Deja vu

1115 Kata
David dengan cepat menyeruput kopi paginya setelah menghabiskan sepotong roti sarapannya. Dilihatnya jam yang ada di pergelangan tangannya sambil berdiri dari tempat duduknya dan berjalan menuju ke parkiran mobilnya. Sudah waktunya berangkat ke rumah sakit. Begitu masuk ke dalam mobinya, David segera melajukannya pergi dari halaman rumahnya. “Selamat pagi, Dokter,” sapa Petugas keamanan begitu melihat David keluar dari dalam mobilnya setelah memarkirkan mobilnya di parkiran khusus dokter Rumah Sakit. “Selamat pagi, Pak Ujang,” balas Davis, “Ini ada sarapan untuk Pak Ujang dan teman-teman.” David memberikan satu tas belanjaan yang di penuhi oleh berbagai macam roti dan minuman kepada petugas keamanan itu. “Aduh, Dokter repot-repot amat.” “Gak apa-apa, Pak. Ini diambil saja.” Petugas keamanan itu mengambil tas belanjaan yang disodorkan David ke arahnya, “Terima kasih, Dokter. Setiap pagi selalu dikasih sarapan sama, Dokter. Kami sih senang, Dok, tapi dokternya nanti yang bangkrut.” David tersenyum mendengar ucapan Pak Ujang, “Tidak ada orang yang miskin karena memberi, Pak. Saya kan setiap hari juga mendapatkan rezeki dari rumah sakit ini, berkat Pak Ujang dan teman-teman juga yang sudah menjaga keamanannya kan?” “Terima kasih banyak loh dokter.” “Iya, Pak,” jawab David dengan lembut dan tersenyum. David segera melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah sakit. Begitu kakinya akan masuk ke bagian poli rumah sakit, kakinya langsung menuju ke ruangan Dokter Ricky. Namun begitu ia berada tepat di depan ruangan praktek Dokter Ricky, kakinya tiba-tiba berhenti. “Tuh kan, mulai lagi. Ngapain juga aku ke sini?” David berdecak, “Gak ada urusannya aku dengan anak itu lagi. Dia sudah menjadi pasien Dokter Ricky kan.” David membalikkan tubuhnya dan berjalan meninggalkan ruangan praktek Dokter Ricky. Namun baru beberapa langkah, kakinya berhenti kembali. “Tapi aku penasaran dengan hasil operasinya kemarin. Ya sudahlah. Aku kan harus tetap peduli dengan anak yang pernah menjadi pasienku, kan?” David berusaha mencari pembenaran atas apa yang dilakukannya. “Ya, benar. Ini aku lakukan karena aku peduli dengan pasienku, bukan karena aku peduli dengan Sonya.” David menganggukkan kepalanya kemudian membalikkan kembali tubuhnya menuju ke arah ruangan Dokter Ricky. “Dokter David?” panggil seseorang yang berada tepat di belakang David. David yang baru saja membalikkan tubunya kembali sontak terkejut. “Dokter Ricky?” ucap David sambil mengusap pelan dadanya yang berdegub kencang karena terkejut. “Maaf Dokter jika saya mengejutkan dokter. Tadi saya lihat dokter di depan ruang praktek saya saat saya baru datang, saya kira Dokter mencari saya makanya langsung saya samperin,” jelas DOkter Ricky. “Oh, itu. Iya, Dokter. Tadi saya ingin ngobrol-ngobrol aja dengan dokter.” David terkekeh karena merasa aksinya sudah ketahuan, “Bagaimana dengan operasi Reyna kemarin, Dokter?” “Alhamdullilah, operasinya berjalan dengan lancar, Dokter. Reyna hanya tinggal pemulihan pasca tranplantasi. Semoga tidak ada komplikasi atau efek samping yang terlalu memberatkan.” “Alhamdullilah. Saya senang mendengarnya, Dokter,” ucap David sambil bernapas lega, “Baiklah. silahkan lanjutkan kegiatannya, Dokter. Maaf saya mengganggu.” “Sama sekali tidak mengganggu kok, Dokter.” “Assalamualaikum.” “Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.” David berjalan menuju ke ruangan prakteknya dengan senyuman lega. Dia senang jika operasi Reyna berjalan dengan lancar. “Berarti Sonya masih berada di rumah sakit ini kan?” pikir David sambil melihat ke sekitarnya sekilas, “Tapi kenapa aku harus peduli tentang itu?” David menggelengkan kepalanya. “Pagi, Suster,” sapa David sambil membuka kenop pintu ruangan prakteknya dan masuk tanpa melihat siapa yang sedang di tegurnya. “Selamat pagi, Dokter.” David langsung berkutat dengan pekerjaannya yang ada di atas meja kerjanya begitu tubuhnya mendarat di atas tempat duduk. Sekitar sepuluh menit kemudian, seseorang mengetuk pintu ruangan David. “Masuk.” “Permisi, Dokter. Saya ingin memberikan rekam medis pasien yang akan berkonsultasi pagi ini.” “Ya, letakkan saja di sana,” ucap David sambil terus fokus pada pekerjaan yang sedang ada di tangannya. “Baik, Dokter.” “Terima kasih ya, Sus,” ucap David sambil melihat ke arah asistennya sekilas. Tiba-tiba netra David membulat sempurna. Wajahnya menegang begitu melihat wajah asistennya yang sedang meletakkan kumpulan rekam medis ke atas meja kerjanya. “So-Sonya?” ucap David terbata karena terkejut, “Kenapa kamu disini?” “Kemarin saya mendapat panggilan kerja dan diminta untuk masuk hari ini di ruangan Dokter.” Wajah David perlahan memerah, “Baiklah.” “Saya permisi, Dokter,” ucap Sonya berjalan keluar dari ruangan David. David mengusap dadanya yang terasa berdegup dengan kencang begitu pungung Sonya menghilang di balik pintu. Dengan cepat diambilnya ponsel dari dalam saku kemejanya dan mencari kontak Kepala HRD yang kemarin di hubunginya. “Selamat pagi, Dokter.” “Selamat pagi, Pak Adam.” “Ada yang bisa saya bantu, Dokter?” tanya Adam. “Tentang tenaga perawat yang saya rekomendasikan kemarin, Pak. Dia sudah mulai bekerja hari ini?” “Benar, Dokter. Begitu lamaran pekerjaannya masuk kemarin, langsung saya proses dan panggil,” jawab Adam. “Kenapa dia masuk ke poli saya, Pak? Bukankah saya sudah punya asisten?” tanya David lagi. “Kemarin sore perawat itu sempat di uji oleh Kepala Keperawatan, Dokter. Secara teori dia memang cerdas. Secara prkatek juga dia tidak terlalu buruk. Tapi Kepala Keperawatan memberi saran agar perawat itu di letakkan di bagian poli terlebih dahulu sebelum terjun ke ruang perawatan karena track recordnya ternyata sudah hampir empat tahun tidak bekerja. Nah, kebetulan tadi pagi berkas pengunduran diri asisten Dokter masuk ke meja kami, Dok. Dia tiba-tiba berhenti karena ayahnya sakit keras. Jadi perawat yang baru itu langsung mengisi lowongan menjadi asisten Dokter mulai hari ini,” jelas Pak Adam panjang lebar tanpa jeda, membuat Pak Adam terdengar terengah-engah di akhir kalimatnya. David menghelakan napasnya, “Baiklah kalau begitu, Pak Adam. Terima kasih atas bantuannya.” “Sama-sama, Dokter.” David menutup panggilan telepon itu. Matanya nanar menatap ke arah depan. “Kenapa bisa kebetulan seperti ini sih?” ucap David pelan, “Bagaimana dia bisa tiba-tiba hadir kembali, menampakkan dirinya di depanku dan sekarang kami kembali di pasangkan dalam pekerjaan. Persis ketika dulu waktu pertama kali kami dipertemukan.” David mengusap wajahnya dengan kedua tangannya kemudian menghempaskan tubuhnya di sandaran kursi kerjanya. Bagaimana dia harus terus bertemu dan menatap wajah Sonya setiap hari selama berjam-jam mulai sekarang? Dan kabar buruk lainnya adalah, bagaimana dia bisa menjaga perasaan sayangnya pada Sonya yang masih belum hilang meski sudah bertahun-tahun berusaha untuk dihilangkannya saat Sonya sekarang sudah berstatus istri orang lain? Ketukan di pintu ruangan David berhasil membuatnya tersentak dan bangkit dari sandarannya. Wajah cantik Sonya muncul di balik pintu. “Permisi, Dokter. Apakah prakteknya sudah bisa kita mulai?” David memandang wajah itu cukup lama. Hidupnya tidak akan tenang mulai hari ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN