Chapter [16]

3234 Kata
Hari ini adalah hari yang paling dinantikan Zhang Zhenan, sejak malam dia sangat bersemangat bahkan dia hampir tidak tidur ketika memikirkan jika paginya dia akan keluar dari sini. Baginya Rumah Sakit seperti penjara untuknya, dia tidak akan bisa keluar seenak hati, tidak bisa makan apapun yang dia suka, jam tidur dibatasi dan terutama nasi becek, dia sangat membencinya.  Sejak kecil dia tidak pernah menyukai bau Rumah Sakit, bau cairan disinfektan dan obat-obatan lainnya membuatnya pusing. Karena itulah dia sempat melarang ayahnya yang berkeinginan menjadi Dokter, walaupun profesi itu mulia tapi siapa yang akan tahan dengan bau mengerikan yang dibawa orang itu saat pulang nanti. Dalam hidupnya Zhenan berharap tidak pernah mempunyai circle yang berhubungan dengan Rumah Sakit, begitupun jika dia sakit dia lebih suka dirawat dokter panggilan. Suara meja dorong stainless terdengar dari luar ruangan, jika kemarin-kemarin Zhenan membenci suara itu entah kenapa saat ini dia sangat bersemangat ketika meja dorong itu membuka pintu rawat inapnya. Langsung saja dia duduk, menyambut kedatangan dokter itu dengan senang hati. Seorang gadis berjas putih dan seorang perawat pria tampak membelakanginya, dokter itu menghadap Zhang Zhenan dengan senyum simpul setelah menutup pintu dibelakangnya. Ah, ternyata orang lain. Batinnya sedikit merasa kecewa?.  Apa ini, sejak kapan dia merindukan dokter menjengkelkan itu. Pasti ada yang salah dengan otaknya, tidak mungkin dia merasa kecewa karena berharap Dokter Huang yang melayani hari terakhirnya disini. Dokter lain cukup bagus, cukup bagus juga karena dia tidak akan pernah lagi melihat muka tampan yang menjengkelkan itu. "Nona Zhang, apakah anda tidur nyenyak semalam?" Sapa dokter itu ketika sampai didepan Zhang Zhenan. Diam-diam Zhang Zhenan melirik name tag nya dan mengetahui nama dokter itu adalah Xiao Luo, dari wajahnya bisa dipastikan jika dokter ini berkisar usia 20an tahun. Kulitnya masih muda dan cantik, jujur saja dokter ini terlihat menarik siapapun dengan sekali tatap. Ditambah lagi dokter itu juga ramah dan sangat lembut ketika memperlakukan pasiennya, selalu tersenyum ketika mengajak bicara orang lain. Kedua lesung pipinya sangat dalam saat gadis itu tersenyum, mata besarnya akan berbinar ketika menunjukkan antusiasme pada setiap kata yang diucapkan oleh pasiennya walaupun pembicaraan itu tak menarik tapi Dokter Luo bisa membuatnya seolah setiap percakapan mereka begitu menarik. Zhang Zhenan mendadak candu pada senyuman gadis cantik didepannya ini, dia sengaja mengajaknya bicara lalu membuat lelucon kecil hanya agar gadis itu tertawa dan dia bisa melihat kedua lesung pipi seolah melubangi pipinya. Tanpa sadar Zhang Zhenan meraba pipinya sendiri, tapi sayang dia tak mempunyai lesung pipi seperti gadis itu.  "Sudah selesai, apakah sakit Nona Zhang?" Saat gadis itu bertanya barulah Zhang Zhenan paham jika jarum infus sudah dilepas dari punggung tangannya, dia menatap heran pada tangannya sendiri lalu melihat infus yang sedang digulung Dokter Luo. Dia sampai tidak sadar jika dokter sudah melepas infusnya, kapan jarum menyakitkan itu ditarik kenapa dia tidak merasakan sakit sama sekali. Batin Zhenan menatap takjub tangannya. Dokter Luo yang melihat pasiennya tampak termangu mengira jika Zhang Zhenan mengkhawatirkan kondisinya, segera senyum manis itu lenyap berganti raut penuh khawatir, membelai lengan Zhenan dengan lembut seolah Zhang Zhenan adalah bayi 7 bulan. "Apakah sakit? Aku akan mengkompres air hangat jika itu menyakitimu nona." Alisnya melengkung seperti anak anjing lucu, Zhang Zhenan lagi-lagi tersipu melihat kecantikan alami Dokter Luo. Dia hanya bisa menggelengkan kepalanya dengan bodoh membuat Dokter Luo semakin khawatir. "Ada apa nona? Jika kau tak nyaman bicaralah. Selama kamu dirumah sakit ini saya akan merawatmu." Mata besar itu berkaca-kaca seolah ingin menangis jika dia benar-benar menyakiti pasiennya, padahal dia sudah berusaha sebisa mungkin untuk mengalihkan perhatian pasiennya agar tak merasa kesakitan saat dia mencabut jarum infus. Disaat Dokter Luo cemas Zhang Zhenan malah mengigit bibirnya gemas, Dokter Luo benar-benar sempurna. Lembut pada siapapun yang dia temui, apakah Zhang Zhenan harus berguru padanya. Menanyakan perawatan kulit apa saja yang digunakan Dokter Luo, menanyakan amalan hidup apa yang bisa membuatnya cantik dan menggemaskan seperti itu, apakah Zhang Zhenan perlu operasi lesung pipi juga agar bisa secantik Dokter Luo. "Nona Zhang?"  Zhang Zhenan tersentak dari lamunannya dan segera menggelengkan kepalanya.  "Tidak, tidak sakit. Kau dokter yang sangat lembut Dokter Luo." Senyum lebar dibuat-buat Zhang Zhenan. Dokter Luo membalas senyumnya dan berkata... "Anda sangat cantik ketika tersenyum, Nona Zhang. Dimana anda menempuh perguruan tinggi? Semester berapa anda?" What, apa dokter ini mengejeknya atau bagaimana. Bagaimana bisa orang ini mengira jika dia masih kuliah, apakah dia terlihat begitu tua sampai Dokter Luo menyindirnya dengan kejam sepertu ini. Dengan sendu Zhang Zhehan berkata. "Saya 29 tahun dan beberapa bulan lagi berusia 30 tahun, Nona Luo." Penekanan diakhir kalimatnya membuat Dokter Luo sadar jika dia sudah salah bicara hingga membuat. pasiennya tersinggung. Dokter Luo dengan malu membuka lembaran dokumen yang berisikan riwayat Zhang Zhenan, dan benar saja jika wanita ini sebentar lagi akan berusia 30 tahun. Tapi Zhang Zhenan masih terlihat muda, walau dibeberapa tempat dia sudah menunjukkan usia 30 tahun tapi keseluruhan wajahnya pasti orang lain juga akan mengatakan hal yang sama. "O-Oh benar, maaf aku salah mengira umurmu Nona Zhang. Tapi saya tidak berbohong, awalnya saya mengira nona seusia saya. Anda sangat cantik Nona Zhang." Dokter itu tersenyum sembari menuliskan coretan tangan tak jelas diatas kertas. Zhang Zhenan mulai bosan dengan pembicaraan ini, baiklah apa ini sesi memuji kecantikan? Jika benar dia akan memuji kecantikan Dokter Luo sampai dokter itu membuang kaca di seluruh rumahnya. "Anda juga sangat cantik Dokter Luo, dan juga lembut. Saya berharap bisa seperti anda." Kata Zhang Zhenan sembari tersenyum penuh hormat. Dokter Luo tertawa tampak malu-malu. "Tidak, tidak perlu menjadi saya nona. Cukup menjadi diri anda sendiri, saya bahkan berharap diusia 30 tahun nanti saya akan memiliki kulit bagus seperti anda." Dengan bodohnya Zhang Zhenan menepuk lalu mencubit pipinya, perkataan dokter itu mungkin benar. Kulitnya tak jauh berbeda dengan Dokter Luo padahal usia mereka berbeda jauh, Zhang Zhenan kembali tersenyum kali ini tanpa beban begitu mengetahui dia hampir sepadan jika disandingkan dengan Dokter Luo. Dokter Luo menggeleng pelan sembari tertawa, Nona Zhang sangat imut. Dia bersikap seperti layaknya bocah 6 tahun yang dipuji cantik oleh orang lain, tersipu malu hingga kedua pipinya yang sedikit berisi merah padam. Walaupun usia pasien ini 30 tahun tapi sebenarnya mentalnya tak berbeda jauh dengan gadis remaja pada umumnya, dimana mereka akan membanding-bandingkan kecantikannya dengan gadis lain. Dokter Luo sebenarnya sudah mendengar cerita pasien yang dirawat dilantai paling atas ini, banyak perawat yang berkumpul untuk membicarakannya. Mengatakan jika Zhang Zhenan adalah pasien yang paling menyebalkan melebihi lansia, Zhang Zhenan tidak sopan dan sebagainya tapi siapa sangka saat dia bertemu langsung Zhang Zhenan tidak seperti yang diperbincangkan perawat dan para dokter lain. Mata bulat Zhang Zhenan sangat ingin tahu, mata bulat seperti kucing akan mengikuti setiap gerak tangan Dokter Luo. Seperti kucing yang penasaran pada mainan baru yang dibawakan majikannya, dan begitu Dokter Luo menaruh beberapa bungkus obat di depannya bisa dipastikan jika kucing itu memberengut, menunjukkan reaksi lucu jika kucing itu tak ingin memakannya. "Apakah aku harus meminum semua obatnya?" Benar saja wanita 30 tahun itu tanpa sadar merengek, terang-terangan menunjukkan ke tidak sukaanya. Tak bisa menahan gemas Dokter Luo sengaja menggodanya. "Iya Nona Zhang, kau harus meminum 4 obat ini sekaligus. Sampai obatnya habis dan anda bisa menebus obatnya lagi di apotik." Kata Dokter itu 70% benar. Zhang Zhenan mengerutkan bibirnya, bagaimana dia bisa meminum pil sebesar ini dalam sekali makan. Apakah dokter ini berniat membunuhnya? Sepanjang hidup Zhang Zhenan terbiasa memakan hal yang manis-manis bahkan dia jarang mengkonsumsi obat pil pahit dan sejenisnya, dia sering menggunakan obat berbentuk sirup warna warni dengan rasa manis.  "Apa dosisnya tidak bisa dikurangi?"  Kerutan di dahi Zhenan semakin parah melihat Dokter Luo menertawakannya, apa yang salah dengan pertanyaannya? Memang siapa yang bisa meminum 4 pil sekaligus apalagi ukuran pil itu bulat besar yang ada semua pil itu menyangkut ditenggorokannya. "Dokter Luo-" "Hahaha, aku tidak serius nona. Kenapa kau memasang wajah seperti ingin memakanku?!" Mata bulatnya melebar, beraninya anak muda ini mengerjainya. Tidak punya sopan santun, pikirnya kesal. Zhang Zhenan membuang muka melihat dokter itu tertawa lagi bersama perawat disampingnya. "Maaf, tapi anda benar-benar lucu nona. Biar aku ulangi ya, kali ini aku tidak akan berbohong padamu. Kau lihat, 2 obat ini diminum sebelum 2 kalo sehari sebelum makan dan 2 lainnya diminum setiap akan tidur masing-masing satu kali sehari."  Kali ini Zhang Zhenan tidak menaruh keraguan karena dokter itu menjelaskan tanpa kebohongan diwajahnya. Dia mengangguk paham dan anehnya dokter itu kembali tersenyum, kenapa Dokter Luo senang sekali tersenyum pada orang lain. "Selamat Nona Zhang, anda sudah bisa pulang. Setelah ini perhatian kesehatan anda, jangan makan makanan cepat saji, jangan makan terlambat, jangan makan makanan pedas karena sepertinya anda sangat menyukainya. Dan yang terakhir jangan paksakan tubuh anda untuk beraktivitas berlebihan, jika tubuh anda sudah merasa lelah jangan dipaksakan." Dokter Luo memberikan senyum simpatis.  Rupanya para dokter benar-benar mengetahui pola hidupnya, cukup mengerikan padahal Zhang Zhenan hanya dirawat beberapa hari tapi dokter-dokter ini bisa mengetahui pola hidupnya selama bertahun-tahun. Tapi tantangan terbesarnya adalah makan makanan pedas dan beraktivitas berlebihan, entah apakah dia bisa menuruti imbauan sang dokter atau tidak karena bahkan ibunya tak bisa mencegahnya untuk melakukan hal-hal ini. Jangan lupakan betapa keras kepalanya seorang Zhang Zhenan. "Baik Dokter Luo, terima kasih atas perawatan anda. Semoga dilain kali kita bisa bertemu kembali...." Ucap Zhenan basa-basi. Dokter Luo membalas senyumnya, setelah membereskan semua alat kesehatan dia segera pergi mendorong meja stainless nya. Zhang Zhenan bersiap menelpon Xiao Yu saat suara lain datang dari arah pintu kamarnya. Jemari Zhang Zhenan membeku ketika melihat seorang pria berjas putih yang sempat muncul dibenaknya tadi. Kebetulan sekali dokter itu adalah Dokter menyebalkan Huang, dokter itu terkejut saat menemukan rekan sesama dokternya ada diruang inap Zhang Zhenan. Dokter Huang melepas handle pintu dan maju kedepan. "Dokter Luo, anda disini.... Apakah?" Dokter Huang melemparkan matanya kearah Zhang Zhenan yang saat ini juga tengah menatapnya. Tawa Dokter Luo membuat Dokter Huang memutus kontak mata dengan Zhang Zhenan. "Ah, Dokter Huang. Bukankah kamu izin cuti hari ini? Aku kira kamu tidak kesini karena itu aku menggantikanmu." Dokter Huang diam, dia kelihatan bingung harus berbuat apa karena Dokter Luo terus mengajaknya berbicara tanpa niatan untuk pergi dari ruang inap Zhang Zhenan. "Dokter Huang, apa kamu sudah makan siang? Jika belum ayo makan bersamaku."  Mata Zhang Zhenan mengikuti jemari lentik Dokter Luo yang menarik pelan ujung jas Dokter Huang, sepertinya mereka punya hubungan yang dekat diluar ataupun didalam Rumah Sakit. Pikir Zhang Zhenan. Dia meninggal mengacuhkan mereka dan segera mendial nomer Xiao Yu. Suara operator terdengar sampai akhirnya suara seorang pria menyahut. "Halo, Zhe-" "Belikan aku satu cup kopi panas saat kamu datang kesini, cepatlah. Aku tidak bisa membawa tas besar ini sendirian."  Zhang Zhenan segera menutup telponnya tanpa menunggu persetujuan dari pihak lawan, turun dari brankar lalu memakai sepatu kulit mahalnya. Duduk di sofa dan mengangkat salah satu kakinya, Zhang Zhenan tidak sadar jika mata serigala mengamati setiap gerak geriknya dan begitu dia menoleh serigala itu buru-buru melepaskan targetnya. Zhang Zhenan melihat kedua dokter itu masih sibuk berbincang entah apa yang dibicarakan keduanya tapi Dokter Luo begitu antusias sampai melupakan perawat yang sepertinya kesemutan karena terus berdiri disamping Dokter luo. Sedangkan Dokter Huang, pria itu seperti biasa memasang wajah datar tapi sesekali masih menanggapi ocehan wanita itu. Kembali fokus pada ponsel ditangannya dan serigala kembali mengamatinya. "Dokter Huang, bukankah besok Dokter Yan menikah. Ah, aku hampir lupa... Emm, bagaimana kalau kita besok datang berdua. Besok kau memakai setelan warna apa?" "Aku tidak bisa menghadiri pernikahan Dokter Yan, aku sudah mengatakan padanya sebelumnya."  "Ah, kenapa tidak bisa?" Zhenan mendengar kekecewaan dari suara Dokter Luo. "Aku, besok ada acara keluarga dan aku harus menghadirinya."  Dokter Luo mendengung, hanya memberikan anggukan kecil sebagai responnya. Walau dia terlihat sedih tapi binar dimatanya tidak pernah mati, dia kembali mengajak Dokter Huang bicara hingga membuat Zhang Zhenan bosan. Apakah jam kerja mereka hanya digunakan untuk berbincang dan saling mengungkapkan rindu? Picisan sekali anak muda sekarang. "Ah, Dokter Huang bagaimana kalau aku mentrak-" "Nona Zhang," Xiao Luo terkejut karena Dokter Huang tiba-tiba memotong pembicaraan mereka, Dokter Luo mengikuti arah pandang Dokter Huang dan menemukan seorang wanita di sofa. "Sebaiknya anda jangan mengkonsumsi kafein terlebih dulu, anda belum pulih." Kedua wanita di ruangan itu sama-sama mengerutkan keningnya, kenapa Dokter Huang tiba-tiba menyahut padahal pembicaraan mengenai kopi sudah lewat 5 menit yang lalu. Zhang Zhenan melempar ponselnya ke sofa lalu berdiri menghadap Dokter Huang. "Aku tidak menggunakan uangmu, jadi tidak ada yang berhak melarang ku." Setelah mengakhiri ucapannya Zhang Zhehan mengambil ponselnya lalu kembali mendial nomer seseorang. Begitu tersambung Zhang Zhenan sengaja mengeraskan suaranya. "Xiao Yu, bawakan aku 2 cup kopi panas ekstra. Katakan untuk menambah bubuk kopinya, buat lebih kental dari biasanya." Lagi-lagi tanpa menunggu suara Xiao Yu Zhang Zhenan segera memutus sepihak. Kembali melihat kearah Dokter Huang yang mengeraskan rahangnya, "Hanya bertemu sekali, kenapa anda bertindak seperti kita saling mengenal? saling mengkhawatirkan?" Zhenan menyeringai mengangkat salah satu alisnya kemudian menjatuhkan tubuhnya lagi ke sofa, dalam hati menahan gemas untuk tak berteriak kemenangan. Dokter Huang ingin mengatakan sesuatu tapi Dokter Luo mendahuluinya. "Apakah kalian pernah bertemu sebelumnya?" Tanya Dokter Luo memandang pemuda didepannya tapi tidak ada satu katapun yang dia ucapkan, sampai suara Zhang Zhehan menyahut. "Tanyakan pada pemuda didepanmu itu, apa yang telah dia lakukan kepada saya." Gumamnya ambigu. Mata Dokter Luo melebar, ucapan Zhang Zhenan membuatnya menangkap suatu kesalahpahaman yang terjadi pada pasien dan dokter ini. Sebenarnya dia penasaran tapi berada disini memangkas waktunya bersama Dokter Huang, sudah lama dia tak bertemu dengan pemuda tampan ini karena pembagian shift yang berbeda jadi jangan lewatkan kesempatan ketika dia bertemu dengan Dokter Huang. Melihat jam dinding Dokter Luo membulatkan matanya, waktu yang tepat. "Dokter Huang, sebentar lagi jam makan siang. Ayo ke bawah?! Mari kita makan siang bersama" Kata Dokter Luo riang. Zhang Zhenan yang mendengar suara melengking gadis itu segera memutar mata, Dokter Luo memang cantik tapi cara dia menaksir pria seperti gadis SMA yang tengah dimabuk cinta. Melihat Dokter Huang tak bergeming membuat Dokter Luo menghentakkan kaki berpura-pura kesal dengan imut, tak menunggu persetujuan dari Dokter Huang Xiao Luo melingkarkan lenggangnya ke bahu dokter muda itu lalu mendorongnya kearah pintu. Setelah ketiganya keluar dari ruang inap wanita itu buru-buru menutup pintu seolah berusaha menghalang mata Dokter Huang.  BLAMM Xiao Luo memutar kepalanya untuk melihat Dokter Huang yang ternyata masih memandang pintu. Senyum manis Xiao Luo tandus begitu Dokter Huang mengacuhkannya, sejak datang Dokter Huang hanya melihat pasien itu tapi sama sekali tak meliriknya. "Xiaojun, apa kau naksir?" Ujar Xiao Luo Tiba-tiba mengejutkan Dokter muda itu. Dokter Huang melihat kearahnya lalu mendengus, menggelengkan kepalanya seolah yang dikatakan Xiao Luo sama sekali tak pernah terlintas dipikirannya. "Tidak ada, hanya kita pernah terlibat suatu masalah." Singkatnya. Gadis didepannya terlihat tak puas dan akan mengajukan pertanyaan lagi tapi sebelum dia berhasil membuka mulutnya Dokter Huang segera meraih bahu kecil gadis itu lalu mendorongnya pergi dari sana. Perawat yang sedari tadi dianggap angin hanya tersenyum melihat kedua dokter itu meninggalkannya, sudah jadi rahasia umum jika ketampanan Dokter Huang disukai banyak wanita tapi betapa beruntungnya Dokter Luo karena dari sekian wanita hanya Dokter Luo yang berhasil mendekati dokter tampan itu. Keduanya sudah akrab sejak awal mereka bekerja disini, banyak yang mengatakan jika keduanya sudah saling mengenal sejak kuliah ada juga yang mengatakan jika orangtua mereka berteman. Jadi bukanlah hal aneh jika keduanya terlihat seperti sepasang kekasih. Perawat itu melihat meja yang ditinggalkan Xiao Luo, sepertinya giliran dia yang harus mendorongnya. [Red Thread] Ternyata Xiao Luo tidak mengajaknya makan di kantin tapi gadis itu membawa Dokter Huang ke restoran yang berjarak 2km dari Rumah Sakit, Dokter Huang tampaknya tak keberatan. Dia menikmati suasana didalam mobil sampai tak terasa Xiao Luo menghentikan mobilnya. Keduanya masuk kedalam Restoran Cina yang menjadi langganan mereka sejak kuliah, Restoran besar itu berdampingan dengan beberapa restoran besar lainnya termasuk Restoran Italy yang berada tepat disebelah Restoran Cina dengan hanya jalan kecil yang memisahkan, Restoran Italy itu memiliki bangunan lebih besar dari Restoran Cina yang dia masuki, sebenarnya sesekali dia ingin pergi dan merasakan makanan Italy disana. Lonceng berbunyi, begitu masuk Xiao Luo langsung berlari kelantai atas meninggalkan Dokter Huang, pemuda itu hanya tersenyum melihat tingkah kekanakan sahabatnya. Tak perlu kesulitan mencari Xiao Luo karena gadis itu selalu menempati meja paling pojok yang berdekatan dengan jendela besar melingkari seluruh sisi bangunan ketika mereka dilantai dua rasanya seperti tak ada sekat layaknya restoran outdoor. Jendela itu sangat bersih sehingga mereka bisa melihat hiruk piruk ibukota dan sekelilingnya termasuk Restoran Italy yang benar-benar menyuguhkan konsep outdoor dilantai dua sehingga baik pengunjung Restoran Cina dan Restoran Italy bisa melihat satu sama lain. Xiao Luo seperti biasa, gadis itu berceloteh menceritakan semua hal yang dia lihat ditempat kerja, keluarga dan lainnya. Sebenarnya Dokter Huang tak begitu suka bicara tapi ketika menemukan topik menarik keduanya akan larut dalam tawa hingga lupa waktu, obrolan mereka baru berhenti saat seorang pelayan datang mencatat menu yang mereka pesan. Keduanya sama-sama memilih menu makan dan minuman yang sama walau sebenarnya Xiao Luo tak begitu menyukai matcha tapi dia berusaha menyukai apa yang disukai Dokter Huang. Ya, tujuh tahun saling mengenal dan enam tahun Xiao Luo harus membiasakan diri dengan kesukaan Dokter Huang. "Kenapa kau selalu memilih menu yang sama denganku?" Tanya Dokter Huang menimbulkan rona merah di pipi Xiao Luo, Dokter Huang tak pernah menanyakan hal ini sejak enam tahun yang lalu. Xiao Luo membuang muka kearah pengunjung Restoran Italy, menutupi wajahnya yang terbakar. "K-karena kebetulan kesukaan kita sama." "Benarkah?" Tawa Xiao Luo menyembunyikan kegugupannya, melirik Dokter Huang pura-pura kesal lalu mencubit bisepnya. "Xiaojun sejak kapan kamu jadi orang kepo?"  Berakhir keduanya tertawa, Dokter Huang sebenarnya tak suka ketika orang memanggilnya 'Xiaojun' karena panggilan itu tak cocok untuknya yang tinggi dan jangkung, dia lebih cocok dipanggil 'Titan' dan sejenisnya tapi dia akan lebih suka jika orang-orang memanggil 'Huang Jun' ketika diluar jam kerja. Tapi Xiao Luo keras kepala dan tetap memanggilnya Xiaojun, menurutnya panggilan itu imut apalagi saat dipanggil nama mereka akan terdengar sama. Obrolan mereka diinterupsi oleh pelayan yang menaruh hotpot ditengah mereka, saat pelayan itu pergi seperti biasa Xiao Luo memasang muka anjing jalanan. Meminta Huang Jun menyajikan daging untuknya, Huang Jun yang sudah hafal dengan kebiasaan gadis itu segera mendengus, memukul dahinya dengan sumpit membuat gadis itu mengaduh kesakitan. "Xiaojun sangat nakal." Gerutu gadis itu. Huang Jun tak meladeni keusilan gadis itu tapi terus memasak daging di kuah pedas, keduanya tak sama-sama tak suka pedas jadi hanya menambahkan sedikit bubuk cabai. Xiao Luo diam seperti bocah yang melihat ayahnya memasak dengan cekatan, sebenarnya Huang Jun pintar memasak. Berkali-kali Xiao Luo memakan masakan yang dimasak pemuda itu dan hasilnya selalu enak. "Istrimu nanti pasti beruntung memiliki suami sepertimu." Celetuk gadis itu tiba-tiba membuat Huang Jun menghentikan sumpitnya. Gadis itu tersenyum kecil saat Huang Jun melihatnya dan memasukkan irisan daging dengan lahap kedalam mulutnya seolah gadis itu tak mengucapkan apa-apa. "Mungkin..." Jawab Huang Jun sekenanya, gadis itu terkejut mendengar Huang Jun menimpali celetukannya, biasanya pemuda itu hanya diam saat dia mulai membahas topik pernikahan. "Mungkin apa?" Xiao Luo menarik ucapannya kembali, dia selalu penasaran dengan cara berpikir Huang Jun mengenai kehidupan pernikahan. Huang Jun tak kunjung menjawab, menyedot matcha nya sembari menikmati pemandangan para pengunjung Restoran Italy disebelahnya. "Mungkin, istriku nanti tak seberuntung itu." Sumpit ditangan Xiao Luo berhenti di udara, melihat Huang Jun menggenggam erat gelas matcha ditangannya dengan wajah kaku, memutar sedotan stainless di bibirnya, Xiao Luo menatapnya bingung tapi dia mengabaikannya dan melanjutkan menyumpit daging. Sedangkan Huang Jun tetap terpaku ditempat, menekan sedotan stainless di bibirnya hingga rasa besi berkarat mengotori lidahnya. Sorot matanya terlempar jauh ke seberang bangunan. Mengunci pandangannya pada sosok wanita yang tengah menikmati kesendirian ditemani mug keramik di mejanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN