“Ah, ternyata kau masih ingat dengan perjanjian kita,”
“Bagaimana aku tidak ingat, kau mengingatkanku setiap waktu tentang itu,” gumam aisya
“Apa kau mengatakan sesuatu?” sindir do hyun
Aisya hanya menggelengkan kepalanya cepat,
***
Selesai makan siang bersama dengan keluarga Do hyun, Aisya memutuskan untuk kembali ke asrama, sekedar untuk mengambil beberapa barang yang ia butuhkan,
“Apa kau yakin, Aku tidak perlu mengantarmu ke dalam?” tanya Do hyun,
“Tidak perlu, Aku bisa melakukannya sendiri,”
Aisya berjalan menuju ke dalam asrama,
Namun, betapa terkejutnya ia saat pintu kamarnya ia buka, kondisi kamarnya dalam keadaan berantakan, kertas kertas yang berserakan di berbagai sudut ruangan, beberapa vas bunga yang pecah, dan beberapa benda pribadi milik aisya pun ikut hancur seperti ada pencuri yang masuk ke dalam kamarnya,
“Siapa yang melakukan ini? Jika dia pencuri itu tidak mungkin, karena pengamanan di asrama ini sangat ketat,” Ucapnya pada diri sendiri,
Aisya mencoba memeriksa barang barang miliknya yang ada di kamar, anehnya, tidak ada sesuatu yang hilang.
“Apa yang sebenarnya telah terjadi?”
Aisya mencoba untuk menanyakan rekaman CCTV pada pihak keamanan, Aisya merasa semakin aneh karena tidak ditemukan jejak apapun,
Aisya semakin merinding,
Tiba tiba,
Ia dikejutkan dengan kedatangan seseorang yang ia kenal,
“Apa terjadi sesuatu?” Tanya Do hyun langsung
Aisya terperanjat kaget,
“Astagfirulloh, kau mengagetkanku.”
Do Hyun terkekeh melihat reaksi lucu Aisya,
“Maaf, Aku tidak bermaksud untuk..”
“Tidak apa,”
“oh ya, ngomong ngomong, Tadi saat aku akan pergi dari sini, Aku melihatmu berlari menuju ke ruangan ini, Ada apa?” Tanya Do hyun penasaran.
“Sepertinya ada pencuri yang masuk ke dalam kamarku, tapi.. Rasanya ada yang aneh.”
“Pencuri? apa saja yang hilang?”
“Itu dia masalahnya, tidak ada barang yang hilang di kamarku,”
“Mungkin karena memang tidak ada yang bisa dicuri dari kamarmu,” Do hyun kembali terkekeh membuat Aisya kesal dan menghentakkan sedikit pukulan dengan sikunya,
“Aww,” Ringis Do hyun
“Eh, Maaf.”
Do hyun pun kembali tertawa, melihat reaksi Aisya,
“iishh, benar benar menyebalkan!” Aisya menginjak kaki Do hyun hingga Ia benar benar meringis kesakitan,
“Aww!! Aisya, ini benar benar sakit!!”
Aisya tidak memperdulikan ringisan Do hyun,
Seorang petugas keamanan pun menghampiri mereka,
“Bagaimana pak?” Tanya Aisya.
Petugas itu tampak menghela nafas kasar,
“Maaf Aisya, Aku tidak bisa membantumu karena atasanku tidak bisa menunjukkan hasil rekaman CCTV itu, beliau bilang itu adalah rekaman privasi asrama, Tidak bisa sembarangan di perlihatkan, Beliau juga mengatakan jika memang tidak ada yang hilang, tidak perlu dicari lagi.” Jelas penjaga asrama
Tatapan Aisya berubah sendu,
Do hyun tidak tega melihat Aisya kecewa,
“Emm, boleh aku bicara dengan kepala penjaganya?”
“T-tapi,”
“Tidak apa apa pak, Aku hanya ingin berbicara saja.”
Sejenak petugas keamanan itu pun berpikir,
“Emm, Baiklah! Ikut denganku,”
Do hun pun mengikuti langkah petugas tersebut, dan meninggalkan Aisya yang duduk di kursi ruang tunggu.
***
Beberapa waktu kemudian,
do hyun kembali dengan senyuman yang terukir di wajahnya,
“Bagaimana?” Tanya Aisya cemas
“Semuanya beres, kau tidak perlu khawatir, kita akan melihat isi rekaman CCTV itu,”
Wajah sendu Aisya berubah menjadi senyuman,
“Benarkah?”
Do hyun mengangguk pelan,
“Eh tapi, Bagaimana bisa? Kau tidak mengancam kepala penjaga akan membunuhnya kan?”
“Apa menurutmu wajahku yang tampan ini terlihat seperti seorang kriminal?”
Aisya terkekeh,
“Maaf, Aku hanya bercanda.”
Petugas keamanan pun membawa Aisya dan Do Hyun pergi ke sebuah ruangan, yang terdapat beberapa komputer didalamnya, dan juga beberapa alat yang asing untuk mereka.
Petugas tersebut mulai membuka isi rekaman CCTV yang terpasang tepat di depan kamar Aisya,
Kedua bola mata Aisya dengan serius memperhatikan tiap detik isi dari rekaman tersebut, Hingga hampir dua jam mereka terus memeriksa, namun tidak ada yang aneh dengan isi rekaman CCTV, hanya menunjukkan aktivitas seperti biasa,
“Ini aneh, lalu bagaimana caranya? tidak mungkin yang membuat berantakan itu hantu kan?”
Mereka pun hanya bisa tertegun.
***
Aisya memutuskan untuk kembali ke rumah Do hyun dan beristirahat,
Ibu Do hyun yang melihat Aisya berjalan dengan tatapan kosong pun merasa khawatir,
“Do Hyun! Apa sesuatu terjadi?” Tanya Ibu Do hyun
“Eomma, Ada sesuatu yng aneh terjadi di asrama,”
“Apa? sesuatu yang aneh?”
Do hyun mengangguk,
“Sesuatu yang aneh seperti apa maksudmu?”
“Ketika Aisya tiba dikamar miliknya, Kamarnya dalam keadaan sangat berantakan seperti ada pencuri, tapi anehnya tidak ada yang hilang, dan bahkan lebih anehnya lagi, CCTV tidak merekam apapun,” Terang Do hyun
“Ya tuhan! Apa mungkin itu sebuah teror untuk Aisya?”
Do hyun mengerutkan dahinya,
“Teror?”
“Eomma jadi merasa merinding mendengarnya, apalagi hingga saat ini Seo jin masih belum tertangkap,”
Seketika Do hyun langsung terdiam ketika Eommanya mengingatkan Do Hyun tentang Seo jin yang kini masih menjadi buruan polisi,
Dilain sisi,
Di sebuah rumah besar dan mewah, dengan pengamanan yang sangat ketat, seorang gadis dikurung di dalam kamar mewahnya, tanpa gadget, tanpa akses internet, tanpa akses untuk keluar rumah, pengawalan dilakukan 24/7, setiap harinya,
“Bagaimana kabarmu, Seo jin?” Tanya seseorang yang tiba tiba masuk dengan langkah santainya,
Seo jin pun menatap tajam ke arahnya,
“Kak! Sampai kapan aku dikurung seperti ini?” Seo jin melangkah mendekat ke arahnya,
“Sampai semuanya selesai,”
“tapi, itu terlalu lama kak! Aku benar benar muak dikurung disini!”
Ia menyunggingkan senyuman di sudut bibirnya,
“Kau tidak ingin berakhir di penjara kan?”
Seo jin menggelengkan kepalanya,
“Jika begitu, Kau harus menurut padaku!”
Seo jin yang merasa tidak memiliki pilihan lain pun hanya bisa pasrah menerimanya,
***
Keesokkan harinya,
Aisya membantu Ibu Do hyun menyiapkan sarapan pagi, Di tengah kegiatan mereka, perhatian pun teralihkan oleh suara bel yang berbunyi,
Ting tong
“Siapa yang bertamu sepagi ini?” Ucap Ibu Do hyun,
“Tidak apa apa Eomma, biar aku saja.” Aisya melepas celemek yang sedari tadi ia kenakan,
Aisya bergegas menuju pintu dan membukanya,
Namun, Aisya tidak menemukan seorangpun di sana, Aisya berjalan sedikit keluar gerbang, Ia tetap tidak menemukan siapapun, Ketika berbalik, Aisya mendapati sebuah kado ukuran sedang, Ia kemudian meraihnya dan membawanya ke dalam rumah,
Aisya melihat namanya yang tertempel di pinggir kado, Ia kemudian membukanya,
“Aaaaaaa!!!” Jerit Aisya yang spontan langsung melempar kado yang ia pegang, Aisya ketakutan hingga melangkah mundur,
Mendengar jeritan Aisya, semua penghuni rumah pun satu persatu berdatangan,
“Ada apa?” tanya Do hyun yang pertama kali tiba,
Aisya dengan tangan bergemataran menunjuk ke arah yang berserakan,
Do hyun tak kalah syok melihat sebuah boneka yang bersimbah cairan merah seperti darah, dengan pakaian yang lusuh dan terkoyak.
Do hyun meraih boneka itu,
“Kurang ajar!” Do hyun membanting kasar boneka tersebut,
Ibu dan ayah Do hyun mencoba untuk menenangkan Aisya,
“Lebih baik, kita lapor polisi saja, ini sudah termasuk tindakan kriminal, dengan meneror seseorang seperti itu,” Ujar Ibu Do hyun
Do hyun pun terdiam,
***
Aisya di bawa ke kamarnya, Do hyun pun sudah meminta izin kepada pihak universitas untuk Aisya, begitupun ke tempat ia bekerja.
“jadi, kira kira siapa yang sudah melakukan hal keterlaluan seperti itu?” Tanya Aera yang tidak sengaja berpapasan dengan Do hyun di kampus,
“Entahlah, mungkin Seo jin, hanya dia satu satunya kemungkinan dan alasan semua ini,”
“Apa masih belum ada perkembangan kasusnya?”
Do hyun menggelengkan kepalanya,
“Seo jin seperti lenyap ditelan bumi setelah kasus penculikan dan penganiayaan itu,”
Aera hanya mengangguk angguk,
“Emm, Apa kau sudah menanyakan pada Aisya, mungkin ada orang lain selain seo jin yang menjadi musuhnya?”
“Tidak, Aku yakin Aisya tidak memiliki musuh, lagi pula ia baru disini, tidak mungkin Aisya memilikinya,”
“Ya, kita tidak pernah tau apa yang terjadi pada masa lalu Aisya, kan?”
“Tidak, Aku percaya padanya.”
Aera tersenyum tipis mendengarnya.
***
Di kediaman Do hyun,
Aisya tengah duduk diatas sajadah miliknya, menengadahkan kedua tangannya, air matanya pun mengalir begitu saja,
“Ya Alloh, Aku memohon ampun atas segala dosa dosa yang telah kuperbuat, berikanlah perlindunganMu, Jauhkanlah hamba dari marabahaya, Berikanlah keselamatan dari segala kesulitan dan kesusahan……”
Tanpa sengaja Do hyun melihat Aisya yang tengah berdoa dengan khusyuk,
‘Ya Tuhan, Apapun yang dia minta, kabulkanlah, meski aku tidak memahami apa yang dibicarakan, tapi aku tau, KAU jauh lebih mengetahui segalanya,’ Batin Do hyun diiringi senyuman tipisnya,
Do hyun pun meninggalkan aisya di ruangannya,
***
“Do hyun, kau sudah pulang?” Sapa Eomma,
“Iya Eomma,”
“Apa kau sudah memikirkan ide,bagaimana caranya untuk menemukan si peneror itu?”
“Belum Eomma,”
“Emm, Eomma punya ide,”
“ide apa?”
“Bagaimana jika kita jebak si peneror itu?”
“Menjebaknya? Bagaimana caranya?”
Ibu Do hyun pun membicarakan idenya pada Do Hyun,
***
Hari pun berganti,
Aisya mulai kembali beraktivitas seperti biasanya,
“Aisya?” panggil Aera, seraya melambaikan tangannya dari jauh,
Aisya membalasnya dengan senyuman dan lambaian tangan,
Aera pun berlari mendekat ke arah Aisya dan memeluknya erat,
“Aisya, bagaimana kabarmu?”
“Alhamdulillah, Aku baik baik saja,”
“Kudengar dari Do hyun, Seo jin menerormu?”
“Entahlah, masih belum dipastikan itu Seo jin, Tapi Aku rasa pelakunya bukan Seo jin,”
“A-apa? Apa kau yakin?”
Aisya mengangguk pasti,
“Rasanya itu tidak mungkin, tidak mungkin ada orang lain selain Seo jin yang bersikap seperti itu padamu,”
“Emm, Mungkin iya, tapi aku merasa ada orang lain selain Seo jin dalam hal ini,”
“Begitu ya, mudah mudahan kasus nya cepat selesai, dan pelakunya bisa segera ditangkap.”
“Terima kasih.”
Aisya pun mulai melangkah meninggalkan Aera yang terlihat menunjukkan senyuman di ujung bibirnya.