Gundukan besar bergerak berguling seperti banteng diatas brankar, sedari tadi yang dilakukan Zhang Zhenan hanya membolak balik tubuhnya hingga membuat brankar yang ditidurinya berdecit nyaring, siapapun akan terusik pendengarannya tak terkecuali Xiao Yu. Mati-matian dia menahan diri untuk tidak melempar majikannya dengan garpu tapi setelah mengingat ancaman Zhenan dia mengurungkan niatnya. Ya, Zhenan memang anak setan beberapa jam lalu Xiao Yu dihujat habis-habisan karena dia menuruti perkataan orang lain dan berakhirlah gajinya dipotong 30 persen oleh majikannya.
Bahkan Xiao Yu tak diperbolehkan pulang padahal pria itu sudah menunggu Zhehan dua hari satu malam, untuk keluar makan pun Xiao Yu tak di perboleh karena Zhenan selalu mencurigai Xiao Yu kalau-kalau pria itu kabur. Berbagai cara sudah Xiao Yu lalukan agar bisa keluar dari tempat ini tapi dia tak lagi berkutik saat Zhenan mengancam akan memotong 70 persen dari gajinya.
Sialan, malang sekali nasibnya. Batin Xiao Yu sendu.
Xiao Yu jugalah manusia ynag merasakan lapar, dia berulang kali merengek agar Zhehan membiarkan dia mencari makan diluar tapi Zhenan melarang dan sebagi gantinya Xiao Yu diberikan makanan sisa Zhang Zhenan dari rumah sakit. Sungguh baik sekali majikannya satu ini, dia tak membiarkan Xiao Yu mengeluarkan uangnya untuk membeli makanan tapi Zhenan dengan baik hati memberinya makanan sisa berupa kuah sayur tanpa ampas dan nasi becek.
Ingin rasanya dia memesan makanan online tapi Zhenan memang anak setan, sebelum Xiao Yu berhasil membuka aplikasi Zhenan sudah menarik ponsel Xiao Yu dan menyimpannya dibawah bantal. Dengan alasan Zhenan tak ingin jika dia tergoda dengan makanan yang dipesan Xiao Yu nantinya, jadi biarkanlah Zhang Zhenan menjalani hidup sehatnya selama beberapa hari agar dia bisa segera keluar dari rumah sakit ini. Tapi lagi-lagi Xiao Yu lah yang harus berkorban.
Pria itu melihat tak selera pada makanan di pangkuannya, kucing pun tak akan mau disuguhi makanan seperti ini tapi Xiao Yu lapar bukan kepalang, perutnya terus berbunyi tapi setiap dia mendekatkan sendok ke mulutnya perutnya langsung bergejolak memberi penolakan pada makanan sampah yang diberikan Zhenan.
Semua tak luput dari pandangan Zhang Zhenan, dia melihat Xiao Yu berulang kali memajumundurkan sendoknya membuat Zhenan gemas, bukankah asistennya itu merengek kelaparan lalu kenapa setelah dia berbaik hati memberinya makanan Xiao Yu malah seperti ogah-ogahan.
"Hey, jika kau tak memakannya aku tidak akan membayar gajimu bulan ini."
Dan sukses ancaman yang diberikan Zhenan mampu membuat Xiao Yu menelan makanannya, Zhenan tersenyum jumawa melihat Xiao Yu terus menyendokan nasi becek kedalam mulutnya hingga piring stainless itu tandas, tak lupa Xiao Yu juga menyeruput kuah kosong sampai tak tersisa.
Astaga pria itu begitu menikmati makanannya walaupun tanpa lauk dan nasi becek saja. Xiao Yu tersenyum sumringah setelah menghabiskan makanannya lalu memberi Zhenan dua jempol, mentalnya tertekan.
Zhenan tertawa cekikikan tapi tak berapa lama dia kembali berguling-guling diatas brankar, dia sangat bosan dengan keadaan seperti ini. Ruang rawat inap Zhenan ada dilantai paling atas, jarang sekali orang berlalu lalang ditempat ini membuat ruangan nampak sepi dan sunyi. Tak ada teman, tak ada hiburan, Zhenan memang sengaja tidak memberitahu keadaannya pada orang tua ataupun teman-temannya. Sebagai lelaki yang dikenal tangguh Zhenan memiliki rasa gengsi tersendiri jika sampai keluarga atau teman-temannya tau dia jatuh sakit dengan tangan tertancap infus, apalagi kalau mereka sampai mendengar Zhenan gagal mengikuti turnamen sepeda karena pingsan.
Menyebalkan, sekarang dia benar-benar kesepian. Dia melirik Xiao Yu yang terlihat mengantuk setelah menghabiskan makanannya, matanya terlihat bengkak setelah menahan kantuknya selama berhari-hari. Zhenan mendengus, Xiao Yu orang membosankan seharusnya dia mencari asisten serba bisa tidak seperti beruang besar itu. Benar saja, tak berapa lama Xiao Yu terbaring pulas diatas sofa dengan mulut terbuka lebar mengeluarkan dengkuran.
Membosankan.
Tidak ada sesuatu yang menarik perhatiannya dan dia sudah lelah berguling-guling tidak jelas, Zhenan menelungkupkan tubuhnya lalu memejamkan matanya siapa tahu kantuk datang, tapi saat mimpi hendak menenggelamkannya samar-samar bayangan pria berhanfu merah itu muncul, dia mengingat mata basah pria itu, dia mengingat saat pria itu mencium dahinya lama sebelum akhirnya menarik sesuatu yang ada didalam perutnya.
Akhh
Bayangan itu buyar bersamaan rasa sakit yang mendera perutnya, mendadak perutnya mulas ketika membayangkan bagaimana rasa sakit saat bayi didalam perut dipaksa keluar. Untung saja sebelum dia mengalami kejadian mengerikan itu dirinya sudah sadar.
Tapi anehnya saat dia bangun pria berhanfu merah itu masih mengikutinya, dia melihat mata yang sama tengah menatapnya datar seketika saja dia menarik stetoskop yang menggantung dileher pria itu. Untung saja dia tidak kehilangan kendali untuk memukul wajah tampannya. Dia benar-benar kesal saat mengingat pria itu berusaha mengeluarkan bayinya tanpa persetujuan.
Emm, tapi selanjutnya apa yang akan terjadi dengannya, apa pria hanfu merah itu mengusirnya. Zhenan mendadak penasaran, dia ingin membagi kisahnya pada Xiao Yu tapi pria gila pasti itu akan menertawakannya.
"Membosankan." Keluh Zhang Zhenan.
Ditengah-tengah sunyi nya lantai ruangan itu tiba-tiba suara ketukan sepatu menggema dari jarak jauh, tidak hanya satu tapi beberapa orang sepertinya menginjakkan kaki dilantai ini. Mendudukkan tubuhnya Zhenan menunggu siapa yang akan berkunjung, syukur-syukur jika perawat membawakannya kabar baik seperti pulang lebih awal misalnya, ayolah siapa yang betah dengan bau rumah sakit.
Menunggu dengan sumringah berharap dokter segera masuk dan mencabut infusnya, tapi sebentar. Mendadak kesenangannya menurut mengingat dokter muda yang memeriksanya beberapa jam lalu, bagaimana jika dokter menjengkelkan itu yang datang tapi bukankah rumah sakit ini memiliki banyak tenaga medis, pasti dokter lain yang kali ini menanganinya, yakin Zhenan.
Tapi begitu pintu dibuka harapannya pupus, dia melihat wajah tampan itu lagi yang muncul dibalik pintu diikuti wajah-wajah baru yang belum Zhenan lihat, rupanya perawat diganti tapi kenapa tidak dengan dokternya?. Batinnya menjerit protes.
Begitu dokter mengalihkan wajahnya kearah Zhang Zhenan senyum palsu lagi-lagi dipasang, Zhehan muak dan membuang wajahnya. Dia menjatuhkan kepalanya keranjang seolah tak ada lagi semangat yang dia tunjukkan seperti tadi, dia melihat dokter itu berjalan kearahnya.
"Selamat malam." Sapa dokter itu dengan bermoral tapi sayang yang dia sapa adalah sejenis manusia liar, Zhenan malah memberinya dengusan geli sembari memutar matanya.
Dokter HuangHuang adalah orang yang professional, dia tersenyum maklum didepan dua perawat lainnya yang menaikkan alis saat melihat reaksi Zhang Zhenan. Jika orang lain akan tersenyum dan menjawab berlebihan pria ini malah bersikap seolah tak mendengar apapun.
Suasana kali ini lebih kondusif, dokter melakukan pengecekan kesehatan pasiennya dengan tenang dan bersyukur karena kali ini Zhenan tidak membuat masalah, pria itu membiarkan Dokter Huang memeriksa tubuhnya. Zhenan tidak memberikan reaksi apapun, dia hanya mengawasi langit-langit sembari menunggu dokter itu pergi tapi tiba-tiba dia meringis.
Akhh
Matanya mengejar sumber rasa sakit dan menemukan tangannya bersimbah darah, sialan dokter itu mencabut selang infusnya tanpa pemberitahuan.
"Sialan, bisakah kau bersikap lembut pada pasienmu? Aku ini manusia bukan banteng liar."
Protes yang dilayangkan Zhenan membuat dua perawat terkikik hingga wajah mereka merah seperti kepiting rebus. Tapi dokter itu tak menunjukkan ekspresi apapun, hanya datar dan datar, jemari panjang itu menarik selang kecil dan darah berlomba-lomba keluar.
Dokter Huang menekan kapas sekencang mungkin agar darah berhenti mengalir tapi Zhang Zhenan tahu dokter ini licik dan pendendam, Dokter Huang tak sebaik itu. Dia tahu Dokter Huang
berusaha membalas dendamnya karena kejadian tadi pagi tapi dia tak semudah itu untung ditumbangkan.
Zhang Zhenan adalah pria kuat tak tertandingi, dia punya bahu kuat dan otot perut. Dia adalah wanita dewasa dan berwawasan tinggi tidak mungkin harga dirinya dijatuhkan hanya karena jarum infus. Dia menggigit pipi dalamnya dengan kuat demi menahan teriakan bergemuruh di dadanya, menahan sakit saat kapas itu terus ditekan hingga darah merembes ke tangan Dokter Huang.
"Tahan sebentar, ya?!" Dokter itu tersenyum berlebihan.
'Tahan, tahan matamu.' Umpat Zhenan dalam hati.
Sialan, darahnya sudah berhenti tapi dokter itu masih menekan tangannya seperti b******n. Tangannya terasa ngilu tapi dokter itu seolah tak memperdulikan wajahnya yang sudah memerah seperti jambu. Mulutnya bersiap mengumpat tapi dia menahannya sebaik mungkin dan menunjukkan senyum manisnya.
"Dokter, apakah anda tidak bisa menahan nafsumu? Pasienmu masih sakit dan anda mengambil kesempatan untuk menyentuh pasienmu?"
Hening, Zhenan menyeringai saat Dokter Huang menghadiahinya mata pedang, akhirnya wajah itu tak se-datar tadi, Zhenan bisa menimbulkan semburat merah di pipi dokter muda itu.
Ucapan Zhenan sukses menampar telak pipi kedua perawat wanita, mereka saling bertukar pandang lalu menatap Zhenan kebingungan. Seolah ingin menegaskan ucapannya Zhenan kembali melempar mulut beracun.
"Bukankah kemarin anda sudah menyentuh tubuh saya?! Apa belum cukup? Saya sudah berbaik hati untuk memberikan tubuh saya kemarin, apa anda tidak membiarkan orang ini memiliki harga diri?" Zhenan berkata dengan wajah tersakiti membuat dua perawat itu memberikan tatapan menghakimi pada Dokter Huang.
Dalam hati Zhenan meloncat kegirangan saat Dokter Huang terlihat kikuk, merah menjalar dari pipi hingga telinganya membuat Dokter Huang seperti kepiting rebus.