Aisya menatap heran Ayah dan anak itu,
"Emm, Cantik. Tapi Ayah tidak bisa langsung memutuskan," Ujar Ayah Do Hyun
Aisya mengerutkan dahinya,
"Memutuskan? M-maksudnya?" Tanya heran Aisya.
"Maksud Appa, Ia belum bisa memutuskan apa kau pantas untuk membantu ibu disini atau tidak," Goda Do Hyun
Aisya terdiam,
'Maksudnya aku belum pantas jadi pelayan disini? Sombong sekali, Astagfirulloh, Kenapa aku dipertemukan dengan mereka, Lagipula kenapa Do Hyun malah menyuruhku kesini? Ini tidak ada dalam perjanjian!' Batin Aisya
"Aisya? Aisya?" Panggil Ibu Do Hyun
Lamunannya pun buyar mendengar seseorang yang memanggilnya,
"Ah, I-iya Nyonya," Jawab Aisya
"Esok hari, bisakah kau kemari? Aku akan sangat merasa terbantu jika kau mau kembali kesini,"
Aisya menatap Do Hyun,
Do Hyun hanya mengangguk seraya tersenyum ke arah Aisya.
Aisya pun hanya mengangguk pasrah.
***
Setelah mengobrol cukup lama, Do Hyun mengantarkan Aisya kembali ke asrama kampus.
Di perjalanan,
"Kenapa kau menyuruhku untuk membantu ibumu di rumah?" Tanya Aisya langsung
"Memangnya kenapa? Kau kan sudah berjanji,"
"Tapi, Aku hanya berjanji untuk menjadi asisten mu selama 7 hari tidak lebih!"
Do Hyun tersenyum,
"Ya, dan selama itu kau harus membantu keluargaku juga,"
"Tapi itu tidak ada dalam perjanjian!"
"Tentu, Tapi.. Kau tidak ingin semua ini menjadi masalah untukmu, kan?"
"Kau! Kau memanfaatkan kelemahan ku untuk kepentingan mu?"
"Emm, Tidak! Lebih tepatnya, menggunakan kesempatan yang ada dengan baik."
Aisya langsung terdiam dengan raut wajah kesalnya.
"Kau tidak perlu khawatir, Aku hanya memintamu untuk menemani eomma untuk beberapa hari, Aku adalah anak tunggal di rumah, dan Appa selalu sibuk dengan pekerjaannya, karena itu setidaknya selama beberapa hari ke depan, akan ada yang menemaninya di rumah."
Aisya menatap sendu Do Hyun yang tengah fokus menyetir,
"Baiklah," Aisya menyetujui permintaan Do Hyun.
"Gomawo,"
***
Hari berganti,
Aisya melangkah cepat menuju ruang kelas, Namun langkahnya terhenti seketika, seorang perempuan tiba tiba berada di hadapannya menghalangi langkahnya.
Aisya mencoba melewatinya, Namun lagi lagi langkahnya dihalangi oleh gadis itu,
"Apa maumu?" Tanya Aisya
Seo jin tersenyum miring,
"Huh, Kau masih bertanya apa mau ku?" Tanpa mengeluarkan kata kata yang lebih dari itu, Seo jin menyeret Aisya menuju belakang kampus yang sepi,
Seo jin pun melepas pegangan nya kasar hingga membuat Aisya jatuh tersungkur,
"Aww," Ringis Aisya
Seo jin melipat kedua tangannya di dadanya,
"Aku sudah memperingatkanmu untuk menjauhi Do Hyun oppa! Ada apa denganmu? Apa kau tidak bisa mendengarnya dengan baik?"
Aisya berdiri perlahan,
"Aku sama sekali tidak memiliki urusan apapun denganmu, Jika kau ingin melarang maka yang harus kau larang adalah Do Hyun! Bukan aku!" Ucap Aisya lantang,
"Kau berani padaku?"
Amarah Seo Jin semakin membara mendengar ucapan Aisya, Ia mendorong Aisya kembali,
Plaakk plaakk
Tamparan keras kembali seo jin tujukan pada Aisya, hingga sudut bibir Aisya mengeluarkan darah,
"Aku akan melakukan lebih dari ini, jika kau tetap tidak mendengar peringatan ku!" Seo jin melangkah pergi,
Aisya mengepalkan tangannya kuat, air matanya pun pecah, sambil merasakan sakit di tulang pipinya bekas tamparan keras yang bertubi tubi, Ia kemudian menghapus air matanya kasar, mengambil kembali tas dan bukunya, Lalu berlari menuju ke kelasnya.
Setibanya di depan kelas,
Aisya ragu untuk melanjutkan langkahnya, namun ia memberanikan diri untuk tetap masuk kelas,
Tangannya pun perlahan membuka pintu kelas dan,
Dugh
Tiba tiba sebuah kantong berisikan tepung jatuh tepat diatas kepalanya, sehingga seluruh tubuhnya dipenuhi oleh tepung, sontak seluruh siswa menertawakannya,
Aisya tidak mampu berbuat apapun, Ia hanya mematung,
Di sudut kelas, Seo jin menyunggingkan senyuman di ujung bibirnya,
Seorang dosen pun tiba,
"Ada apa ini? Kenapa berantakan seperti ini?"
"Iya pak, Tadi Aisya membawa tepung ke sekolah, dan malah terjatuh mengenai dirinya sendiri!" Jawab salah seorang siswa
Aisya syok mendengarnya, Ia menatap dosen yang berada di hadapannya dan menggeleng gelengkan kepalanya,
"Aisya, rapikan ini! Kau adalah seorang mahasiswa, bukan lagi anak SMA! Jadi, jaga sikapmu!" Tegas sang Dosen
"T-tapi.." Aisya mencoba untuk menyanggahnya, Namun Dosen itu malah berlalu pergi.
Para mahasiswa pun kembali menertawai Aisya.
Aisya hanya bisa menundukkan pandangannya,
Dilain sisi,
Kim Aera yang tidak berada di kelas, mendapatkan foto Aisya yang berlumuran tepung di grup chat teman temannya,
"A-apa ini?" Aera terlihat syok melihat foto tersebut
Ia mencoba untuk menghubungi Aisya, namun ponselnya tidak aktif.
Aera pun menghubungi Do Hyun,
In Call
"Hallo, Do Hyun?"
"Iya, Ada apa?"
"Bisakah kau pergi ke kelas Aisya?"
"Untuk apa?"
Aera menjelaskan pada Do Hyun jika ia mendapatkan foto Aisya yang berlumuran tepung, Aera khawatir jika Aisya mendapat rundungan dari teman temannya,
Do Hyun langsung berlari setelah mendengarnya,
Sesampainya di kelas Aisya,
Ia mendapati Aisya yang tengah membersihkan kelas sendirian dengan air mata yang terus mengalir, dan tubuh yang dipenuhi oleh bekas tepung, Tatapannya berubah sendu, Ia kemudian menghampiri Aisya,
Do Hyun meraih Vacum Cleaner yang tengah dipegang oleh Aisya,
"Biar aku saja yang membersihkannya,"
"Tidak perlu, Aku bisa sendiri."
Do Hyun memegang erat Vacum tersebut,
"Jangan keras kepala! Jangan ditahan! Jika kau memang ingin menangis, menangislah!"
Aisya melepas pegangannya pada Vacum tersebut, Ia kemudian berlari pergi,
"Aisya!" Panggil Do Hyun
Do Hyun pun berlari mengejar Aisya, Hingga di taman yang tidak jauh dari kampus, Nampak Aisya yang terduduk dengan tangisan yang pecah,
Do Hyun mengeluarkan sapu tangan miliknya, dan menyodorkannya pada Aisya,
"Gunakan ini, untuk menghapus air matamu."
Aisya menatap ke arah Do Hyun sekilas, dan meraih sapu tangan tersebut, Ia menghapus perlahan air matanya menggunakan sapu tangan itu.
'Melihatmu seperti ini, rasanya aku ingin sekali memelukmu dan menenangkan mu, Tapi.. Aku tau, dalam agamamu, laki laki dan perempuan tidak boleh bersentuhan,' Batin Do Hyun
Do Hyun pun mengalihkan pandangannya ke arah lain,
"Siapa yang melakukan ini padamu?" Tanya Do Hyun tanpa menatap Aisya,
"Bukan urusanmu,"
Jawaban Aisya membuat Do Hyun kesal,
"Ckk, Baiklah! Jika kau tidak mau memberitahu, Aku akan mencari tau sendiri,"
Do hyun pun melangkah pergi, Namun baru beberapa langkah..
"Jangan ikut campur urusanku! Aku tidak ingin semuanya semakin memburuk! Aku tidak peduli dengan yang terjadi, Seberat apapun itu! Aku hanya ingin bersekolah dan lulus dengan nilai yang bagus! Aku hanya perlu bertahan selama tiga tahun, Jadi.. Jangan urusi urusan ku! Aku tidak ingin beasiswa ku dicabut begitu saja karena masalah seperti ini,"
Do Hyun membalikkan tubuhnya
"Kau tidak usah khawatir! Aku tidak akan mencampuri urusanmu! Aku hanya akan membuat efek jera untuk pelakunya, karena aku tidak ingin ada lebih dari satu Aisya yang mendapat perlakuan seperti ini!"
Do Hyun pun melanjutkan langkahnya dan meninggalkan Aisya yang terdiam mematung.
***
Dengan raut wajah penuh amarah, Do Hyun menghampiri beberapa irang yang tengah berkumpul di depan kelas, Mereka rupanya teman sekelas Aisya,
"Hey! Apa kau tau siapa yang sudah melakukan hal tadi pada Aisya?" Ucap Do Hyun dengan nada tegas,
Mereka terlihat saling menatap seolah mencoba menyembunyikan sesuatu,
Do Hyun menarik kemeja salah satu siswa,
"Katakan!" Bentak Do Hyun
Terlihat raut wajah ketakutan pemuda itu di depan Do Hyun,
"A-aku tidak tahu, sunbaenim."
"Huh! Kau pikir aku percaya!"
Do Hyun memasang tatapan mengintimidasi pada pemuda itu, sehingga tangannya bergemetaran,
"S-seo, Seo jin yang melakukannya."
Do Hyun melepas perlahan pegangannya,
"Seo Jin, Tentu, Pasti dia." Do Hyun menepuk nepuk pelan d**a pemuda itu dan melangkah pergi mencari Seo jin.
"Jika Seo jin tau, mati kau!" Ucap salah seorang siswi pada pemuda yang diancam Do Hyun.
***
Do Hyun mencari keberadaan Seo jin, Hingga pada akhirnya ia menemukan seo jin sedang berkumpul bersama teman temannya,
"Seo Jin !" Panggil Do Hyun
Seo Jin menatap ke arah suara,
"Oppa? Do Hyun oppa?" Seo jin sangat senang melihat Do Hyun yang kini berada di hadapannya.
"Apa kau kesini untuk mencari ku?" Seo jin tersipu malu saat menanyakannya,
"Tidak!"
Raut wajah seo jin pun berubah, rasa kesalnya pada jawaban Do Hyun, membuat wajahnya cemberut,
"Lalu, untuk apa oppa kesini?" Tanya Seo jin.