Terselip Cemburu

1085 Kata
Langkah cepat David tiba-tiba terhenti di ujung lorong menuju ke ruangan prakteknya. Matanya menatap fokus ke depan ruangan itu. Seorang perawat sedang sibuk mempersiapkan keperluan praktek pagi ini. Wajah itu. Suasana itu. Semuanya masih terasa sama. Persis. Seandainya dulu Sonya mau menunggunya menyelesaikan study spesialis, suasana seperti ini pasti sangat menyenangkan. Sekarang David merasa semuanya terlambat. Semuanya sudah berubah. Sonya memilih meninggalkannya begitu saja dan menikah dengan pria pilihan ibunya. David menghelakan napasnya dengan berat. Ingin rasanya membuang jauh semua perasaan itu. Tapi semakin David ingin membuangnya, rasa itu semakin kuat mencengkram. "Dokter David?" Suara seseorang terdengar memanggilnya. David segera menolehkan kepalanya ke sumber suara. "Dokter Ricky?" "Dokter sedang apa di sini? Apa dokter ingin bertemu dengan saya?" Tanya Dokter Ricky. David baru menyadari bahwa dia sedang berdiri tepat di depan ruangan praktek Dokter Ricky. "Oh itu, tadi saya melihat seseorang yang saya kenal, Dok. Makanya berhenti disini. Saya baru sadar kalau saya berhenti tepat di depan ruangan dokter," Jawab David sambil tersenyum, "Dokter juga baru datang?" "Iya, Dok. Tadi saya ada operasi dulu baru kesini. Oh, iya. Asisten dokter baru ya? Kayaknya wajahnya beda dengan yang biasa saya lihat." "Iya, Dok. Yang lama resign." "Sepertinya saya pernah melihat asisten Dokter ini di sini. Wajahnya sangat familiar. Apa dia pindahan dari poli lain?" "Dia ibunya Reyna, Dok. Pasien dokter yang melakukan transplantasi kornea kemarin," Jawab David. "Benarkah? Dia bekerja di rumah sakit ini? Kok bisa bertepatan begini ya, Dok?" Wajah Dokter Ricky menegang karena terkejut. David hanya menyunggingkan senyum di bibirnya. "Dia terlihat lebih cantik. Apa karena baju dinas dinasnya ya?" Dokter Ricky melihat ke arah Sonya yang sedang sibuk menata lembaran demi lembaran rekam medis di atas mejanya sambil tersenyum. "Sepertinya dia cepat belajar untuk seorang asisten baru," Lanjut Dokter Ricky. "Dia memang cerdas dan cekatan sejak dulu," Jawab David sambil terus memandangi Sonya. "Dokter sudah lama mengenalnya?" "Dia dulu sempat menjadi asisten saya sebelum mengambil pendidikan spesialis, Dokter." "Benarkah? Sudah akrab dong. Tapi saya belum pernah melihat suaminya selama Reyna kontrol sampai pasca operasi," "Benarkah?" David terkesiap. Matanya langsung mengarah ke Dokter Ricky. Dokter Ricky menganggukkan kepalanya, "Dia sama sekali tidak pernah ditemani suaminya. Bahkan tadi pagi saat saya melakukan visit ke ruangan Reyna, dia hanya di temani oleh seorang baby sitter anaknya di ruangan itu. Sudah beberapa hari ini begitu.” David terdiam mendengar ucapan Dokter Ricky sambil melihat ke arah Sonya. “Apa dia janda ya, Dokter? Kalau janda, saya juga mau. Dia cantik, sikapnya sopan berkelas, dan dia terlihat cerdas,” lanjut Dokter Ricky sambil tersenyum menatap Sonya. Tatapan David yang tadi begitu sendu ke arah Sonya berubah menjadi tajam kearah Dokter Ricky. “Maaf saya duluan ya, Dokter Ricky. Saya sudah harus praktek sebentar lagi,” ucap David dengan segera. “Silahkan, Dokter. Saya juga harus segera praktek sebentar lagi,” balas Dokter Ricky, “Titip salam sama Sonya ya, Dokter. Ah tapi nanti deh, pastiin dulu ada suaminya atau gak.” David memberikan senyum kakunya sebagai respon atas ucapan Dokter Ricky barusan kemudian melangkahkan kakinya menuju ke ruangan prakteknya. “Enak aja main titip-titip. Aku gak buka jastip salam-salaman,” gumam David kesal sembari terus melangkahkan kakinya. “Selamat pagi, Dokter,” sapa Sonya sambil berdiri memberikan hormat begitu menyadari kedatangan David. “Sudah kamu oleskan salep yang saya berikan kemarin?” tanya David. “Sudah, Dokter.” Sonya menganggukkan kepalanya. “Saya cuma tidak mau cedera itu mengganggu pekerjaanmu.” “Terima kasih, Dokter. Maaf saya teledor kemarin.” “Lanjutkan pekerjaanmu,” ucap David dengan nada dan wajah datar plus tajam. “Baik, Dokter.” David melangkahkan kakinya dengan cepat masuk ke dalam ruangannya. Begitu dia berhasil mendaratkan langkah kakinya ke dalam ruangan itu, David dengan cepat menutup pintu ruangan itu. Tangannya langsung memegangi dadanya yang berdegup kencang. Berusaha menenangkan debar yang semakin menjadi itu. Baru saja David akan melangkahkan kakinya menuju ke meja kerjanya, tiba-tiba pintu ruangannya kembali di ketuk oleh seseorang dari luar. Dengan cepat David berlari menuju ke meja kerjanya dan langsung berpura menyibukkan diri. “Permisi, Dokter. Saya ingin memberikan rekam medis pasien hari ini,” ucap Sonya yang muncul dari balik pintu. David sama sekali tidak merespon ucapan Sonya. Dirinya sibuk menatap layar komputernya sambil terus mengarahkan kursor kesana kemari. Sonya melangkahkan kakinya masuk ke dalam dan meletakkan rekam medis yang ada di tangannya ke atas meja David. “Hasil CT Scan pasien anak dengan muntah dan pusing kemarin sudah keluar, Dok. Hasilnya sudah saya lampirkan di dalamnya.” Sonya memisahkan sebuah rekam medis dengan lampiran CT Scan di dalamnya dari tumpukan yang lain. “Lalu pasien anak..” ucapan Sonya terhenti tiba-tiba karena getaran dari ponsel yang ada di dalam saku baju dinasnya. Ponsel itu sangat jelas terlihat dari kantongnya yang memancarkan cahaya, David melirik dari ujung matanya karena suara Sonya yang tiba-tiba terhenti. “Ada apa?” tanya David. “Tidak ada apa-apa, Dokter.” Sonya memilih mengabaikan panggilan ponsel itu karena saat ini dia sedang berada di hadapan David. “Lalu pasien anak dengan batuk berdahak lama dan berdarah dua hri yang lalu juga sudah melakukan tes mantoux. Hasilnya sudah saya masukkan ke dalam rekam medisnya, Dokter.” “Berapa pasien yang sudah mendaftar pagi ini?” tanya David sambil melihat ke arah Sonya. “Ada dua puluh, Dokter.” Ponsel Sonya kembali bergetar. Membuat ekspresi tidak nyaman terpancar di wajahnya. “Sepertinya ada panggilan masuk di ponselmu, Sonya,” ujar David begitu melihat kilatan cahaya dari ponsel yang ada di dalam kantong baju dinas Sonya. “Jika penting, angkat saja dulu,” lanjut David. “Tidak terlalu penting, Dokter.” Ponsel itu terus bergetar dan bercahaya. “Mungkin saja itu panggilan penting dari suamimu,” ucap David lagi sambil mengalihkan pandangannya dari Sonya. Sonya terdiam beberapa saat kemudian mengambil ponsel yang ada di dalam saku baju dinasnya. “Benar dari suamimu?” tanya David lagi untuk membenarkan dugaannya. Bukan, mencari tahu jawaban atas kecurigaannya lebih tepatnya. “Benar, Dokter. Saya mohon izin untuk mengangkat panggilannya sebentar.” David terdiam mendengan ucapan Sonya kemudian segera tersadar dari lamunannya, “Silahkan,” jawabnya singkat tanpa melihat ke arah Sonya. “Terima kasih, Dokter” Sonya segera keluar dari ruangan itu, meninggalkan David yang sedang terdiam membisu. Begitu tiba di depan pintu luar ruangan David, Sonya segera mengangkat panggilan dari laki-laki yang masih berstatus suaminya itu. “Halo? Ada apa, Mas? Jangan ganggu aku di jam kerja. Jika ada yang mau Mas katakan padaku, kirim melalui pesan aja,” ucap Sonya. “Apa? Mas lagi di ruangan Reyna sekarang?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN