mereka pun terhenti ketika melihat Aisya menghampiri mereka,
Penampilan Aisya membuat Do hyun tak mengalihkan pandangannya ke arah lain,
Aisya yang mengenakan dress panjang berwarna soft pink dengan motif bunga bunga kecil dan kerah yang berenda dan hijab yang senada dengan renda menambah manis penampilannya,
Sang ibu yang menyadari putranya tidak berkedip pun langsung mengusap wajah putranya itu dengan tangan kanannya,
“Hey, Jangan menatapnya seperti itu!”
Do hyun pun hanya tersenyum tipis,
“Sepertinya kalian membicarakan sesuatu yang serius?” Tanya aisya,
“Em Tidak, Aku hanya membicarakan tentang tugasmu yang belum selesai,” Ungkap Do hyun
“Tugas? Tugas apa?” Tanya Aisya
“Apa kau lupa? Kau masih memiliki hutang padaku,”
“Apa maksudmu, hutang janji itu ya?” Ucap Aisya langsung
Do Hyun pun menyunggingkan senyuman di sudut bibirnya.