“Perasaan bersalah ku yang memintanya seperti itu,” Terang Appa
Pandangan Eomma pun tertunduk,
“Kau tau kan, Bagaimana sikapku pada Aisya saat itu hingga membuatnya pergi dari sini, Karena itu aku ingin menebusnya,”
Flashback
Hari pernikahan pun tiba,
Do Hyun mengenakan setelan jas berwarna putih yang nampak serasi dengan gaun pengantin yang dikenakan oleh Arsyla,
Namun, Tidak ada raut wajah bahagia di wajah Do Hyun,
Ia menatap ke arah luar jendela,
“Aisya,” Ucapnya pelan Hingga sudut matanya pun mengeluarkan cairan bening itu,
Tok tok tok
Terdengar suara ketukan pintu dari arah luar,
“Do Hyun, Apa kau sudah siap? Kita harus berada di altar sekarang,”
Do Hyun hanya terdiam,
Matanya menangkap sebuah pisau buah yang terletak diatas meja,
Ia kemudian meraihnya dan memandangnya sejenak,
“Lucu sekali, Aku benar benar menyedihkan, Aku bahkan tidak bisa memperjuangkanmu sama sekali,” Ucap Do Hyun seraya tersenyum miris meneteskan air matanya,
Ia mendekatkan pisau itu ke pergelangan tangannya, perlahan Ia menggoreskan pisau itu di pergelangan tangannya,
Cairan berwarna merah itu pun mulai keluar,
Tiba tiba
Pintu terbuka, Appa melihat apa yang tengah dilakukan oleh Do hyun, ia bergegas menepis pisau itu dari tangan putra semata wayangnya,
“Apa yang kau lakukan?” Bentak Appa
Do Hyun tertawa tidak jelas,
“Aku hanya mencoba untuk bisa pergi ke surga lebih cepat, Karena disini sudah tidak ada lagi yang bisa aku lakukan.” Tutur Do Hyun,
Appa memegang kedua bahu sang putra,
“Apa kau merasa se tertekan itu?”
Do Hyun menundukkan pandangannya, Tangisnya pun pecah, Ia berlutut di hadapan ayahnya itu,
“Aku tidak bisa Appa, Tolong jangan paksa aku untuk menikahi Arsyla,”
Appa terdiam mematung, Ia melihat bagaimana Do Hyun sangat mencintai Aisya, Betapa terpuruknya Do Hyun setelah Aisya pergi, dan itu membuatnya merasa bersalah,
“Maaf Tuan, semua orang sudah menunggu,” Ucap salah seorang panitia pernikahan,
“Iya,”
Appa pun berjongkok di hadapan Do Hyun dan mengulurkan tangannya,
“Ayo, Kita pergi! Mereka semua sudah menunggu,”
Do hyun kemudian menghapus air matanya kasar, dan meraih tangan Appa,
Do Hyun tahu ia tidak bisa melarikan diri dari semua ini, karena kedua orang tuanya akan menanggung rasa malu sepanjang hidupnya,
Appa merangkul Do Hyun menuju Altar pernikahan,
***
Do hyun tengah menunggu kedatangan mempelai pengantin perempuan,
Namun sudah hampir 30 menit pengantin perempuan itu masih belum muncul,
Tiba tiba..
Salah satu perias make up pengantin berlari menghampiri Do hyun dan membawa secarik kertas,
Dengan nafas terengah engah, Ia mencoba untuk bicara,
“T-Tuan, Ada surat dari pengantin perempuan.” Terangnya
Do hyun pun membaca isi pesan tersebut,
‘Maaf, Aku berubah pikiran, Aku sebenarnya tidak mengandung anakmu, dan juga tidak mencintaimu, Aku mengatakan itu hanya agar Aisya kalah dari ku, Aku pikir, rasanya aku tidak ingin terpenjara dalam hubungan pernikahan yang membosankan bersamamu, Dan aku sebenarnya memiliki seorang kekasih, Kami saling mencintai dan akan menikah dalam waktu dekat,’
Senyuman Do Hyun berkembang di wajahnya,
Appa yang merasa penasaran pun mengambil kertas tersebut dan membacanya,
“Apa? Jadi dia menipuku?” Appa murka setelah membaca surat dari Arsyla, ia merobek kertas itu dan melemparkannya,
Appa menatap semua orang yang hadir,
“Pernikahan ini dibatalkan!” Teriak marah Appa
Do Hyun pun tidak bisa menutupi kebahagiaannya, Ia meloncat kegirangan, Appa menatapnya heran,
“Kau kenapa?” Tanya Appa,
Do Hyun pun memeluk Appa erat.
***
Di lain sisi,
Seorang pria paruh baya menghampiri seorang gadis cantik yang tengah duduk sendirian di taman,
“Terima kasih,” Ucap pria itu
Gadis itu pun menoleh ke arahnya dia tersenyum,
“Sesuai perjanjian, Kau akan menjamin semua kebutuhanku dan juga anakku,” Arsya melemparkan senyuman seraya mengelus lembut perutnya yang mulai terlihat buncit,
“Tentu,”
‘Maaf, Appa diam diam melakukan semua ini demi kebahagiaanmu, tapi Appa juga tidak ingin kehilangan cucu Appa, meski cucuku ada dengan cara yang salah, Tapi dia tidak boleh menjadi korban karena keegoisanku, Akan aku pastikan cucuku tetap dalam perawatan dan perlindunganku,’ Batin Appa.
***
“Appa?” Panggil Eomma yang melihat Appa melamun,
“Kenapa malah melamun?” Tanyanya
Appa pun tersenyum lembut,
“Tidak ada, Aku hanya sedang memikirkan tentang Do Hyun,”
Eomma membalas senyuman Appa,
“Apa tidak apa apa, Jika Do Hyun kembali bersama Aisya?”
Appa menggelengkan kepalanya pelan,
“Tidak apa, Aku hanya ingin melihat dia bahagia, Jadi aku akan memberikannya kesempatan untuk kembali memperjuangkan Aisya,”
Eomma kemudian memeluk erat Appa,
Di lain sisi,
Aisya terbangun di sebuah tempat yang lembab dan mengerikan, ia dikejar oleh seseorang yang tidak ia kenal di tengah hutan,
“Tolong! Aku mohon tolong aku!” Teriak Aisya yang terus berlari
Aisya tergelincir, Hingga Ia jatuh terperosok ke dalam sungai, dan terombang ambing oleh air yang mengalir deras,
“To.. long!” Aisya hampir tenggelam,
Aisya berhasil berenang ke tepian sungai,
Dengan nafas terengah engah, Ia mencoba untuk mengatur nafasnya,
“Dimana aku?” Ucap Aisya Yang melihat sekeliling,
Dengan badan yang basah, ber gemetaran karena kedinginan, Ia terus berjalan sendirian dan ketakutan,
Aisya terisak,
“Aku takut,”
Tiba tiba sesosok pria dengan mengenakan pakaian serba hitam dengan masker hitam dan topi hitam berada di hadapannya,
Aisya ketakutan dan melangkah mundur,
Ia kemudian berlari menjauh dari pria itu,
Sedangkan pria itu terus mengejar Aisya,
Aisya pun tertangkap,
“Lepas! Lepaskan aku!” Teriak Aisya ketakutan,
“Sya! Lo kenapa Sya?” Ilham menepuk nepuk pipi Aisya,
Aisya pun terbangun, dan langsung memeluk Ilham dengan erat, membuat Ilham terkejut,
“Tolong! Aku mohon Tolong aku!” Ucap Aisya,
Ilham mengerutkan dahinya,
“Sya! Lo jangan ngomong pake bahasa korea, sumpah gue gak ngerti,”
Mendengar suara Ilham, Aisya tersadar dan langsung melepas pelukannya,
“lo ngapain disini?” Tanya sinis Aisya,
“Udah gue jagain, bukannya makasih malah ngomong gitu,”
“S-sorry,”
Tiba tiba Fathan melangkah masuk ke dalam,
“Ada apaan nih?” Tanya Fathan
“Gapapa,” Jawab singkat Aisya
Fathan membawa sekantong makanan untuk Ilham,
“Woow, Nasi onigiri, Ini yang tuna kan?” Tanya Ilham,
“Iya, sesuai pesanan,”
Ilham menikmati makanannya dengan lahap,
Aisya menelan salivanya kasar,
“Kayaknya enak?” tanya Aisya
Fathan dan Ilham pun menatap ke arah Aisya,
“Keknya ada yang ngiler,” Ledek Ilham
“Kamu mau?” Fathan menyodorkan nasi onigiri yang baru,
Aisya dengan cepat mengambil nasi itu dan melahap nya,
Fathan dan Ilham membolak dengan mulut menganga,
“Kayaknya dia laper bener,” Ucap Ilham yang kembali mengunyah makanannya perlahan,
“Ham, Beliin lagi dong, masih laper,”
“Eh buset, Lo nyuruh gue? Fathan aja noh,”
Aisya melihat ke arah Fathan sekilas,
“Dia kan udah barusan, sekarang giliran lo,”
Fathan terkekeh melihat perdebatan Aisya dan Ilham,
“Udah gapapa Sya, biar aku aja, Kamu kan tau Ilham gak bisa bahasa korea, jadi Dia bisa bisa kesasar gak balik lagi,”
Aisya memutarkan bola matanya,
“Ngerepotin ya ni orang, udah kayak bayi yang gak boleh ditinggalin,” Ujarnya,
Ilham menatap kesal Aisya,
“Ni gak nyadar, Kalo dia sendiri itu juga lebih ngerepotin dari gue,”
“Udah udah ah! Jangan berantem,”
Fathan yang baru saja berdiri dari duduknya dikejutkan oleh kedatangan Do Hyun.