Penculikan Aisya

1382 Kata
Aisya berusaha untuk memberontak, Namun efek obat itu cepat membuat Aisya tidak sadarkan diri. Pria berbaju serba hitam itu menyeret Aisya masuk ke dalam mobil Van berwarna putih miliknya, seraya memperhatikan sekitar. *** Beberapa jam kemudian, Di sebuah ruangan bekas gudang yang sudah tidak terpakai, yang berada tidak jauh dari Asrama tempat tinggal Aisya, Aisya tersadar, dengan kepala yang terasa begitu berat, Ia mencoba untuk memfokuskan pandangannya, “Aww, Kepalaku sakit sekali. Dimana aku?” Ucapnya pelan. Aisya menatap ke arah depan dan mendapati seseorang yang tengah duduk manis di hadapannya sambil menyilangkan kakinya, dengan beberapa orang yang berdiri di belakangnya. “Kau sudah sadar rupanya,” Aisya terkejut mendapati dirinya dalam keadaan terikat di kursi, “Lepaskan!” Teriak Aisya, Namun teriakannya sama sekali tidak didengar oleh orang orang yang kini berada di hadapannya, “Aku mohon lepaskan aku! Seo jin.” Lirihnya “Kau pikir, aku akan mendengarkanmu? Huh! Jangan harap!! Orang orang sepertimu harus diberi pelajaran! Karena tipe orang orang seperti kalian hanya suka memanfaatkan kebaikan orang lain, kalian menjual rasa iba, agar kalian bisa dipandang oleh orang lain! menyedihkan!” Ujar Seo jin “Aku sama sekali tidak mengerti maksud pembicaraanmu!” Seo jin berdiri dari duduknya, dan memegang rahang Aisya dengan keras sehingga Aisya meringis kesakitan, “Aku, benci orang orang munafik sepertimu!” Tiba tiba, Seo jin menarik hijab yang dikenakan Aisya, Sehingga terlihat jelas rambut panjang hitam berkilau miliknya, Aisya menjerit dan menangis, Ia merasa tidak berdaya untuk melawan Seo jin dengan tangannya yang terikat. Plaakk Satu tamparan keras Seo jin layangkan pada pipi Aisya, Hingga sudut bibirnya mengeluarkan darah segar. Puas menyiksa Aisya, Seo jin menyinggungkan senyuman di sudut bibirnya, “Ayo, Kita pergi dari sini,” Seo jin bersama teman temannya melangkah pergi meninggalkan Aisya, *** Hari pun berganti, Aera yang baru saja tiba di kampus merasa heran karena ia tidak mendapati sahabatnya di dalam kelas, “Kemana Aisya? Apa dia kesiangan?” Gumamnya Hingga jam istirahat Aera tidak melihat Aisya, Aera pun mulai khawatir, Ia kemudian mencoba untuk menemui Do Hyun di kelasnya, “Do Hyun?” Panggil Aera Do hyun yang tengah bersama teman temannya pun menghampiri Aera, “Ada apa?” Tanya Do hyun seraya menatap sekitar “Dimana Aisya?” Tanya Do Hyun lagi Aera mengerutkan dahinya, “Eh, Bukankah seharusnya aku yang bertanya padamu? Kenapa Aisya tidak masuk kelas hari ini?” Pertanyaan Aera menyadarkan Do hyun jika ada sesuatu hal yang tidak beres sedang terjadi, Do hyun langsung berlari pergi, menuju ke asrama Aisya, Setibanya di asrama, Do Hyun segera menemui pengurus asrama, “Permisi,” Dengan nafas terengah engah Do Hyun mulai angkat bicara “Apakah semalam siswa bernama Aisya ada disini?” Tanya Do hyun “Oh, Semalam kebetulan aku yang menjaga, aku rasa dia tidak pulang, saat siang hari ia sempat menghubungi, akan pulang telat karena akan menemui saudaranya dulu.” Do hyun mulai panik, Ia berjalan ke arah luar dan memperhatikan sekitar, “Dimana kau Aisya?” Gumamnya seraya mengusap kasar wajahnya. Matanya pun beralih ke arah CCTV yang terpasang diluar gerbang asrama, Do hyun kembali berlari dan meminta rekaman CCTV semalam pada penjaga asrama, Penjaga asrama itu pun menunjukkan isi CCTV semalam, Mata mereka pun membulat sempurna saat melihat Aisya yang dibekap oleh seseorang dan diseret masuk ke dalam mobil Van berwarna putih itu, “Gawat, ini namanya penculikan, Aku akan menghubungi polisi.” Ucap sang penjaga asrama yang bergegas meraih telepon dan menelepon polisi saat itu juga. Sedangkan Do hyun mengamati plat nomor mobil Van tersebut. “Sepertinya, Aku mengenali mobil ini.” Ucapnya pelan, “Ah, Mobil ini kan, Mobil yang sering digunakan oleh salah seorang karyawan perusahaan Seo jin untuk mengantarkan barang.” Do Hyun langsung kembali berlari menuju mobilnya yang ia parkir kan di dekat asrama. Do Hyun menghubungi Aera, In Call “Hallo, Aera?” “Iya, Ada apa?” “Aku tau dimana Aisya, kau datanglah kesana dengan membawa polisi,” “Baik.” End Call “Aisya, bertahanlah! aku akan menolongmu.” Dilain sisi, Luka lebam yang terlihat di hampir seluruh tubuh Aisya membuat Aisya semakin lemah, bekas ikatan tali di pergelangan tangannya pun mulai berubah warna menjadi merah, Seo jin tertawa puas melihat Aisya yang hanya tertunduk lemah, Ia kemudian menarik rambut Aisya kasar, “Aku benar benar puas melihatmu seperti ini, Ini adalah peringatan terakhirku untukmu! Jika kau masih saja mendekati oppa ku, Aku akan pastikan, kau tidak hanya kehilangan penutup kepalamu itu, tapi juga kau akan kehilangan beasiswamu dan terlebih kepalamu.” Seo jin pun melepas pegangannya kasar. Tiba tiba, “Seo jin!!!” Teriak seseorang dari muka pintu, Seo jin pun menatap ke arah suara, kakinya melangkah mundur saat ia melihat sosok Do hyun yang tengah berjalan mendekat ke arahnya dengan tatapan tajam dan rahangnya yang mengeras. Do Hyun semakin murka melihat aisya yang tidak berdaya, dengan hijab yang sudah terjatuh di sembarang tempat. “Kau!” Do Hyun menunjuk Seo jin “D-dengarkan aku! ini semua tidak sama dengan apa yang kau pikirkan, kau harus mendengarkan penjelasanku terlebih dahulu.” Seo jin terbata bata “Aku tidak akan mendengarkan apapun lagi darimu!” Ketika tangan Do Hyun bersiap untuk menampar keras seo jin, seseorang berhasil menggagalkannya, “Hentikan!” Ucapnya tegas, “Aera, lepaskan aku! Biar aku memberinya pelajaran!” “Tenanglah! Jika kau seperti ini semuanya akan terasa sulit untuk Aisya, terlebih kau akan terlihat sama saja dengan mereka.” Do hyun menurunkan tangannya, Ia lebih memilih memungut hijab yang telah kotor karena dilemparkan ke sembarang tempat, dan memasangkannya kembali ke kepala Aisya. Aera membantu melepaskan ikatan yang mengikat Aisya, Aera tersenyum ke arah Aisya yang tidak sadarkan diri, Seo jin memanfaatkan momen itu untuk melarikan diri, Do Hyun yang menyadarinya pun mencoba untuk mengejar Seo jin, namun langkahnya dihalangi oleh Aera, “Sudah biarkan dia pergi! Dia akan menjadi urusan polisi, lebih baik kita tolong Aisya, dia lebih memerlukan kita.” “Hey! Awas kau Seo jin!!” Teriak Do hyun Namun, teriakan Do Hyun tidak dihiraukannya. *** Do Hyun dan Aera membawa Aisya ke rumah sakit terdekat. beberapa jam kemudian, Aisya sadar “Terima kasih sudah menolongku,” Do hyun dan aera pun tersenyum, “Sama sama.” Ucap mereka bersamaan “Lain kali, lebih berhati hatilah lagi,” Ujar Do hyun Aisya pun tersenyum mengangguk, “Kalau begitu, Aku akan membelikanmu makanan yang enak dan bergizi, agar kau bisa cepat pulih, karena makanan rumah sakit itu hanya akan membuatmu tidak enak makan,” Do Hyun terkekeh, “Hey! Jangan sembarangan membelikan makanan ya!” Ucap Aera, “Iya.. Iya,” Do hyun pun melangkah pergi, Tak lama Suara dering ponsel milik Aisya pun terdengar, Aisya meraih ponselnya yang diletakkan di samping meja tempat tidur, Aisya syok melihat nomor orang tuanya yang ternyata menghubunginya, “Gawat,” Gumamnya “Ada apa?” tanya Aera “Ibuku menghubungiku,” “Angkatlah,” “Emm, bisakah kau mengangkatnya untukku?” “Aku? Kenapa?” “Aku tidak bisa berbohong pada ibu tentang keadaanku, Kau tau kan, Ibu ku selalu memiliki perasaan yang kuat pada anaknya.” Aera pun menghela nafas kasar, “Baiklah,” Aera pun mengangkat teleponnya, In Call “Assalamu’alaikum Aisya?” “Emm, Maaf Nyonya saya temannya Aisya,” “Oh begitu, Dimana Aisya?” “Aisya sedang pergi ke toilet Nyonya,” “Ooh, Tapi dia baik baik saja kan? Soalnya, perasaan ibu tidak enak akhir akhir ini,” “O-Oh, Emm Aisya baik baik saja, dia belajar dengan baik, makan nya pun baik, tidurnya pun baik,” “Alhamdulillah wa syukurillah, mungkin hanya perasaan ibu saja, Ya sudah, Tolong sampaikan salam buat Aisya,” “Ah Iya, Apa mau aku panggilkan Aisya?” “Tidak usah, Tidak apa apa, ibu takut akan mengganggu waktu belajar Aisya, kalau begitu terima kasih ya, lain waktu ibu akan menghubungi aisya lagi.” “I-iya bu.” End call Aera bernafas lega, “Untung saja tidak ketahuan,” Ucap Aera “Tapi, Aku rasa kau benar, Ibu mu benar benar memiliki insting semacam itu, Dia benar benar merasakan ada sesuatu yang terjadi pada putrinya.” Terang Aera “Ya, begitulah seorang ibu,” Tatapan Aisya berubah sendu, “Oh iya, bagaimana ceritanya kau bisa diculik seperti itu?” Tanya Aera Aisya mulai menceritakan tentang apa yang terjadi padanya,
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN