Kedatangan Do Hyun membuat suasana berubah,
Menyadari hal itu Ilham merangkul Fathan,
“Than, Yok kita beli nasi onigiri nya lebih banyak lagi, Gue anterin, biar lo gak kesusahan buat bawa nya,” Ilham langsung menarik Fathan untuk pergi meninggalkan mereka berdua,
Fathan melepas rangkulan Ilham,
“Lo apa apaan sih? Gue mau nemenin Aisya,” Langkah Fathan dihalangi oleh Ilham,
“Jangan! Biarin Aisya selesaiin masalahnya sendiri,”
“Gak!”
Fathan yang hendak kembali melangkah pun ditarik oleh Ilham untuk pergi,
“Eh, Lepasin!” Teriak Fathan
Namun, Ilham tidak menghiraukannya.
Sampai di halaman rumah sakit, Fathan kembali melepas pegangan Ilham,
“Kenapa sih Lo ngalangin terus? Bukannya Lo sendiri yang bilang kalau kita harus ada disampingnya?” Ucap Fathan yang mulai emosi
“Than, Kita gak tau Dia mau ngapain kan? Biarin aja mereka kita kasih waktu buat ngobrolin masalah mereka yang masih belum selesai di masa lalu,”
“Paan sih? Jangan sok bijak deh!” Fathan kembali melanjutkan langkahnya,
“Kalau gue jadi lo, Gue gak bakalan lakuin itu, Karena gue gak ingin Aisya merasa penasaran dengan apa yang terjadi, dan menyesali semuanya, Gue bakalan kasih dia waktu untuk benar benar menyelesaikan semuanya, baru setelah itu gue akan masuk ke dalam hatinya setelah hatinya benar benar sembuh,”
Langkah Fathan terhenti, Ia membalikkan tubuhnya,
“Apa maksud Lo? Lo, Cinta sama Aisya?”
“Ppfftt, Lucu banget lo bisa ngomong kayak gitu, tadi gue kan udah bilang, kalau gue jadi lo, berarti itu memisalkan diri gue jadi diri lo,”
Fathan berpikir sejenak, Ia kemudian menatap Ilham,
“Jadi, Lo dah tau?”
Ilham mengangguk pelan, “Ya, Gue tau Lo cinta sama dia,”
Fathan terdiam mematung,
“Gue juga tau, Tujuan Lo bawa Aisya bukan hanya masalah pekerjaan kan? Tapi juga tentang diri Aisya yang ingin lo lebih tau dari sekedar informasi dari gue,” tutur Ilham
“Dari mana lo tau?”
Ilham tertawa kecil,
“Lo gak perlu tau gue tau dari mana, Karena buat gue itu cuman masalah kecil,”
Ilham menghampiri Fathan dan kembali merangkulnya,
“Intinya, Biarin Aisya menyelesaikan masa lalunya dulu, setelah itu lo bisa menyusun masa depan yang baik sama dia,”
Mereka pun melangkah pergi bersama,
***
Dilain sisi,
Do Hyun menatap nanar Aisya,
“Bagaimana keadaanmu?” Tanya Do hyun
“B-Baik,” Ucap gugup Aisya
“Aku ingin membawamu ke suatu tempat,”
“Kemana?”
Do Hyun pun tersenyum,
Ia membawa Aisya ke sebuah tempat favorit mereka saat mereka sedang bertengkar tempat untuk menenangkan diri,
Dengan mata yang ditutup oleh kain, Aisya dituntun oleh Do hyun untuk melangkah,
“Kita sudah sampai,” Ucap Do Hyun,
Ia kemudian membantu Aisya melepas kain yang menutupi kedua mata Aisya,
“Kau boleh membuka matamu,”
Perlahan, Aisya membuka matanya,
Kedua matanya membulat sempurna saat ia melihat sebuah bangunan yang besar dan cukup luas dengan kaligrafi tulisan ‘Allahu Akbar di depan pintu,’
Mata Aisya berbinar binar menatap bangunan tersebut,
“Subhanallah, Ini sangat bagus dan menenangkan,” Aisya takjub melihat kokohnya bangunan yang berdiri di tahun 70 an itu,
“Kau suka?” Tanya Do Hyun
Aisya mengangguk cepat seraya tersenyum manis,
Do hyun kemudian mengajak Aisya untuk masuk ke dalam,
Terdengar kumandang suara adzan ashar dari dalam masjid,
Aisya menatap ke arah Do Hyun, seolah memintanya izin untuk pergi,
“Pergilah,” Do hyun tersenyum menatap Aisya,
“Aku tidak akan lama,” Ucap Aisya
Aisya pun melenggang pergi masuk ke dalam masjid untuk melaksanakan sholat ashar,
“Suara adzan ini, sangat indah terdengar,” Ucap pelan Do hyun seraya memejamkan matanya,
Hatinya terasa bergetar saat mendengar lantunan adzan, Hingga tak terasa ia meneteskan air mata,
Do Hyun pun membuka kedua matanya dan berbalik, Ia hendak melangkah pergi, namun langkahnya seakan tertahan dan membuatnya berbalik kembali dan melangkah masuk perlahan,
Do Hyun sudah beberapa kali melakukan sholat berjamaah, meski ia sendiri tidak tau apa yang harus diucapkan, Namun perasaan Do hyun menuntunnya untuk mengikuti gerakan yang dilakukan oleh imam.
Selesai melaksanakan sholat, Ia mengangkat kedua tangannya, mengikuti seseorang yang berada di hadapannya,
‘Dia menangis?’ Ucap Do hyun dalam hati,
Do Hyun mencoba mendengarkan samar samar apa yang diucapkan oleh orang tersebut,
“Ya Alloh, Ampunilah semua dosa dosa hamba, dosa kedua orang tua hamba, dosa istri hamba, dan dosa seluruh kaum muslim, ampunilah kami yang sering merasa tidak bersyukur dan merasa kecewa yang berlebih saat semua tidak berjalan sesuai dengan yang kami harapkan, Aku selalu terlalu mengejar sesuatu, yang pada akhirnya sering membuatku kecewa saat aku tidak berhasil mendapatkannya, aku sangat bekerja keras sehingga aku selalu merasa ini pantas ku dapatkan karena ini semua hasil kerja kerasku, padahal engkaulah yang maha pengabul doa yang membuat segala yang sulit menjadi mudah, Ampuni aku Ya Alloh yang terlalu sering merasa sombong atas apa yang aku capai….”
Do hyun pun menundukkan pandangannya,
‘Aku tidak pernah berdoa seperti itu, aku selalu merasa semua hal manis yang aku dapatkan memanglah hasil kerja kerasku, aku sama sekali tidak pernah berpikir tuhan ikut andil di dalamnya,’ Batin Do Hyun
Dari kejauhan, Tanpa sengaja Aisya melihat Do Hyun yang tengah tertunduk seraya meneteskan air matanya,
‘Aku belum pernah melihat seseorang yang berdoa khusyuk seperti itu,’ Batin Aisya
Ia kemudian melangkah keluar dan menunggu Do Hyun di sana,
Tak lama Do Hyun pun menghampiri Aisya,
“Kau menungguku?”
Aisya mengangguk seraya tersenyum,
“Ayo,” Ajak Do hyun
“Kemana?”
“Aku akan mengajakmu ke suatu tempat,”
Do Hyun kemudian menarik tangan Aisya,
***
Mereka tiba di street food korea,
“Tempat apa ini? Rasanya tidak asing.” Ucap Aisya yang mencoba mengingat ingat
“Ini Street Food yang sering kita kunjungi,”
“Street Food?”
Do Hyun mengangguk,
“Ayo, Kita kesana,”
Aisya pun mengikuti langkah Do Hyun,
“Sudah sampai,”
“Dimana ini?” Tanya Aisya
“Ini adalah kedai yang menjual Bungeoppang,”
“Bungeoppang? Apa itu?”
Do Hyun menghela nafas panjang,
“Sudahlah, Ayo!” Do Hyun mengajak masuk Aisya,
“Hallo, selamat sore, mau pesan yang mana?” Tanya si penjual
“Tolong Bungeoppang isi krim kacang satu, dan isi buah buahan satu,” Ucap Do Hyun
“Baik,”
Tak butuh waktu yang lama untuk mempersiapkan makanan tersebut,
“Ini, Silahkan.”
“Terima kasih,”
Do Hyun pun memberikan bungeoppang isi krim untuk Aisya,
“Cobalah, Ini adalah makanan kesukaanmu,” Terang Do hyun
Aisya pun meraihnya,
Dengan ragu, Aisya mencoba untuk memakannya sedikit,
“Hmm, Yummy.” Ucap Aisya,
Ia langsung memakannya dengan lahap,
Do Hyun tertawa melihat Aisya yang begitu lahap hingga mulutnya penuh dengan makanan tersebut,
“Hey, pelan pelan! Kau bisa tersedak nanti, Tidak akan ada yang merebut makananmu,”
Uhhuk uhhuk
Aisya tersedak,
“Kau tidak apa apa?” Do Hyun panik melihatnya,
Ia segera memberikan air minum pada Aisya,
Aisya pun bernafas lega,
“Lain kali berhati hatilah,”
Aisya pun tersenyum seraya mengangguk,
Do Hyun pun mengelus kepalanya lembut,
Tiba tiba,
“A-Aisya? Apa itu benar kau?”