Chapter [17]

1310 Kata
Bibir tipisnya terus mengutuk sepanjang waktu, mata besarnya melebar setiap menemukan hal menarik di ponselnya, 3 hari tak membuka ruang obrolan begitu jaringan seluler tersambung notif berderet langsung melempar ponselnya. 102 panggil tak terjawab 40 chat tak terbalas dan semua itu ada di satu nomer, milik ibunya. Zhang Zhenan tak habis pikir dengan wanita paruh baya itu, setiap minggu wanita itu akan menelpon atau mengirimnya pesan yang isinya sekalu sama, dia yakin jika ibunya meng-copy paste pesan di minggu-minggu sebelumnya. Zhenan yakin jika pesan ini tak jauh-jauh dari kencan buta, perjodohan dan cara abstur lainnya untuk mendapatkan laki-laki. Kadang dia heran, berapa banyak kenalan ibunya hingga setiap bulan selalu ada satu pria yang dikenalkan kepadanya, ibunya keras kepala. Berulang kali dia menolak pria-pria itu dengan alasan yang sama tapi ibunya tetap tak hentinya mencarikan pria-pria lajang, dia yakin jika hampir semua pria lajang di kota ini sudah pernah ditawarkan padanya. Sebenarnya Zhang Zhenan tidak mempunyai tipe ideal, itu semata-mata hanya agar ibunya berhenti. Desah putus asa Zhang Zhenan menguar keras hingga menarik pengunjung disekitarnya, beberapa pengunjung kafe memandang simpatik pada wanita itu, sejak awal datang sendirian duduk dipojok ruangan dan hanya menghabiskan waktunya untuk mengaduk mug latte hingga dingin. Wanita itu sama sekali tak menyentuh latte nya, wanita itu sedari tadi menaruh fokus pada ponsel ditangannya lalu mendesah berulang kali, sepertinya wanita itu sedang mengalami hari yang berat. Zhang Zhenan baru mengetik beberapa huruf dan secepat kilat notif masuk ke ponselnya.  'ANGKAT TELPON IBU!!" Ingin rasanya menjatuhkan ponsel dari lantai atas membiarkannya hancur berkeping-keping agar tak ada alasan lagi untuk ibunya menelfon. Baru jempolnya ingin menekan 'send' saat lampu ponselnya menyala tiba-tiba tanda seseorang menelfon, Zhang Zhenan menghela nafas sebentar kemudian berdiri dari kursinya meninggal latte dingin untuk pergi ke pagar pembatas, menjauh dari sekitar pengunjung. Menyeret ikon hijau lalu membawanya kesamping telinga. 'Kenapa lama sekali mengangkat telponnya?' suara di seberang sana langsung menyalak, Zhenan yang sudah terbiasa hanya bergumam. 'Bicara yang jelas!! Ibu tidak bisa mendengarmu...... Eh, kemana Xiaoyu? Aku ingin bicara dengannya.' "Xiaoyu tak ada Bu, aku bepergian sendiri." Sahutnya tak bersemangat. 'Ashh, cepat kau hubungi Xiaoyu agar dia membalas pesanku. Telponnya mati sejak kemarin....' Zhang Zhehan mengernyitkan dahi. "Kalau tahu ponsel Xiaoyu mati, kenapa ibu menyuruhku menelponnya?!" 'Anak ini, kalau ibu suruh ya lakukan saja.' Matanya melebar tak percaya, bisa ya ibunya berkata seperti itu, tak ada obat untuk ibunya satu ini. "Iya, iya baik aku akan menelponnya." 'Hmm..... Eh, kau pergi kemana? Tiga hari ibu tak mendengar kabarmu. Ibu mencarimu kemana-mana Xiaoyu mengatakan jika kamu menginap dirumah temanmu.' Zhenan sengaja tidak memberitahukan kondisinya kepada orangtuanya, Xiaoyu juga berusaha menutupi keadaan Zhenan dari orang luar termasuk dari media. Yah walaupun nama Zhenan tak begitu terkenal (bahkan dia bisa berjalan kemana saja tanpa khawatir orang-orang akan mengerumuninya) berita duka atau kemalangan seseorang adalah yang paling menarik. 'Kau membuatku menunggu saja, bukankah aku sudah mengatakan sejak empat hari yang lalu untuk datang di pesta makan malam? Tapi kau malah tak datang, ibu terlanjur memesan hidangan mewah dan dandan cantik-cantik tapi kamu malah tidak datang, huh.' Ibunya masih mengomel, dia lupa jika sambungan telepon mereka belum terputus untung saja dia tak mengumpat sembarangan.  Menggaruk hidung kecilnya. "Hmm..." 'Apanya yang 'HMM...' ?!!'  Zhang Zhenan memutar matanya, ibunya tak pernah berubah begitupun dengan ayahnya. Dia sudah bosan menangani dua 'sijoli' ini, Zhang Zhenan sudah paham dengan apa maksud ibunya sejak awal. Ini adalah minggu keempat setelah mereka gagal menjodohkannya dengan seorang pengusaha yang tajir melintir. Kali ini pria mana lagi yang akan dijodohkan dengannya, mereka tak pernah lelah untuk memaksa Zhang Zhenan agar segera menikah. Saat Zhang Zhenan mengatakan jika dirinya belum siap untuk berumah tangga mereka seolah mencoba tuli selalu mengatakan dirinya sudah tua dan tak ada lagi pria yang mau menikah dengan nenek-nenek sepertinya.  "Ingat!! Hari ini kamu harus datang!! Mama tak ingin tahu alasan apa lagi yang kamu gunakan untuk menghindar."  Zhang Zhenan segera memutus panggilan sepihak, tak ingin mendengar suara ibunya lebih jauh lagi. Dia sudah bosan dengan segala nasehat yang sudah dia terima sejak kecil sampai dewasa, dia sudah kenyang tapi mereka semua tetap menganggap Zhang Zhenan layaknya anak kecil yang tidak bisa berjalan sendiri. Melempar ponselnya keatas meja hingga menarik perhatian beberapa pengunjung, Zhang Zhenan tak perduli lagi dengan pandang orang-orang itu, saat ini suasana hatinya semakin memburuk setelah menerima telepon dari ibunya. "Menikah, menikah, menikah!! Apakah hanya itu yang ada dipikiran mereka? Mereka bahkan tak memperdulikan ku saat aku sakit pun mereka juga tidak tahu. Apa mereka pikir menikah semudah itu? Mereka hanya menginginkan cucu, cucu, dan cucu.... Kenapa mereka tidak mengambil saja dari panti asuhan." Gerutu Zhang Zhenan tak ada habisnya, tempramen nya kembali kambuh. Dia butuh sesuatu untuk dihancurkan, dia ingin berteriak dan melampiaskan semua kekesalannya. Andai saja Xiao Yu disini, dia akan memukul wajahnya dan berteriak memarahi pria itu seperti orang gila. Tapi sayang pria itu tak kunjung datang, Zhang Zhenan mengintip jam yang melingkar dipengelangan tangannya. Sialan, dia sudah duduk sejam yang lalu tapi tidak ada tanda-tanda pria itu akan datang. Sampai ponsel yang dia lempar berkedip, Zhang Zhenan segera menangkap benda pipih yang bergetar itu setelah yakin nama yang tertera dilayar bukan nomer ibunya Zhang Zhenan segera membuka notifikasi. Sebuah pesan masuk dengan nama Xiao Yu, pria itu akhirnya menghubungi setelah sekian lama Zhang Zhenan menunggu sampai berjamur. 'Zhe, maaf aku tidak bisa datang. Temanku dari jauh tiba-tiba datang ke apartemenku.... Tidak enak jika meninggalkan, aku akan menghubungimu nanti setelah temanku pulang. Bye!' -Xiao Yu- "Dasar b******n Yu!"  Dengan kasar memasukkan ponsel itu kedalam kantong jeansnya, benar-benar hari yang penuh sial. Setelah keluar dari Rumah Sakit terkutuk itu Zhang Zhenan berharap hari-hari yang akan datang selanjutnya membawa keberuntungan dan ketenangan tapi siapa sangka dimana saja dia tinggal tempat itu akan menjadi neraka yang membakarnya. Tak ada gunanya dia membuang waktu disini, tanpa sedikitpun menyentuh Lattenya Zhang Zhenan pergi begitu saja setelah melempar beberapa lipatan Yuan kearah pelayan. Sontak kelakuan Zhang Zhenan mengirim banyak kecaman dari beberapa pengunjung tapi Zhang Zhenan tak perduli dan terus berjalan dengan sneakernya. Tiba ditempat parkir Zhang Zhenan bingung mencari keberadaan mobilnya, dia menunggu sampai satu persatu mobil keluarga dan mobilnya sama sekali tak ditemukan. Dia berjalan kesana kemari mencari mobil sport Lamborghini, dia sampai melapor ke petugas parkir tapi petugas parkir itu mengatakan jika dari tadi tidak ada Lamborghini merah. Dengan keras kepala Zhang Zhenan mengatakan ada, tapi petugas parkir tetap mengatakan tidak melihatnya. Seperti yang sudah diduga, petugas parkir itulah yang menjadi korban kekesalan Zhang Zhenan, wanita itu membentak dan bahkan berteriak sampai akhirnya petugas parkir itu mengusirnya. Zhang Zhenan mencak-mencak, tidak terima diusir dia pun balas mengancam petugas parkir yang tidak bersalah. Tapi petugas parkir itu malah tak menggubris omelan Zhang Zhenan dan melenggang begitu saja. Amarah Zhang Zhenan benar-benar merobek kulit kepala, urat malunya sudah putus bahkan dia tak perduli jika suara teriakannya memancing kerumunan. Dengan nafas menderu Zhang Zhenan mengangkat kakinya dari tempat itu, pergi dengan langkah cepat menabrak siapa saja yang sekiranya menghalangi jalannya. Setelah beberapa meter dia berjalan rasa sakit menyerang kakinya, tak sengaja Zhang Zhenan melihat kursi panjang dipinggir jalan segera saja dia menghampirinya. Mendudukkan p****t besarnya yang sudah nut-nut an luar biasa, sebenarnya Zhang Zhenan bukanlah orang malas olahraga, bahkan bisa dibilang dia penggila olahraga ekstrim namun kecelakaan yang menghancurkan pahanya dimasa lalu membuat Zhang Zhenan tidak bisa berlari ataupun berjalan dalam waktu lama. Kecelakaan itu tak hanya menghancurkan kakinya tapi juga menghancurkan mimpi Zhang Zhenan sebagai kapten basket, tapi kini dia sudah tua dan kondisinya tak lagi sebaik dulu berjalan sebentar saja peluh sudah tak karuan.  Zhang Zhenan duduk sembari meregangkan otot-otot kakinya, setelah beberapa saat ototnya perlahan melemas dan Zhang Zhenan sedikit tenang. Tapi ketenangannya tak berlangsung lama saat sebuah mobil merah bermerk Lamborghini mencuri perhatiannya, warna merah mencolok membuat Zhang Zhenan melebarkan matanya. Itu.... Itu mobilnya.  Melupakan kedua sepatu mahalnya Zhang Zhenan berlari membabi buta kearah mobil dipinggir jalan yang dia curigai sebagai mobilnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN