Chapter [15]

1754 Kata
Dua perawat terbatuk-batuk tersedak saliva sedangkan Dokter Huang memasang wajah terpelintir, sialan orang ini memfitnahnya lagi. Dokter Huang yang dikenal tampan ternyata tidak selurus kelihatannya, harapan para kaum hawa seakan dipatahkan dengan kenyataan pahit, selama ini mereka berusaha mengambil hati Dokter Huang dengan seribu cara pantas saja Dokter itu tak pernah melirik mereka lha wong Dokter tidak suka gunung. Kedua perawat kisruh diam-diam melirik Dokter Huang kecewa dan marah, keduanya kompak membuang muka skeptis saat Dokter Huang melihat kearah mereka. Semburan nafas berat keluar dari mulut Huang Jun, kenapa selalu ada cobaan berat yang menimpanya setiap berurusan dengan orang ini, pertama kali mereka bertemu sudah menorehkan kesan buruk dan kesekian kalinya mereka bertemu tak jauh berbeda, dokter muda itu cukup dewasa untuk tidak membawa masalah pribadi saat melakukan tugas tapi pasien ini terlalu menyebalkan. Mereka adalah dua orang pria bertubuh besar tidak keren jika mereka beradu mulut. Dokter Huang memilih untuk mengalah dan melanjutkan tugasnya, dia melempar kapas bernoda darah ke kotak sampah medis lalu menuangkan sedikit alkohol untuk membersihkan sisa darah ditangan Zhang Zhenan. Dokter Huang adalah pria yang lembut dia selalu memperhatikan kondisi pasiennya agar tak merasakan sakit, begitu perhatiannya Dokter Huang kepada pasien-pasiennya tak ayal Dokter Huang mempunyai banyak penggemar dari berbagai kalangan karena keramahan dan kelembutannya. Begitupun dengan pasien satu ini, walaupun dia ingin sekali memasukkan pria itu kedalam karung lalu membuangnya ke Sungai Han.  Akhh Baru saja dia membatin dan pria itu kembali berulah, tangannya berhenti diatas kulit Zhang Zhenan dan tak lagi mengusap tapi pria itu tetap mengaduh berlebihan bersikap seolah Huang Jun baru saja menyayat tangannya. Dokter muda itu tak berbuat lebih dan hanya menyipitkan matanya, dia sudah terlalu hafal dengan pria gila ini. "Lao Gong, sakit ... Tidak bisakah kamu bersikap lembut seperti kemarin malam?" Pria itu menarik tangannya dari Huang Jun sembari menggerutu dengan raut kesal yang dibuat-buat.  Wajahnya merengut sok imut dengan mulut mengerucut meniup-niup tangannya disertai desis kesakitan, Huang Jun tidak bodoh dia tahu Zhang Zhenan hanya berpura-pura. Pria itu sengaja membuat citranya bermasalah terbukti dengan dua perawat itu yang menghakimi lewat mata mereka. Panggilan yang diberikan pasien itu mengundang ambigu, pengucapan 'Lao Gong dan Laogong' hampir sama tapi mereka memiliki arti yang berbeda, ayolah beberapa manusia lebih mendahulukan pikiran negatif mereka. Astaga sejak kapan pasien ini akrab dengan Dokter mereka hingga berani memanggilnya seperti itu, ah memikirkannya membuat mereka semakin panas. "Lao Gong~" panggilnya mendayu mengundang desah frustasi Dokter Huang. Sontak kedua wanita disana menatap horor pelaku barusan, bagaimana seorang pria bisa memanggil pria lain dengan suara mendayu seperti itu. Wajah Huang Jun merah padam, ingin dia memasukkan kaos kakinya kedalam mulut beracun pria itu. "Lao Gong, bukankah sebentar lagi aku pulang? Apa kamu tidak ingin memberiku ciuman perpisahan? Bukankah kita sudah menghabiskan 2 hari bersama, ini takdir Lao Gong. Ahh... kutebak jodoh kita pasti panjang dan lama, kita akan bertemu lagi kan? Lihat! kita sudah dipertemukan dua kali bukankah ini jodoh, kita sudah dijodohkan Lao Gong." pria itu terus mengoceh dengan raut bahagia, matanya berbinar-binar seolah yang diucapkan tulus dari hatinya. Zhang Zhenan sudah lama berkubang dalam industri musik dan perfilm-an, hal seperti ini tidaklah sulit untuk dia lakukan, mengatur air muka hal sepele untuknya. Hampir separuh jam setiap harinya dia gunakan untuk berakting entah dihadapan publik atau kamera, tidak ada yang tau apa isi hatinya karena Zhenan penuh tipu muslihat.  Kedua perawat wanita itu sangat lugu dan mudah menelan tipu daya yang diberikan Zhang Zhenan tentu saja hal ini menjadi hiburan tersendiri, bagaimana wajah terpelintir mereka saat menyaksikan dokter yang mereka sukai ternyata adalah gay, bagaimana mereka mengumpat diam-diam saat dia bergelayut manja pada dokter tampan mereka. Mari kita berikan kesan terakhir yang membekas untuk dokter dan kedua perawat itu.  "Lao Gong." Dokter itu diam dan hanya memperhatikannya tanpa berbuat sesuatu. Zhenan merengut karena Dokter muda itu tak meresponnya, matanya yang semula berbinar kini redup dan memperlihatkan sisi sensitifnya.  "Aku ingin segera pergi...." samar-samar dia mendengar kedua perawat itu saling berbisik, keduanya berdiri didepan pintu dan bisa keluar kapan saja jika Zhenan berulah sekali lagi. Telinga Zhang Zhenan berkedut, mati-matian dia menahan tawanya agar tak lolos dan menghancurkan rencananya, dia sempat menggigit ujung lidahnya sebelum dia gunakan lagi untuk menjilat dokter dan perawatnya. Seperkian detik dia mengubah wajahnya menjadi orang pesakitan, mengerutkan hidungnya lalu mendesis keras sembari menyentuh pelipisnya, dua perawat terlihat khawatir dan berniat menghampirinya tapi ketika pasien itu menyandarkan kepalanya diperut keras sang dokter mereka berhenti dan berbalik menuju pintu lagi, demi apapun mereka menyesal melihat adegan menyesatkan didepan wajah mereka.  Dokter Huang terkesiap, reflek dia memegang pundak pria itu agar tak terjatuh kelantai, dia berusaha menarik bahu Zhang Zhenan untuk menjauh dari perutnya tapi pria itu bersikeras dan terus melenguh kesakitan sembari menyeruduk perut Huang Jun dengan kepalanya. Zhenan melingkarkan tangannya kepinggang sempit Dokter Huang dan semakin melesakkan wajahnya keperut 10 pack pemuda itu, batin Zhenan menjerit ini panas dan panas, perut itu keras dan sama sekali tak enak dibuat sandaran. Perut kotak itu menekan wajahnya, dia terus mendusal mencari tempat yang nyaman diantara kemeja yang dikenakan Huang Jun, ya hari ini dokter itu tak memakai jas panjang dan memperlihatkan tubuh ramping dan tinggi dengan urat-urat disekitar lengan yang menggoda untuk dijamah. Nafas pria itu menembus kemejanya membuat bulu kuduk Huang Jun berdiri, tangannya reflek menyentuh rambut panjang pria itu. Tangannya yang besar dan jemari panjang menutupi separuh kepala Zhang Zhenan, dan saat Zhenan tanpa sengaja menggerakkan kepalanya ketempat sensitif Huang Jun tangan pria itu tanpa sadar mengelus rambut panjangnya. Detik itu juga tubuh Zhang Zhenan membeku, dia membuka matanya dan menemukan perut Dokter muda itu menyapu ujung hidungnya. Semburat merah menjalar dari pipi hingga ke telinga keduanya. Suasana mendadak canggung tapi bukankah ini yang diinginkan Zhenan, mempermalukan Dokter muda itu. Dia menyeringai dibalik kemeja putih Dokter Huang, Dokter Huang yang sadar dengan apa yang baru saja dia lakukan berniat menjauhkan tangannya dari helaian rambut halus itu namun belum sempat dia menarik tangannya Zhang Zhenan menyiram tubuhnya dengan air es, pria itu menggigit kecil pinggangnya. Gong Jun memekik rendah dan tanpa sadar mengerang pedih, menjambak helaian rambut ditangannya dengan keras hingga membuat empunya mendongak tajam, Zhang Zhenan tersentak kuat hingga meringis merasakan perih dikulit kepalanya, tangannya melepas pinggang sempit milik sang dokter. "Akhh... B-brengsek." Zhang Zhenan hampir tersedak umpatannya sendiri. Kesadaran menghantam Dokter Huang, dengan wajah merah padam dia melihat kebawah dan bertemu dengan mata aprikot yang basah, pria itu tak berbeda jauh darinya dengan wajah dan leher memerah meringis berusaha melepaskan tangannya dari kepalanya. Begitu sadar tangannya masih menjambak rambut itu Dokter Huang segera mengendurkan tangannya. "Dokter sialan! Beraninya menjambakku."  Rambut sebahu itu acak-acakkan mengundang rasa simpati Dokter Huang. "Apa kau baik-baik saja?" "Kepalaku sakit, pusing..."  "Pusing? Apa kamu ingin muntah?" Wajah penuh kekhawatiran itu mengundang decihan Zhang Zhenan, besar didunia intertaiment apa pemuda ini mengira dia bisa dibodohi dengan tampang anak anjing. "Bagaimana aku ingin mutah? Kau saja belum menyentuhku, kau kira aku berkembang biak dengan asexual?" Perawat bergumam dalam hati menebak pria itu pasti posisi bawah. "Sudah selesaikan? Kau berhasil merusak citraku didepan mereka." Desisnya tajam dan hanya Zhang Zhenan yang bisa mendengarnya. Tapi sepertinya Zhang Zhenan tidak ingin merusak permainan yang telah dia ciptakan,  "Lao Gong, kenapa kamu kejam sekali? Jika tak tahan kamu bisa membawaku kekamar mandi." Mengedipkan matanya beberapa kali seperti anak anjing, tangannya meraih jemari Huang Jun yang menggantung disisi tubuhnya lalu menarik-nariknya seperti anak kecil. Merinding seluruh bulu ketiga orang disana, pria besar berlagak seperti anak anjing kecil yang haus akan belaian sangat kontras dengan penampilannya. Huang Jun yang menyadari tangannya sedang dipermainkan segera menariknya, tapi hanya lembut dan pelan tidak ingin menyakiti pasien. Wajah yang tadinya muram kini sedikit cerah dengan tambahan senyum simpul, dia adalah dokter merawat pasien seperti ini pernah terjadi tapi tidak sering, dia memperlakukan pria ini layaknya orang tak waras jadi dia hanya tersenyum menanggapi tanpa membalas, yah walaupun dia tahu pria itu hanya berpura-pura. "Tuan, anda berbaringlah sebentar saya akan-" "Stts, jangan disini Lao Gong. Aku malu..." Jarinya ditekan didepan bibir Huang Jun, semburat merah menjalari pipi hingga telinga pria itu, dengan mata genit melirik kedua perawat dengan lirikan malu-malu. Yang dilihat seperti itu segera merinding hebat, mereka kompak membuang muka lalu berjalan mundur perlahan mendekati pintu. Hantu mana yang merasuki pasien itu hingga bersikap genit layaknya gadis perawan. Dokter Huang memejamkan matanya cukup lama lalu menggaruk kepalanya yang tak gatal, menjauhkan bibirnya dari belaian jemari halus Zhang Zhenan. "Baiklah jika anda tidak ingin berbaring, duduk pun tak masalah." Tanpa menunggu reaksi Zhang Zhenan, dokter itu segera menarik tangan kiri Zhang Zhenan dan mengolesi punggung tangannya dengan cairan dingin, Zhang Zhenan diam mengawasi dia tidak melawan ketika tangannya dalam kuasa dokter muda itu. Kapas dingin dibuang, Dokter Huang mengeluarkan sebungkus infus baru yang masih penuh didepannya, Zhenan termenung otaknya mendadak lambat untuk menyadari apa yang akan terjadi selanjutnya, jarum runcing tiba-tiba mendarat dipunggung tangannya yang pucat dan saat itulah Zhenan sadar bahwa dokter ini berniat buruk padanya. "Apa yang akan dilakukan suamiku padaku?" interupsinya. Mata Samoyed milik dokter itu terangkat untuknya, berkedip polos lalu tersenyum jenaka. Hal itu mengundang kernyitan diwajah Zhang Zhenan, pria itu tersenyum mengerikan membuat tangannya gatal ingin memukul wajah konyol itu. Dia berniat menarik tangannya dari genggaman Dokter Huang tapi Dokter itu menahannya, tarik ulur tak dapat dihindari. Dokter itu tak melepas tangan Zhenan dan tetap memasang senyum konyolnya, disisi lain bola mata Zhenan hampir keluar karena ulah dokter itu. "Kau!! Lepas atau aku akan menggigitmu!" Zhenan menggeram memperlihatkan deretan gigi putihnya. Dokter itu sedikitpun tak terusik dengan ancaman Zhenan. "Coba tebak, apa yang akan aku lakukan padamu..." Dokter itu tersenyum main-main. "b******n! Jadi kau sungguh gay?!" Belum selesai keterkejutan Zhang ZhenanZhenan kini pria itu dihadiahi sengatan jarum yang menyengat dipunggung tangannya. "Tuan Zhang, kepulanganmu diundur, kau menggerakkan tanganmu terlalu keras membuat darahmu naik ke infus. Saya terpaksa mengganti infusnya dengan yang baru, tolong lain kali hati-hati, setelah infusnya habis anda boleh pulang." Dokter Huang menoleh pada dua perawatnya yang masih setia menunggu diambang pintu. "Kalian bisa keluar lebih dulu, saya akan menyusul." Dan tak butuh waktu lama untuk mendengar pintu itu ditutup dengan keras, Huang Jun mengemasi alat-alat medisnya kedalam tas saat Zhang Zhenan turun dari brankar. "Senang sekali, seperti katamu sepertinya kita memang jodoh, kau membuat dirimu sendiri tinggal lebih lama disini." Dokter Huang tertawa saat pria itu meliriknya dengan skeptis sebelum akhirnya membuang muka. "Eh mau kemana jodohku?" Langkah kakinya berhenti, melihat Huang Jun yang tertawa karena melihat penderitannya membawa infus sendiri. "Kenapa? Apa kamu ingin bersamaku kekamar mandi dan membiarkanku membantumu?"  Zhang Zhenan menyeringai saat Huang jun berhenti tertawa setelah mendengar ucapannya.  To be continue...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN