“Itu pasien kita yang terakhir, Dokter,” ucap Sonya sambil membereskan tempat tidur pasien.
David menghelakan napas lega dengan pelan. Hari ini terasa begitu berat dan lama baginya. Bukan karena banyaknya pasien yang datang, melainkan karena kehadiran Sonya sebagai asistennya.
Jantungnya seakan mau melompat keluar setiap kali Sonya berada di dekatnya. Terutama saat mereka bekerja sama memberikan tindakan pada pasien yang kurang kooperatif. Tak jarang anak yang mengamuk membuat Sonya dan David tak sengaja bersenggolan.
Mungkin jika Sonya menempelkan telinganya di d**a David, Sonya pasti akan mendengar debaran jantung David yang tidak beraturan dan kuat.
David duduk di kursi kerjanya. Tangannya memegang sebuah berkas namun matanya berpusat pada seseorang yang sedang membersihkan alat medis yang akan di masukkan ke dalam sterilisator.
Tiba-tiba tubuh yang sedari tadi diperhatikannya itu membalik ke arahnya membuatnya dengan secepat kilat mengalihkan tatapannya ke arah berkas yang sedang dipegangnya.
“Saya permisi ke nurse station dulu, Dokter,” ucap Sonya begitu selesai memasukkan alat medis yang sudah di bersihkannya ke dalam sterilisator.
“Hmm,” jawab David dingin tanpa melihat ke arah Sonya, berpura fokus membaca berkas yang ada di tangannya.
Sonya segera melangkahkan kakinya keluar dari ruangan David dan menutup pintu ruangan itu.
“Aku bisa kena serangan jantung jika lama-lama begini!” ucap David pelan sambil mengusap wajahnya dengan kedua tangannya.
Pintu ruangannya kembali diketuk dari luar, membuat David tersentak dan dengan cepat meraih berkas yang tadi sempat di letakkanya di atas meja dan berakting kembali seolah sedang fokus pada rekam medis pasiennya.
“Masuk!” David berpura merendahkan suaranya, seolah tidak bersemangat untuk diganggu.
“Mas!” suara cempreng ala soprano melesat dari bibir seorang wanita yang muncul dari balik pintu.
David mengangkat kepalanya yang tadi berpura sedang membaca dan melihat ke arah pintu.
“Viona? Ada apa?” tanya David.
“Mama ngundang Mas makan malam di rumah.” Viona berjalan masuk ke dalam ruangan itu dan menutup pintu.
“Malam ini?” tanya David lagi.
“Iya, malam ini. Mas bisa kan?” Viona berdiri tepat di samping David, menyandar di meja kerjanya.
“Habis isya kan mas ada praktek mandiri, Vi.” David melihat ke arah Viona sambil memundurkan kursinya ke belakang karena posisi Viona yang berdiri begitu dekat dengannya.
“Tunda aja dulu. Besok kan masih bisa praktek.”
“Gak bisa begitu dong, Vi. Kasih pasien yang udah datang. Apalagi yang rumahnya jauh.”
Viona menghelakan napasnya dengan kasar, “Jadi mas bisanya kapan?”
David terdiam beberapa saat. Dia mungkin bisa menolak jika itu undangan makan malam dari Viona sendiri, tapi ini dari Ibu Leny, mamanya Viona yang juga merupakan istri dari Profesor Ryan, orang yang banyak berjasa dalam proses perkuliahan sampai David mendapatkan gelar Dokter Spesialis.
“Kalau sabtu saja bagaimana? Mas libur praktek hari itu.”
“Okelah kalau begitu.” Viona menganggukkan kepalanya.
Pintu ruangan praktek David kembali diketuk. David dan Viona spontan melihat ke arah pintu. Dengan pelan Sonya membuka daun pintu itu.
“Maaf, Dokter. Saya ingin mengecek alat di sterilisator,” ucap Sonya di depan pintu.
“Tidak bisakan kamu melakukan tugasmu sekaligus? Jangan terus-terusan bolak balik ke dalam ruangan saya!” bentak David.
Sonya dan Viona trkejut mendengar nada tinggi David barusan.
“Ma-maaf, Dokter. Tadi sterilisatornya butuh waktu sepuluh menit untuk memproses sterilisasinya.”
“Segera selesaikan tugasmu dan keluar!”
“Baik, Dokter.”
Sonya bergegas mengambil alat dari dalam sterilisatior panas itu dan menatanya di lemari khusus. Sewaktu akan mematikan sterilisator, tanpa sengaja tangan Sonya menyentuh bagian logam yang panas dan membuatnya sontak meringis.
“Aduh!”
David segera berdiri dari tempat duduknya dan mendekati Sonya.
“Kenapa?” tanya David.
“Tangan saya kena besi yang panas dari sterilisator itu, Dokter. Gak apa-apa, Dok. Tadi saya hanya terkejut.”
“Tangan yang ini?” David mengambil tangan Sonya yang tadi di tiupnya spontan.
“Kamu sembrono sekali. Ini berbahaya, tangan kamu bisa melepuh. Sebentar saya ambilkan obat.”
David berjalan menuju meja kerjanya dan mengambil sebuah salep dari dalam laci mejanya. Netra Viona terus mengikuti setiap gerakan yang dilakukan oleh David.
David membuka penutup salep itu dan salah satu jarinya langsung mengambil krim yang keluar dari dalam tube salep itu.
Ketika akan mengambil tangan Sonya, tiba-tiba gerakan tangan David terhenti. Dia menyadari sesuatu. Dengan cepat ditutupnya kembali tube salep itu dan memberikannya pada Sonya.
“Olesi ini! Jangan bertingkah teledor lagi atau aku akan memecatmu!” ucap David.
“Baik, Dokter. Saya minta maaf,” jawab Sonya takut dengan ancaman yang dilontarkan oleh David.
Tangan Sonya mengambil salep yang ada di tangan David.
“Ingat, salep itu harus kamu olesi di tangan kamu yang kena bakar tadi. Awas kalau tidak!” David menatap tajam kearah Sonya sekilas kemudian segera memalingkan wajahnya sebelum netra Sonya balik menatapnya.
“Baik, Dokter. Terima kasih.”
“Kembali ke nurse station.”
“Sebentar, saya matikan sterilisatornya dulu, Dokter.”
“Jangan pegang itu lagi! Itu biar urusan saya. Kamu kembali ke nurse station dan langsung oleskan salep itu!”
“Baik, Dokter.”
Sonya segera melangkahkan kakinya keluar dari ruangan itu. Begitu Sonya menghilang dari balik pintu, David segera menyelesaikan tugas Sonya mematikan alat sterilisator tadi.
“Galak amat sih, Mas,” ucap Viona yang akhirnya buka suara setelah dari tadi hanya diam menyaksikan adegan demi adegan antara David dan Sonya.
Tangan Viona yang sedari bersedekap mengurai jatuh sambil melangkahkan kakinya mendekati David yang sedang mematikan alat sterilisator.
“Dia perawat baru ya? Kayaknya kemarin asisten Mas bukan dia deh.”
“Iya, asisten lama mas resign karena orangtuanya sakit,” jawab David santai.
“Tapi baru kali ini Mas marah-marah dengan asisten Mas. Apa dia semenyebalkan itu? Kita ganti saja dengan perawat yang la-“
“Jangan!” ucap David dengan cepat memotong ucapan Viona.
Viona tercekat melihat ke arah David.
“Kenapa? Bukannya Mas tidak suka dengan dia?”
“Bukan tidak suka, hanya sebel saja. Dia masih harus banyak belajar disini.”
“Okelah kalau begitu. Semoga dia kuat mas bentak-bentak seperti tadi selama bekerja di sini.” Viona memutar matanya.
David terdiam mendengar ucapan Viona barusan.
“Aku pulang dulu kalau begitu, Mas. Jangan lupa hari sabtu ya.” Viona mengedipkan salah satu mata lentiknya ke arah David.
“Ya, Vi.”
Viona membuka pintu ruangan dan berjalan keluar. David menghelakan napasnya, netranya terus menatap pintu ruangannya.
“Apa aku tadi terlalu berlebihan pada Sonya?” gumamnya.
“Tidak, sikapku sudah tepat. Aku tidak boleh melunak di depannya setelah apa yang dilakukannya padaku.”
David kembali ke tempat duduknya dan membereskan meja kerjanya. Dia harus segera pergi ke tempat praktek mandirinya setelah sholat maghrib dan isya nanti.